‘Illat Hukum, Syarat, Macam & Perbedaannya

‘Illat Hukum, Syarat, Macam & Perbedaannya

 

‘Illat Hukum, Syarat, Macam & Perbedaannya

‘Illat Hukum

Jumbur kaum muslimin sepakat bahwa Syari’ tidaklah menetapkan suatu hokum tanpa suatu maksud atau alas an yang terkandung didalamnya. Tetapi ia mensyariatkan sesuatu ketentuan hukum karena beberapa sebab yang menuntut dan untuk mewujudkan beberapa kemaslahatan yang ditujunya. Kemaslahatan ini tentu saja adalah kemaslahatan manusia baik individu maupun komunal dan tidak diragukan lagi bahwa kemaslahatan tersebut tak lain dari, “menarik manfaat”, “menolak bahaya” atau “menghilangkan kesulitan”. Kebanyakan nash-nash yang menetapkan hukum itu tidak menghubungkan hukum dengan maslahatyang dimaksudkan itu sendiri, tetapi menghubungkannya dengan sesuatu yang mempunyai hubungan dengan terwujudnya maslahat tersebut. Nama dari maslahat yang dimaksud dalam penetapan hukum itu disebut denagn Hikmatul Hukmi atau Hikmah hukum. Sedangkan hal yang menimbulkan hikmah hukum disebut dengan ‘illat hukum.
Dengan demikian ‘illat adalah sifat yang terdapat dalam unsur pokok ashal yang dijadikan landasan hukum dan diketahui pula terdapat pada unsur cabang far’u. Sebagai contoh “kemabukan” adalah sifat yang terdapat pada khamar yanag dijadikan landasan hukum “haram “ meminumnya. Karena ‘illat- nya adalah “kemabukan” maka segala sesuatu yang dapar menyebabkan mabuk dapat diqiyaskan dengan khamar dan hukumnya sama dengan khamar yaitu haram.

Perbedaan ‘illat hukum, hikmah hukum, dan sebab hukum

‘Illat hukum adalah suatu hal yang sudah jelas dan pasti yang dijadikan dasar bagi pembuatan hukum serta ada atau tudaknya suatu hukum. Hikmah hukum adalah tujuan yang dimaksudkan oleh syara’ untuk mencari kemaslahatan yang harus didayagunakan dan kemudharatan yang harus dihindari. Sedangkan ada perbedaan pendapat dikalangan Ulama Usul mengenai sebab hukum, ada yang menganggapnya sama dengan ‘illat hukum dan ada yang mendefisikannya berbeda, yakni hal yang sudah jelas dan pasti yang dijadikan dasar bagi pembuatan hukum serta ada atau tidaknya suatu hukum akan tetapi tidak dapat dianalisa alasannya oleh akal. Sebagai contoh adalah peristiwa tenggelamnya matahari sebagai sebab kewajiban shalat maghrib bukan sebagai ‘illat, arena tenggelamnya matahari tidak dapat dipikirkan oleh akal tentang hubungannya dengan shalat maghrib.

Syarat-syarat ‘illat

Syarat-syarat ‘illat yang telah disepakati oleh Ulama Ushul ada empat macam yakni :
1. ‘illat itu berupa sifat yang jelas atau dapat diindera, karena ia digunakan untuk mengenal hukum yang akan ditetapkan pada cabangnya, maka harus dapat dilihat pada cabangnya pula.
2. ‘Illat itu harus berupa sifat yang pasti ( mundhabith ), karena asas qiyas itu adalah mempersamakan ‘illat hukum pada cabang dengan asalnya. Persaman itu mengharuskan adanya ‘illat secara pasti, sehingga memungkinkan persamaan hukum antara kedua peristiwa itu.
3. ‘Illat itu harus berupa sifat yang sesuai ( munasih ) dengan hikmah hukum.
4. ‘illat tu harus terdapat pada asal dan cabang sehingga dapat ditetapkan pada beberapa masalah selain masalah yang cabangnya itu.

Baca Juga: https://www.pendidik.co.id/sholat-rawatib/

Macam-macam ‘Illat

1. Ditinjau dari segi eksistensinya
a. ‘Illat Naqliyah, ‘illst yang ditunjukkan langsung oleh nash secara jelas dan tegas, dengan menggunakan lafal tertentu.
b. ‘Illat Isimbathiyah, ‘illat yang ditetapkan berdasarkan istimbath, karena tidak disebutkan secara langsung oleh nash secara tegas.
2. Ditinjau dari segi pengakuan syara’
a. Munasih Muatsir
b. Munasih Mulaiin
c. Munatsih Mulgha
d. Munatsih Mursal / Uthlaq