Sejarah Singkat PT. Unilever Indonesia, Tbk

Sejarah Singkat PT. Unilever Indonesia, Tbk

Sejarah Singkat PT. Unilever Indonesia, Tbk
Sejarah Singkat PT. Unilever Indonesia, Tbk

 PT Unilever Indonesia, Tbk merupakan bagian dari kelompok Unilever, salah satu perusahaan terbesar di dunia dibidang barang kebutuhan dasar. Unilever merupakan usaha gabungan Inggris-Belanda, mempunyai kantor pusat yang berkedudukan di London dan Rotterdam, dan memiliki tenaga kerja sebanyak 300,000 orang serta beroperasi di sekitar 75 negara.

Pasaran utama Unilever adalah detergen, pangan, dan barang kosmetika. Dalam skala dunia, merek-merek barang yang dihasilkan Unilever lebih dikenal para konsumen daripada nama Unilever sendiri. Berjuta-juta orang membeli margarine BlueBand dan Flora, Es krim Conello, Magnum, Lipton, bubuk detergen dan sabun krim Omo, sabun Sunlight, dan Lux, pasta gigi Pepsodent, Pond’s, serta banyak lagi barang merek terkenal, tanpa sekalipun melihat nama Unilever.

 1872

Di Belanda, Jurgens dan Van den Bergh membuka pabrik pertama mereka untuk memproduksi margarin.

1884

Lever & Co mulai memproduksi sabun Sunlight.

1886

Knorr – yang akan menjadi bagian Unilever – meluncurkan tablet sup dengan ekstrak daging untuk menyediakan makanan bergizi bagi konsumen berpenghasilan rendah.

1887

Di akhir tahun ini, Lever & Co menghasilkan 450 ton sabun Sunlight per minggu dan William Lever membeli lokasi yang akan dibangun menjadi Port Sunlight, pabrik besar di tepi sungai Mersey di seberang Liverpool, dengan desa yang dirancang sesuai keperluan bagi pekerjanya dan menyediakan fasilitas perumahan, kenyamanan, dan rekreasi berstandar tinggi.

1888

Jurgens dan Van den Bergh sama-sama bergerak ke pasar lain yang menguntungkan, Jerman, dan membangun pabrik di sana.

1890

Lever & Co menjadi perusahaan terbatas, yaitu Lever Brothers Ltd.

1891

Van den Bergh pindah ke kantor pusat baru di Rotterdam.

1894

Untuk mendukung dan mempromosikan minat yang semakin tinggi terhadap kebersihan pribadi, Lever & Co menciptakan produk baru yang terjangkau, yaitu Sabun Lifebuoy.

Lever Brothers menjadi perusahaan publik.

Pertengahan tahun 1890-an

Di Inggris, Lever Brothers menjual hampir 40.000 ton sabun Sunlight per tahun dan mulai memperluas usaha ke Eropa, Amerika, dan koloni Inggris dengan pabrik, bisnis ekspor, serta perkebunan.

1898

Pada masa ini, Van den Bergh sudah mempunyai 750 tenaga penjualan yang kuat dan meluncurkan margarin merek baru, yaitu Vitello.

1899

Lever Brothers memperkenalkan jenis produk baru, Sunlight Flakes, produk yang membuat pekerjaan rumah tangga lebih mudah dibandingkan dengan sabun batangan tradisional yang keras. Pada tahun 1900, Sunlight Flakes menjadi Lux Flakes.

1900 – 1909: Fokus baru pada bahan baku

Di awal bagian Abad ke-20, bisnis produk margarin dan sabun mulai saling memasuki pasar satu sama lain.

Persaingan dan kenaikan biaya bahan baku yang tajam secara tiba-tiba menyebabkan banyak perusahaan mendirikan asosiasi, mempromosikan kepentingan mereka, dan melindungi diri dari monopoli pemasok.

Dengan pasokan minyak dan lemak yang kesulitan memenuhi permintaan akibat produksi sabun dan margarin yang berkembang dengan cepat, perusahaan yang suatu hari nanti menjadi Unilever berfokus pada pengamanan sumber daya bahan baku yang stabil.

1904

Di Inggris, Lever Brothers meluncurkan produk lain untuk membuat pekerjaan rumah tangga menjadi lebih mudah, yaitu Vim, salah satu bubuk gosok pertama. Perusahaan ini didirikan di Afrika Selatan.

1906

Pada saat itu, Lever Brothers mempunyai perdagangan ekspor dan pabrik yang berkembang di tiga negara Eropa serta masing-masing satu di Kanada, Australia, dan AS. Mereka juga telah memulai perusahaan di Pasifik.

Pada tahun yang sama, Lever Brothers membuat perjanjian dengan tiga produsen lain untuk membatasi persaingan atas bahan baku, tetapi diserang oleh pres yang menyebut mereka ‘The Soap Trust’ dan menuduh mereka menaikkan harga. Lever Brothers selanjutnya menuntut Daily Mail dan pada tahun 1907 memenangi ganti rugi sebesar £50.000, jumlah ganti rugi yang luar biasa besar menurut standar di masa itu.

1908

Jurgens dan Van den Bergh membuat kesepakatan untuk membentuk asosiasi dan berbagi laba sambil tetap saling bersaing.

1909

Lever Brothers mengembangkan perkebunan kelapa sawit di Kepulauan Solomon dan pada saat yang sama Jurgens dan Van den Bergh mendirikan usaha perkebunan kelapa sawit bersama di Jerman Afrika

1910 – 1919: Perubahan selama satu dekade

Pasar sabun Inggris mencapai titik jenuh, sehingga Lever Brothers berkonsentrasi pada akuisisi.

Sementara itu, permintaan untuk margarin terus meningkat, dan Lever Brothers, Jurgens, serta Van den Bergh meningkatkan minat mereka dalam produksi bahan baku. Kondisi pasar yang keras juga menjadi pendorong perkembangan asosiasi perdagangan. Saat ada teknologi baru yang diciptakan untuk memadatkan minyak paus, berbagai perusahaan bergabung di bawah Whale Oil Pool untuk mengatur distribusi komoditas baru yang penting ini.

Namun, awan perang mulai berkumpul. Perang Dunia Pertama siap membuat dampak besar, pertama melalui permintaan yang meningkat atas sabun dan margarin, pasokan masa perang yang vital, dan kedua melalui intervensi pemerintah Inggris dan Jerman, yang secara efektif menempatkan industri minyak dan lemak di bawah kendali pemerintah.

Baca juga artikel: