Lenong Betawi, Riwayatmu Kini

Terbaru.co.id — Siapa orang Indonesia yang tidak kenal atau tidak pernah mendengar kata ‘lenong’ atau ‘lenong betawi’? Kesenian khas Betawi berupa sandiwara ini akrab di telinga kita karena tampilannya dengan dialek khas Betawi. Padahal dahulunya kesenian khas Betawi ini tidak melulu yang berdialek Betawi semata.
Ada pula yang menyuguhkannya dengan bahasa Melayu tinggi. Nah, bagaimana sebenarnya sejarah lenong betawi, jenis-jenisnya, dan perkembangannya hingga dewasa ini?

Sejarah Lenong Betawi

Pada dasarnya, kesenian tradisional ini berkembang sekitar akhir abad 19 atau kalau tidak bisa dikatakan pada awal abad 20. Lenong Betawi ini cukup unik karena merupakan percampuran budaya dari dua etnik yang berbeda, yaitu Cina dengan Indonesia.
Bagaimana hal ini mungkin terjadi? Hal ini tak terlepas dari kebijakan pemerintah kolonial Belanda kala itu yang membagi warga Jakarta dalam tiga kelompok sosial, yaitu mereka yang (1) Eropeanen (bangsa Eropa), (2) Inlander (bumiputra), dan mereka yang merupakan bangsa-bangsa Timur Asing (karena disebut Oost Indische Inbeemsen). Bangsa asing dari Timur yang kala itu menghuni Jakarta di antaranya berasal dari Cina, India, Arab, dan Pakistan.
Dari bangsa-bangsa Timur asing ini, orang Cina jelas merupakan penduduk dengan populasi terbanyak. Wajar kalau kemudian mereka juga menjadi yang paling sering berinteraksi dengan bumiputra. Hal inilah yang kemudian memengaruhi perkembangan lenong, kesenian yang merupakan akulturasi kedua budaya tersebut.
Kesenian khas Betawi ini sendiri berasal dari kata lay dan nong. Lay bermakna ‘kemarilah’ (dalam bahasa Cina) dan nong yang bermakna ‘perempuan’ (dalam bahasa Sunda). Rasanya cukup aneh. Mengapa namanya diambil dari frasa ‘kemarilah perempuan?’. Hal ini tak terlepas dari kondisi sosial kala itu.
Ketika itu tengah muncul gerakan agar perempuan mendapatkan hak sederajat dengan kaum lelaki. Kontras dengan kenyataan bahwa anak gadis kala itu masih dipingit, ada ajakan dari orang-orang yang mengadakan lenong kepada para perempuan untuk bangkit dan melawan dominasi dan aturan yang terlalu mengekang mereka.
Selain itu, memang pada awal abad 20 (tahun 1900-an), banyak orang yang memanfaatkan datang ke sebuah arena pertunjukan untuk mencari jodoh untuk berkenalan dengan dara-dara cantik. Selain itu, dengan mengambil kata ‘kemarilah perempuan’, para pemain seni ini berusaha menarik para pemuda untuk berbondong-bondong menonton mereka.
Seperti disebutkan di muka, pengaruh kebudayaan Cina cukup kuat kepada kesenian khas Betawi ini. Hal ini dapat dilihat dari alat musik dalam pertunjukan tersebut, serta gerakan para pemain yang jika dirunut dekat sekali dengan budaya Cina. Pada perkembangannya nanti, salah satu jenis lenong, yaitu lenong denes yang kini hampir punah, memang menjadi bukti campuran budaya Cina-Pribumi tersebut.

Jenis-Jenis Lenong Betawi

Berdasarkan latar cerita yang dipentaskan, Lenong Betawi ini dapat dibagi menjadi dua, yaitu (1) lenong dines, dan (2) lenong preman.
Sesuai dengan namanya, lenong dines menampilkan cerita yang berkaitan dengan kerajaan. Ya, tengoklah kata denes (dines) yang sama maknanya dengan ‘dinas’. Kata ini mencerminkan tokoh-tokoh yang diperankan, berupa orang-orang berkedudukan tinggi, berpangkat, atau orang-orang dinas dalam lenong jenis ini. Ragam ceritanya banyak, meliputi cerita kerajaan dengan raja, putri, bangsawan, pangeran, dan para hulubalangnya. Mulai dari kisah Jula-Juli Bintang Tujuh, kisah yang dicuplik dari Kisah Negeri 1001 Malam, atau Cerita Indra Bangsawan.
Sesuai dengan ‘statusnya’ yang mengisahkan cerita orang-orang ternama/kerajaan yang berkedudukan tinggi, bahasa yang dipakai ketika kesenian khas Betawi ini dipentaskan, berbeda dengan bahasa Betawi. Yang dipakai adalah bahasa Melayu tinggi dengan kata-kata yang cenderung ‘halus’ pula, seperti ucapan ‘hamba’, ‘syahdan’, atau ‘daulat tuanku’ dan yang sejenisnya. Uniknya, dialog-dialog dalam lenong jenis ini dinyanyikan.
Tentu, dengan bahasa yang cenderung lebih sopan, tokoh-tokoh utamanya jarang mendapatkan kesempatan untuk melakukan guyonan yang membuat penonton terpingkal. Lalu, dari mana kita bisa tertawa kala menonton lenong dines? Dari tokoh dayang atau pembantu (Khadam) yang dimunculkan dalam pementasan; yang tugasnya ‘memeriahkan susasana’.
Keunikan lain dari lenong betawi, meskipun dimainkan di Betawi, kesenian khas Betawi ini  justru tidak menyuguhkan teknik-teknik silat dalam adegan perkelahian. Yang dijadikan suguhan adalah gulat, tinju, dan permainan anggar. Musik pengiringnya, berupa gambang kromong. Khusus pada bagian berkelahi, tambur dijadikan sebagai alat musik tambahan demi membuat keadaan semakin seru.
Kontras dengan lenong dines, terdapat lenong preman. Sesuai dengan namanya, kesenian ini menyampaikan kisah seputar para jagoan dari kalangan rakyat bawah. Misalnya, tokoh Si Pitung atau Pandekar Sambuk wasiat. Tema yang disuguhkan adalah kepahlawanan para jagoan dalam menghadapi kekejaman dan ketidakadilan tuan tanah. Dan kontras dengan lenong dines pula, latarnya bukan istana kerajaan dengan gemerlapnya, melainkan kehidupan rumah tangga yang kita hadapi sehari-hari.
Bahasa yang dipakai, tentu bukan bahasa Melayu tinggi, melainkan bahasa Betawi. Ada nilai plus sekaligus minus dengan penggunaan bahasa ini. Dari sudut positif, memakai bahasa Betawi membuat para pemainnya lebih mudah berakrab-akrab diri dengan penonton.
Mereka bisa menggunakan bahasa yang lumrah ini untuk membuat pertunjukan lebih atraktif lagi. Namun, di sinilah letak sudut minusnya. Karena bahasa yang demikian, akan muncul kesan kasar atau kurang sopan. Celetukan yang keluar juga kadang berbau humor dewasa.
Satu lagi perbedaan mencolok antara lenong dines dan preman, adalah suguhan beladiri yang diperagakan. Karena berasal dari Betawi langsung dan merupakan perwujudan kehidupan sehari-hari. Bela diri yang disuguhkan dalam lenong preman adalah pencak silat, tidak seperti yang disebut pertama. Jangan lupakan pula kostum yang membedakan keduanya.
Lenong dines pasti menggambarkan sosok raja atau putri kerajaan dengan pakaian yang penuh hiasan, terlihat megah, dan eksklusif. Sebaliknya, dalam lenong preman, pakaian yang dipakai sangat sederhana. Biasanya tokoh jagoan identik dengan celana di bawah lutut, ikat kepala, dan kaos oblong.
Namun, yang dari hari ke hari terus bertahan, bukanlah lenong denes, melainkan lenong preman. Tentu keadaan ini sangat kontras dengan keadaan pada masa penjajahan Belanda. Ketika itu, justru lenong denes yang mendapatkan angin segar. Bahkan bebas dimainkan.
Maklum, hal ini tidak terlepas dari kenyataan, lenong denes memeragakan kisah kerajaan yang otomatis tidak digunakan sebagai simbol perlawanan atau kritikan terhadap Belanda. Beda halnya dengan lenong preman yang menampilkan tokoh-tokoh jagoan yang berjuang melawan kekuasaan tuan tanah dan sebagainya yang dapat memantik semangat perlawanan terhadap penjajah.

Perkembangan Lenong Betawi Dewasa Ini

Upaya masyarakat Betawi pada khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya untuk mempertahankan Lenong Betawi ini terus dan terus dilakukan. Adalah sebuah keunikan tersendiri bahwa pernah muncul Lenong Rumpi, drama komedi yang dibuat pada tahun 1991 dengan bintang di antaranya Debby Sahertian, Ira Wibowo, Jimmy Gideon, dan Harry de Fretes.
Lenong Rumpi bisa dikatakan sebuah terobosan untuk memperkenalkan lenong ke seluruh rakyat Indonesia, dengan ditayangkan di RCTI kala itu. Unsur-unsur khas lenong masih dipertahankan, dengan mencampurkan dengan perkembangan budaya dan misi multikulturalisme di Indonesia. Hasilnya, adalah tontonan yang berkualitas.
Ada pula Lenong Bocah, drama komedi yang menjadi serial di TPI. Lenong Bocah ini dimainkan oleh mereka yang bergabung dengan Sanggar Ananda. Beberapa pemain Lenong Bocah yang kemudian ngetop berkat tampil di acara ini adalah Olga Syahputra, Ruben Onsu, Melissa, Chika dan Lia WaOde, hingga Pretty Asmara.

Share:

admin

Halo, perkenalkan saya merupakan owner dari Terbaru Online. Silahkan kontak kami untuk bekerjasama melalui website ini

Leave a Reply