Tekhnik Kreatif Dalam Menulis Puisi

Tekhnik Kreatif Dalam Menulis Puisi

Tekhnik Kreatif Dalam Menulis Puisi

Tekhnik Kreatif Dalam Menulis Puisi
Tekhnik Kreatif Dalam Menulis Puisi
Puisi adalah susunan kata yang indah, bermakna, dan terikat konvensi (aturan) serta unsur-unsur bunyi. Menulis puisi biasanya dijadikan media untuk mencurahkan perasaan, pikiran, pengalaman, dan kesan terhadap suatu masalah, kejadian, dan kenyataan di sekitar kita.
Sebagaimana diungkapkan sebelumnya bahwa puisi adalah merupakan juga salah satu jenis karya sastra yang banyak diminati. Hampir semua media massa memberikan ruang untuk menuangkan untaian hatinya dalam bentuk puisi. Biasanya terdapat pada kolom budaya dan sastra, menulis puisi biasanya berkaitan dengan beberapa hal: (1) pencarian ide (ilham), (2) pemilihan tema, (3) pemilihan aliran, (4) penentuan jenis puisi, (5) pemilihan diksi (kata) yang padat dan khas, (6) pemilihan permainan bunyi, (7) pembuatan larik yang menarik, (8) pemilihan pengucapan, (9) pemanfaatan gaya bahasa, (10) pembaitan yang memiliki satu objek, (11) pemilihan tpografi, (12) pemuatan aspek psikologis, (13) pemuatan aspek sosiologi, (14) penentuan tone dan feeling dalam puisi, (15) pemuatan pesan (meaning), dan (16) pemilihan judul yang menarik.
Berikut ini akan dijelaskan beberapa langkah praktis dengan menulis puisi dengan mempertimbangkan berbagai unsur pembangunan yang ada. Untuk itu, semakin kreatif pembelajaran dalam menapaki langkah-langkah ini, tentunya semakin cepat dan mudah pula untuk menuliskannya.

Pertama, Perlu Memahami Aliran

Aliran dalam sastra Indonesia di kenal sangat banyak. Seperti, aliran realisme, naturalisme, ekspresionisme, idealisme, romantisme, impresionisme, dan sebaginya. Aliran ini akan memandu saudara untuk menentukan pilihan sehingga tepat dalam menentukan  pengucapan sebuah puisi. Jika anda ingin menjadi “juru potret” kehidupan, anda perlu memilih aliran realistime, sehingga puisi-puisi yang dihasilkan juga realis. Puisi-puisi Taufik Ismail. Emha Ainun Najib, Wiji Tukul, dan Rendra adalah contoh-contoh puisi yang realis yang seringkali juga pamfletis.
Mungkin anda akan memilih mengekspresikan kejiwaan dan pikiran. Jika ini menjadi pilihan anda, biasanya anda akan melahirkan puisi-puisi ekspresionisme. Jenis puisi ini kuat untuk mengungkapkan pikiran dan kejiwaan penyairnya. Penyair seperti Chairil Anwar, sering dinilai sebagai pelopor ekspresionisme. Coba  perhatikan puisi Chairil Anwar yang ekspresionisme.

Aku

Kalau sampai waktuku
Kumau tak seorangkan merayu
Tidak juga kau
Ta perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalan
Dari kumpulan yang terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih perih
Dan aku lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Maret, 1943

Kedua, Perlu Memahami Tema

Tema dalam kepenulisan puisi merupakan masalah apa yang diangkat di dalam puisi. Jika kita mengamati puisi-puisi yang bersebaran dan bertebaran di media massa atau puisi yang dihasilkan oleh para penyair kita dalam berbagai bentuk penerbitan, tema yang diangkat mencakup (a) sosial, (b) Politik, (c) adat, (d) relejius/keagamaan, (e) keluarga, (f) nasionalisme, (g) kekerasan dan HAM, (h) cinta dan remaja, (i) cinta dan perselingkuhan, (j) hukum, (k) misteri, (l) horor, dan (m) komedi.
Puisi-puisi Hamid Jabbar misalnya seringkali mengangkat tema-tema relejius atau keagamaan, demikian juga puisi-puisi Abdul Hadi, dan Jamal D. Rahman bercirikan demikian.

Ketiga, Perlunya Imajinasi

Imajinasi dalam menuakan ide dalam puisi adalah sesuatu yang mutlak yang harus dimiliki oleh seorang penyair, karena puisi sesungguhnya merupakan realitas imajinatif, imajinasi sendiri sering didefinisikan sebagai kemampuan daya bayang manusia untuk menggambarkan mewujudkan sesuatu dalam angan-angannya secara cermat dan hidup.
Dalam penulisan puisi, dikenal beberapa wujud imajinasi yang lebih dikenal dengan citra, menurut Burhan Nurgiantora imaji atau citraan itu sendiri merupakan gambaran pengalaman indera yang diungkapkan melalui bahasa, Burhan menyebutkan pencitraan kedalam lima jenis citraan (a) citraan penglihatan (visual imagery), (b) citraan pendengaran (audio imagery), (c) citraan gerakan(cinestetic imagery), (d) citraan gerakan (tactil imagery), (e) citraan penciuman(olfaktori).
Imaji yang pertama, citraan penglihatan hakikatnya bagaimana seorang pengarang secara natural mampu melukiskan penggambarannya secara maksimal. Penggambaran penglihatan sehingga pembaca mampu tergiring untuk “melihat” dengan matanya, keindahan “yang dipotret” pengarang dengan bidikan matanya.
Contoh imaji dalam puisi yang menggunakan imaji (rekaan) dalam puisi. Contoh pertama ini merupakan contoh penggunaan imaji visual
Aku terlena di atas padang hijau yang membeku
Pohon-pohon rimbun membuatku terlena
Kekasihku bilang, akulah bidadari yang paling cantik
Seperti setia daun pada pohon
Contoh kedua, yang merupakan contoh yang menggunakan imaji audio, imaji ini meskipun relatif jarang digunakan tetapi memiliki kekuatan tersendiri dalam penulisan puisi:

Debur ombak adalah debur hatiku
Gemercik air adalah cintaku
Nyanyian angin sepoi membuatmu terlena
Jika aku sungguh terlena oleh derasnya gembang cintamu.

Contoh ketiga merupakan contoh penggunaan imaji gerak. Imaji ini meskipun sesungguhnya merupakan imaji yang menggambarkan gerak secara umum atau yang menggunakan gaya bahasa personifikasi.

Ombak itu merangkak tegak
Dengan perkasa melumatkan segalanya 
Membunuh siapa saja dengan gagahnya
Dia datang tak diundang, ooh, gelombang

Contoh keempat, merupakan contoh penggunaan imaji penciuman, yang merupakan ekspresi dari pengalaman indera penciuman yang intensif digunakan oleh seorang penyair
Harum asin itu menyengat
Bersama keringat melumat gairah pantaiku
Bau nelayan mampir juga dipipimu
Hai dara manisku, kau bak nelayan kehilangan perahu.
Contoh terakhir merupakan contoh penggunaan imaji taktil, imaji ini merupakan ekspresi dari pengalaman indera rabaan.

Halus bibirmu berbingkai sinar rembulan
Mengingatkan aku pada dua burung berkicau
Yang pernah kudengar disaat remajaku
Membuatku termenung berbuah lembut hati

Keempat, Menemukan Ide

Ide atau ilham itu ibarat bunga api, percikan parfum yang menebarkan gelora imajinasi. Taufik Ismail prihatin melihati kondisi keindonesian mutakhir ia menuliskan kumpulan dengan judul “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia” (2003) , demikian juga Hamid jabbar memandang rupa-rupa negeri seperti tidak berbentuk, dia menuliskan puisi Indonesiaku.
Pengalaman penyair dalam memperoleh ide (ilham) memang beragam. mereka ada yang memperoleh melalui merenung, membaca puisi karya orang lain, pengalaman pribadi, membaca berita, menonton film, bercengkrama dan berjalan-jalan, dan sebagainya. Berikut contoh yang diihamni kesemberawutan kota Surabaya, anda dapat melihatnya dan membacanya pada uraian sebelumnya dengan judul “Surabayaku Ajari Aku tentang Benar”

Kelima, Perlunya Mengeramkan Ide

Ibarat terur ide itu butuh untuk ditetaskan . tanpa pengeraman karena itu, jelas tidak akan dapat melahirkan”puisi’itu. Pada tahap ini merupakan persiapan untuk mewujudkan ide atau gagasan yang telah dikandung, yang melitas-lintas,menari-nari, menggawang-awang,membayang, dan yang ditimang-timang. Inkubasi akan dapat meneteskan karya yang dapat dibanggakan. Sama-sama ide yang menghilhami penyiar misalnya,bisa jadi hasil puisi yang diciptakan berbeda. Potret “Buram Indonesia” menghilhami taufik Ismail untuk menulis puisi berjudul Kembalikan Indonesia Padaku dan Malu Aku Jadi Orang Indonesia.
Pengeraman yang berbeda dan pengucapan yang berbeda akan melahirkan bentuk dan isi yang berbeda pula, disinilah maka proses inkubasi (pengeraman) sangat tergantung pada pengalaman kreatif dan imajinatif penyair untuk memilih pengucapan yang tepat, perhatikan puisi WS Rendra berikut:
Nyanyian Fatimah Untuk Suto 
Kelambu ranjangku tersingkap
Di bantal beranda tergolek nasibku
Apabila firmanmu terucap
Masuklah kalbu ke dalam kalbu
Sedu sedan mengetuk tingkapku
Dari bumi di bawah rumpun mawar
Waktu lahir kau telanjang dan tak tahu
Tak hidup bukanlah tawar menawar
Puisi ini menggambarkan pengolahan ide “cinta” yang digarap penyairnya berbingkai kehidupan intim sepasang manusia, ide cinta yang melahirkan puisi cinta. Sebagai perbandingan, saya coba kutipkan seuntai puisi cinta yang dialami pengarang.
Ini kali pertama aku tinggalkan
Tinggal jauh dipelupuk mataku
Hati meraung perih
Seorang diri diambang senja
Mendung hitam, sehitam hati yang merana
Dingin malam yang terhembus dikerikil tajam
Merona hati menahan rindu
Pada dikau tambatan hati 
Oh…angin malam bisikkan kesepianku padanya
Dekap dirinya dengan kehangatan cinta
Puisi ini saya tulis, dalam kondisi hati saya sedang ditinggal pergi oleh pujaan hati, dia pergi menunaikan tugas lain selain melayani kekasihnya. Tentu anda pun memiliki banyak puisi yang serupa, gampangkan menulis puisi…? apalagi menulis puisi cinta yang semua orang pernah merasakannya.

Keenam, Pilihlah Cara Pengucapan yang Tepat

Cara pengucapan merupakan kekhasan seorang penyair, ada yang cenderung pengucapan puisinya pada gaya pamfletis, seperti Darmanto, atau liris sapardi Djoko Damono, pengucapan balada seperti WS Rendra bercampur pamfletis atau pengucapan parodi dan musikal ala Hamid Jabbar.

Ketujuh, Manfaatkanlah Gaya Bahasa

Salah satu sarana dalam mewujudkan estetika adalah gaya bahasa merupakan sarana strategis yang banyak dipilih penyair untuk mengungkapkan pengalaman jiwa ke dalam karyanya. Penggayabahasaan dalam bahasa, Burhan Nurgiyantoro, tidaklah memiliki maknah harfiah melainkan makna yang ditambahkan, atau makna yang tersirat.
Gaya bahasa adalah bahasa indah yang dipergunakan untuk meningkatkan efek dengan jalan memperkenalkan serta memperbandingkan suatu benda atau hal tertentu dengan benda atau hal lain yang lebih umum (Dale et all. 1971:220), Gaya bahasa atau majas pada umumnya dikelompokkan ke dalam menjadi tiga (a) majas perbandingan seperti metafora, analogi, (b) majas pertentangan seperti ironi, hiperbola, litotes, dan (c) majas pertautan seperti metonimia, sinekdoce, eufimisme (Sudjiman, 1996:4