Gangguan Ekosistem Kawasan Wisata

Gangguan Ekosistem Kawasan Wisata

Gangguan Ekosistem Kawasan Wisata

Gangguan Ekosistem Kawasan Wisata

Teori keseimbangan (Equilibrium theory) memendang bahwa ekosistem dijaga dalam sebuah keseimbangan di atas fondasi dan spesies-spesies dan penyusunnya. Dalam keseimbangan tersebut, spesies-spesies ada dan berinteraksi satu sama lain dalam hubungan predator-mangsa, serta dalam hubungan-hubungan kompetisi yang ada. Jadi, interaksi-imteraksi faktor biotik mendenterminasi struktur komunitas kahidupan dalam ekosistem. Pendekatan ini menciptakan sebuah ide tentang kesimbangan alam “ the balanced of nature” . Namun, keseimbangan ini dapat terganggu oleh sebab-sebab alamiah dan manusia.

Ketika terganggu, ekosistem bisa jadi kehilangan dan menurun atau mungkin hilang. Atau sebaliknya, mereka akan berusaha untuk mencapai keadaan awal sebelum gangguan terjadi sehingga mencapai keadaan seperti sedia kala, stabil atau pada keadaan klimaks.

Pantai sering mendapat tekanan hebat dari dampak pembangunan destinasi kawasan wisata pesisir. Pada dasarnya, istilah pantai digunakan untuk menggambarkan tempat pertemuan antara daratan dan lautan. Ekosistem terumbu karang merupakan salah satu ekosistem perairan laut yang produktif dengan kekayaan hayati spesies tinggi.

Kegiatan wisata di kawasan pesisir yang tidak dilakukan dengan tidak memperhatikan ekosistem setempat, biasanya menghancurkan ekosistem terumbu karang. Gangguan terhadap ekosistem dapat terjadi dengan cepat. Sebagai gambaran, laju perusakan bisa terjadi dalam satu hari karena tekanan wisatawan di zona terumbu karang. Sebaliknya, pemulihan ekosistem terumbu menuju kondisi seperti semula, memerlukan waktu yang lama. Laju pertumbuhan spesies karang yang masih diperkirakan tumbuhan antara lain adalah 7,5-13 mm/tahun pada jenis Asteropbora myroiphbalmia, 6,7-8,0 mm/tahun favia speciosa, dan 7,8 mm/tahun untuk Goniastrea retiformis (Supriharyono, 2000). Dengan demikian, melakukan proteksi wilayah terumbu karang dari pengaruh gangguan manusia menjadi sangat penting.

Sedimentasi menjadi ancaman nyata lainnya, bagi kehidupan terumbu karang dan kehidupan biota-biota lain yang ada disekitarnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa terumbu karang merupakan salah satu aset wisata bahari yang berperan penting dalam penerimaan dari sektor wisata. Namun, sedimenyasi yang terjadi terus-menerus akan menurunkan mutu terumbu karang bagi atraksi wisata yang ditawarkan.

Hal yang sama dapat terjadi juga di darat. Hutan tropik yang terganggu membutuhkan waktu yang lama untuk memulihkan kondisinya. Saat ini, laju penggundulan hutan tropik sangat menghawatirkan. FAO memberikan estimasi data bahwa kahilangan hutan tropik terjadi pada skala 110,5 juta ha per tahun. Jika laju ini tidak dapat dihentikan atau ditekan, maka dalam waktu dekat biosfer akan kehilangan hutan tropik dengan segala kekayaan hayati yang ada didalamnya (Hakim, Lukman :126-129).

3.2          Dampak Terhadap Satwa Dan Kehidupan Liar

Saat ini, pariwisata juga duketahui memberikan dampak terhadap satwa liar lainnya. Reynols dan Braithwaite (2001) mendeskripsikan bahwa aktifitas wisata yang dekat dengan habitat satwa liar, dapat mempengaruhi kehidupan liar. Pengaruh-pengaruh negatif tersebut antara lain:

  1. Pengambilan secara ilegal terhadap satwa dan kematian satwa
  2. Pembersihan habitat
  3. Perubahan komposisi tumbuhan
  4. Mengurangi produktifitas tumbuhan
  5. Mengubah struktur tumbuhan
  6. Polusi
  7. Emigrasi satwa
  8. Mengurangi daya reproduksi satwa
  9. Habituasi
  10. Munculnya perilaku stereotip
  11. Penyimpangan pola makan satwa
  12. Penyimpangan perilaku sosial
  13. Meningkatnya predasi
  14. Modifikasi pola-pola aktifitas, dan
  15. Mengubah struktur aktifitas.

sumber :

Battle.io 1.9 Apk + Mod (Money/Unlocked Tanks) for android