TRIKOTESENA

TRIKOTESENA

TRIKOTESENA
TRIKOTESENA

Mikotoksin golongan trikotesena dihasilkan oleh

kapangFusarium spp., TrichodermaMyrotheciumTrichothecium danStachybotrys. Mikotoksin golongan ini dicirikan dengan adanya inti terpen pada senyawa tersebut. Toksin yang dihasilkan oleh kapang-kapang tersebut diantaranya adalah toksin T-2 yang merupakan jenis trikotesena paling toksik. Toksin ini menyebabkan iritasi kulit dan juga diketahui bersifat teratogenik. Selain toksin T-2, trikotesena lainnya seperti deoksinivalenol, nivalenol dapat menyebabkan emesis dan muntah-muntah (Ueno et al., 1972 dalam Sinha, 1993).

 

Trichoderma, Myrothecium, Trichothecium dan Stachybotrys.

Deoksinivalenol (DON)

Deoksinivalenol (DON, vomitoksin)adalah mikotoksin jenis trikotesena tipe B yang paling polar dan stabil yang diproduksi oleh

kapang Fusarium graminearium (Gibberella zeae) dan F. culmorum;

dimana keduanya merupakan patogen pada tanaman. Keberadaan

DON kadang disertai pula oleh mikotoksin lain yang dihasilkan oleh Fusarium seperti zearalenon,nivalenol (dan trikotesena lain) dan juga fumonisin.

DON merupakan salah satu penyebab terjadinya mikotoksikosis pada hewan. DON merupakan mikotoksin yang stabil

secara termal, oleh karena itu sangat sulit untuk menghilangkannya

dari komoditas pangan yang rentan terkontaminasi senyawa ini, seperti pada gandum. DON banyak terdapat pada tanaman biji-bijian seperti gandum, barley, oat, gandum hitam, tepung jagung, sorgum, tritikalus dan beras. Pembentukan DON pada tanaman pertanian tergantung pada iklim dan sangat bervariasi antar daerah dengan geografi tertentu. Karena senyawa ini stabil, DON dapat pula ditemukan pada produk sereal seperti sereal untuk sarapan, roti, mi instan, makanan bayi, malt dan bir. Toksisitas akut DON diperlihatkan

pada babi dengan gejala keracunan seperti muntah-muntah, tidak mau makan, penurunan berat badan dan diare. Menurut IARC tahun 1993, DON tidak diklasifikasikan bersifat karsinogen pada manusia. DON tidak mutagenik pada bakteri, namun pada studi in vivo dan in vitro ditemukan adanya penyimpangan pada kromosom yang mengindikasikan DON genotoksik.

FUMONISIN

Fumonisin termasuk kelompok toksin fusarium yang dihasilkan oleh kapang Fusarium spp., terutama F. moniliforme dan F. proliferatum. Mikotoksin ini relatif baru diketahui dan pertama kali diisolasi dari F. moniliforme pada tahun 1988 (Gelderblom,et al., 1988). Selain F. moniliforme dan F. proliferatum, terdapat pula kapang lain yang juga mampu memproduksi fumonisin, yaitu F.nygamaiF. anthophilumF. diamini dan F. napiforme.

  1. moniliformetumbuh pada suhu optimal antara 22,5 – 27,50C dengan suhu maksimum 32 – 370C. Kapang Fusarium ini tumbuh dan tersebar diberbagai negara didunia, terutama negara beriklim tropis dan sub tropis. Komoditas pertanian yang sering dicemari kapang ini adalah jagung, gandum, sorgum dan berbagai produk pertanian lainnya.

Hingga saat ini telah diketahui 11 jenis senyawa Fumonisin, yaitu Fumonisin B1 (FB1), FB2, FB3 dan FB4, FA1, FA2, FC1, FC2, FP1, FP2 dan FP3. Diantara jenis fumonisin tersebut, FB1 mempunyai toksisitas yang dan dikenal juga dengan nama Makrofusin. FB1 dan FB2 banyak mencemari jagung dalam jumlah cukup besar, dan FB1 juga ditemukan pada beras yang terinfeksi oleh F.proliferatum.

Keberadaan kapang penghasil fumonisin dan kontaminasi fumonisin pada komoditi pertanian, terutama jagung di Indonesia telah dilaporkan oleh Miller et al. (1993), Trisiwi (1996), Ali et al., 1998 dan Maryam (2000b). Meskipun kontaminasi fumonisin pada hewan dan manusia belum mendapat perhatian di Indonesia, namun keberadaannya perlu diwaspadai mengingat mikotoksin ini banyak ditemukan bersama-sama dengan aflatoksin sehingga dapat meningkatkan toksisitas kedua mikotoksin tersebut (Maryam, 2000a).

Meskipun kontaminasi fumonisin pada hewan dan manusia belum mendapat perhatian di Indonesia, namun keberadaannya perlu diwaspadai mengingat mikotoksin ini banyak ditemukan bersama-sama dengan aflatoksin sehingga dapat meningkatkan toksisitas kedua mikotoksin tersebut (Maryam, 2000a). Toxin fumonisin ditemukan pada beberapa tanaman obat dan teh herbal yang tersebar di pasar Turkey (Omurtag dan Yazicioglu, 2006). Kapang ini biasanya tumbuhpada komoditas pertanian di lahan pertanian ataupun yang disimpan didalam gudang.

Mikotoksin ini ditemukan terutama pada jagung

. Lebih dari 10 tipe fumonisin telah berhasil diisolasi dan dikarakterisasi. Diantara 10 jenis tersebut fumonisin yang paling dikenal ialah fumonisin B1 (FB1), FB2 dan FB3. Yang sering ditemukan pada jagung yaitu FB1 dan merupakan fumonisin yang paling toksik. Fumonisin pertama kali ditemukan dalam jagung pada pertengahan tahun 1980-an. Keberadaannya juga terdapat pada komoditas pangan lain seperti beras dan sorgum namun konsentrasinya lebih rendah dibanding pada jagung.

Batasan fumonisin dalam jagung mentah sendiri dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti suhu, kelembaban, stres terhadap kekeringan dan hujan selama periode sebelum panen dan periode panen, kondisi penyimpanan, dan gangguan serangga. Konsentrasi fumonisin biasanya meningkat pada musim panas dan kering, periode dimana kelembaban tinggi. Pada jagung yang disimpan, jika kelembabannya berkisar antara 18-23% biasanya produksi kapang meningkat sebanding dengan konsentrasi fumonisinnya. Gangguan serangga meningkatkan produksi fumonisin. Pada jagung hibrid jarang terinfeksi oleh Fusarium karena disisipi oleh gen dari Bacillus thuringiensis yang memproduksi protein yang toksik terhadap serangga sehingga konsentrasi fumonisin pada jagung hibrid lebih rendah daripada jagung non hibrid. Fumonisin dapat menyebabkan

Baca Juga :