Pengalaman penyair dalam memperoleh ide (ilham) memang beragam. mereka ada yang memperoleh melalui merenung, membaca puisi karya orang lain, pengalaman pribadi, membaca berita, menonton film, bercengkrama dan berjalan-jalan, dan sebagainya. Berikut contoh yang diihamni kesemberawutan kota Surabaya, anda dapat melihatnya dan membacanya pada uraian sebelumnya dengan judul “Surabayaku Ajari Aku tentang Benar”

Kelima, Perlunya Mengeramkan Ide

tyle="text-align: justify;">Ibarat terur ide itu butuh untuk ditetaskan . tanpa pengeraman karena itu, jelas tidak akan dapat melahirkan”puisi’itu. Pada tahap ini merupakan persiapan untuk mewujudkan ide atau gagasan yang telah dikandung, yang melitas-lintas,menari-nari, menggawang-awang,membayang, dan yang ditimang-timang. Inkubasi akan dapat meneteskan karya yang dapat dibanggakan. Sama-sama ide yang menghilhami penyiar misalnya,bisa jadi hasil puisi yang diciptakan berbeda. Potret “Buram Indonesia” menghilhami taufik Ismail untuk menulis puisi berjudul Kembalikan Indonesia Padaku dan Malu Aku Jadi Orang Indonesia.
Pengeraman yang berbeda dan pengucapan yang berbeda akan melahirkan bentuk dan isi yang berbeda pula, disinilah maka proses inkubasi (pengeraman) sangat tergantung pada pengalaman kreatif dan imajinatif penyair untuk memilih pengucapan yang tepat, perhatikan puisi WS Rendra berikut:
Nyanyian Fatimah Untuk Suto 
Kelambu ranjangku tersingkap
Di bantal beranda tergolek nasibku
Apabila firmanmu terucap
Masuklah kalbu ke dalam kalbu
Sedu sedan mengetuk tingkapku
Dari bumi di bawah rumpun mawar
Waktu lahir kau telanjang dan tak tahu
Tak hidup bukanlah tawar menawar
Puisi ini menggambarkan pengolahan ide “cinta” yang digarap penyairnya berbingkai kehidupan intim sepasang manusia, ide cinta yang melahirkan puisi cinta. Sebagai perbandingan, saya coba kutipkan seuntai puisi cinta yang dialami pengarang.
Ini kali pertama aku tinggalkan
Tinggal jauh dipelupuk mataku
Hati meraung perih
Seorang diri diambang senja
Mendung hitam, sehitam hati yang merana
Dingin malam yang terhembus dikerikil tajam
Merona hati menahan rindu
Pada dikau tambatan hati 
Oh…angin malam bisikkan kesepianku padanya
Dekap dirinya dengan kehangatan cinta
Puisi ini saya tulis, dalam kondisi hati saya sedang ditinggal pergi oleh pujaan hati, dia pergi menunaikan tugas lain selain melayani kekasihnya. Tentu anda pun memiliki banyak puisi yang serupa, gampangkan menulis puisi…? apalagi menulis puisi cinta yang semua orang pernah merasakannya.

Keenam, Pilihlah Cara Pengucapan yang Tepat

le="text-align: justify;">Cara pengucapan merupakan kekhasan seorang penyair, ada yang cenderung pengucapan puisinya pada gaya pamfletis, seperti Darmanto, atau liris sapardi Djoko Damono, pengucapan balada seperti WS Rendra bercampur pamfletis atau pengucapan parodi dan musikal ala Hamid Jabbar.

Ketujuh, Manfaatkanlah Gaya Bahasa

le="text-align: justify;">Salah satu sarana dalam mewujudkan estetika adalah gaya bahasa merupakan sarana strategis yang banyak dipilih penyair untuk mengungkapkan pengalaman jiwa ke dalam karyanya. Penggayabahasaan dalam bahasa, Burhan Nurgiyantoro, tidaklah memiliki maknah harfiah melainkan makna yang ditambahkan, atau makna yang tersirat.
Gaya bahasa adalah bahasa indah yang dipergunakan untuk meningkatkan efek dengan jalan memperkenalkan serta memperbandingkan suatu benda atau hal tertentu dengan benda atau hal lain yang lebih umum (Dale et all. 1971:220), Gaya bahasa atau majas pada umumnya dikelompokkan ke dalam menjadi tiga (a) majas perbandingan seperti metafora, analogi, (b) majas pertentangan seperti ironi, hiperbola, litotes, dan (c) majas pertautan seperti metonimia, sinekdoce, eufimisme (Sudjiman, 1996:4
Sumber: https://www.pendidik.co.id/

Reader Interactions