dalam historiografi Indonesia sejak Mohammad Yamin mulai menulis

Ketiadaan ungkapan kehidupan batin

ini semakin menonjol bila biografi atau memoar Indonesia dibandingkan dengan beberapa biografi mengenai orang Indonesia yang ditulis orang asing. Dalam psikoanalisa ditawarkan cara untuk mengkaji kehidupan batin, juga kehidupan pada subjek bukan-barat. Misalnya, soekarno digambarkan sebagai politisi-seniman, berlatar belakang pendidikan arsitektur dan seorang yang mencinta lukisan. Kehalusan jiwa seni Soekarno adalah akar dari estetisisme kekuasaan, yang seperti Naziisme yang mencanangkan sebuah ilusi persatuan sosial dan politik yang sebenarnya tidak ada. Namun, kita sebagai sejarawan, tugas kita bukan mengecam tetapi memahami mengapa tidak ada ungkapan kehidupan batin, dan mengapa genre biografi di Indonesia menyukai gaya orientasi tindakan dan menonjjolkan diri sendiri.

Sejarah orang-orang besar sudah menjadi arus utama (mainstream)

dalam historiografi Indonesia sejak Mohammad Yamin mulai menulis pada tahun 1920-an. Arus utama ini mengingatkan pembaca terhadap pandangan yang menekankan diri pada pelaku sejarah, pada tindakan-tindakan tokoh pahlawan, bukan pada pertarungan kekuatan-kekuatan sosial. Masalahnya, justru pandangan sejarah semacam inilah memang yang dianut oleh tokoh-tokoh itu sendiri. Jika kita sendiri juga menganut pandangan itu, maka berarti kita dipaksa untuk menerima kata-kata mereka begitu saja. Hal ini berarti kita tidak dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendalam mengenai bahan-bahan itu, dan menjadikan kegiatan penelitian bagian dari pengagungan apa yang ada.

Tiga penulis biografi Indonesia mencoba mengatasi masalah membaca biografi dengan mengikuti arus teks tapi sambil menjaga jarak kritis, melalui berbagai cara. Menariknya, tidak satupun dari orang yang disebutkan setelah ini yang menggunakan metode psikoanalitis. Mereka adalah Susan Rodgers, Bill Watson, dan Etienne Naveau. Susan Rodgers sengaja memilih kehidupan orang kecil, dengan menuliskan autobiografi dua orang biasa di Sumatra Utara dan menggambarkan dengan ironi yang rendah hati transisi pribadi mereka dari kampung ke Indonesia modern. Akan tetapi kisah kehidupan orang kecil seperti ini sdikit sekali dalam khasanah buku biografi Indonesia. Pemahaman diperoleh karena fokus dialihkan ke pinggir. Sementara itu kita msih tetap belum tahu caranya membca biografi bukan mengenai orang pinggiran.

Bill Watson meneliti autobiografi orang-orang Indonesia yang jauh lebih terkemuka. Ia menghubungkan mereka semua dengan pengalaman yang umumnya dialami banyak orang Indonesia, perjuangannya untuk mewujudkan keadilan di bawah Orde baru dalam bukunya yang kedua. Untuk kedua bukunya ini ia memilih individu dari berbagau lingkungan sosial. Dalam buku pertamanya terdapat tokoh-tokoh seperti Kartini yang mewakili pelopor gerakan perempuan dan simbol kebangsawanan, terdapat pula tokoh yang mewakili lingkungan nasionalisme kiri seperti Tan Malaka, Hamka (agama), Sitor Situmorang (suku), dan N.H. Dini (gender). Dan dalam buku keduanya ia menafsirkan autobiografi dari tokoh oposisi selama masa Orde Baru, termasuk tokoh komunis lama seperti Hasan Raid dan anak-anak muda beraliran kiri baik Islam maupun non-Islam. Pendekatannya terinspirasi oleh Wilhelm Dilthey, seorang ahli psikologi dan sejarawan asal Jerman dari abad ke-19 yang menawarkan ‘empati’ sebagai cara untuk menembus makna segala sesuatau. Tujuan Watson ialah menghidupkan kembali semangan zaman dan untuk membiarkan orang Indonesia berbicara kepada dunia dengan suara mereka sendiri.
Dan yang terakhir adalah Etienne Naveau, yang mempunyai pendapat kunci untuk memahami autobiografi Indonesia itu bukan upaya untuk menyelami diri sendiri tetapi sebuah pertunjukan yang dirancang untuk mengahdirkan citra yang diinginkan mengenai diri ke dunia luar. Buku-buku biografi di Indonesia umumnya tidak memiliki ketegangan emosi dengan dunia seperti yang terdapat dalam autobiografi Barat. Tokoh-tokoh tersebut tampaknya seperti pasarah dan hanya menunaikan tugas yang diberikan kepada mereka oleh takdir atau kehendak Tuhan.

Baca juga:

  1. masa orde baru mencapai sekitar lima persen
  2. Pembahasan kinayah dalam talak
  3. Salah satu langkah yang ditempuh adalah
  4. Talak Sarih