Contoh Percakapan Desentisisasi

Contoh Percakapan Desentisisasi

Contoh Percakapan Desentisisasi

Rahmi adalah seorang siswa kelas XI  IPA 3 setelah menyelesaikan studinya di SMAN 1 dia ingin melanjutkan studinya di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Bandung mengambil jurusan Tekhnik Elektro. Rahmi adalah satu dari beberapa murid di sekolahnya yang menginginkan jurusan itu. Akan tetapi Rahmi merasa ragu apakah dia bisa atau tidak, dia juga merasa kalau  sulit untuk lulus masuk di jurusan ini karena dilihat dari tahun ke tahun pendaftar lebih banyak daripada calon mahasiswa yang akan di terima. Hal ini terkadang membuat Rahmi ingin menyerah dan melupakan keinginannya untuk menjadi mahasiswi Tekhnik Elektro.  Akhirnya Rahmi mengambil keputusan untuk menemui konselor agar dia bias mendaptakan solusi dari masalahnya.

KonselorKonseli

 Percakapan

Keterampilan Dasar

1.TAHAP WAWANCARA AWAL
Konseli ”(konseli mengetuk pintu) Assalamualaikum Pak..”
Konselor Waalaikum salam..(sambil berdiri). Mari silahkan masuk (menghampiri konseli sambil menjabat tangan). Silahkan duduk.. Attending
Konseli “Terima kasih bu..”
Konselor “Kalau boleh ibu tahu nama kamu siapa? Perkenalkan ibu Uni ..
Konseli “Nama saya Rahmi bu kelas XI IPA ..”
Konselor “(konselor melihat buku yang dipegang oleh konseli) kamu baru selesai belajar ya..?”

Rapport

Konseli “iya bu, Saya baru selesai belajar Bahasa Indonesia”
Konselor “Bagaimana dengan pelajarannya tadi..?”
Konseli “Menyenangkan bu. Karena cara gurunya menjelaskan bagus sehingga mudah dimengerti atau dipahami.
Konselor “Oh baguslah kalau begitu… oh ya apakah kamu kesini atas kemauan sendiri atau ada yang suruh..?” Menanyakan sifat kedatangan konseli
Konseli “Saya kesini atas keinginan sendiri  bu..”
Konselor “Apakah sebelumnya kamu sudah pernah datang keruangan ini untuk memperoleh konseling..?” Menanyakan apakah konseli sudah pernah memperoleh konseling
Konseli “Belum pernah bu..”
Konselor “kalau begitu ibu akan menjelaskan sedikit tentang apa itu konseling, konseling itu adalah suatu layanan yang berusaha untuk membantu siswa yang sedang menghadapi masalah atau sulit mengambil keputusan agar dia mampu untuk memecahkan masalahnya atau agar dia mampu untuk mengambil keputusan yang tepat baginya. Nah apa kamu sudah mengerti..?” Memberi informasi tentang konseling
Konseli “Iya bu ..”
Konselor “Jadi peran ibu disini sebagai konselor yaitu berusaha membantu kamu untuk menemukan jalan keluar atas masalah yang kamu hadapi. Lalu kamu sendiri sebagai konseli sebaiknya aktif dalam mengemukakan masalah dan latar belakang masalah serta mengkaji berbagai kemungkinan jalan keluar. Nah apa sekarang kamu sudah mengerti?” Memberi informasi tentang peranan konselor dan konseli
Konseli “Iya bu saya mengerti dan saya akan berusaha aktif dalam konseling ini. Tapi saya tidak ingin  kalau masalah saya ini diketahui oleh orang lain”.
Konselor “Kamu tidak perlu khawatir, disini ibu akan menjaga rahasia kamu. Sebab dalam konseling itu memiliki kode etik yaitu asas kerahasiaan salah satunya. Jadi jangan ragu untuk mengemukakan masalah kamu tanpa perlu merasa takut untuk diketahui orang lain”. Memberi informasi tentang kode etik konseling
Konseli “Syukurlah kalau begitu bu”.
Konselor “Baiklah, disekolah ini terdapat 3 konselor yang dapat kamu pilih dan terserah kamu mau pilih yang mana. Yang pertama ada Pak Akram sarjana PPB UNM yang telah berpengalaman 3 tahun. Yang kedua Ibu Nani sarjana PPB UNM yang telah berpengalaman 2 tahun, dan terakhir saya sendiri sarjana PPB UNM yang berpengalaman baru 2 tahun. Silahkan pilih satu diantaranya..?” Memberi informasi tentang konselor yang dapat dipilih
Konseli “Saya memilih ibu saja karena saya merasa nyaman berkonsultasi dengan ibu”.
Konselor “Terima kasih, lalu apa yang kamu harapkan setelah proses konseling ini?” Kontrak tujuan
Konseli “Saya berharap agar masalah yang saya hadapi dapat teratasi dan menemukan jalan keluar yang terbaik.”
Konselor “Begini, konseling ini membutuhkan waktu yaitu 2 kali pertemuan dengan durasi 45 menit, bagaimana apa kamu setuju.?” Kontrak waktu
Konseli Iya bu (sambil menggangguk kepala)
2. TAHAP EKSPLORASI MASALAH
Konselor “Baiklah, kita akan memulai konselingnya. Coba ceritakan pada ibu masalah apa yang sedang kamu alami sekarang..?” Mengajak Terbuka
Konseli “Begini bu, saya merasa ragu apakah saya bisa melanjutkan study saya ke PTN jurusan Tekhnik Elektro…
Konselor “Kalau boleh ibu tahu apa yang menyebabkan kamu bersikap demikian?” Pertanyaan terbuka
Konseli “Begini bu..” (menunduk dan terdiam)
Konselor “Teruskan  Rahmi..” Dorongan minimal
Konseli “Saya merasa tidak yakin pada diri saya sendiri”
Konselor “Kenapa kamu merasa tidak yakin?” Mengikuti pokok pembicaraan
Konseli “Karena saya merasa kalau saya tidak bisa melakukannya dengan baik.”
Konselor “Apakah kamu sudah belajar dengan baik  ? Meminta penjelasan lebih lanjut
Konseli “Iya bu, saya sudah belajar dengan baik bahkan saya ikut bimbingan belajar khusus masuk jurusan Tehknik”
Konselor “Tadi kamu mengatakan kalau kamu sudah belajar dengan baik dan ikut bimbingan belajar tapi sekarang kamu merasa tidak yakin?” Konfrontasi
Konseli “Iya juga sih bu, tapi sebenarnya saya takut dan ragu karena saingannya banyak.”
Konselor “Kamu mengatakan bahwa kamu sepertinya tidak bisa lulus PTN..  Mengapa hal itu sampai terjadi? Merespon isi wacana secara logis
Konseli “Ya bu, karena saya takut gagal pada saat tes nanti ”
Konselor “kamu mengatakan kalau kamu ragu untuk bisa lulus menjadi mahasiswi Tekhnik Elektro karena saingan kamu banyak kamu tidak percaya pada kemampuan diri kamu. Merespon isi berdasarkan pentingnya
Konseli “benar bu…
Konselor “Menurut ibu, perasaan ragu dan tidak yakin pada diri sendiri itu adalah hal yang wajar ketika sedang dalam masalah tetapi jangan sampai perasaan tersebut menguasai pikiran kamu.” Memberi informasi
Konseli “saya sudah berusaha bu untuk tidak merasa ragu tapi perasaan itu sering muncul saat ketika saya mengingat saingannya saya banyak bu”
Konselor “ Ibu yakin kamu pasti bisa Rahmi.” Memberi penguatan
Konseli “Iya bu, mudah-mudahan saya bisa.”
Konselor “Jadikamu merasa ragu karena saingan kamu banyak.”? Merespon isi berdasar sebab akibat
Konseli “Ya Seperti itulah ibu.”
Konselor “Terkadang memang kita merasa ragu dalam melakukan sesuatu tetapi ibu yakin semua itu pasti ada jalan keluarnya.” Memberi nasihat
Konseli “Tetapi saya sedih bu karena hal itu.”
Konselor “Kamu merasa sedih..?” Merespon perasaan sedih
Konseli “Terus terang iya ibu, padahal saya ingin sekali melanjutkan study saya di  Jurusan Teklhnik Elektro.”
Konselor “Kamu merasa senang apabila kamu bisa merasa yakin lulus di jurusa tekhnik elektro?” Merespon perasaan senang
Konseli “Ya ibu, tapi saya kesal dengan diri saya sendiri kenapa saya tidak bisa melakukan hal itu”.
Konselor “Kamu merasa kesal dengan hal itu?” Merespon perasaan marah
Konseli “Ya bu, tapi saya benar-benar tidak tahu harus berbuat apa?”
Konselor “Kamu merasa sedih karena tidak dapat yakin dan ragu pada diri sendiri?” Merespon yang dapat dipertukarkan
Konseli “Iya ibu, saya benar-benar kesal dengan diri saya sendiri karena tidak bisa yakin pada diri sendiri”.
Konselor “Kamu merasa kesal karena diri kamu sendiri karena ragu pada kempuan sendiri dan sekarang kamu sedih karena tidak tahu harus berbuat apa ? Merespon terhadap perasaan dan isi yang banyak
Konseli “Betul bu, saya kecewa dengan diri saya sendiri.”
Konselor “Kamu merasa frustasi karena kamu tidak bisa bersikap yakin pada diri sendiri?” Merespon terhadap perasaan yang sulit
Konseli “Ya bu”.
Konselor “Apakah kamu tahu kenapa kamu tidak bisa bersikap yakin pada diri sendiri?” Menanyakan sebab-sebab masalah
Konseli “Saya kurang tahu pasti  bu tapi mungkin salah satunya karena saya takut gagal dalam tes seleksi nanti?”
Konselor “Kamu merasa putus asa dan kecewa karena kamu tidak bisa bersikap yakin pada diri sendiri sehingga kamu merasa ragu untuk bisa lulus menajdi calon mahasiswi tekhnik elektro?” Menyimpulkan
Konseli “Ya bu. Saya sedih karena semua ini..”

Sumber : https://aziritt.net/