Perkembangan Teori Komunikasi

Perkembangan Teori Komunikasi

Perkembangan Teori Komunikasi

Perkembangan Teori Komunikasi

Menarik bahwa dalam berbagai agama, genesis (proses penciptaan awal manusia) kerap dijelaskan dengan perspektif antropologi komunikasi yang kental. Ada mufasir – ahli tafsir Al Qur’an – yang melihat bahwa sebenarnya yang menentukan Adam sebagai manusia pertama adalah kemampuannya untuk melakukan komunikasi. Ini bisa dilihat dalam Al Qur’an Surat Al Baqoroh (2: 30-33), bahwa ketika diciptakan, Tuhan “mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya” (ayat 31, garis miring dari saya).
“Nama-nama” merupakan terjemahan dari kata asmâ’, bentuk plural dari ism, yang dalam bahasa Inggris adalah sign atau symbol. Dari sini kemudian diartikan bahwa Adamlah yang pada mulanya memiliki kemampuan untuk memproduksi sistem tanda.
Dengan sistem penandaan yang dibuatnya itu, dimungkinkan bagi “spesies” Adam ini untuk berkomunikasi, mengembangkan pengetahuan, mengkonservasi pengalaman untuk ditransformasikan kepada individu atau komunitas lain, baik kepada yang memiliki dimensi waktu yang sama, ataupun yang hidup sesudahnya. Atas dasar itulah maka, secara antropologi lingusitik, Adam menjadi “manusia pertama” dalam pengertian “manusia sempurna” (homo sapiens) pertama, karena kemampuannya menggunakan sistem tanda itu.
Selanjutnya akan dijelaskan perspektif antropologi perkembangan ilmu komunikasi dalam beberapa periode yang dikenal sampai saat ini.

1. Tahap Awal sampai Tahun 1930-an.

Periode ini merupakan gabungan dari fase fragmentasi sebagaimana yang dibuat oleh Delia (1900-1940) dan fase awal (early communication study) dan perkembangan speech & journalisme tahun 1900 – 1930-an menurut Ruben dan Davis. Berikut ini adalah beberapa hal yang menarik dari masa itu untuk dilihat dari perspektif antropologi.
Ruben dan Davis (hal. 22) menjelaskan bahwa masa Yunani merupakan era demokrasi awal, di mana telah dikembangkan bentuk pemerintahan demokratis. Berbagai bidang kehidupan masyarakat, mulai dari bisnis, pemerintahan, hukum dan pendidikan kesemuanya disampaikan secara oral. Atas dasar itulah, maka mulai berkembang retorika sebagai bentuk persuasi.
Secara arkeologis, artefak maupun situs dari zaman Yunani yang sampai sekarang masih ada tampaknya memang menunjukkan suasana demokrasi berbasis komunikasi oral itu. Misalnya bila kita melihat susunan ruang senat di Atena yang formasi tempat duduk dibuat melingkar (radial) dan berundak. Dengan susunan yang demikian, maka pembicaraan di dalam forum senat ini memungkinkan untuk terjadinya suasana yang dialogis di antara para senator. Ini berbeda dengan bentuk yang berhadap-hadapan dua arah yang mengindikasikan adanya relasi kekuasaan tertentu. Pada keraton di Jawa, misalnya, ruang sitihinggil yang menjadi pertemuan antara raja dengan rakyat merupakan ruangan segi empat di mana ada satu kursi (singgasana) raja, sementara di arah yang berlawanan adalah tempat kawula (rakyat) yang ngléséh (duduk tampa kursi dan alas) di bawah raja. Ini tentu mencerminkan suasana yang feodalistik.
Sistem hukum saat itu juga sudah mengenal pengadilan dengan pembela dan juri yang jumlahnya sampai ratusan (ibid.: hal. 22). Pengaduan dan gugatan hukum merupakan hal yang sudah lazim. Bagi pembela, misalnya, kemampuannya melakukan public speaking menjadi persyaratan mutlak. Itulah mengapa retorika kemudian menarik minat banyak orang untuk mempelajarinya.
Tradisi komunikasi lisan yang kuat juga ditunjukkan dengan banyaknya ditemukan folklore yang berasal dari masa ini. Wujudnya adalah mitologi Yunani. Sampai sekarang, mitos yang berasal dari dari masa masih digunakan secara luas, utamanya digunakan untuk memberikan istilah bagi fenomena tertentu. Di dalam psikologi, misalnya muncul konsep oedipus complex dan narcisme untuk menggambarkan kejiwaan yang mencintai ibu dan mengagumi diri sendiri secara berlebihan. Mitologi tentang Kotak Pandora dan Kuda Troya sering digunakan dalam, meski tidak terbatas hanya, dunia politik.
Pada masa kekaisaran Romawi berbeda lagi. Situasi politik yang berkembang bukan lagi demokratis, melainkan aristokrasi dengan orientasi emperium dan ekspansi wilayah. Persuasi masih menjadi sesuatu yang penting, namun lokasinya tidak lagi di dalam senat maupun pengadilan, karena keputusan politik dan hukum ditentukan sepenuhnya oleh kaisar, namun berpindah ke dalam teater. Karenanya, wujud persuasi adalah drama.
Colosseum merupakan bentuk ‘teater’ yang menarik untuk diperhatikan dalam hubungannya dengan komunikasi. Colosseum adalah tempat penyelenggaraan sebuah “drama” pertunjukan yang spektakuler, yaitu sebuah pertarungan antara binatang (venetaiones), pertarungan antara tahanan dan binatang, eksekusi tahanan (noxii), pertarungan air (naumachiae) dengan cara membanjiri arena, dan pertarungan antara gladiator (munera). Namun sebenarnya tempat ini juga merupakan tempat berlangsungnya drama politik di mana kaisar hendak menunjukkan kekuasaan dengan memberikan pertunjukkan yang sering bersifat intimidatif kepada rakyatnya. Ini, sekali lagi menunjukkan bahwa retorika menjadi bentuk komunikasi yang penting pada masa itu.
Baik pada masa Yunani maupun Romawi, mengingat pentingnya retorika bagi kepentingan publik, patut diduga telah dikembangkan menu-menu atau nutrisi tertentu (nutritional anthropology) yang dimaksudkan untuk menghasilkan suara yang lantang, sehingga akan menopang keberhasilan retorika. Dugaan ini diajukan karena di Jawa, para pesinden (penyanyi) yang mengiringi karawitan dalam pementasan kesenian tradisional seperti wayang kulit atau ketoprak, melakukan diet atau konsumsi makanan tertentu. Di samping juga ada perlakuan tertentu terhadap organ vokal. Misalnya dengan melakukan gurah (mengeluarkan lendir dari rongga dada melalui hidung dengan ramuan tertentu) secara rutin untuk menjaga kualitas suaranya. Belakangan metode ini diadopsi oleh para qari/qariah.
Kajian komunikasi meredup pada era Pertengahan dan Pencerahan, disebabkan memudarnya sistem demokrasi dan tradisi oral. Bahkan pada akhir abad ke-14, di mana teori komunikasi sebelumnya dikembangkan dalam retorika, sekarang dikaji sebagai bidang keagamaan.
Namun demikian, gagasan Habermas (1989) tentang ruang publik di Eropa pada masa ini memiliki warna antropologi yang kental. Ketika ia berbicara tentang transformasi ruang publik pada masyarakat borjuis Eropa pasca revolusi industri, ia melihat bahwa kehadiran pers ternyata telah menggeser keberadaan ruang publik itu.
Sebelumnya, demikian Habermas, ruang komunikasi publik terletak di saloon dan coffee house. Di situlah diskusi, perdebatan dan pembentukan opini atas isu-isu publik terjadi. Orang datang ke bar tidak sekadar untuk berkumpul, namun juga untuk mendiskusikan isu politik, misalnya, yang sedang berlangsung. Persuasi dan retorika, karenanya, terjadi dalam komunikasi oral di tempat itu.
Kehadiran media massa pers kemudian merubah pola komunikasi yang demikian. Perdebatan politik tidak lagi dilakukan di tempat “tradisional” semacam itu, namun bergeser ke media massa. Koran memfasilitasi pembentukan opini publik dalam skala ruang yang lebih luas.
2. Era Tahun 1940-1950
Oleh Ruben, masa ini disebutnya sebagai “interdisciplinary growth” bagi perkembangan ilmu komunikasi. Yang mencirikan adalah munculnya sejumlah ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu sosial turut mengembangkan teori komunikasi yang melampaui batas ilmu asal mereka.
Perspektif antropologi yang digunakan pada masa ini misalnya adalah ketika dikembangkan riset tentang posisi dan jarak tubuh dan gesture dalam kebudayaan tertentu, yang kemudian dikenal dengan expectancy violations theory. Kebudayaan yang berbeda akan menafsirkan jarak personal secara berbeda pula. Judee Burgon, misalnya, mendefinisikan ruang personal (personal space) sebagai ruang yang diinginkan oleh individu untuk menjaga jarak dengan orang lain. Menurutnya, ukuran dan bentuk personal space itu ditentukan oleh norma budaya dan kehendak individu.
Di sisi lain, Edward Hall, antropolog dari Illinois Institute of Technology, menggunakan istilah proxemic untuk menyebut penggunaan jarak sebagai elaborasi budaya. Interpretasi akan jarak ini, menurutnya, merupakan sesuatu yang tidak disadari oleh individu. Ia mengidentifikasi ada empat jarak proxemic dalam budaya Amerika, yaitu intimate (0-18 inci), personal (18 inci – 4 kaki), sosial (4-10 kaki), dan publik (lebih dari 10 kaki).
Riset antropologi terhadap bidang komunikasi semacam itu sudah dilakukan oleh berbagai ahli dari disiplin lain, meski tidak memiliki label sebagai penelitian komunikasi.
3. Era Tahun 1960-an
Era ini disebut sebagai era integrasi yang ditandai oleh adanya sintesis pemikiran dari retorika, jurnalistik dan media massa dengan disiplin dari ilmu sosial lainnya. Gejala komunikasi menjadi perhatian penting dalam berbagai disiplin ilmu.
Dalam pendapat Baran & Davis (hal. 26), salah satu karya yang menjadi landmark bagi era ini adalah Diffusion of Innovation (Rogers, 1962) yang berbicara tentang teori difusi, yaitu penjelasan tentang bagaimana proses gagasan baru dan inovasi teknologi dikenalkan sampai diadaptasi oleh kelompok, organisasi atau masyarakat.
Munculnya teori difusi ini tampaknya menjadi penanda penting integrasi ilmu komunikasi dengan ilmu-ilmu lain, utamanya bila melihat situasi era itu yang sudah memasuki ketegangan politik dan ideologi blok-blok yang terlibat dalam Perang Dingin di satu sisi, dan menguatnya paradigma pembangunan (developmentalisme) dalam bidang ekonomi dan sosial negara-negara yang baru terlepas dari penjajahan dan cenderung terpengaruh oleh Blok Barat dalam peta Perang Dingin itu.
Selain teori difusi, yang juga dipublikasi dengan nafas sejenis adalah misalnya tulisan Daniel Lerner (1958), The Passing of Traditional Society: Modernizing the Middle East, terjemahan Indonesia berjudul Memudarnya Masyarakat Tradisional (1983) yang berbicara tentang bagaimana modernisasi dalam masyarakat di Timur Tengah salah satunya ternyata dipengaruhi oleh (media) komunikasi yang berkembang di tengah masyarakat.
Dari perspektif antropologi, kedua tema itu, yaitu difusi dan modernisasi, melihat bahwa masyarakat dengan kebudayaan beserta nilai yang dihayatinya serta pola komunikasi yang ada menjadi sangat penting untuk diperhatikan. Proses perubahan sosial (termasuk pembangunan) hanya berhasil bila aspek kebudayaan ini diperhatikan secara sungguh-sungguh.
Dalam teori difusi, misalnya, pola dan jenis kepemimpinan ternyata mempengaruhi kesediaan anggota kelompok untuk melakukan adopsi dan inovasi tertentu. Sementara dalam proses modernisasi, sebagaimana dijelaskan Lerner, aspek kebudayaan setempat bisa dipengaruhi oleh kehadiran media komunikasi tertentu. Media bisa dimanfaatkan untuk melakukan perubahan sosial. Koentjaraningrat (1990) menyebut hal yang demikian semacam memiliki warna antropologi terapan dan antropologi pembangunan – menggunakan pemahaman antropologis untuk perlakuan tertentu, termasuk perubahan sosial dan pembangunan.

Pada era ini juga, dalam catatan Baran dan Davis, mulai dikembangkan antropologi lingusitik, sekaligus mengemuka apa yang dikenal sebagai komunikasi antarbudaya (intercultural communication).


Sumber: https://blogs.uajy.ac.id/teknopendidikan/seva-mobil-bekas/