Kekakuan Kayu

Kekakuan Kayu

Kekakuan KayuKekakuan Kayu

Kekakuan kayu, baik yang dipergunakan sebagai balndar maupun tiang, ialah suatu ukuran kekuatan dalam kemampuannya menahan perubahan bentuk atau lengkungan. Kekakuan tersebut dinyatakan dalam istilah modulus elastisitas yang berasal dari pengujian-pengujian keteguhan lekung statik (Dumanauw, 1990).

5. Keuletan Kayu

Keuletan kayu merupakan salah satu istilah dalam sifat mekanik kayu yang biasa digunakan. Misalnya, kayu yang sukar dibelah dikatakan ulet. Ada pula yang mengatakan bahwa kayu yang ulet adalah kayu yang tidak akan patah sebelum bentuknya berubah karena beban-beban yang sama atau mendekati keteguhan maksimum-nya, atau kayu yang telah patah dan di lekuk bolak-balik terputus atau terlepas (Dumanauw, 1990).
Dalam uraian ini, keuletan kayu diartikan sebagai kemampuan kayu untuk menyerap sejumlah tenaga yang relatif besar atau tahan terhadap kejutan-kejutan atau tegangan-tegangan yang berulang-ulang, yang melampaui batas proposional serta mengakibatkan perubahan bentuk yang permanen dan kerusakan sebagian. Keuletan merupakan kebalikan dari kerapuhan kayu dalam arti bahwa kayu yang ulet akan patah secara berangsr-angsur dan memberi suara peringatan tentang kerusakannya. Sifat keuletan ini terutama merupakan faktor yang penting untuk menentukan kepastian suatu jenis kayu tertentu untuk digunakan sebagai tangkai alat pemukul, alat alat olahraga, dan penggunaan-penggunaan lain sebagai bagian dari alat untuk mengerjakan sesuatu (Dumanauw, 1990).
6. Kekerasan Kayu
Kekerasan kayu merupakan ukuran kekuatan kayu untuk menahan gaya-gaya yang membuat lekukan seperti penggoresan, pengikisan, pemotongan, atau pun perusakan benda-benda yang lebih keras (Soenardi, 1976), Lebih lanjut, Scharai Rad (1994) juga berpendapat bahwa kekerasan adalah daya tahan suatu benda padat melawan masuknya benda padat lain dengan suatu kekuatan. Biasanya kekerasan yang terdapat pada suatu kayu digunakan sebagai bahan ukuran ketahanan kayu. Hal ini merupakan suatu pertimbangan untuk menentukan apakah suatu jenis kayu tertentu untuk digunakan sebagai lantai rumah, balok pengerasan, pelincir sumbu, dan lain lain. Kekerasan dalam arah sejajar serat pada umumnya melampaui kekerasan kayu dalam arah yang lain (Dumanauw, 1990).
7. Keteguhan Belah Kayu
Keteguhan belah merupakan ukuran kekuatan kayu dalam menahan suatu gaya yang bekerja dari luar untuk membelah kayu. Dalam keteguhan belah juga dikenal dengan tegangan belah. Tegangan belah merupakan suatu tegangan yang terjadi karena adanya gaya yang berperan sebagai baji. Sifat keteguhan belah yang rendah sangat baik untuk pembuatan sirap atau pun pembuatan kayu bakar. Sebaliknya, keteguhan belah yang tinggi sangat baik untuk pembuatan jenis ukiran-ukiran (patung). Sebagai contoh, kayu ulin baik untuk pembuatn sirap, kayu sawo baik untuk pembuatan patung ataupun popor senjata, dan lain sebagainya (Dumanauw, 1990).
8. Keteguhan Tekan Kayu (Kompresi) Kayu
Keteguhan tekan suatu jenis kayu merupakan kekuatan kayu untuk menahan muatan jika kayu tersebut digunakan untuk keperluan tertentu. Dalam hal ini dibedakan menjadi dua macam keteguhan tekan yakni keteguhan tekan tegak lurus arah serat dan keteguhan tekan sejajar arah serat. Keteguhan tekan tegak lurus arah serat menentukan ketahanan kayu terhadap beban. Keteguhan ini mempunyai juga hubungan dengan kekerasan kayu dan keteguha geser (Dumanauw, 1990). Keteguhan tekan sejajar arah serat merupakan ketahanan kayu yang cenderung untuk memendekkan kayu dalam arah longitudinal. Kteguhan tekan ini menentukan beban yang dapat dipikul suatu tiang atau pancang yang pndek (Haygreen & Bowyer, 1982). Kekuatan yang tinggi pada tekanan logitudinal diperlukan pada kayu yang digunakan sebagai tiang, sangga, kaki kursi dan lain-lain (Desch & Dinwoodie, 1981).