OKRATOKSIN

OKRATOKSIN

OKRATOKSIN
OKRATOKSIN

 

Okratoksin, terutama Okratoksin A (OA) diketahui

sebagai penyebab keracunan ginjal pada manusia maupun hewan, dan juga diduga bersifat karsinogenik. Okratoksin A ini pertama kali diisolasi pada tahun 1965 dari kapang Aspergillus ochraceus. Secara alami A. ochraceus terdapat pada tanaman yang mati atau busuk, juga pada biji-bijian, kacang-kacangan dan buah-buahan. Selain A.ochraceus, OA juga dapat dihasilkan oleh Penicillium viridicatum (Kuiper-Goodman, 1996) yang terdapat pada biji-bijian di daerah beriklim sedang (temperate), seperti pada gandum di eropa bagian utara.

 

P.viridicatum tumbuh pada suhu antara 0 – 310 C

dengan suhu optimal pada 200C dan pH optimum 6 – 7. A.ochraceustumbuh pada suhu antara 8 – 370C. Saat ini diketahui sedikitnya 3 macam Okratoksin, yaitu Okratoksin A (OA), Okratoksin B (OB), dan Okratoksin C (OC). OA adalah yang paling toksik dan paling banyak ditemukan di alam. Hal penting yang berkaitan dengan perdagangan komoditas kopi di pasar internasional adalah bahwa sebagian besar negara pengimpor/ konsumen kopi mensyaratkan kadar OA yang sangat rendah atau bebas OA.

Selain pada produk tanaman, ternyata OA dapat ditemukan pada berbagai produk ternak seperti daging babi dan daging ayam. Hal ini karena OA bersifat larut dalam lemak sehingga dapat tertimbun di bagian daging yang berlemak. Manusia dapat terekspose OA melalui produk ternak yang dikonsumsi.

 

Okratoksin A

Okratoksin A (OTA) merupakan jenis mikotoksin yang banyak mengkontaminasi komoditas pertanian dan pakan. Okratoksin A ini diketahui pertama kali pada tahun 1965 di Afrika Selatan yang diproduksi oleh kapang Aspergillusochraceus. Selanjutnya diketahui OTA dapat juga dihasilkan oleh kapang Penicillium verrucosum dan P. viridicatum (pada umumnya terdapat di daerah subtropis) dan A. carbonarius(pada umumnya terdapat di daerah tropis). Selain OTA terdapat okratoksin B (C20H19NO6), C (C22H22ClNO6), a dan b. OTA merupakan molekul yang cukup stabil, dan dapat bertahan pada produk olahan bahan pangan. OTA pertama kali ditemukan sebagai kontaminan alami pada sampel jagung. Konsentrasi OTA yang sering ditemukan berkisar dibawah 50 mcg/kg (ppb); namun jika produk pangan tersebut disimpan dengan cara yang tidak layak maka konsentrasi OTA bisa menjadi lebih tinggi. Senyawa ini juga terdapat pada produk seperti kopi, bir, buah kering, wine, kakao dan kacang-kacangan. Keberadaan OTA juga ditemukan selama proses pembuatan bir, roti, sereal sarapan dan pengolahan kopi, pakan dan daging.

OTA merupakan mikotoksin yang bersifat teratogenik, mutagenik dan karsinogenik dan berpotensi menyebabkan kerusakan

terutama pada hati dan ginjal (akut maupun kronis). OTA dapat pula

menyebabkan gangguan pada sistem kekebalan untuk sejumlah spesies mamalia.

ZEARALENON

Zearalenon adalah toksin estrogenik yang dihasilkan oleh kapang Fusarium graminearum, F.tricinctumdan F. moniliforme. Kapang ini tumbuh pada suhu optimum 20 – 250C dan kelembaban 40 – 60 %. Jenis ini menyerang padi-padiandan cenderung tumbuh terutama selama musim panen, dan musim dingin. Zearalenon stabil terhadap panas dan ditemukan pada hampir setiap produk pertanian dan berbagai padi-padian, jagung dan produk jagung, gandum, bir jagung, tepung terigu, kenari dan roti dan dalam pakan ternak. Zearalenon secara alami membentuk estrogen yang menyebabkan efek hormonal pada hewan ternak terutama babi. Pengaruh zearalenon paling penting terhadap sistem reproduksi. Di Selandia Baru, zearalenon merupakan penyebab infertilitas pada kambing walaupun toksisitas akutnya rendah. Kemampuan zearalenon menimbulkan hiperestrogenism, terutama pada babi telah diketahui selama bertahuntahun. Zearalenon pertama kali diisolasi pada tahun 1962. Mikotoksin ini cukup stabil dan tahan terhadap suhu tinggi.

Hingga saat ini paling sedikit terdapat 6 macam turunan zearalenon, diantara nya α-zearalenol yang memiliki aktivitas estrogenik 3 kali lipat daripada senyawa induknya. Senyawa turunan lainnya adalah 6,8-dihidroksizearalenon, 8-hidroksizearalenon, 3-hidroksizearalenon, 7-dehidrozearalenon, dan 5- formilzearalenon. Komoditas yang banyak tercemar zearalenon adalah jagung, gandum, kacang kedelai, beras dan serelia lainnya.

Zearalenon dan deoksinivalenol adalah mikotoksin yang dihasilkan terutama oleh kapang Fusarium graminiarum yang dapat membahayakan kesehatan ternak. Zearalenon bersifat estrogenik pada ternak sapi maupun babi dan dapat menyebabkan gangguan reproduksi, sedangkan deoksinivalenol walaupun toksisitasnya rendah namun dapat menyebabkan gejala penolakan pakan. Suatu penelitian untuk mengetahui keberadaan cemaran kedua mikotoksin tersebut telah dilakukan pada 34 sampel dari berbagai jenis pakan dan bahan pakan sapi serta babi (jagung, dedak dan berbagai jenis bungkil) yang dikoleksi dari daerah kabupaten Bandung, Subang dan Tangerang. Sampel diekstraksi menggunakan pelarut organik dan dianalisis terhadap cemaran zearelenon dan deoksinivalenol. Hasil analisis menunjukkan bahwa zearalenon ditemukan pada 30 sampel (88,23%) yang dianalisis dengan konsentrasi tertinggi yaitu 473,3 ppb, sedangkan deoksinivalenol ditemukan pada 13 sampel (38,23%) dengan konsentrasi tertinggi 1280 ppb. Hal tersebut menunjukkan bahwa kedua jenis mikotoksin tersebut juga telah mencemari beberapa bahan pakan dan pakan yang dianalisis, walaupun tingkat cemarannya belum mencapai tingkat yang membahayakan kesehatan ternak babi maupun sapi.

Sumber : https://www.okeynotes.com/blogs/212521/19500/fabel-adalah