Connect with us

Hi, what are you looking for?

Pendidikan

Ciri Ciri Dasar Dan Prinsip Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter

Pendidikan Karakter – Kajian tentang terminologi yang tepat untuk pembentukan karakter dalam dunia pendidikan telah membawa kepada kesimpulan. Bahwa pendidikan nilai, budi pekerti, afektif, nilai, moral, akhlak, maupun karakter bermuara pada tujuan yang sama yaitu munculnya sifat-sifat positif dalam diri anak didik yang sejalan dengan nilai dan norma yang dianut dan diyakini oleh masyarakat.

Sebagai pembeda, patut dipertegas bahwa pendidikan karakter menghendaki nilai dan norma dimaksud harus bersifat universal, melampaui perbedaan agama dan budaya.

Namun demikian dalam proses pencapaiannya –sebagai dapat dilihat pada kecenderungan dalam setiap terminologi terdahulu- terdapat dua pendekatan yang berbeda antara rasional yang mengandalkan faktor kognitif dengan doktriner yang mengandalkan faktor indoktrinasi dan keyakinan.

Ciri Ciri Dasar

Pembentukan karakter dengan pendekatan doktriner dilakukan melalui penanaman nilai untuk memperkuat kecenderungan sehingga menjadi kebiasaan. Karena prosesnya yang dilakukan melalui penanaman nilai yang cenderung doktriner maka pendekatan ini disebut dengan pendidikan moral yang tradisional dan irasional.

Atau disebut juga dengan pendekatan klarifikasi nilai (values clarification) sebagaimana diusulkan oleh Kevin Ryan. Perilaku bermoral dianggap sebagai sesuatu yang ditentukan oleh kecenderungan bertindak yang dimotivasi oleh sifat perilaku dan kebiasaan.

Pendekatan ini memposisikan guru sebagai klarifikator dan indoktrinator dalam menentukan nilai-nilai moral yang dianut siswa. Atau dengan kata lain perilaku moral yang menunjukkan karakter-positif bukan merupakan hasil pertimbangan moral yang berpijak pada konsep nilai kemanusiaan dan keadilan.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Pendekatan ini lahir sebagai kritik terhadap pendekatan kognitif rasional yang mempromisikan relativisme moral. Bila dikaitkan dengan paparan lima terminologi terdahulu tentang pembentukan moral maka paradigm irasional ini sejalan dengan konsep yang ditawarkan dalam pendidikan nilai, pendidikan afektif, dan pendidikan akhlak.

Ada pun paradigam rasional dalam pembentukan moral dibangun dengan anggapan bahwa pilihan perilaku moral pada hakikatnya bersifat rasional sebagai respons yang bersumber dan diturunkan dari pemahaman serta penalaran. Menurut Dewey ciri utama pendekatan ini adalah pendidikannya menggunakan pendekatan kognitif.

Dengan pendekatan kognitif ini pembentukan karakter  diposisikan sebagai pendidikan intelektual yang mengupayakan timbulnya cara berpikir aktif dalam menghadapi isu-isu moral dan menetapkan suatu keputusan moral. Dalam pendekatan ini siswa diberi kebebasan untuk menemukan nilai-nilai moral yang dipilihnya.

Prinsip Pendidikan Karakter

Pandangan yang mengedepankan pertimbangan rasional dalam melahirkan perilaku moral dalam bentuk-bentuk karakter positif membawa konsekuensi yang mendasar dalam menentukan kandungan moral dalam sebuah perilaku.

Berdasarkan pandangan ini maka sebuah perilaku meskipun secara lahiriah tampak baik tetapi apabila dilakukan tidak berdasarkan kemauan sendiri secara sadar sebagai implikasi dari pemahaman, maka dianggap tidak memiliki nilai moral. Ini bermakna bahwa meskipun sebuah perilaku telah menunjukkan karakter yang positif dan bermanfaat bagi belum bisa dinilai sebagai perilaku moral bila tidak didasari oleh pertimbangan rasional pelakunya.

Dua pandangan ini bila dikaitkan dengan pembentukan karakter dalam Islam maka kecenderungan doktriner dipandang lebih dekat dengan pendidikan Islam.

Dalam rumusan pendidikan akhlak telah ditegaskan bahwa sumber kebaikan dan kebenaran yang dijadikan rujukan pembentukan karakter adalah nilai-nilai dalam Al-Qur’an dan Sunah.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Kedudukan Al-Qur’an sebagai doktrin kebenaran bagi umat Islam seringkali berimbas pada pendekatan pendidikan akhlak yang juga doktriner.

Pendidikan Akhlak

Pendidikan akhlak dilakukan dengan berkutat kepada teaching right and wrong, dan hampir mengabaikan aspek pengambilan keputusan moral dan tindakan-tindakan bermoral dalam diri anak. Sementara itu dua aspek terakhir inilah yang menjadi target pendidikan karakter.

Sejauh ini pendidikan karakter dibangun dengan pondasi filsafat moral kognitif rasional yang dikembangkan oleh Lawrence Kohlberg. Kecenderungan rasional dalam pendidikan karakter ini pada prakteknya melupakan aspek terpenting moralitas, yaitu aspek spiritual.

Ketika fakta menunjukkan banyak remaja yang terlibat dalam perilaku-perilaku negatif seperti penyalahgunaan obat-obat terlarang, seks bebas, tawuran, mencontek dan berbohong, ternyata secara kognitif mereka mengetahui bahwa perilaku tersebut adalah salah.

Pendidikan Karakter Menurut Peneliti

Menurut Rachael Kessler yang secara khusus meneliti faktor spiritualitas dalam pendidikan karakter sejak tahun 1970, dorongan berperilaku baik bukan dari pengetahuan akal tentang benar dan salah. karena meskipun penting, pengetahuan saja tidak cukup.

Kesadaran tersebut datang dari sebuah tempat di balik alasan, sebuah tempat yang ada dalam hati atau jiwa kita. Kesadaran ini seringkali tumbuh karena merasakan adanya hubungan yang bermakna. Kessler kemudian menyimpulkan bahwa sebab utama perilaku negatif remaja adalah kesedihan yang tidak terungkapkan, ketakutan dan kehampaan spiritual (spiritual void). Kessler sepertinya ingin menunjukkan bahwa kehampaan spiritual identik dengan karakter negatif.

Kegelisahan Ahmad Mahmud Shubhi terhadap marginalisasi akhlak dari kajian akademik telah mendorongnya melakukan sebuah penelitian mendalam tentang bangunan filsafat akhlak (al-Falsafah al-Akhlaqiyah) yang ia tuangkan dalam sebuah disertasi berjudul al-Falsafah al-Akhlaqiyah fi al-Fikr al-Islami: al-Aqliyyun wa al-Dzauqiyyun aw al-Nadzar wa al-‘Amal.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Subhi menyimpulkan bahwa tasawuf yang ia sebut sebagai madzhab intuisionalis memiliki akar-akar pemikiran dan praktek untuk membangun sebauh filsafat akhlak. Hal ini terutama bila dikombinasikan dengan pemikiran Mu’tazilah yang rasionalis. Tasawuf telah berhasil membumikan kajian akhlak dari alam metafisik menuju alam fisik dalam perbuatan manusia sehari-hari.

Meskipun memiliki tujuan yang sama, antara etika dan akhlak secara filosofis memiliki perbedaan yang mendasar. Etika sangat menekankan rasionalisme dan intelektualisme. Hal ini nampak sejak zaman Yunani kuno melalui pemikiran Socrates (469-399 SM), Plato (427-327 SM) dan Aristoteles (394-322 SM).

Sementara pemikiran etika Islam yang diusung melalui term akhlak mengajarkan bahwa sumber baik dan buruk bukan akal seperti diajarkan filsafat etika, tetapi wahyu. Sekalipun demikian, akal tetap memiliki peran yang besar dan signifikan dalam menemukan dan merumuskannya.

Ibn Miskawaih tampil sebagai pionir dalam merumuskan filsafat akhlak, meskipun pengaruh filsafat Yunani masih kuat dan kentara dalam pemikiran-pemikirannya. Pemikir akhlak yang lebih orisinil dan lebih banyak dirujuk adalah al-Ghazali (w. 1111 M) dengan masterpiece nya Ihya Ulum al-Din.

Written By

Menurut pepatah belajar itu tidak ada waktunya. So, belajar terus, sampai menemukan apa yang kamu inginkan.

Comments

You May Also Like

Business

Cara Menetaskan Telur Ikan Koi Dengan Mudah – Salah satu ide usaha yang bisa bertahan lama salah satunya yaitu budidaya ikan. Budidaya ikan koi...

Business

Sekarang tanaman porang mulai diminati oleh banyak petani karena komoditas baru ini tergolong mahal. Lalu bagaimana cara budidaya tanaman porang? Jenisnya apa saja? Serta...

Hobi

Mungkin tulisan ini bisa dikatakan sedikit usang, karena akan membahas definisi blog beserta manfaatnya. Tapi walaupun begitu, semoga tulisan ini bisa membantu bagi anda...

Business

Harga Dan Spesifikasi Lengkap, Makin Gahar!, Realme hari ini direncanakan melaunching hp terbaru yaitu Realme 8 dan Realme 8 Pro, Senin (29/3/2021). Realme menyebutnya...

Advertisement