Connect with us

Hi, what are you looking for?

Pendidikan

Perkembangan Teori Komunikasi Dari Waktu Ke Waktu

perkembangan teori komunikasi

Perkembangan Teori Komunikasi Dari Waktu Ke Waktu – Menarik jika dalam bermacam agama, genesis (proses pembuatan awalnya manusia) sering diterangkan dengan sudut pandang antropologi komunikasi yang kental. Ada mufasir – pakar tafsiran Al Qur’an – yang menyaksikan jika sesungguhnya yang tentukan Adam sebagai manusia pertama ialah kekuatannya untuk lakukan komunikasi. Ini dapat disaksikan dalam Al Qur’an Surat Al Baqoroh (2: 30-33), jika waktu diciptakan, Tuhan “mengajarkan terhadap Adam beberapa nama (beberapa benda) semuanya” (ayat 31, garis miring dari saya).

“Beberapa nama” sebagai terjemahan dari kata asmâ’, wujud plural dari ism, yang dengan bahasa Inggris ialah sign atau symbol. Disini selanjutnya disimpulkan jika Adamlah yang pada awalnya mempunyai kekuatan untuk produksi mekanisme tanda.

Dengan mekanisme penandaan yang dibikinnya itu, bisa saja untuk “spesies” Adam ini untuk berbicara, meningkatkan pengetahuan, mengkonservasi pengalaman untuk ditransformasikan ke pribadi atau komune lain, baik ke yang mempunyai dimensi waktu yang serupa, atau yang hidup selanjutnya. Atas dasar itu karena itu, secara antropologi lingusitik, Adam jadi “manusia pertama” dalam pengertian “manusia prima” (homo sapiens) pertama, karena kekuatannya memakai mekanisme tanda itu.

Apakah itu komunikasi? Sebagai aktor komunikasi sebaiknya kita ketahui mengenai pengertian teori komunikasi. Hal tersebut dibutuhkan untuk membahas lebih jauh akan isi pada teori-teori komunikasi itu. Teori komunikasi ini nanti bisa diterapkan pada realita yang terjadi di atas lapangan. Bukti dari praktek-praktek komunikasi yang dilaksanakan oleh beberapa komunikan dan komunikator.

Pengertian Teori Komunikasi Menurut Pakar

Ada banyak pengertian teori komunikasi yang harus dipahami antara lain yakni:

Menurut Borman (1989)

Teori komunikasi ialah satu pengucapan atau istilah yang disebut payung untuk semuanya pembicaraan dan riset yang dibikin secara waspada, terstruktur dan sadar, mengenai komunikasi.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Menurut Littlejohn (1996)

Pengertian teori komunikasi ialah satu teori atau beberapa kumpulan ‘pemikiran kolektif’ yang dijumpai dalam keseluruhnya teori, khususnya yang terkait dengan proses komunikasi tersebut.

Teori Komunikasi Menurut Cragan dan Shields (1998)

Teori komunikasi ialah jalinan antara ide teoretikal yang menolong memberikan, keseluruhannya atau beberapa saja info, keterangan, pencahayaan, penilaian atau ramalam perlakuan manusia berdasar komunikator (dalam masalah ini orangnya) berbicara (yang mencakup terlibat percakapan, menulis, membaca, dengar, melihat, dan lain-lain).

Ciri-Ciri Umum Teori Komuniasi

Dari pengertian-pengertian itu kita bisa menarik ringkasan jika pengertian teori komunikasi ini mempunyai dua ciri-ciri umum yakni:

  1. Semua teori ialah abstraksi berkenaan komunikasi, yang bearti satu teori yang karakternya terbatas.
  2. Semua teori ialah konstruksi ciptaan manusia secara individu. Ini memiliki sifat relatif tergantung faktor penilaian.

Ringkasan

Dari 2 ciri-ciri teori itu, karena itu kita bisa menarik ringkasan atau menarik sebuah pengertian dari teori komunikasi yakni sebuah konseptualisasi atau bermacam pengertian yang rasional mengenai fenomena-fenomena atau bermacam peristiwa atau disebutkan kejadian komunikasi yang terjadi dalam kehidupan manusia.

Disamping itu, kita dapat mendeskripsikan teori komunikasi yaitu sebagai teori yang dipakai untuk menjelaskan, menerangkan, memandang, membuat ramalan atau perkiraan untuk pahami peristiwa atau bukti yang terjadi dalam komunikasi.

Dari perannya sendiri menurut LittleJohn, karena itu kita dapat mendeskripsikan teori komunikasi sebagai kelompok pengetahuan yang fokus pada komunikasi. Didalamnya berbentuk keterangan hasil dari penilaian hingga kita bisa meramalkan apa yang bakal terjadi pada kejadian komunikasi mendatang.

Perkiraan ini menuntut kita untuk mengeruk lebih dalam mengenai komunikasi tersebut dengan mengomunikasikannya. Dengan demikian maka jadi sebuah peranan kontrol yang dipakai sebagai fasilitas untuk berlangsungnya pengubahan sosial dalam warga.

Antropologi Perkembangan Komunikasi

Seterusnya akan diterangkan sudut pandang antropologi perkembangan pengetahuan komunikasi dalam beberapa masa yang dikenali hingga saat ini.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Masa Awal sampai Tahun 1930-an.

Masa ini sebagai kombinasi dari babak fragmentasi seperti yang dibikin oleh Delia (1900-1940) dan babak awalnya (early communication studi) dan perkembangan speech dan journalisme tahun 1900 – 1930-an menurut Ruben dan Davis. Berikut ialah banyak hal yang memikat pada periode itu untuk disaksikan dari sudut pandang antropologi.

Ruben dan Davis (hal. 22) menerangkan jika periode Yunani sebagai zaman demokrasi awalnya, di mana sudah ditingkatkan wujud pemerintah demokratis. Bermacam sektor kehidupan warga, dimulai dari usaha, pemerintah, hukum dan pengajaran keseluruhnya dikatakan secara oral. Atas dasar itu, karena itu mulai tumbuh retorika sebagai wujud persuasi.

Secara arkeologis, artefak atau situs dari jaman Yunani yang sampai saat ini masihlah ada nampaknya memang memperlihatkan situasi demokrasi berbasiskan komunikasi oral itu. Misalkan jika kita menyaksikan formasi ruangan senat di Atena yang skema tempat duduk dibikin melingkar (radial) dan berundak. Dengan formasi yang begitu, karena itu perbincangan dalam komunitas senat ini memungkinkannya untuk berlangsungnya situasi yang dialogis antara beberapa senator. Ini berlainan dengan wujud yang berhadap-hadapan dua arah yang memberikan indikasi ada rekanan kekuasaan tertentu. Pada keraton di Jawa, misalkan, ruangan sitihinggil sebagai tatap muka di antara raja dengan rakyat sebagai ruang sisi empat di mana terdapat satu bangku (singgasana) raja, sementara di arah yang bersimpangan ialah tempat kalangan (rakyat) yang ngléséh (duduk tampa bangku dan alas) di bawah raja. Ini pasti menggambarkan situasi yang feodalistik.

Mekanisme hukum waktu itu juga mengenali pengadilan dengan pembela dan juri yang banyaknya sampai beberapa ratus (ibid.: hal. 22). Aduan dan tuntutan hukum sebagai hal yang telah wajar. Untuk pembela, misalkan, kekuatannya lakukan public speaking jadi syarat mutlak. Itu kenapa retorika selanjutnya memancing ketertarikan beberapa orang untuk pelajarinya.

Adat komunikasi lisan yang kuat diperlihatkan dengan adanya banyak diketemukan folklore yang dari periode ini. Bentuknya ialah mitologi Yunani. Sampai saat ini, dogma yang dari dari periode masih dipakai secara luas, intinya dipakai untuk memberi istilah untuk peristiwa tertentu. Dalam psikologi, misalkan ada ide oedipus complex dan narcisme untuk memvisualisasikan mental yang menyukai ibu dan kagum pada diri kita terlalu berlebih. Mitologi mengenai Kotak Pandora dan Kuda Troya kerap dipakai dalam, walau tidak hanya terbatas, dunia politik.

Pada periode kekaisaran Romawi berlainan kembali. Keadaan politik yang berkembang tidak lagi demokratis, tetapi aristokrasi dengan tujuan emperium dan pengembangan daerah. Persuasi tetap jadi suatu hal yang perlu, tetapi posisinya tak lagi dalam senat atau pengadilan, karena keputusan politik dan hukum ditetapkan seutuhnya oleh kaisar, tetapi beralih ke teater. Karena itu, bentuk persuasi ialah sinetron.

Colosseum sebagai wujud ‘teater’ yang memikat untuk jadi perhatian dalam hubungan dengan komunikasi. Colosseum ialah tempat penyelenggaraan sebuah “sinetron” atraksi yang fantastis, yakni sebuah pertempuran di antara binatang (venetaiones), pertempuran di antara tahanan dan binatang, eksekusi tahanan (noxii), pertempuran air (naumachiae) dengan banjiri tempat, dan pertempuran di antara gladiator (munera). Tetapi sesungguhnya tempat ini sebagai tempat berjalannya sinetron politik di mana kaisar akan memperlihatkan kekuasaan dengan memberi perlihatkan yang kerap memiliki sifat intimidatif ke rakyatnya. Ini, satu kali lagi memperlihatkan jika retorika jadi wujud komunikasi yang utama pada periode itu.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Baik pada periode Yunani atau Romawi, ingat keutamaan retorika untuk kebutuhan khalayak, pantas diperhitungkan sudah ditingkatkan beberapa menu atau gizi tertentu (nutritional anthropology) yang ditujukan untuk hasilkan suara yang keras, hingga bisa menyokong kesuksesan retorika. Sangkaan ini disodorkan karena di Jawa, beberapa pesinden (vokalis) yang menemani karawitan dalam pertunjukan kesenian tradisionil seperti wayang kulit atau ketoprak, lakukan diet atau mengonsumsi makanan tertentu. Dari sisi ada juga tindakan tertentu pada organ vocal. Misalkan dengan lakukan gurah (keluarkan lendir dari rongga dada lewat hidung dengan ramuan tertentu) dengan teratur untuk jaga kualitas suaranya. Terakhir sistem ini dipungut oleh beberapa qari/qariah.

Pengkajian komunikasi menurun pada zaman Tengah dan Pencerahan, karena memudarnya mekanisme demokrasi dan adat oral. Bahkan juga di akhir era ke-14, di mana teori komunikasi awalnya ditingkatkan dalam retorika, saat ini ditelaah sebagai sektor keagamaan.

Akan tetapi, ide Habermas (1989) mengenai ruang umum di Eropa pada periode ini mempunyai warna antropologi yang kental. Saat dia bicara mengenai alih bentuk ruang umum pada warga borjuis Eropa saat revolusi industri, dia menyaksikan jika kedatangan jurnalis rupanya sudah geser kehadiran ruang umum itu.

Awalnya, begitu Habermas, ruangan komunikasi khalayak berada di saloon dan coffee house. Di situlah dialog, pembicaraan dan pembangunan pendapat atas desas-desus khalayak terjadi. Orang tiba ke bar tidak sekedar untuk bergabung, tetapi untuk membahas rumor politik, misalkan, yang berjalan. Persuasi dan retorika, karena itu, terjadi dalam komunikasi oral pada tempat itu.

Kedatangan mass media jurnalis selanjutnya mengubah skema komunikasi yang begitu. Pembicaraan politik tak lagi dilaksanakan pada tempat “tradisionil” seperti itu, tetapi berubah ke mass media. Koran memberikan fasilitas pembangunan pendapat khalayak dalam rasio ruangan yang lebih luas.

Zaman Tahun 1940-1950

Oleh Ruben, periode ini dikatakannya sebagai “interdisciplinary growth” untuk perkembangan pengetahuan komunikasi. Yang mencirikan ialah timbulnya beberapa periset dari bermacam disiplin pengetahuan sosial ikut meningkatkan teori komunikasi yang melebihi batasan pengetahuan asal mereka.

Sudut pandang antropologi yang dipakai pada periode ini misalkan ialah saat ditingkatkan penelitian mengenai status dan jarak badan dan gesture dalam kebudayaan tertentu, yang selanjutnya dikenali dengan expectancy violations theory. Kebudayaan yang lain akan menerjemahkan jarak individual secara berlainan juga. Judee Burgon, misalkan, mendeskripsikan ruangan individual (individual ruang) sebagai ruangan yang diharapkan oleh pribadi untuk jaga jarak sama orang lain. Menurut dia, ukuran dan wujud individual ruang itu ditetapkan oleh etika budaya dan kehendak pribadi.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Di lain sisi, Edward Hall, antropolog dari Illinois Institute of Technology, memakai istilah proxemic untuk menyebutkan pemakaian jarak sebagai elaborasi budaya. Interpretasi akan jarak ini, menurut dia, sebagai suatu hal yang tidak diakui oleh pribadi. Dia mengenali ada empat jarak proxemic dalam budaya Amerika, yakni intimate (0-18 inci), individual (18 inch – 4 kaki), sosial (4-10 kaki), dan khalayak (lebih dari 10 kaki).

Penelitian antropologi pada sektor komunikasi seperti itu telah dilaksanakan oleh bermacam pakar dari disiplin lain, walau tidak mempunyai cap sebagai riset komunikasi.

Zaman Tahun 1960-an

Zaman ini dikatakan sebagai zaman integratif yang diikuti oleh ada sintesis pertimbangan dari retorika, publisistik dan mass media dengan disiplin dari pengetahuan sosial yang lain. Tanda-tanda komunikasi jadi perhatian penting dalam bermacam disiplin pengetahuan.

Dalam opini Baran dan Davis (hal. 26), salah satunya kreasi sebagai landmark untuk zaman ini ialah Diffusion of Innovation (Rogers, 1962) yang bicara mengenai teori difusi, yakni keterangan mengenai bagaimana proses ide baru dan pengembangan tehnologi diperkenalkan sampai diadaptasi oleh barisan, organisasi atau warga.

Timbulnya teori difusi ini nampaknya jadi pertanda penting integratif pengetahuan komunikasi dengan ilmu-ilmu lain, intinya jika menyaksikan keadaan zaman itu yang telah masuk kemelut politik dan ideologi blok-blok yang turut serta dalam Perang Dingin di satu segi, dan kuatnya pola pembangunan (developmentalisme) dalam sektor ekonomi dan sosial beberapa negara yang baru lepas dari penjajahan dan condong dipengaruhi oleh Blok Barat dalam peta Perang Dingin itu.

Kecuali teori difusi, yang dipublikasi dengan napas semacam ialah misalkan tulisan Daniel Lerner (1958), The Passing of Traditional Society: Modernizing the Middle East, terjemahan Indonesia dengan judul Memudarnya Warga Tradisionil (1983) yang bicara mengenai bagaimana modernisasi dalam warga di Timur tengah diantaranya rupanya dikuasai oleh (media) komunikasi yang berkembang di tengah-tengah warga.

Dari sudut pandang antropologi, ke-2 topik itu, yakni difusi dan modernisasi, menyaksikan jika warga dengan kebudayaan dan nilai yang dihayatinya dan skema komunikasi yang ada jadi penting untuk jadi perhatian. Proses pengubahan sosial (terhitung pembangunan) cuman sukses jika faktor kebudayaan ini jadi perhatian secara benar-benar.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Dalam teori difusi, misalkan, skema dan tipe kepimpinan rupanya memengaruhi kesediaan anggota barisan untuk lakukan adopsi dan pengembangan tertentu. Sementara pada proses modernisasi, seperti diterangkan Lerner, faktor kebudayaan di tempat dapat dikuasai oleh kedatangan media komunikasi tertentu. Media dapat digunakan untuk lakukan pengubahan sosial. Koentjaraningrat (1990) menyebutkan hal yang begitu seperti mempunyai warna antropologi aplikasi dan antropologi pembangunan – memakai pengetahuan antropologis untuk tindakan tertentu, terhitung pengubahan sosial dan pembangunan.

Pada zaman ini, dalam catatan Baran dan Davis, mulai ditingkatkan antropologi lingusitik, sekalian muncul apa yang dikenali sebagai komunikasi antarbudaya (intercultural communication).

Written By

Menurut pepatah belajar itu tidak ada waktunya. So, belajar terus, sampai menemukan apa yang kamu inginkan.

Comments

You May Also Like

Business

Cara Menetaskan Telur Ikan Koi Dengan Mudah – Salah satu ide usaha yang bisa bertahan lama salah satunya yaitu budidaya ikan. Budidaya ikan koi...

Business

Sekarang tanaman porang mulai diminati oleh banyak petani karena komoditas baru ini tergolong mahal. Lalu bagaimana cara budidaya tanaman porang? Jenisnya apa saja? Serta...

Hobi

Mungkin tulisan ini bisa dikatakan sedikit usang, karena akan membahas definisi blog beserta manfaatnya. Tapi walaupun begitu, semoga tulisan ini bisa membantu bagi anda...

Business

Harga Dan Spesifikasi Lengkap, Makin Gahar!, Realme hari ini direncanakan melaunching hp terbaru yaitu Realme 8 dan Realme 8 Pro, Senin (29/3/2021). Realme menyebutnya...

Advertisement