Hubungan Kebebasan, Tanggung Jawab dan Hati Nurani dengan Akhlak

  1. Hubungan Kebebasan, Tanggung Jawab dan Hati Nurani dengan Akhlak

Suatu perbuatan, baru dapat dikategorikan sebagai perbuatan akhlaki atau perbuatan yang dapat dinilai berakhlak, apabila perbuatan tersebut dilakukan atas dasar kemauan sendiri, bukan paksaan, dan bukan pula dibuat-buat dan dilakukan dengan tulus ikhlas. Untuk mewujudkan perbuatan akhlak yang ciri-cirinya demikian, baru bisa terjadi apabila orang yang melakukannya memilki kebebasan atau kehendak yang timbul dari dalam dirinya sendiri. Dengan demikian, perbuatan yang berakhlak itu adalah perbuatan yang dilakukan dengan sengaja secara bebas. Disinilah letak hubungan antara kebebasan dan akhlak.

Selanjutnya, akhlak juga harus dilakukan atas dasar kemauan sendiri dan bukan paksaan. Perbuatan yang seperti inilah yang dapat dimintakan pertanggungjawabannya dari orang yang melakukannya. Disinilah letak hubungan antara tanggung jawab dan akhlak.

Akhlak juga harus muncul dari keikhlasan hati yang melakukannya, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada hati sanubari, maka hubungan akhlak dengan kata hati menjadi demikian penting.

Dengan demikian, maslah kebebasan, tanggung jawab, dan hati nurani adalah merupakan faktor dominan yang menentukan suatu perbuatan dapat dikatakan sebagai perbuatan akhlaki. Disinilah letak hubungan fungsional antara kebebasan, tanggung jawab, dan hati nurani dengan akhlak. Karenanya dalam membahas akhlak seseorang tidak dapat meninggalkan pembahasan mengenai kebebasan, tanggung jawab, dan hati nurani.[11]

  1. G.   Fungsi Suara Hati Nurani

Adapun fungsi kekuatan hati nurani, dapat disebutkan bahwa :

  • Apabila kekuatan mengiringi suatu perbuatan, akan memberi petunjuk dan menakuti dari kemaksiatan.
  • Apabila kekuatan mengiringi suatu perbuatan, akan mendorongnya untuk menyempurnakan perbuatan yang baik dan menahan dari perbuatan yang buruk.
  • Apabila kekuatan menyusul setelah perbuatan, akan merasa gembira dan senang apabila melakukan perbuatan yang di taati, namun akan merasa sakit dan pedih waktu melanggar prbuatan tercela.[12]

Suara hati juga berfungsi sebagai pembeda antara yang baik dan yang buruk sesuai dengan faham yang dianut, namun tanpa melihat akibat selanjutnya.[13]

Kembali mengambil kalimat dari Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari mengenai fungsi suara hati nurani.

اَوْرَدَ  عليك  الواردُ  ليَتَسَلَّمكَ  من يد الأغيار  و يُهَرِّرُكَ  من وَرَقِ  الأثار

( Allah mendatangkan warid kepadamu agar kamu selamat dari cengkraman duniawi dari nafsu syahwat, serta agar kamu bebas dari belenggu sifat-sifat untuk menuju ke alam penglihatanmu kepada Nya )

 

sumber :

https://radiomarconi.com/