Pertanian Organik Sebagai Solusi Alternatif Dalam Pembangunan

Pertanian Organik Sebagai Solusi Alternatif Dalam Pembangunan

Pertanian Organik Sebagai Solusi Alternatif Dalam Pembangunan

Pertanian Organik Sebagai Solusi Alternatif Dalam Pembangunan

Pembangunan pertanian bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia :

Pangan, sandang, papan dan lingkungan sehat melalui pengelolaan produktif sumber daya alam, sumberdaya kultural, sumber daya kapital dan teknologi. Untuk mewujudkan tujuan tersebut pembagunan pertanian akan mengalami perubahan dan penyesuaian yang cukup besar dan mendasar. Dibalik keberhasilan dengan kenaikan PDB perkapita dan pembangunan fisik, sisi negatifnya tampak dominan jika dilihat masih rendahnya tingkat pendapatan riil petani, lambatnya pertumbuhan aktivitas ekonomi berbasis pertanian pedesaan dan kesenjangan produktivitas tenaga kerja earning capacity sektor pertanian dibandingkan dengan sektor lain (Seta, AK, 2001).

Salah satu masalah yang dihadapi oleh para petani di negara yang sedang berkembang adalah usahatani mereka semakin tergantung pada teknologi pertanian modern yang tidak ramah lingkungan (Soetrisno, 1998).

Meningkatnya kegiatan produksi biomassa (tanaman yang dihasilkan kegiatan pertanian, perkebunan dan hutan tanaman) yang memanfaatkan tanah yang tak terkendali dapat mengakibatkan kerusakan tanah untuk produksi biomassa, sehingga menurunkan mutu serta fungsi tanah yang pada akhirnya dapat mengancam kelangsungan kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya (Diperta, 2012).

 

Beberapa indikator yang memprihatinkan hasil evaluasi perkembangan kegiatan pertanian hingga saat ini, yaitu :

(1) tingkat produktivitas lahan menurun, (2) tingkat kesuburan lahan merosot, (3) konversi lahan pertanian semakin meningkat, (4) luas dan kualitas lahan kritis semakin meluas, (5) tingkat pencemaran dan kerusakan lingkungan pertanian meningkat, (6) daya dukung lingkungan merosot, (7) tingkat pengangguran di pedesaan meningkat, (8) daya tukar petani berkurang, (9) penghasilan dan kesejahteraan keluarga petani menurun, (10) kesenjangan antar kelompok masyarakat meningkat (Diperta, 2012).

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, belakangan muncul trend pertanian organik yaitu kegiatan budidaya tanaman yang akrab lingkungan dengan berusaha meminimalisir dampak negatif bagi alam sekitar. Pertanian organik dicirikan dengan tidak menggunakan pupuk dan pestisida kimia sehingga hasil panennya bebas residu kimia berbahaya. Pertanian organik merupakan pertanian masa depan sebagai usaha manusia menjaga kesehatan tubuh dan kelestarian alam dan lingkungan (Yusuf, 2001).

  1. Bagaimana Visi Pembangunan Pertanian ke depan
  2. Bagaimana masalah dan tantangan pertanian berkelanjutan
  3. Apakah keunggulan dan kelemahan pertanian organik

Tujuan

  1. Untuk mengetahui Visi Pembangunan Pertanian ke depan?
  2. Untuk mengetahui masalah dan tantangan pertanian berkelanjutan
  3. Untuk mengetahui keunggulan dan kelemahan pertanian organik

Pembangunan Pertanian

Pembangunan pertanian adalah suatu proses yang menghasilkan terjadinya perubahan sosial (nilai/norma sosial, interaksi sosial, perilaku, lembaga sosial dan sebagainya) untuk mencapai pertumbuhan ekonomi (produksi, pendpatan dan kesejahteraan). Tujuan dari pembagunan pertanian, sebagaimana yang diamanatkan dalam garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) adalah untuk memenuhi kebutuhan pangan dan bahan baku industri, memperluas lapangan pekerjaan, meningkatkan taraf hidp dan kesejahteraan masyarakat, mendukung pertumbuhan dan pemerataan ekonomi serta pembangunan wilayah dan pedesaan (Anonim, 2003). Untuk mencapai tujuan tersebut maka terdapat syarat-syarat yang harus ada atau dipenuhi, syarat pokok yang harus dipenuhi antara lain; pasar produksi hasil-hasil pertanian, teknologi pertanian yang selalu berkembang, ketersediaan sarana produksi pertanian, insentif dan transportasi. Selain Syarat-syarat pokok maka dalam pembangunan pertanian juga dibutuhkan syarat-syarat pendukung meliputi : pendidikan pembangunan, kerja sama, reboisasi dan ekstensifikasi serta perencanaan pembanguan pertanian. Menurut Tjiptoheriyanto (2004) pelaksanaan pembangunan pertanian dapat diwujudkan melalui prinsip pembangunan partisipasif.

Berdasarkan pertimbangan pelaksanaan pembangunan pertanian

Di Indonesia pada saat ini, ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan pertanian alternatif:

  1. Keragaman daur-ulang limbah organik dan pemanfaatannya untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah.
  2. Memadukan sumber daya organik dan anorganik pada sistem pertanian di lahan basah dan lahan kering.
  3. Mengemangkan sistem pertanian berwawasan konservasi di lahan basah dan lahan kering.
  4. Memanfaatkan bermacam-macam jenis limbah sebagai sumber nutrisi tanaman.
  5. Reklamasi dan rehabilitasi lahan dengan menerapkan konsep pertanian organik.
  6. Perubahan dari tanaman semusim menjadi tanaman keras di lahan kering harus dipadukan dengan pengembangan ternak, pengolahan minimum dan pengolahan residu pertanaman.
  7. Mempromosikan pendidikan dan pelatihan bagi penyuluh pertanian untuk memperbaiki citra dan tujuan pertanian organik.
  8. Memanfaatkan kotoran ternak yang berasal dari unggas, babi, ayam, itik, kambing, dan kelinci sebagai sumber pakan ikan.

Pertanian Berwawasan Lingkungan

Pertanian berwawasan lingkungan bertujuan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat tani dengan mengurangi ketergantungan pada pupuk dan obat-obatan an-organik. Selain itu program juga mengarahkan kelompok dampingan untuk melakukan diversifikasi usaha berdasar potensi lokal yang ada di daerah pedesaan misalnya pengembangan sektor peternakan, perikanan, penyediaan pupuk dan pestisida organik secara mandiri, dan pengolahan hasil pertanian.

Tingkat pencemaran dan kerusakan lingkungan di lingkungan pertanian dapat disebabkan karena penggunaan agrokimia (pupuk dan pestisida) yang tidak proporsional. Dampak negatif dari penggunaan agrokimia antara lain berupa pencemaran air, tanah, dan hasil pertanian, gangguan kesehatan petani, menurunnya keanekaragaman hayati, ketidak berdayaan petani dalam pengadaan bibit, pupuk kimia dan dalam menentukan komoditas yang akan ditanam.

Penggunaan pestisida yang berlebih dalam kurun yang panjang, akan berdampak pada kehidupan dan keberadaan musuh alami hama dan penyakit, dan juga berdampak pada kehidupan biota tanah. Hal ini menyebabkan terjadinya ledakan hama penyakit dan degradasi biota tanah.

Penggunaan pupuk kimia yang berkonsentrasi tinggi dan dengan dosis yang tinggi dalam kurun waktu yang panjang menyebabkan terjadinya kemerosotan kesuburan tanah karena terjadi ketimpangan hara atau kekurangan hara lain, dan semakin merosotnya kandungan bahan organik tanah. Bahan organik tanah disamping memberikan unsur hara tanaman yang lengkap juga akan memperbaiki struktur tanah, sehingga tanah akan semakin remah. Namun jika penambahan bahan organik tidak diberikan dalam jangka panjang kesuburan fisiknya akan semakin menurun.

Baca Juga :