ITB Gunakan IT Pastikan Alumninya Sukses Seusai Lulus

ITB Gunakan IT Pastikan Alumninya Sukses Seusai Lulus

ITB Gunakan IT Pastikan Alumninya Sukses Seusai Lulus
ITB Gunakan IT Pastikan Alumninya Sukses Seusai Lulus

Institut Teknologi Bandung (ITB) menjadi perguruan tinggi pertama yang melakukan studi pelacakan alumni

– atau biasa disebut tracer study – pada mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi.

Hal ini diantaranya bertujuan untuk memberikan umpan balik dan mengukur tingkat keberhasilan program Bidikmisi di perguruan tinggi, khususnya di ITB.

Ketua Lembaga Kemahasiswaan ITB Dr. Eng. Sandro Mihradi mengungkapkan, program Bidikmisi diluncurkan pemerintah sejak 2010 lalu, sebagai terobosan guna mengangkat masyarakat dari golongan ekonomi bawah agar dapat keluar dari lingkaran kemiskinan, melalui pendidikan.

Pihaknya melakukan tracer study khususnya pada alumni Bidikmisi ITB angkatan 2010 sebagai angkatan pertama

program Bidikmisi dengan tujuan diantaranya untuk melihat tingkat keberhasilan program dengan cara mengukur profil alumni saat masih kuliah dan pada awal karir mereka setelah lulus.

“Kami melakukan tracer study pada alumni penerima beasiswa Bidikmisi guna melihat secara umum apakah program ini berhasil atau tidak? Dengan parameter-parameter tertentu, seperti berapa lama waktu studi mereka di ITB, berapa IPK rata-rata mereka, seberapa aktif mereka dalam organisasi kemahasiswaan, diperoleh bagaimana profil mereka saat masih kuliah. Kemudian dengan melacak bagaimana awal karir mereka setelah lulus, seperti apa pekerjaan utama mereka, berapa lama waktu tunggu sebelum mendapatkan pekerjaan pertama, berapa penghasilan rata-rata mereka, seberapa besar relevansi antara pekerjaan mereka saat ini dengan bidang ilmu yang dipelajari saat kuliah, diperoleh gambaran atau potret keberhasilan mereka saat ini. Secara umum dapat dikatakan program Bidikmisi ini berhasil,” tuturnya.

Jumlah responden alumni Bidikmisi angkatan 2010 dalam tracer study ini sebanyak 469 orang, atau sekitar 18%

dari keseluruhan responden tracer study ITB untuk angkatan 2010 (2651 orang) yang memiliki response rate sebesar 91%. Beberapa fakta menarik yang diperoleh dari tracer study ini diantaranya adalah IPK rata-rata mereka sebesar 3,31, lebih tinggi sedikit dibandingkan rata-rata mahasiswa non bidikmisi yang sebesar 3,26.

Kemudian untuk lama studi, sebanyak 56,72% lulus dalam waktu 4 tahun, sedikit lebih banyak dibandingkan mahasiswa non bidikmisi sebesar 55,16%. Kemudian juga diketahui bahwa saat masih kuliah, 63% mahasiswa Bidikmisi mencari penghasilan tambahan, dan 10,9% dari mereka masih menopang biaya hidup keluarganya.

Berdasarkan analisis awal karir mereka, sebanyak 68% lulusan memilih bekerja di perusahan dengan penghasilan rata-rata Rp 7,5 juta/bulan, kemudian 5% memilih berwirausaha dengan penghasilan sekitar Rp. 9,5 juta/bulan, 6% bekerja sambil berbisnis dengan penghasilan sekitar Rp. 7,2 juta/bulan, dan sebanyak 15% memilih melanjutkan studi ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Kemudian sekitar 72% mengatakan pekerjaan yang mereka jalani sesuai dengan bidang ilmu yang mereka pelajari saat kuliah.

Jika melihat dari rata-rata penghasilan per bulannya, diharapkan para alumni Bidikmisi ini bisa ikut mengangkat kehidupan keluarganya, seperti membantu adik atau kakaknya, orang tuanya, dan keluarga dekatnya, sehingga jika dilihat secara makro, efeknya akan signifikan dalam menurunkan angka kemiskinan masyarakat,” ujar Sandro.

Ia menyebutkan, ada sekitar 10% mahasiswa Bidikmisi yang menggunakan sebagian dana beasiswanya untuk membantu keluarga. Hal ini cukup mengejutkan jika mengingat jumlah dana beasiswa dari pemerintah terbatas, yaitu Rp 1 juta/bulan/mahasiswa, dimana perguruan tinggi dapat mengambil maksimal 40% dari dana beasiswa tersebut untuk SPP, dan sisanya untuk biaya hidup mahasiswa. Mengingat standard hidup di kota besar seperti Bandung terbilang tinggi, maka ITB hanya memotong sebesar Rp. 50.000 saja untuk biaya pendidikan, sedangkan Rp. 950.000 diberikan pada mahasiswa untuk biaya hidup.

Dengan jumlah tersebut, Sandro menilai bahwa dana beasiswa yang diperoleh mahasiswa Bidikmisi masih dibawah standard kehidupan layak saat ini, khususnya di kota besar. Untuk meringankan beban mahasiswa Bidikmisi, ITB menganggarkan Rp 1 Miliar per tahun untuk voucher makan mahasiswa Bidikmisi yang dapat digunakan di kantin-kantin kampus.

 

Baca Juga :