Ciri-Ciri Model Pembelajaran Langsung

Ciri-Ciri Model Pembelajaran Langsung

Ciri-Ciri Model Pembelajaran Langsung

Ciri-Ciri Model Pembelajaran Langsung
Ciri-Ciri Model Pembelajaran Langsung

A.  Adanya tujuan pembelajaran

Pembelajaran langsung ini menekankan tujuan pembelajaran yang harus berorientasi kepada siswa dan spesifik, mengandung uraian yang jelas tentang situasi penilaian dan mengandung tingkat ketercapaian kinerja yang diharapkan (kriteria keberhasilan).

B Sintaks atau pola keseluruhan dan alur kegiatan pembelajaran

Pada model pembelajaran langsung terdapat lima fase yang sangat penting. Pembelajaran langsung dapat berbentuk ceramah, demonstrasi, pelatihan atau praktek, dan kerja kelompok. Pembelajaran langsung digunakan untuk menyampaikan pelajaran yang ditransformasikan langsung oleh guru kepada siswa.

C. Sistem pengelolaan dan lingkungan belajar yang mendukung

Keberhasilan metode pembelajaran langsung memerlukan lingkungan yang baik untuk presentasi dan demonstrasi, yakni ruangan yang tenang dengan penerapan cukup, termasuk alat atau media yang sesuai. Di samping itu, metode pembelajaran langsung juga bergantung pada motivasi siswa yang memadai untuk mengamati kegiatan yang dilakukan guru dan mendengarkan segala sesuatu yang dikatakannya. Pada hakikatnya, pembelajaran langsung memerlukan kaidah yang mengatur bagaimana siswa yang suka berbicara, prosedur untuk menjamin tempo pembelajaran yang baik, strategi khusus untuk mengatur giliran keterlibatan siswa, dan untuk menanggulangi tingkah laku siswa yang menyimpang.
Pembelajaran langsung merupakan suatu model pembelajaran dimana kegiatannya terfokus pada aktivitas-aktivitas akademik sehingga di dalam implementasi kegiantan pembelajaran guru melakukan kontrol yang ketat terhadap kemajuan belajar siswa. Pendayagunaan waktu serta iklim kelas yang di kontrol secara ketat pula.
Pembelajaran langsung pada umumnya dirancang secara khusus untuk mengembangkan aktivitas belajar di pihak siswa berkaitan dengan aspek pengetahuan prosedural (pengetahuan tentang bagaimana melaksanakan sesuatu) serta pengetahuan deklaratif (pengetahuan tentang sesuatu dapat berupa fakta, konsep, prinsip, atau generalisasi) yang terstruktur dengan baik yang dapat dipelajari selangkah demi selangkah. Fokus utama dari pembelajaran ini adalah pelatihan – pelatihan yang dapat diterapkan dari keadaan nyata yang sederhana sampai yang lebih kompleks. Pengajaran langsung berpusat pada guru, tetapi harus menjamin terjadinya keterlibatan siswa. Disini guru menyampaikan isi akademik dalam format yang terstruktur, mengarahkan kegiatan para siswa dan menguji keterampilan siswa melalui latihan-latihan di bawah bimbingan dan arahan guru. Jadi lingkungannya harus diciptakan yang berorientasi pada tugas – tugas yang diberikan pada siswa.

Pengertian Strategi Pembelajaran, Teknik dan Fungsinya

Pengertian Strategi Pembelajaran, Teknik dan Fungsinya

Pengertian Strategi Pembelajaran, Teknik dan Fungsinya

Pengertian Strategi Pembelajaran, Teknik dan Fungsinya
Pengertian Strategi Pembelajaran, Teknik dan Fungsinya

Pengertian Strategi pembelajaran  Menurut Para Ahli

Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1998 : 203), pengertian strategi  (1) ilmu dan seni menggunakan sumber daya bangsa untuk melaksanakan kebijaksanaan tertentu dalam dan perang damai, (2) rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus. Soedjadi (1999 :101) menyebutkan strategi pembelajaran adalah suatu siasat melakukan kegiatan pembelajaran yang bertujuan mengubah keadaan pembelajaran menjadi pembelajaran yang diharapkan. Untuk dapat mengubah keadaan itu dapat ditempuh dengan berbagai pendekatan pembelajaran. Lebih lanjut Soedjadi menyebutkan bahwa dalam satu pendekatan dapat dilakukan lebih dari satu metode dan dalam satu metode dapat digunakan lebih dari satu teknik. Secara sederhana dapat dirunut sebagai rangkaian :

Teknik  metode  pendekatan  strategi model

Istilah  “ model pembelajaran” berbeda dengan strategi pembelajaran, metode pembelajaran, dan pendekatan pembelajaran. Model pembelajaran meliputi suatu model pembelajaran yang luas dan menyuluruh. Konsep model pembelajaran lahir dan berkembang dari pakar psikologi dengan pendekatan dalam setting eksperimen yang dilakukan. Konsep model pembelajaran untuk pertama kalinya dikembangkan oleh Bruce dan koleganya.

Lebih lanjut  Ismail (2003) menyatakan  istilah Model pembelajaran mempunyai empat ciri khusus yang tidak dipunyai oleh strategi atau metode tertentu yaitu :

  1. Rasional Teoritik yang logis disusun oleh perancangnya,
  2. Tujuan Pembelajaran yang akan dicapai,
  3. Tingkah Laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan secara berhasil dan
  4. Lingkungan belajar  yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai.

Pendekatan, strategi, metode dan teknik pembelajaran yang dirangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah Model Pembelajaran.Jadi, model pembelajaran merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru.

Model Pembelajaran menurut Bruce Joys dan Marsha Weil terdiri dari empat kelompok yaitu :

  1. Model Interkasi Sosial
  2. Model Pengolahan Informasi
  3. Model Personal – humanistik dan
  4. Model modifikasi tingkah laku

Fungsi Model Pembelajaran

Seluruh aktivitas pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan oleh guru bermuara pada terjadinya proses belajar siswa. Dalam hal ini model – model pembelajaran yang dipilih dan dikembangkan guru hendaknya dapat mendorong siswa untuk belajar dengan mendayagunakan potensi yang mereka miliki secara optimal. Model – model pembelajaran dikembangkan utamanya beranjak dari adanya perbedaan berkaitan dengan berbagai karakteristik siswa. Karena siswa memiliki berbagai karakteristik kepribadian, kebiasaan – kebiasaan, modalitas belajar yang bervariasi antara individu satu dengan yang lain, maka model pembelajaran guru juga harus selayaknya tidak terpaku hanya pada model tertentu, akan tetapi harus bervariasi.

Penggunaan model pembelajaran yang tepat dapat mendorong tumbuhnya rasa senang siswa terhadap pelajaran, menumbuhkan dan meningkatkan motivasi dalam mengerjakan tugas, memberikan kemudahan bagi siswa untuk memahami pelajaran sehingga memungkinkan siswa mencapai hasil belajar yang lebih baik.

Sumber: https://www.ayoksinau.com/

Lapisan Pada Kabel Fiber Optik

Lapisan Pada Kabel Fiber Optik

Lapisan Pada Kabel Fiber Optik

Lapisan Pada Kabel Fiber Optik
Lapisan Pada Kabel Fiber Optik
  • Inti

Pada bagian ini jenis  serat kaca sangat berpengaruh pada kualitas kabel fiber Optik tersebut. Diameter inti serat optik memiliki ukuran yang berbeda- beda. biasanya besar dari inti kabel Fiber Optik adalah sebesar rambut manusia. selain itu inti dari kabel fiber optik juga sangat berbahaya jika terkena kulit secara langsung karena bisa masuk kedalam pori – pori dan akan memecahkan pembuluh darah sehingga menyebabkan kematian.

  • Cladding

Untuk bagian ini  komponen terbuat dari kaca yang memiliki fungsi sebagai pelindung inti fiber optik. bagian ini juga sebagai jaket clandding . selain itu clandding juga berfungsi memancarkan cahaya  dari luar kepada inti.

  • Coating

lapisan ini sering kita sbut dengan mantel, Berbeda dengan inti dan clandding yang terbuat  dari kaca. untuk lapisan ini terbuat dari bahan plastik. fungsi dari mantel ini adalah untuk melindungi gangguan dari luar seoerti lengkungan kabbel dan kelembaban udara yang dapat mengakibatkan kerusakan pada lapisan dalam. Setiap mantel memiliki warna yang berbeda – beda , tujuannya adalah agar mudah dalam penyusunan urutan core.

  • Strength Member  & Outer Jacket.

Pelindung Utama berawal  dari lapisan ini. lapisan imi merupakan lapisan terluar dari kabel Fiber Optik, fungsinya adalah melindungi inti  dari gangguan secara langsung.

Sumber: https://www.kuliahbahasainggris.com/

Pengertian Fiber Optik, Latar Belakang, Tujuan dan Jenisnya

Pengertian Fiber Optik, Latar Belakang, Tujuan dan Jenisnya

Pengertian Fiber Optik, Latar Belakang, Tujuan dan Jenisnya

Pengertian Fiber Optik, Latar Belakang, Tujuan dan Jenisnya
Pengertian Fiber Optik, Latar Belakang, Tujuan dan Jenisnya

Pengertian

Fiber Optik adalah saluran transmisi atau sejenis kabel yang terbuat dari kaca atau plastik yang sangat halus dan lebih kecil dari sehelai rambut, dan dapat digunakan untuk mentransmisikan sinyal cahaya dari suatu tempat ke tempat lain. Sumber cahaya yang digunakan biasanya adalah dari sinar laser atau LED.
Kabel ini berdiameter lebih kurang 120 mikrometer. Cahaya yang ada di dalam serat optik tidak keluar karena indeks bias dari kaca lebih besar daripada indeks bias dari udara, karena laser mempunyai spektrum yang sangat sempit. Kecepatan transmisi fiber optik sangat tinggi sehingga sangat bagus digunakan sebagai saluran komunikasi.
Perkembangan teknologi fiber optik saat ini, telah dapat menghasilkan pelemahan (attenuation) kurang dari 20 decibels (dB)/km. Dengan lebar jalur (bandwidth) yang besar, maka mampu dalam mentransmisikan data menjadi lebih banyak dan cepat dibandingan dengan penggunaan kabel konvensional. Dengan demikian fiber optik sangat cocok digunakan terutama dalam aplikasi sistem telekomunikasi.

Latar Belakang:

pada jaman sekarang penggunaan kabel fiber optik sudah sangat banyak digunakan oleh banyak orang, untuk itu disini saya akan menjelaskan kelemahan serta kelebihan kabel fiber optik.

Maksud dan Tujuan :

  • Mengetahui apa itu kabel Fiber optik
  • mengetahui Kelemahan serta kelebihan Kabel Fiber Optik.

Jenis kabel Fiber optik :

  • Single Mode

Merupakan kabel fiber optik yang memiliki inti lebih kecil dengan ukuran 9 micron. memilik fungsi untuk mengirimkan sinar laser inframerah ( panjang gelombang mencapai 1300-1550nm) yang hanya bisa menyebarkan cahaya melalui sattu inti pada suatu waktu.

  • Multimode

Merupakan Multimode yang digunakan untuk tujuan komersial. Memiliki initi yang lebih besar dan memungkinkan ratusan modus cahaya tersebar melalui serat dalam waktu yang bersamaan. untuk diameternya, multimode mmemiliki diameter 62.5 micron dan memiliki fungsi menghantarkan sinar inframerah dengan panjang gelombang 850-1300nm.

Sumber: https://dosenpendidikan.co.id/

Prinsip Dalam Pembelajaran

Prinsip Dalam Pembelajaran

Prinsip Dalam Pembelajaran

Prinsip Dalam Pembelajaran
Prinsip Dalam Pembelajaran

Prinsip pembelajaran adalah merupakan kaidah

Hukum dan ketentuan-ketentuan yang harus dijadikan patokan dalam membuat perencanaan pembelajaran. Penyusunan perencanaan pembelajaran yang didasarkan pada prinsip yang ditetapkan, maka akan menghasilkan suatu perencanaan pembelajaran yang baik dan siap untuk digunakan.

Prinsip tersebut, yakni

1. Perencanaan pengajaran harus berdasarkan kondisi siswa.
2. Perencanaan pengajaran harus berdasarkan kurikulum yang berlaku.
3. Perencanaan harus memperhitungkan waktu yang tersedia
4. Perencanaan pengajaran harus merupakan urutan kegiatan belajar-mengajar yang sistematis.
5. Perencanaan pengajaran bila perlu lengkapi dengan lembaran kerja/tugas dan atau lembar observasi.
6. Perencanaan pengajaran harus bersifat fleksibel.
7. Perencanaan pengajaran harus berdasarkan pada pendekatan sistem yang mengutamakan keterpaduan antara tujuan, materi, kegiatan belajar dan evaluasi.

Dalam membuat perencanaan pembelajaran

Selain harus mempertimbangkan beberapa prinsip yang telah dikemukakan di atas, karena perencanaan pembelajaran sifatnya adalah pedoman operasional bagi guru untuk melaksanakan proses pembelajaran.

Sumber : https://www.ilmubahasainggris.com/

Gaya Bahasa Perbandingan Lengkap

Gaya Bahasa Perbandingan Lengkap

Gaya Bahasa Perbandingan Lengkap

Gaya Bahasa Perbandingan Lengkap
Gaya Bahasa Perbandingan Lengkap

Gaya bahasa adalah bahasa indah yang dipergunakan untuk meningkatkan efek dengan jalan memperkenalkan suatu benda atau hal tertentu dengan benda atau hal lain yang lebih umum.

a. Perumpamaan

Yang dimaksud dengan perumpamaan di sini adalah padan kata simile dalam bahasa Inggris. Kata simile berasal dari bahasa latin yang bermakna “seperti”. Perumpamaan adalah perbandingan dua hal yang pada hakikatnya berlainan dan yang sengaja kita anggap sama. Itulah sebabnya maka sering pula kata perumpamaan disamakan saja dengan “persamaan” misalnya:
Laksana bulan kesiangan
Umpama memadu minyak dengan air

b. Metafora

Metafora adalah perbandingan yang implisit jadi tanpa kata seperti atau sebagai di antara dua hal yang berbeda (Moeliono, 1984:3), metafora merupakan jenis gaya bahasa perbandingan yang paling singkat, padat, tersusun rapi. Di dalamnya terlihat dua gagasan: yang satu adalah sebuah kenyataan, sesuatu yang dipikirkan, yang menjadi objek; dan satu lagi merupakan perbandingan terhadap kenyataan tadi; dan kita menggantikan yang belakangan itu menjadi yang terdahulu. (Tarigan, 1983:141), misalnya
Tati jinak-jinak merpati
Ali mata keranjang
Perpustakaan gudang ilmu

c. Personifikasi

Personifikasi merupakan jenis majas yang melekatkan sifat-sifat insani kepada barang yang tidak bernyawa dan ide yang abstrak. Misalnya
Angin yang meraung,
Angin membelai indah sampai kerelung hatiku

d. Depersonifikasi

Gaya bahasa depersonifikasi atau pembendaan, adalah kebalikan gaya bahasa personpfikasi atau penginsanan, misalnya
Kalau dikau menjadi samudra, maka daku menjadi bahtera
Andai kamu menjadi bunga, biarlah aku menjadi tangkainya
Pada dasarnya gaya bahasa pembedaan ini terdiri dua klausa yang merupakan satu kalimat utuh. Hubungan antara klausa yang satu dengan klausa yang satu lagi bersifat bertautan atau bersifat pertentangan tergantung dari hubungan dan situasi wacana.

e. Alegori

Adalah cerita yang kisahkan dalam lambang-lambang merupakan metafora yang diperluas dan berkesinambungan, tempat atau wadah objek-objek atau gagasan yang diperlambangkan, alegori biasanya merupakan cerita-cerita yang panjang dan rumit dengan maksud dan tujuan yang terselubung namun bagi pembaca yang jeli justru jelas dan nyata. Dengan kata lain, dalam kategori unsur-unsur utama menyajikan sesuatu yang terselubung dan tersembunyi. Alegori merupakan jenis gaya bahasa yang menyatakan sesuatu hal dengan lambang , Natawidjaya, (1986:74), jadi dalam penyampaian sesuatu tentu sangat berpengaruh pada lambang yang dijadikan sebagai alat.
Contoh: perkawinan adalah perjalanan mengarungi samudra

f. Antitesis

Secara alamiah antitesis berarti “lawan yang tepat” atau “pertentangan yang benar (Poerwadarminta; 1976:52). Antitetis adalah jenis gaya bahasa yang mengadakan komparasi atau perbandingan antara dua antonim yaitu kata-kata yang mengandung ciri-ciri semantik yang bertentangan (Ducrot & Todoro, 1981:227). Contoh:

Dia bergembira ria atas kegagalannya dalam ujian itu
Segala fitnahan tetangganya dibalasnya dengan budi bahas
yang baik Kecantikannyalah justru yang mencelakannya.
Tua, muda, besar, kecil, kaya miskin berbondong-bondong
mendatangi peresmian lapangan simaturukang kabupaten
jeneponto yang sangat luas.

Baca juga:

Tekhnik Kreatif Dalam Menulis Puisi

Tekhnik Kreatif Dalam Menulis Puisi

Tekhnik Kreatif Dalam Menulis Puisi

Tekhnik Kreatif Dalam Menulis Puisi
Tekhnik Kreatif Dalam Menulis Puisi
Puisi adalah susunan kata yang indah, bermakna, dan terikat konvensi (aturan) serta unsur-unsur bunyi. Menulis puisi biasanya dijadikan media untuk mencurahkan perasaan, pikiran, pengalaman, dan kesan terhadap suatu masalah, kejadian, dan kenyataan di sekitar kita.
Sebagaimana diungkapkan sebelumnya bahwa puisi adalah merupakan juga salah satu jenis karya sastra yang banyak diminati. Hampir semua media massa memberikan ruang untuk menuangkan untaian hatinya dalam bentuk puisi. Biasanya terdapat pada kolom budaya dan sastra, menulis puisi biasanya berkaitan dengan beberapa hal: (1) pencarian ide (ilham), (2) pemilihan tema, (3) pemilihan aliran, (4) penentuan jenis puisi, (5) pemilihan diksi (kata) yang padat dan khas, (6) pemilihan permainan bunyi, (7) pembuatan larik yang menarik, (8) pemilihan pengucapan, (9) pemanfaatan gaya bahasa, (10) pembaitan yang memiliki satu objek, (11) pemilihan tpografi, (12) pemuatan aspek psikologis, (13) pemuatan aspek sosiologi, (14) penentuan tone dan feeling dalam puisi, (15) pemuatan pesan (meaning), dan (16) pemilihan judul yang menarik.
Berikut ini akan dijelaskan beberapa langkah praktis dengan menulis puisi dengan mempertimbangkan berbagai unsur pembangunan yang ada. Untuk itu, semakin kreatif pembelajaran dalam menapaki langkah-langkah ini, tentunya semakin cepat dan mudah pula untuk menuliskannya.

Pertama, Perlu Memahami Aliran

Aliran dalam sastra Indonesia di kenal sangat banyak. Seperti, aliran realisme, naturalisme, ekspresionisme, idealisme, romantisme, impresionisme, dan sebaginya. Aliran ini akan memandu saudara untuk menentukan pilihan sehingga tepat dalam menentukan  pengucapan sebuah puisi. Jika anda ingin menjadi “juru potret” kehidupan, anda perlu memilih aliran realistime, sehingga puisi-puisi yang dihasilkan juga realis. Puisi-puisi Taufik Ismail. Emha Ainun Najib, Wiji Tukul, dan Rendra adalah contoh-contoh puisi yang realis yang seringkali juga pamfletis.
Mungkin anda akan memilih mengekspresikan kejiwaan dan pikiran. Jika ini menjadi pilihan anda, biasanya anda akan melahirkan puisi-puisi ekspresionisme. Jenis puisi ini kuat untuk mengungkapkan pikiran dan kejiwaan penyairnya. Penyair seperti Chairil Anwar, sering dinilai sebagai pelopor ekspresionisme. Coba  perhatikan puisi Chairil Anwar yang ekspresionisme.

Aku

Kalau sampai waktuku
Kumau tak seorangkan merayu
Tidak juga kau
Ta perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalan
Dari kumpulan yang terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih perih
Dan aku lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Maret, 1943

Kedua, Perlu Memahami Tema

Tema dalam kepenulisan puisi merupakan masalah apa yang diangkat di dalam puisi. Jika kita mengamati puisi-puisi yang bersebaran dan bertebaran di media massa atau puisi yang dihasilkan oleh para penyair kita dalam berbagai bentuk penerbitan, tema yang diangkat mencakup (a) sosial, (b) Politik, (c) adat, (d) relejius/keagamaan, (e) keluarga, (f) nasionalisme, (g) kekerasan dan HAM, (h) cinta dan remaja, (i) cinta dan perselingkuhan, (j) hukum, (k) misteri, (l) horor, dan (m) komedi.
Puisi-puisi Hamid Jabbar misalnya seringkali mengangkat tema-tema relejius atau keagamaan, demikian juga puisi-puisi Abdul Hadi, dan Jamal D. Rahman bercirikan demikian.

Ketiga, Perlunya Imajinasi

Imajinasi dalam menuakan ide dalam puisi adalah sesuatu yang mutlak yang harus dimiliki oleh seorang penyair, karena puisi sesungguhnya merupakan realitas imajinatif, imajinasi sendiri sering didefinisikan sebagai kemampuan daya bayang manusia untuk menggambarkan mewujudkan sesuatu dalam angan-angannya secara cermat dan hidup.
Dalam penulisan puisi, dikenal beberapa wujud imajinasi yang lebih dikenal dengan citra, menurut Burhan Nurgiantora imaji atau citraan itu sendiri merupakan gambaran pengalaman indera yang diungkapkan melalui bahasa, Burhan menyebutkan pencitraan kedalam lima jenis citraan (a) citraan penglihatan (visual imagery), (b) citraan pendengaran (audio imagery), (c) citraan gerakan(cinestetic imagery), (d) citraan gerakan (tactil imagery), (e) citraan penciuman(olfaktori).
Imaji yang pertama, citraan penglihatan hakikatnya bagaimana seorang pengarang secara natural mampu melukiskan penggambarannya secara maksimal. Penggambaran penglihatan sehingga pembaca mampu tergiring untuk “melihat” dengan matanya, keindahan “yang dipotret” pengarang dengan bidikan matanya.
Contoh imaji dalam puisi yang menggunakan imaji (rekaan) dalam puisi. Contoh pertama ini merupakan contoh penggunaan imaji visual
Aku terlena di atas padang hijau yang membeku
Pohon-pohon rimbun membuatku terlena
Kekasihku bilang, akulah bidadari yang paling cantik
Seperti setia daun pada pohon
Contoh kedua, yang merupakan contoh yang menggunakan imaji audio, imaji ini meskipun relatif jarang digunakan tetapi memiliki kekuatan tersendiri dalam penulisan puisi:

Debur ombak adalah debur hatiku
Gemercik air adalah cintaku
Nyanyian angin sepoi membuatmu terlena
Jika aku sungguh terlena oleh derasnya gembang cintamu.

Contoh ketiga merupakan contoh penggunaan imaji gerak. Imaji ini meskipun sesungguhnya merupakan imaji yang menggambarkan gerak secara umum atau yang menggunakan gaya bahasa personifikasi.

Ombak itu merangkak tegak
Dengan perkasa melumatkan segalanya 
Membunuh siapa saja dengan gagahnya
Dia datang tak diundang, ooh, gelombang

Contoh keempat, merupakan contoh penggunaan imaji penciuman, yang merupakan ekspresi dari pengalaman indera penciuman yang intensif digunakan oleh seorang penyair
Harum asin itu menyengat
Bersama keringat melumat gairah pantaiku
Bau nelayan mampir juga dipipimu
Hai dara manisku, kau bak nelayan kehilangan perahu.
Contoh terakhir merupakan contoh penggunaan imaji taktil, imaji ini merupakan ekspresi dari pengalaman indera rabaan.

Halus bibirmu berbingkai sinar rembulan
Mengingatkan aku pada dua burung berkicau
Yang pernah kudengar disaat remajaku
Membuatku termenung berbuah lembut hati

Keempat, Menemukan Ide

Ide atau ilham itu ibarat bunga api, percikan parfum yang menebarkan gelora imajinasi. Taufik Ismail prihatin melihati kondisi keindonesian mutakhir ia menuliskan kumpulan dengan judul “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia” (2003) , demikian juga Hamid jabbar memandang rupa-rupa negeri seperti tidak berbentuk, dia menuliskan puisi Indonesiaku.
Pengalaman penyair dalam memperoleh ide (ilham) memang beragam. mereka ada yang memperoleh melalui merenung, membaca puisi karya orang lain, pengalaman pribadi, membaca berita, menonton film, bercengkrama dan berjalan-jalan, dan sebagainya. Berikut contoh yang diihamni kesemberawutan kota Surabaya, anda dapat melihatnya dan membacanya pada uraian sebelumnya dengan judul “Surabayaku Ajari Aku tentang Benar”

Kelima, Perlunya Mengeramkan Ide

Ibarat terur ide itu butuh untuk ditetaskan . tanpa pengeraman karena itu, jelas tidak akan dapat melahirkan”puisi’itu. Pada tahap ini merupakan persiapan untuk mewujudkan ide atau gagasan yang telah dikandung, yang melitas-lintas,menari-nari, menggawang-awang,membayang, dan yang ditimang-timang. Inkubasi akan dapat meneteskan karya yang dapat dibanggakan. Sama-sama ide yang menghilhami penyiar misalnya,bisa jadi hasil puisi yang diciptakan berbeda. Potret “Buram Indonesia” menghilhami taufik Ismail untuk menulis puisi berjudul Kembalikan Indonesia Padaku dan Malu Aku Jadi Orang Indonesia.
Pengeraman yang berbeda dan pengucapan yang berbeda akan melahirkan bentuk dan isi yang berbeda pula, disinilah maka proses inkubasi (pengeraman) sangat tergantung pada pengalaman kreatif dan imajinatif penyair untuk memilih pengucapan yang tepat, perhatikan puisi WS Rendra berikut:
Nyanyian Fatimah Untuk Suto 
Kelambu ranjangku tersingkap
Di bantal beranda tergolek nasibku
Apabila firmanmu terucap
Masuklah kalbu ke dalam kalbu
Sedu sedan mengetuk tingkapku
Dari bumi di bawah rumpun mawar
Waktu lahir kau telanjang dan tak tahu
Tak hidup bukanlah tawar menawar
Puisi ini menggambarkan pengolahan ide “cinta” yang digarap penyairnya berbingkai kehidupan intim sepasang manusia, ide cinta yang melahirkan puisi cinta. Sebagai perbandingan, saya coba kutipkan seuntai puisi cinta yang dialami pengarang.
Ini kali pertama aku tinggalkan
Tinggal jauh dipelupuk mataku
Hati meraung perih
Seorang diri diambang senja
Mendung hitam, sehitam hati yang merana
Dingin malam yang terhembus dikerikil tajam
Merona hati menahan rindu
Pada dikau tambatan hati 
Oh…angin malam bisikkan kesepianku padanya
Dekap dirinya dengan kehangatan cinta
Puisi ini saya tulis, dalam kondisi hati saya sedang ditinggal pergi oleh pujaan hati, dia pergi menunaikan tugas lain selain melayani kekasihnya. Tentu anda pun memiliki banyak puisi yang serupa, gampangkan menulis puisi…? apalagi menulis puisi cinta yang semua orang pernah merasakannya.

Keenam, Pilihlah Cara Pengucapan yang Tepat

Cara pengucapan merupakan kekhasan seorang penyair, ada yang cenderung pengucapan puisinya pada gaya pamfletis, seperti Darmanto, atau liris sapardi Djoko Damono, pengucapan balada seperti WS Rendra bercampur pamfletis atau pengucapan parodi dan musikal ala Hamid Jabbar.

Ketujuh, Manfaatkanlah Gaya Bahasa

Salah satu sarana dalam mewujudkan estetika adalah gaya bahasa merupakan sarana strategis yang banyak dipilih penyair untuk mengungkapkan pengalaman jiwa ke dalam karyanya. Penggayabahasaan dalam bahasa, Burhan Nurgiyantoro, tidaklah memiliki maknah harfiah melainkan makna yang ditambahkan, atau makna yang tersirat.
Gaya bahasa adalah bahasa indah yang dipergunakan untuk meningkatkan efek dengan jalan memperkenalkan serta memperbandingkan suatu benda atau hal tertentu dengan benda atau hal lain yang lebih umum (Dale et all. 1971:220), Gaya bahasa atau majas pada umumnya dikelompokkan ke dalam menjadi tiga (a) majas perbandingan seperti metafora, analogi, (b) majas pertentangan seperti ironi, hiperbola, litotes, dan (c) majas pertautan seperti metonimia, sinekdoce, eufimisme (Sudjiman, 1996:4

Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI)

Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI)

Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI)

Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI)
Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI)
Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dibentuk oleh jepang pada tanggal 29 April 1945. BPUPKI sering dikenal dengan sebutan Dokuritsu Junbi Choosakai. Anggota BPUPKI berjumlah 62 orang yang dilantik tanggal 28 Mei 1945 oleh Dr. Radjiman Wedyodiningrat sebagai ketua dan wakil ketua adalah R. Panji Soeroso dan Ichibangase (orang Jepang).
Setelah anggotanya dilantik, BPUPKI mulai bekerja tanggal 29 Mei 1945, dengan tugas sebagai berikut.
  • Menyelidiki kemungkinan-kemungkinan Indonesia merdeka.
  • Mempersiapkan lahirnya Indonesia merdeka.
  • Menyusun rancangan dasar negara.
  • Membuat rancangan UUD.
Sidang I BPUPKI berlangsung 29 Mei 1945 s/d 1 Juni 1945 dibuka oleh Ketua BPUPKI Dr. Radjiman Wedyodiningrat. Dalam sidang tersebut membahas dasar negara. Terdapat beberapa usulan rumusan dasar negara, yaitu sebagai berikut.

Muhammad Yamin (29 Mei 1945)

menyampaikan usulan secara lisan, yaitu sebagai berikut.
  1. Peri Kebangsaan.
  2. Peri Kemanusiaan.
  3. Peri Ketuhanan.
  4. Peri kerakyatan.
  5. Kesejahteraan Sosial (Keadilan Sosial).

Setelah berpidato Muhammad Yamin menyampaikan usul tertulis tentang rancangan UUD. Didalam Rancangan Pembukaan UUD tersebut, terdapat rumusan lima asas negara merdeka yang berisi diantaranya Ketuhanan Yang Maha Esa, Kebangsaan Persatuan Indonesia, Rasa kemanusiaan yang adil dan beradab, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Soepomo. (31 Mei 1945)

menyampaikan pokok pikiran tentang dasar negara, yaitu sebagai berikut.
  1. Persatuan.
  2. Kekeluargaan.
  3. Keseimbangan lahir dan batin.
  4. Musyawarah.
  5. Keadilan rakyat.

Ir. Soekarno. (1 Juni 1945)

mengusulkan lima asas untuk negara Indonesia, yaitu sebagai berikut.

  1. Nasionalisme atau Kebangsaan Indonesia.
  2. Internasionalisme atau Peri Kemanusiaan.
  3. Mufakat atau demokrasi.
  4. Kesejahteraan Sosial.
  5. Ketuhanan yang berkebudayaan.

Sidang BPUPKI (29 – 1 Juni 1945)

belum dapat menetapkan ketiga usulan tersebut menjadi dasar negara, maka dibentuklah Panitia Sembilan. Anggota “Panitia 9” adalah sebagai berikut.

  • Ir. Soekarno, ketua merangkap anggota.
  • H. Agus Salim, anggota.
  • Mr. Ahmad Subardjo, anggota.
  • Mr. Muhammad Yamin, anggota.
  • Drs. Mohammad Hatta, anggota.
  • Mr.AA. Maramis, anggota.
  • Kiai hadji Wachid Hasyim, anggota.
  • Abdul Kahar Muzakkir, anggota.
  • Abikusno Tjokrosujoso, anggota.

Pada tanggal 22 Juni 1945 Panitia 9, berhasil merumuskan naskah Rancangan Pembukaan UUD, yang kemudian dikenal sebagai Piagam Djakarta (Djakarta Charter), yaitu sebagai berikut.

  1. Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.
  3. Persatuan Indonesia.
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratn/perwakilan.
  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Berdasarkan Instruksi Presiden No. 12 Tahun 1968 tanggal 13 April 1968, mengenai rumusan dasar negara dan penulisannya. Rumusan Pancasila yang benar (shohih) dan sah adalah yang tercantum di dalam Pembukaan UUD 1945 alinea IV yang ditetapkan dan disahkan oleh PPKI tanggal 18 Agustus 1945 dengan rumusan sebagai berikut.

  1. Ketuhanan Yang Maha Esa.
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.
  3. Persatuan Indonesia.
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.
  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sidang II BPUPKI

dilaksanakan pada tanggal 10-17 Juli 1945. Dalam sidang yang kedua, BPUPKI membahas dan merumuskan rancangan tentang konsep batang tubuh Undang-Undang Dasar Negara Indonesia merdeka. Dalam sidang II BPUPKI ini ddibentuk Panitia Hukum Dasar, yang terdiri dari 19 orang dan diketuai oleh Ir. Soekarno untuk mempermudah kinerjanya, panitia ini membentyk panitia kecil yang terdiri atas berikut ini.

a. Ketua : Prof Mr. Dr. Soepomo.
b. Anggota :
  1. Mr. Wongsonegoro.
  2. R. Soekardjo
  3. Mr. A.A. Maramis
  4. Mr. R. Pandji Singgih.
  5. H. Agus Salim.
  6. Dr. Soekiman.

Panitia kecil ini pada tanggal 13 Juli 1945 telah menyelesaikan tugasnya dan melaporkan tugasnya tersebut kepada Panitia Hukum Dasar. Selanjutnya pada tanggal 16 juli 1945, BPUPKI menyetujui Rancangan Undang-Undang Dasar tersebut.

Baca juga:

Pengertian Pancasila, Pendapat Para Ahli, dan Proses Perumusan Pancasila 

Pengertian Pancasila, Pendapat Para Ahli, dan Proses Perumusan Pancasila 

Pengertian Pancasila, Pendapat Para Ahli, dan Proses Perumusan Pancasila

Pengertian Pancasila, Pendapat Para Ahli, dan Proses Perumusan Pancasila
Ditinjau dari asal usulnya, kata “Pancasila” berasal dari bahasa Sansekerta yang mengandung dua suku kata, yaitu panca dan syila. Panca berarti lima dan syila dengan huruf i yang dibaca pendek mempunyai arti satu sendi, dasar, alat, atau asas. Sedangkan syila dengan pengucapan i panjang (syi:la) berarti peraturan tingkah laku yang baik,, utama atau yang penting. Dengan demikian Pancasila dapat diartikan berlaku sendi, lima, atau lima tingkah laku utama, atau pelaksanaan lima kesusilaan (Panca syila krama).
Berikut ini beberapa pendapat para ahli tentang pengertian Pancasila, adalah sebagai berikut.

Notonegoro

 Pancasila adalah dasar falsafah negara Indonesia, sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa Pancasila merupakan dasar falsafah dan ideologi negara yang diharapkan menjadi pandangan hidup bangsa Indonesia, sebagai dasar pemersatu, lambang persatuan dan kesatuan, serta bagian pertahanan bangsa dan negara.

Muhammad Yamin

Pancasila berasal dari kata Panca yang berarti lima dan sila yang berarti sendi, asas, dasar, atau peraturan tingkah laku yang penting dan baik. Dengan demikian, Pancasila merupakan lima dasar yang berisi pedoman atau aturan tentang tingkah laku yang penting dan baik.

Ir. Soekarno

Pancasila adalah isi jiwa bangsa Indonesia secara turun-temurun yang sekian abad lamanya terpendam bisu oleh kebudayaan Barat. Dengan demikian, Pancasila tidak saja sebagai falsafah negara, tetapi lebih luas lagi, yakni falsafah bangsa Indonesia.

Proses Perumusan Pancasila

Bangsa Indonesia mulai tanggal 18 Agustus 1945 telah menetapkan Pancasila sebagai dasar negara. Pancasila dijadikan sebagai ideologi nasional karena lahir melalui suatu proses dan digali dari budaya bangsa. Indonesia sebagai bangsa yang merdeka, membutuhkan dasar negara agar menjadi bangsa yang kuat. Pancasila dijadikan sebagai dasar negara Indonesia melalui ide-ide yang mendalam para pendiri bangsa.

Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI)

PPKI dibentuk oleh jepang pada tanggal 7 Agustus 1945 dengan beranggotakan 21 orang. PPKI diketuai oleh Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta sebagai wakil ketua. Jepang membentuk PPKI dengan janji bahwa Jepang akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Karena janji tersebut, maka rakyat Indonesia menghendaki pembentukan PPKI ini harus berdasarkan ketentuan-ketentuan sebagai berikut.

  • Soekarno dan Mohammad Hatta diangkat sebagai ketua-wakil ketua PPKI.
  • Sejak tanggal 19 Agustus 1945 panitia boleh mulai bekerja.
  • Cepat atau tidaknya pekerjaan PPKI diserahkan seluruhnya kepada panitia.

Pada tanggal 14 Agustus 1945, Jepang menyerah kalah pada Sekutu. Terjadilah kekosongan kekuasaan karena sekutu belum masuk ke Indonesia. Untuk memnfaatkan kekosongan kekuasaan tersebut maka maka dimanfaatkan oleh bangsa Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaannya. Akhirnya pada tanggal 17 Agustus 1945 jam 10.00 WIB Indonesia memproklmasikan kemerdekaannya, yang dibacakan oleh Ir. Soekarno dan ditandatangani atas nama bangsa Indonesia oleh Soekarno-Hatta. Setelah kemerdekaan Indonesia tepatnya tanggal 18 Agustus 1945 anggota PPKI melakukan sidang yang menghasilkan ketetapan-ketetapan sebagai berikut.

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia.

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia terdiri atas berikut ini.

  • Pembukaan yang merupakan Staat’s Fundamental Norm terdiri dari empat alenia. Dalam Pembukaan UUD 1945 alenia keempat terdapat rumusan Pancasila, yaitu sebagai berikut.
  1. Ketuhanan Yang Maha Esa.
  2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.
  3. Persatuan Indonesia.
  4. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/perwakilan.
  5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
  • Batang Tubuh, terdiri dari 16 bab, 37 pasal, 4 pasal Aturan Peralihan dan 2 ayat Aturan Tambahan

.Memilih Ir. Soekarno sebagai Presiden dan Drs. Mohammad Hatta sebagai Wakil Presiden.

Pekerjaan Presiden sehari-hari untuk sementara waktu dibantu oleh sebuah Komite Nasional Indonesia Pusat atau KNIP 

Fungsi Minat Dalam Belajar

Fungsi Minat Dalam Belajar

Fungsi Minat Dalam Belajar

Fungsi Minat Dalam Belajar
Fungsi Minat Dalam Belajar

Dalam hal fungsi minat dalam belajar The Liang Gie (1998: 28) mengemukakan bahwa minat merupakan salah satu faktor untuk meraih sukses dalam belajar. Secara lebih terinci arti dan peranan penting minat dalam kaitannya dengan pelaksanaan belajar atau studi ialah:

Minat melahirkan perhatian yang serta merta
Minat memudahkan terciptanya konsentrasi
Minat mencegah gangguan perhatian di luar
Minat memperkuat melekatnya bahan pelajaran dalam ingatan
Minat memperkecil kebosanan belajar dalam diri sendiri.
Rincian penjelasannya akan diuraikan sebagai berikut:

1. Minat melahirkan perhatian yang serta merta

Perhatian seseorang terhadap sesuatu hal dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu perhatian yang serta merta, dan perhatian yang dipaksakan, perhatian yang serta merta secara spontan, bersifat wajar, mudah bertahan, yang tumbuh tanpa pemaksaan dan kemauan dalam diri seseorang, sedang perhatian yang dipaksakan harus menggunakan daya untuk berkembang dan kelangsungannya.

Menurut Jhon Adams yang dikutif The Liang Gie (1998: 29) mengatakan bahwa jika seseorang telah memiliki minat studi, maka saat itulah perhatiannya tidak lagi dipaksakan dan beralih menjadi spontan. Semakin besar minat seseorang, maka akan semakin besar derajat spontanitas perhatiannya. Pendapat senada juga dikemukakan oleh Ahmad Tafsir (1992: 24) bahwa minat telah muncul maka perhatian akan mengikutinya. Tetapi sama dengan minat perhatian mudah sekali hilang.

Pendapat di atas, memberikan gambaran tentang eratnya kaitan antara minat dan perhatian. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa untuk meningkatkan perhatian seseorang dalam hal ini siswa terhadap sesuatu, maka terlebih dahulu harus ditingkatkan minatnya.

2. Minat memudahkan terciptanya konsentrasi

Minat memudahkan terciptanya konsentrasi dalam pikiran seseorang. Perhatian serta merta yang diperoleh secara wajar dan tanpa pemaksaam tenaga kemampuan seseorang memudahkan berkembangnya konsentrasi, yaitu memusatkan pemikiran terhadap sesuatu pelajaran. Jadi, tanpa minat konsentrasi terhadap pelajaran sulit untuk diperhatikan (The Liang Gie, 1998: 29). Pendapat senada dikemukakan oleh Winkel (1996: 183) bahwa konsentrasi merupakan pemusatan tenaga dan energi psikis dalam menghadapi suatu objek, dalam hal ini peristiwa belajar mengajar di kelas. Konsentrasi dalam belajar berkaitan dengan kamauan dan hasrat untuk belajar, namun konsentrasi dalam belajar dipengaruhi oleh perasaan siswa dan minat dalam belajar.

Pendapat-pendapat di atas, memberi gambaran bahwa tanpa minat konsentrasi terhadap pelajaran sulit dipertahankan.

3. Minat mencegah gangguan perhatian di luar

Minat studi mencegah terjadinya gangguan perhatian dari sumber luar misalnya, orang berbicara. Seseorang mudah terganggu perhatiannya atau sering mengalami pengalihan perhatian dari pelajaran kepada suatu hal yang lain, kalau minat studinya kecil. Dalam hubungan ini Donald Leired (The Liang Gie, 1998: 30) menjelaskan bahwa gangguan-gangguan perhatian seringkali disebabkan oleh sikap bathin karena sumber-sumber gangguan itu sendiri. Kalau seseorang berminat kacil bahaya akan diganggu perhatiannya.

4. Minat memperkuat melekatnya bahan pelajaran dalam ingatan

Bertalian erat dengan konsentrasi terhadap pelajaran ialah daya mengingat bahan pelajaran. Pengingatan itu hanya mungkin terlaksana kalau seseorang berminat terhadap pelajarannya. Seseorang kiranya pernah mengalami bahwa bacaan atau isi ceramah sangat mencekam perhatiannya atau membangkitkan minat seantiasa teringat walaupun hanya dibaca atau disimak sekali. Sebaliknya, sesuatu bahan pelajaran yang berulang-ulang dihafal mudah terlupakan, apabila tanpa minat (The Liang Gie, 1998: 30). Anak yang mempunyai minat dapat menyebut bunyi huruf, dapat mengingat kata-kata, memiliki kemampuan membedakan dan memiliki perkembangan bahasa lisan dan kosa kata yang memadai.

Penadapat di atas, menunjukkan terhadap belajar memiliki peranan memudahkan dan menguatkan melekatnya bahan pelajaran dalam ingatan.

5. Minat memperkecil kebosanan belajar dalam diri sendiri.

Segala sesuatu yang menjemukan, membosankan, sepele dan terus menerus berlangsung secara otomatis tidak akan bisa memikat perhatian (Kartini Kartono, 1996: 31). Pendapat senada dikemukakan oleh The Liang Gie (1998: 31) bahwa kejemuan melakukan sesuatu atau terhadap sesuatu hal juga lebih banyak berasal dari dalam diri seseorang daripada bersumber pada hal-hal di luar dirinya. Oleh karena itu, penghapusan kebosanan dalam belajar dari seseorang juga hanya bisa terlaksana dengan jalan pertama-tama menumbuhkan minat belajar dan kemudian meningkatkan minat itu sebesar-besarnya.

Baca juga: