Contoh Kasus pembelajaran IPA kelas V SD

Contoh Kasus pembelajaran IPA kelas V SD

Contoh Kasus pembelajaran IPA kelas V SD

Contoh Kasus pembelajaran IPA kelas V SD
Contoh Kasus pembelajaran IPA kelas V SD

Kasus pembelajaran IPA kelas V SD. Bu Is akan mengajarkan IPA dengan topik pernapasan pada manusia, di kelas V SD. Ia mempersiapkan media berupa gambar organ pernapasan dan model organ pernapasan dan model organ pernapasan manusia. Ia juga mempersiapkan LKS tentang nama – nama organ pernapasan manusia.

Sebelum mengajar, Bu Is memberikan apersepsi bahwa salah satu ciri makhluk hidup adalah bernapas. Bu Is juga menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai yaitu tentang macam/nama organ pernapasan manusia dan fungsi masing–masing organ tersebut. Setelah itu, Bu Is memulai mengajar materi tentang organ pernapasan. Ia menyuruh semua murid menarik napas untuk membuktikan bahwa manusia bernapas dan untuk mengetahui dimana letak organ–organ pernapasan tersebut. Bu Is memasang organ pernapasan manusia di papan tulis, dan tanya jawab tentang nama–nama organ pernapasan manusia. Setelah itu Bu Is memberikan LKS sebagai latihan secara berkelompok. Siswa melaporkan hasil diskusinya dan kelompok lain menanggapinya.

Contoh Kasus pembelajaran IPA kelas V SD

Untuk menambah pemahaman siswa, Bu Is menunjukkan model organ pernapasan manusia. Hal ini juga bertujuan membuat siswa lebih tertarik untuk mengetahui siswa lebih tertarik untuk mengetahui letak dan fungsi organ pernapasan manusia. Sambil menunjukkan pada model, Bu Is mengadakan tanya jawab tentang fungsi masing-masing organ pernafasan pada manusia.

Setelah itu Bu Is mengadakan evaluasi, dan setelah di koreksi, Bu Is tidak menyangka bahwa hasilnya tidak memuaskan. Hasil nilai murid yang mencapai 75 ke atas hanya 10 orang dari 30 siswa. Bu Is merenung, mengapa target tidak tercapai, padahal dia menargetkan 75 % siswa mendapat nilai 75 ke atas ?

1. Mengidentifikasi masalah yang penting

Bu Is mengajarkan materi IPA dengan topik organ pernapasan manusia kelas V SD.
Media yang digunakan adalah gambar dan model organ pernapasan manusia.
LKS yang berisi gambar organ pernapasan manusia dan siswa disuruh untuk menjelaskan nama.
Mengadakan apersepsi dengan menyatakan bahwa salah satu ciri makhluk hidup adalah bernapas.
Menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu supaya siswa – siswa mengetahui tentang nama – nama organ pernapasan manusia dan fungsinya.
Metode yang dipakai demonstrasi, tanya jawab, penugasan, diskusi, ceramah.
Setelah hasil ulangan diperiksa ternyata hanya ada 10 orang siswa yang nilainya 75 ke atas dari 30 orang siswa.

2. Bu Is sudah merencanakan dan melaksanakan pembelajaran dengan baik, ternyata hasilnya kurang memuaskan.

3. Analisis penyebab masalah

Bu Is terlalu banyak menggunakan metode, sehingga dalam pelaksanaan masing – masing metode kurang tuntas.

Bu Is tidak memberikan pemantapan materi dan kesimpulan di akhir kegiatan belajar mengajar.
Bu Is kurang menguasai materi

4. Alternatif pemecahan masalah

Seharusnya dalam proses belajar mengajar, Bu Is tidak terlalu banyak menggunakan metode, karena hal itu justru membuat proses pemahaman konsep menjadi tidak mantap. Pilih beberapa metode saja yang dianggap paling tepat untuk mengajarkan materi tersebut.
Pada akhir proses belajar mengajar, seharusnya Bu Is memberikan pemantapan dan kesimpulan, supaya siswa lebih paham terhadap materi yang diajarkan.
Sebelum mengajar seharusnya Bu Is sudah menguasai materi sehingga dalam pelaksanaannya berjalan dengan lancar, jelas, dan agar yang disampaikan mudah di serap oleh siswa.

5. Pemecahan masalah

Jika diamati lebih dalam, kasus yang muncul dalam pembelajaran Bu Is adalah

karena kurang menguasai materi. Padahal salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru adalah kompetensi professional. Artinya ia harus memiliki pengetahuan yang luas serta dalam dari bidang studi yang akan diajarkan serta penguasaan metodologis dalam arti memiliki pengetahuan konsep teoritik, mampu memiliki metode yang tepat serta mampu menggunakan berbagai metode dalam PBM. Guru juga harus memiliki pengetahuan luas tentang landasan kependidikan dan pemahaman terhadap murid.

Hal ini juga seperti yang dikemukakan oleh Robert W. Richey ( 1974 ) bahwa ciri – ciri profesionalisasi jabatan guru salah satunya adalah para guru di tuntut memiliki pemahaman serta ketrampilan yang tinggi dalam hal bahan pengajar, metode, anak didik dan landasan kependidikan.

Johnson ( 1980 ) menjabarkan cakupan kemampuan professional guru diantaranya

adalah penguasaan materi pelajaran yang etrdiri atas penguasaan bahan yang harus diajarkan dan konsep-konsep dasar keilmuan dari bahan yang diajarkannya.

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka penguasaan materi bagi seorang guru adalah mutlak adanya. Jadi untuk mengatasi kasus tersebut di atas, hal yang paling penting yang harus dikerjakan adalah peningkatan kompetensi guru dengan cara rajin membaca, menerapkan dan mengembangkan ilmunya. Dengan langkah seperti ini, diharapkan dapat meningkatkan kualitas guru yang berimbas pada peningkatan prestasi siswa. Jadi kasus di atas tidak akan terulang kembali.

 

Baca Juga :

 

 

Kecerdasan Visual Anak

Kecerdasan Visual Anak

Kecerdasan Visual Anak

Kecerdasan Visual Anak
Kecerdasan Visual Anak

Kecerdasan Visual merupakan salah satu dari berbagai kecerdasan yang dimiliki setiap manusia

seperti halnya kecerdasan bahasa, logika, musikal, olah tubuh, pengendalian diri, pengenalan orang lain dan naturalis. Perkembangan berbagai kecerdasan itu tidaklah sama cepatnya namun kecerdasan tersebut dapat bekerja sekaligus. Kecerdasan visual adalah kemampuan seseorang untuk memvisualisasikan dunia secara tepat dan membayangkan kembali pengalamannya.

Dalam konteks pendidikan kemampuan seseorang untuk menggambarkan melalui imajinasinya merupakan salah satu ciri kecerdasan visual. Di sisi lain, sistem kurikulum sekolah

menitikberatkan pada informasi verbal, hal ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan kritis siswa.

Kecerdasan Visual Anak
Kecerdasan Visual Anak

Ada beberapa hal yang perlu diketahui oleh orang tua dan guru untuk melihat perkembangan kemampuan kecerdasan visual seorang anak, diantaranya adalah:

Kesanggupan membayangkan sesuatu dengan jelas dan detail. Dalam benak anak kejadian tergambar detail dan realitis (bukan mengada-ada). Anak dengan kecerdasan visual yang menonjol akan merasa melihat walau dengan mata tertutup.

Mewujudkan pikirannya dalam bentuk gambar. Anak dengan kecerdasan visual

akan menerima informasi yang didapatkan diwujudkan dalam bentuk gambar.
Memiliki kepekaan terhadap warna. Pada bebrapa anak gradasi warna bisa ditangkap sejak dini. Kepekaan ini menunjukkan adanya kecerdasaan visual yang berkembang baik.
Melakukan coret mencoret dan membuat ilustrasi sendiri di bukunya. Melalui coretannya tampak anak memiliki kemampuan lebih untuk memvisualisasikan pengalamannya.
Menyenangi permainan puzzle. Puzzle adalah salah satu permainan yang membutuhkan kecerdasan visual. Anak dituntut untuk membayangkan gambar secara utuh dari potongan-potongan gambar yang kemudian dirangkai kembali.

Meningkatkan Kecerdasan Visual Anak

Mungkin banyak orang tua bahkan beberapa guru sekalipun kurang menyadari bahwa informasi visual secara bertubi-tubi lebih banyak didapat dibandingkan informasi verbal. Informasi visual tersebut bisa menyesatkan apabila anak tidak dibiasakan secara kritis untuk menimbang seluruh pengalaman visualnya melalui pengembangan kecerdasan visual anak.

Setiap hari, anak disuguhi informasi yang begitu cepat dari media cetak dan elektronik. Mulai sinetron sampai iklan. Orang tua termasuk guru seharusnya mampu menjelaskan tentang kesemuanya ini. Kejadian tersebut merupakan proses peningkatan kecerdasan visual anak yang perlu diperhatikan dalam kegiatan sehari-hari. Pengembangan kecerdasan visual anak tidak terlepas dari kemampuan untuk melihat secara kritis. Intinya, melihat secara ktitis merupakan salah satu kata kunci yang perlu dibiasakan pada anak agar kemampuan kecerdasan visual anak dapat meningkat serta berpikir kearah positif.

 

Sumber :

https://en.gravatar.com/ojelhtcmandiri

Pendidikan Berkarakter sebuah Wacana

Pendidikan Berkarakter sebuah Wacana

Pendidikan Berkarakter sebuah Wacana

Pendidikan Berkarakter sebuah Wacana
Pendidikan Berkarakter sebuah Wacana

Pendidikan Berkarakter sebuah Wacana

Selama ini pendidikan di Indonesia lebih mengutamakan aspek kognitif atau aspek intelektual

yang mengedepankan pengetahuan, pemahaman serta keterampilan berpikir. Bagi negara berkembang mengutamakan penyerapan ilmu pengetahuan berharap untuk mengejar ketinggalan terhadap negara yang telah maju. Salah satu wujud pelaksanaan adalah melalui lembaga pendidikan.

Pendidikan Berkarakter sebuah Wacana

Lembaga pendidikan mampu mencetak lulusan yang hafal teori-teori pelajaran, pintar menjawab soal-soal pertanyaan, selembar surat tanda tamat belajar dengan nilai tinggi. Namun, mampukah mencetak manusia-manusia bermoral dan beriman, serta siap menghadapi tantangan, jujur, disiplin, bertanggungjawab dan lain sebagainya?

Yang terjadi saat ini, pendidikan seakan menjadi persyaratan utama dalam segala hal.

Mulai dari melamar kerja, jenjang karier sampai melamar wanita cenderung sebuah pertanyaan yang sering muncul tentang pendidikannya.

Kenyataan, pendidikan hanya mencari nilai bukan ilmu, pendidikan hanya sebagai syarat bukan pengetahuan, maka ditempuh dengan berbagai macam cara untuk mewujudkannya. Akhirnya yang muncul lulusan-lulusan yang siap kerja tapi tidak bisa bekerja, siap naik karier tapi tidak mampu berpikir dan siap meraih prestasi tapi tidak dapat beradaptasi.

Untuk itu, Indonesia sebagai negara yang siap maju, membutuhkan manusia-manusia

berkarakter sesuai dengan kepribadian bangsa, negara dan agama. Salah satu upaya mewujudkannya adalah melalui pendidikan berkarakter. Pendidikan berkarakter diharapkan dapat mengimbangi hasil pendidikan dalam diri peserta didik.

Sebenarnya pendidikan berkarakter telah lama berkembang seiring dengan pendidikan itu sendiri. Pendidikan merupakan sebuah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Hanya saja aspek tertentu lebih diutamakan.

Meskipun bisa dikatakan terlambat, Pemerintah Indonesia kembali mulai menerapkan Pendidikan Berbasis Karakter dengan menyelipkan ke dalam kurikulum pendidikan yang baru (baca: penyesuaian) sebagaimana tertuang dalam U.U.R.I No. 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional,

 

Sumber :

https://www.storeboard.com/danuaji/links

Teknik Sampling Menurut Drs. Sumadi Suryabrata

Teknik Sampling Menurut Drs. Sumadi Suryabrata

Teknik Sampling Menurut Drs. Sumadi Suryabrata

Teknik Sampling Menurut Drs. Sumadi Suryabrata
Teknik Sampling Menurut Drs. Sumadi Suryabrata

Karena bebagai alasan, tidak semua hal yang ingin dijelaskan atau diramlakan

atau dikendalikan dapat diteliti. Penelitian ilmiah boleh dikatakan hampir selalu hanya dilakukan terhadap sebagian saja hal-hal yang sebenarnya mau diteliti. Generalisasi dari sampel ke populasi ini mengandung resiko bahwa akan terdapat kekeliruan atau kertidaktepatan, karena sampel tidak akan mencerminkan secara tepat keadaan populasi. Karena hal yang demikian itulah maka teknik penentuan sampel itu menjadi sangat penting perananya dalam penelitian. Berbagai teknik penentuan sampel itu pada hakikatnya adalah cara-cara untuk memperkecil generalisasi dari sampel ke populasi. Hal ini dapat dicapai kalau diperoleh sampel yang representatif yaitu sampel yang benar-benar mencerminkan populasinya.

Di antara berbagai teknik penetuan sampel yang dianggap paling baik adalah penentuan sampel secara rambang (random sampling). Kebaikan teknik ini tidak hanya terletak pada teori yang mendasarinya, tetapi juga pada bukti-bukti empiris. Perkembangan teknologi komputer telah memungkinkan orang melakukan berbagai simulasi untuk membuktikan keunggulan teknik pengambilan sampel secara rambang itu. Di dalam sampel secara rambang semua anggota populasi, secara individual atau secara kolektif, diberi peluang yang sama untuk menjadi sampel.

Walaupun teknik pengambilan sampel secara rambang merupakan teknik yang terbaik, namun tidak selalu dapat dilaksanakan karena berbagai alasan. Kadang-kadang orang terpaksa puas dengan sampel rumpun (cluster sampel), karena rumpun-rumpun yang merupakan kelompokkan individu-individu itu tersedia sebagai unit-unit dalam populasi. Penelitian mengenai murid-murid sekolah biasanya tidak dapat menggunakan teknik pengambilan sampel secara rambang, melainkan harus secara rumpun. Yang mendapat peluang sama untuk menjadi sampel bukan murid secara individual, melainkan sekolah (jadi murid secara kelompok).

Sering sekali terjadi pula sampel diambil dari rumpun-rumpun yang telah ditentukan atau tersedia. Teknik yang demikian itu disebut penetuan sampel secara bertingkat (stratified sampling). Kalau dari kelompok-kelompok yang tersedia itu diambil sampel-sampel yang sebanding dengan besarnya kelompok dan pengambilannya secara rambang, maka teknik itu disebut pengambilan sampel secara rambang proporsional (proporsional random sampling).

Ada 4 (empat) parameter yang biasa dianggap menentukan representativeness sesuatu sampel, yaitu :

  1. Variabilitass populasi

Varibelitas populasi merupakan hal yang sudah ”givrn”, artinya peneliti harus menerima sebagaimana adanya, dan tidak adpat mengatur atau memaanipulsikan suatu sampel.

 

Besar sampel

Makin besar sampel yangdiambilakan makin tinggi representativenesspopulasinya . Ketentuan ini berlaku selama populasinya tidak homogen seara sempurna. Jika populasinya tidak homogen secara se,purna. Jika popilsinya homogen secara sempurna, besar sampel tidak mempengaruhi taraf representatifnya sampel. Untuk populasi yang demikian itu sampel cikup kecil saja.

 

Teknik penentuan sampel

Makin tinggi tingkat rambang dalampenentuan sampel, akan makintinggilah tingkat representatif sampelnya. Ketentuan ini juga hanya berlaku selama populasinya tidak homogen secra sempurna. Jika populasinya homogen seara sempurna rambang sama sekali tida k diperlukan.

 

Kecermatan memasukkan ciri-ciri populasi .

       Makin lengkap ciri-ciri populasi yang dimasukkan ke dalam sampel, akan makin tinggi tingkat representatifnya sampek. Dengan mempertimbangkan parameter-parameter tersebut, penelitian diharapkan dapat menentukan sampel yang palibg tinggi tingkat representatifnya yang mungkin dicapai. Kecakapan untuk ini, seperti untuk melakukan langkah-langkah yang lain dalam penelitian, sangat tergantung kepada latihan dan pengalaman.

Sumber : http://blog.umy.ac.id/herulampung/sejarah-pembentukan-bpupki/

Penulisan Pantun

Penulisan Pantun

Penulisan Pantun

Penulisan Pantun
PenulisaPenulisan Pantunn Pantun

Untuk menulis pantun, hal yang harus diperhatikan ialah

membuat topik atau tema terlebih dahulu, sama halnya jika hendak membuat karangan yang lain. Tema dalam penulisan pantun sangat penting sekali, karena dengan tema pantun-pantun yang dibuat oleh siswa akan lebih terarah kepada sesuatu maksud yang diharapkan. Dan juga tidak akan merebak kemana-mana, yang akhirnya dapat mendatangkan masalah. Memang diakui, adanya sedikit pengekangan kreativitas bagi siswa dalam menulis pantun, jika menggunakan tema yang sempit. Oleh karena itu, guru harus lebih bijaksana dalam memilih tema yang didalamnya dapat mengandung atau mencakup berbagai permasalahan keseharian.

Tema yang cocok diberikan dalam proses pembelajaran misalnya saja berkaitan dengan masalah politik, sosial budaya, percintaan, dan kehidupan keluraga. Misalnya, tema tentang sosial budaya dengan mengambil topik soal kebersihan kota atau masalah sampah. Hal pertama yang harus dilakukan ialah membuat isinya terlebih dahulu. Untuk membuat isi harus diingat bahwa pantun terdiri atas empat baris. Dua baris pertama sampiran, dan dua baris berikutnya ialah isi. Jadi, soal sampah tersebut dapat disusun dalam dua baris kalimat, yang setiap baris kalimatnya terdiri atas empat perkataan dan berkisar antara 8 sampai 12 suku kata.

Kemungkinan jika dibuatkan kalimat biasa, boleh jadi kalimatnya cukup panjang. Misalnya: ”Dikota yang semakin ramai dan berkembang ini, ternyata mempunyai masalah lain yang sangat terkait dengan masalah kesehatan warganya, yaitu sampah yang berserakan di mana-mana . . . dan seterusnya.”

Pengertian dari kalimat di atas mungkin bisa lebih panjang, namun hal tersebut dapat diringkas dalam dua baris kalimat isi sebagai berikut.

Jika sampah dibiarkan berserak

penyakit diundang, masalah datang.

Disinilah kelebihan pantun, dapat meringkas kalimat yang panjang, tanpa harus kehilangan makna atau arti sebuah kalimat yang ditulis panjang-panjang.

 

Jika isi pantun sudah didapatkan, langkah selanjutnya ialah

membuat sampirannya. Walau kata kedua dari suku akhir baris isi pertama dan kedua diberi tanda tebal. Namun jangan hal itu yang menjadi perhatian, tapi justru yang harus diperhatikan ialah pada suku akhir dari kata keempat baris pertama dan kedua, yaitu rak dan tang, sebab yang hendak dicari ialah sajaknya atau persamaan bunyi.

Sebuah pantun yang baik, suku akhir kata kedua sampiran pertama bersajak dengan suku akhir kata kedua dari isi yang pertama. Apalagi suku akhir kata keempat dari sampiran pertama seharusnya bersajak dengan suku akhir kata keempat isi pertama, karena disinilah nilai persajakan dalam pantun itu yaitu baris pertama sama dengan baris ketiga dan baris kedua sama dengan baris keempat.

Tetapi kalau dibuat sekaligus, takut terlalu sulit menyusunnya. Memang tidak sedikit kata-kata yang bersuku akhir pah, misalnya pelepah, sampah, nipah, tempah, terompah, dan sebagainya. Begitupun suku kata yang akhirannya dang, misalnya udang, sedang, ladang, kandang, bidang, tendang, dan sebagainya. Kalaupun sulit untuk mencari kata yang bersuku akhir pah, masih ada jalan lain yaitu dengan membuang huruf nya, dan mengambil ah nya saja. Begitupun dengan dang, buang huruf nya, sehingga yang tertinggal hanya ang nya. Tapi jangan sampai dibuang nya juga, sehingga hanya tinggal ng nya saja karena hal tersebut dapat menghilangkan sajaknya. Begitupun untuk suku akhir dari kata rak dan tang yang menjadi tujuan.

Kata yang bersuku akhir rak dan tang dalam kosa kata bahasa Indonesia cukup banyak, misalnya untuk kata rak, yaitu kerak, jarak, marak, serak, gerak, merak, arak, dan sebagainya. Sedangkan untuk kata tang, yaitu hutang, pantang, batang, petang, lantang, dan sebagainya. Sekarang baru membuat sampiran pertama dan kedua dengan mencari kalimat yang suku akhir kata keempatnya adalah rak dan tang. Misalnya:

Cantik sungguh si burung merak,

terbang rendah di waktu petang.

Kemudian antara sampiran dan isi baru disatukan menjadi;

Cantik sungguh si burung merak,

terbang rendah di waktu petang.

Jika sampah dibiarkan berserak,

penyakit diundang, masalah datang.

Jika menginginkan suku akhir kata kedua baris pertama dengan suku akhir kata kedua dari baris ketiga bersajak juga. Begitupun dengan suku akhir kata kedua baris kedua dengan suku akhir kata kedua baris keempat bersajak agar terlihat lebih indah bunyinya, maka sampirannya harus diubah, menjadi;

Daun nipah jangan diarak,

bawa ke ladang di waktu petang.

Jika sampah dibiarkan berserak,

penyakit diundang, masalah datang.

Demikian halnya jika membuat pantun teka-teki. Misalnya membuat teka-teki tentang parut, salah satu alat dapur yang berfungsi untuk memarut kelapa guna diambil santannya. Jika diperhatikan dengan teliti ada keanehan mengenai cara kerja parut, hal inilah yang dapat mengilhami kepada semua orang untuk membuat teka-teki, yaitu mata parut yang sedemikian banyak itu, cukup tajam. Daging kelapa yang sudah disediakan, dirapatkan ke mata parut, lalu digerakkkan dari atas ke bawah sambil ditekan. Dari pergerakan itu semua, seperti layaknya orang menyapu, dapat dilihat, daging kelapa itu tertinggal diantara mata parut. Ada terus. Semakin gerakan menyapu dilakukan, dagimg kelapa itu semakin banyak dimata-mata parut. Logikanya, orang menyapu tentu lantai akan menjadi bersih, tetapi sebaliknya sangat berbeda dengan bidang bangun parut. Semakin disapu, semakin kotor karena banyaknya daging kelapa yang menyangkut dimata parut. Dari sini dapat dibuatkan inti pantunnya, yaitu Semakin disapu, semakin kotor.

Tugas selanjutnya ialah membuat sampiran. Untuk membuat sampiran, boleh membuat yang sederhana, yaitu hanya untuk mencari persamaan bunyi (bersajak) tanpa mengindahkan makna atau arti atau keterkaitan dengan isi seolah satu kesatuan kalimat yang saling mendukung. Jika ingin membuat sampiran yang sederhana, hal yang dilakukan ialah mencari kosa kata yang bersuku akhir tor atau paling tidak or. Misalnya kantor, setor, dan motor. Jika sudah mendapatkan kosa kata untuk membuat akhiran pantun yang sesuai dengan kata kotor, langkah selanjutnya ialah menentukan letak inti pertanyaannya. Apakah diletakkan dibaris ketiga atau baris keempat. Jika diletakkan pada baris ketiga, kalimat baris keempat dapat dibuat sebagai berikut: apakah itu, cobalah terka.

Sehingga hasilnya menjadi:

Semakin disapu, semakin kotor,

Apakah itu, cobalah terka.

Sekarang barulah mencari sampirannya. Suku akhir tor atau or dari kata kotor dapat diambil salah satu saja, misalnya kata kantor, kemudian tinggal mencari suku kata yang berakhir ka dari kata terka, yang merupakan kata terakhir dari baris terakhir. Untuk kata yang bersuku akhir ka, dalam kosa kata bahasa Indonesia cukup banyak, misalnya bingka, ketika, sangka, nangka, dan luka. Misalnya diambil kata bingka. Sekarang kata kantor dan bingka baru dijadikan sampiran, menjadi:

pagi-pagi pergi ke kantor,

singgah ke warung beli bingka.

Kemudian antara sampiran dan isi baru disatukan, hasilnya menjadi:

pagi-pagi pergi ke kantor,

singgah ke warung beli bingka.

Semakin disapu, semakin kotor,

Apakah itu, cobalah terka.

Jadilah pantun teka-teki. Dan jawaban pantun teka-teki itu, tentulah parutan kelapa.

Jika inti pertanyaan diletakkan pada baris keempat, kalimat baris ketiga sebagai berikut: Jika pandai kenapa bodoh. Sehingga hasilnya menjadi:

Jika pandai kenapa bodoh,

Semakin disapu, semakin kotor.

Langkah selanjutnya ialah membuat sampirannya agar lengkap menjadi sebait pantun. Suku akhir kata kantor yang bersajak dengan kata kotor dapat digunakan lagi, sekarang tinggal mencari suku akhir doh, yang akan bersajak dengan kata bodoh. Misalnya kata jodoh sehingga jika dibuatkan sampirannya, menjadi:

Ramai-ramai mencari jodoh,

mencari jodoh sampai ke kantor.

Langkah terakhir baru disatukan antara isi dan sampirannya sehingga menjadi:

Ramai-ramai mencari jodoh,

mencari jodoh sampai ke kantor.

Jika pandai kenapa bodoh,

Semakin disapu, semakin kotor.

Dan jawaban dari pantun teka-teki tersebut tentunya ialah parutan kelapa.

Sumber : http://pendidikanku.web.unej.ac.id/2019/07/04/contoh-teks-eksplanasi-tentang-banjir/

Hubungan antara Serum Katak Muda Berekor dan Sel Kanker

Hubungan antara Serum Katak Muda Berekor dan Sel Kanker

Hubungan antara Serum Katak Muda Berekor dan Sel Kanker

Hubungan antara Serum Katak Muda Berekor dan Sel Kanker
Hubungan antara Serum Katak Muda Berekor dan Sel Kanker

Kanker merupakan salah satu penyakit utama yang menyebabkan kematian di dunia.

Di Indonesia sendiri, angka kejadian akibat penyakit itu terdapat sekitar 100 orang dalam 100.000 penduduk.

Fakta tersebut yang membuat kelompok Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian Eksakta (PKM-PE) dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga melakukan penelitian tentang kanker.

Dari hasil penelitian yang dilakukan menemukan bahwa pemberian serum katak muda berekor

dapat menurunkan aktifitas sel kanker. Hal ini karena di dalam serum katak muda berekor mengandung hormon tiroksin.

Hormon ini berperan penting dalam mendegenerasi ekor katak yang merupakan proses apoptosis. ’’Berawal dari hal inilah tim kami mengajukan proposal dan berhasil lolos dari penilaian Dikti untuk mendapat pendanaan dari Kemenristekdikti dan penelitian ini bisa dilakukan,” kata Imas Hapsari Rahmaningtyas, ketua tim peneliti mahasiswa ini, didampingi keempat temannya yaitu Nur Prabowo Dwi Cahyo, Zeni Prastika, Arliandra Reza Pratama, dan Anjani Marisa Kartikasari.

Setelah menginduksikan kanker, penelitian dilanjutkan dengan memberikan serum katak muda berekor

pada mencit setiap hari selama satu minggu. Dari penelitian ini diperoleh hasil bahwa serum katak muda berekor dapat menghambat aktivitas proliferasi sel kanker kulit.

Hal tersebut dibuktikan setelah dilakukan uji Imunohistokimia, yang hasilnya menunjukkan adanya warna cokelat yang menandakan adanya apoptosis. Adanya warna cokelat tersebut karena diwarnai oleh Caspase 3 sehingga terlihat warna cokelat. Dari hasil itu sekaligus menunjukkan bahwa serum yang diberikan dapat meningkatkan apoptosis dan menghambat aktivitas proliferasi dari sel kanker.

”Kami berharap dengan adanya temuan serum ini bisa memberikan alternatif atau cara terbaru dalam mengatasi kanker dengan biaya yang lebih murah daripada dilakukan dengan operasi dan nanoteknologi,” kata Imas Hapsari Rahmaningtyas. (*)

 

Baca Juga :

 

 

Wahai Orang Tua, Nih Ada Pendidikan Anti Bullying untuk Anak

Wahai Orang Tua, Nih Ada Pendidikan Anti Bullying untuk Anak

Wahai Orang Tua, Nih Ada Pendidikan Anti Bullying untuk Anak

Wahai Orang Tua, Nih Ada Pendidikan Anti Bullying untuk Anak
Wahai Orang Tua, Nih Ada Pendidikan Anti Bullying untuk Anak

Maraknya pemberitaan tentang bullying di kalangan dunia pendidikan membuat para orang tua khawatir.

Pola asuh dan kurangnya waktu anak bersama orang tua rupanya sangat berpengaruh terhadap mental serta kepercayaan diri, sehingga menimbulkan wabah bullying. Apalagi bagi mereka generasi milenial di usia 9-20 tahun.

Sebagai salah satu pusat belajar (Learning Center) yang fokus membangun kepercayaan diri serta melatih pola pikir anak usia 9-20 tahun, Live Smart Asia hadir dengan metode unik dan menyenangkan. Setiap peserta akan mengikuti program yang membangun kepercayaan diri serta pola pikir anak yang menentukan kesuksesan di kemudian hari. Caranya dengan mengikuti pembekalan (camp) atau pendidikan selama 4 hari.

“Selama 4 hari mengikuti pembekalan, setiap peserta akan mendapatkan materi belajar

yang seru dan efektif. Tiga kunci penting yang diajarkan adalah IQ, EQ, dan Spiritual Quatient,” kata CEO Live Smart Asia, Arbian Hadinata dalam keterangan tertulis, Rabu (26/7).

Live Smart Asia juga menggelar program review atau free workshop yang diadakan setiap bulannya secara free atau gratis. Dalam program review tersebut, peserta akan diberikan materi-materi menarik terkait pembangunan karakter serta kepercayaan diri si anak dan juga orang tua. Materinya membahas strategi belajar serta mengubah pola pikir anak selama 2-3 jam.

“Sehingga anak bisa terhindar dari perilaku bully baik sebagai korban atau pelaku. Sasaran kami tentu untuk anak dan orang tuanya,” tegas Arbian.

Di Indonesia, Live Smart Asia sudah menggelar 2 kali program camp pada Desember 2016

dan Juni 2017. Selain itu ada juga program pelatihan bagi para alumni program camp sebelumnya untuk turut serta menjadi trainer bagi peserta berikutnya. Bagi orang tua yang berminat mengikuti program Live Smart Asia Desember mendatang, pada 12 dan 13 Agustus mendatang.

Live Smart Asia juga akan menyelenggarakan free workshop di Sahid Sudirman pukul 10.00 dan 14.00 (12 Agustus) dan di JDC (Jakarta Design Centre) Slipi pada pukul 10.00 dan 14.00 (13 Agustus) dengan mendaftarkan diri ke website livesmartid.com.

 

Sumber :

https://www.buzzfeed.com/danuaji/signs-of-the-cat-infected-with-rabies-6gklbipwse

Cara Kampus Kolaborasi Kembangkan Pendidikan Dokter

Cara Kampus Kolaborasi Kembangkan Pendidikan Dokter

Cara Kampus Kolaborasi Kembangkan Pendidikan Dokter

Cara Kampus Kolaborasi Kembangkan Pendidikan Dokter
Cara Kampus Kolaborasi Kembangkan Pendidikan Dokter

Kualitas lulusan dokter tanah air tak boleh kalah dengan negara asing.

Dalam rangka mendukung terciptanya pendidikan kedokteran yang bermutu, Universitas Indonesia (UI) menjalin kerja sama dengan Universitas Papua (Unipa) serta didukung oleh Pemerintah Provinsi Papua Barat. Caranya melalui kegiatan pembinaan dan pengampuan Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Unipa.

Kolaborasi ini ditandai dengan penandatanganan perjanjian kerja sama yang dilakukan oleh Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan, Rektor Universitas Indonesia Muhammad Anis, dan Rektor Universitas Papua Jacob Manusawai, di Gedung D Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Jakarta.

“Diharapkan melalui terselenggaranya kerjasama antar Pemerintah Provinsi Papua Barat,

UI dan Unipa ini maka dapat mewujudkan pendidikan kedokteran yang bermutu yang pada akhirnya mampu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di Provinsi Papua Barat,” kata Rektor UI Muhammad Anis, Jumat (28/7).

Perjanjian kerjasama ini merupakan kelanjutan Perjanjian Kerjasama yang telah disepakati pada tahun 2014. No. 629/UN.42/KS/2014; 140/PKS/FK/UI/2014; 552/767 antara Universitas Papua, Universitas Indonesia dan Pemerintah kabupaten Sorong. Saat ini Fakultas Kedokteran Universitas Papua dalam pengampuan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia telah memiliki 3 angkatan mahasiswa.

Ketiga pihak yang terlibat dalam perjanjian yang difasilitasi oleh Dirjen Pembelajaran

dan Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi ini, telah menyepakati untuk mengembangkan pendidikan kedokteran di Universitas Papua yang memiliki keunggulan di bidang ilmu penyakit tropik dan infeksi, travel medicine, dan kedokteran kelautan.

Sebelumnya, FKUI telah menjalankan amanat pengampuan di sejumlah Fakultas Kedokteran di Indonesia diantaranya Universitas Tanjungpura Pontianak, Universitas Bengkulu, Universitas Palangkaraya dan lainnya. Keberhasilan pengampuan ini akan mampu menciptakan pemerataan pendidikan kedokteran yang sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan Tinggi dan Standar Nasional Pendidikan Kedokteran.

Pengampuan yang FKUI berikan kepada Program Studi Pendidikan Dokter Unipa meliputi pembinaan atau pelatihan terhadap dosen (tenaga akademik), pembinaan dalam menyelanggarakan kegiatan akademik bagi peserta didik, menetapkan penilaian kelengkapan dan/atau persyaratan administrasi dan/atau ujian seleksi masuk calon mahasiswa. Program Studi Pendidikan Dokter FK Unipa, menyediakan kurikulum atau modul yang diberikan kepada peserta didik dan pembinaan manajemen sistem kegiatan akademik.

 

Sumber :

http://www.thebaynet.com/profile/ojelhtcmandiri

TRIKOTESENA

TRIKOTESENA

TRIKOTESENA

TRIKOTESENA
TRIKOTESENA

Mikotoksin golongan trikotesena dihasilkan oleh

kapangFusarium spp., TrichodermaMyrotheciumTrichothecium danStachybotrys. Mikotoksin golongan ini dicirikan dengan adanya inti terpen pada senyawa tersebut. Toksin yang dihasilkan oleh kapang-kapang tersebut diantaranya adalah toksin T-2 yang merupakan jenis trikotesena paling toksik. Toksin ini menyebabkan iritasi kulit dan juga diketahui bersifat teratogenik. Selain toksin T-2, trikotesena lainnya seperti deoksinivalenol, nivalenol dapat menyebabkan emesis dan muntah-muntah (Ueno et al., 1972 dalam Sinha, 1993).

 

Trichoderma, Myrothecium, Trichothecium dan Stachybotrys.

Deoksinivalenol (DON)

Deoksinivalenol (DON, vomitoksin)adalah mikotoksin jenis trikotesena tipe B yang paling polar dan stabil yang diproduksi oleh

kapang Fusarium graminearium (Gibberella zeae) dan F. culmorum;

dimana keduanya merupakan patogen pada tanaman. Keberadaan

DON kadang disertai pula oleh mikotoksin lain yang dihasilkan oleh Fusarium seperti zearalenon,nivalenol (dan trikotesena lain) dan juga fumonisin.

DON merupakan salah satu penyebab terjadinya mikotoksikosis pada hewan. DON merupakan mikotoksin yang stabil

secara termal, oleh karena itu sangat sulit untuk menghilangkannya

dari komoditas pangan yang rentan terkontaminasi senyawa ini, seperti pada gandum. DON banyak terdapat pada tanaman biji-bijian seperti gandum, barley, oat, gandum hitam, tepung jagung, sorgum, tritikalus dan beras. Pembentukan DON pada tanaman pertanian tergantung pada iklim dan sangat bervariasi antar daerah dengan geografi tertentu. Karena senyawa ini stabil, DON dapat pula ditemukan pada produk sereal seperti sereal untuk sarapan, roti, mi instan, makanan bayi, malt dan bir. Toksisitas akut DON diperlihatkan

pada babi dengan gejala keracunan seperti muntah-muntah, tidak mau makan, penurunan berat badan dan diare. Menurut IARC tahun 1993, DON tidak diklasifikasikan bersifat karsinogen pada manusia. DON tidak mutagenik pada bakteri, namun pada studi in vivo dan in vitro ditemukan adanya penyimpangan pada kromosom yang mengindikasikan DON genotoksik.

FUMONISIN

Fumonisin termasuk kelompok toksin fusarium yang dihasilkan oleh kapang Fusarium spp., terutama F. moniliforme dan F. proliferatum. Mikotoksin ini relatif baru diketahui dan pertama kali diisolasi dari F. moniliforme pada tahun 1988 (Gelderblom,et al., 1988). Selain F. moniliforme dan F. proliferatum, terdapat pula kapang lain yang juga mampu memproduksi fumonisin, yaitu F.nygamaiF. anthophilumF. diamini dan F. napiforme.

  1. moniliformetumbuh pada suhu optimal antara 22,5 – 27,50C dengan suhu maksimum 32 – 370C. Kapang Fusarium ini tumbuh dan tersebar diberbagai negara didunia, terutama negara beriklim tropis dan sub tropis. Komoditas pertanian yang sering dicemari kapang ini adalah jagung, gandum, sorgum dan berbagai produk pertanian lainnya.

Hingga saat ini telah diketahui 11 jenis senyawa Fumonisin, yaitu Fumonisin B1 (FB1), FB2, FB3 dan FB4, FA1, FA2, FC1, FC2, FP1, FP2 dan FP3. Diantara jenis fumonisin tersebut, FB1 mempunyai toksisitas yang dan dikenal juga dengan nama Makrofusin. FB1 dan FB2 banyak mencemari jagung dalam jumlah cukup besar, dan FB1 juga ditemukan pada beras yang terinfeksi oleh F.proliferatum.

Keberadaan kapang penghasil fumonisin dan kontaminasi fumonisin pada komoditi pertanian, terutama jagung di Indonesia telah dilaporkan oleh Miller et al. (1993), Trisiwi (1996), Ali et al., 1998 dan Maryam (2000b). Meskipun kontaminasi fumonisin pada hewan dan manusia belum mendapat perhatian di Indonesia, namun keberadaannya perlu diwaspadai mengingat mikotoksin ini banyak ditemukan bersama-sama dengan aflatoksin sehingga dapat meningkatkan toksisitas kedua mikotoksin tersebut (Maryam, 2000a).

Meskipun kontaminasi fumonisin pada hewan dan manusia belum mendapat perhatian di Indonesia, namun keberadaannya perlu diwaspadai mengingat mikotoksin ini banyak ditemukan bersama-sama dengan aflatoksin sehingga dapat meningkatkan toksisitas kedua mikotoksin tersebut (Maryam, 2000a). Toxin fumonisin ditemukan pada beberapa tanaman obat dan teh herbal yang tersebar di pasar Turkey (Omurtag dan Yazicioglu, 2006). Kapang ini biasanya tumbuhpada komoditas pertanian di lahan pertanian ataupun yang disimpan didalam gudang.

Mikotoksin ini ditemukan terutama pada jagung

. Lebih dari 10 tipe fumonisin telah berhasil diisolasi dan dikarakterisasi. Diantara 10 jenis tersebut fumonisin yang paling dikenal ialah fumonisin B1 (FB1), FB2 dan FB3. Yang sering ditemukan pada jagung yaitu FB1 dan merupakan fumonisin yang paling toksik. Fumonisin pertama kali ditemukan dalam jagung pada pertengahan tahun 1980-an. Keberadaannya juga terdapat pada komoditas pangan lain seperti beras dan sorgum namun konsentrasinya lebih rendah dibanding pada jagung.

Batasan fumonisin dalam jagung mentah sendiri dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti suhu, kelembaban, stres terhadap kekeringan dan hujan selama periode sebelum panen dan periode panen, kondisi penyimpanan, dan gangguan serangga. Konsentrasi fumonisin biasanya meningkat pada musim panas dan kering, periode dimana kelembaban tinggi. Pada jagung yang disimpan, jika kelembabannya berkisar antara 18-23% biasanya produksi kapang meningkat sebanding dengan konsentrasi fumonisinnya. Gangguan serangga meningkatkan produksi fumonisin. Pada jagung hibrid jarang terinfeksi oleh Fusarium karena disisipi oleh gen dari Bacillus thuringiensis yang memproduksi protein yang toksik terhadap serangga sehingga konsentrasi fumonisin pada jagung hibrid lebih rendah daripada jagung non hibrid. Fumonisin dapat menyebabkan

Baca Juga : 

OKRATOKSIN

OKRATOKSIN

OKRATOKSIN

OKRATOKSIN
OKRATOKSIN

 

Okratoksin, terutama Okratoksin A (OA) diketahui

sebagai penyebab keracunan ginjal pada manusia maupun hewan, dan juga diduga bersifat karsinogenik. Okratoksin A ini pertama kali diisolasi pada tahun 1965 dari kapang Aspergillus ochraceus. Secara alami A. ochraceus terdapat pada tanaman yang mati atau busuk, juga pada biji-bijian, kacang-kacangan dan buah-buahan. Selain A.ochraceus, OA juga dapat dihasilkan oleh Penicillium viridicatum (Kuiper-Goodman, 1996) yang terdapat pada biji-bijian di daerah beriklim sedang (temperate), seperti pada gandum di eropa bagian utara.

 

P.viridicatum tumbuh pada suhu antara 0 – 310 C

dengan suhu optimal pada 200C dan pH optimum 6 – 7. A.ochraceustumbuh pada suhu antara 8 – 370C. Saat ini diketahui sedikitnya 3 macam Okratoksin, yaitu Okratoksin A (OA), Okratoksin B (OB), dan Okratoksin C (OC). OA adalah yang paling toksik dan paling banyak ditemukan di alam. Hal penting yang berkaitan dengan perdagangan komoditas kopi di pasar internasional adalah bahwa sebagian besar negara pengimpor/ konsumen kopi mensyaratkan kadar OA yang sangat rendah atau bebas OA.

Selain pada produk tanaman, ternyata OA dapat ditemukan pada berbagai produk ternak seperti daging babi dan daging ayam. Hal ini karena OA bersifat larut dalam lemak sehingga dapat tertimbun di bagian daging yang berlemak. Manusia dapat terekspose OA melalui produk ternak yang dikonsumsi.

 

Okratoksin A

Okratoksin A (OTA) merupakan jenis mikotoksin yang banyak mengkontaminasi komoditas pertanian dan pakan. Okratoksin A ini diketahui pertama kali pada tahun 1965 di Afrika Selatan yang diproduksi oleh kapang Aspergillusochraceus. Selanjutnya diketahui OTA dapat juga dihasilkan oleh kapang Penicillium verrucosum dan P. viridicatum (pada umumnya terdapat di daerah subtropis) dan A. carbonarius(pada umumnya terdapat di daerah tropis). Selain OTA terdapat okratoksin B (C20H19NO6), C (C22H22ClNO6), a dan b. OTA merupakan molekul yang cukup stabil, dan dapat bertahan pada produk olahan bahan pangan. OTA pertama kali ditemukan sebagai kontaminan alami pada sampel jagung. Konsentrasi OTA yang sering ditemukan berkisar dibawah 50 mcg/kg (ppb); namun jika produk pangan tersebut disimpan dengan cara yang tidak layak maka konsentrasi OTA bisa menjadi lebih tinggi. Senyawa ini juga terdapat pada produk seperti kopi, bir, buah kering, wine, kakao dan kacang-kacangan. Keberadaan OTA juga ditemukan selama proses pembuatan bir, roti, sereal sarapan dan pengolahan kopi, pakan dan daging.

OTA merupakan mikotoksin yang bersifat teratogenik, mutagenik dan karsinogenik dan berpotensi menyebabkan kerusakan

terutama pada hati dan ginjal (akut maupun kronis). OTA dapat pula

menyebabkan gangguan pada sistem kekebalan untuk sejumlah spesies mamalia.

ZEARALENON

Zearalenon adalah toksin estrogenik yang dihasilkan oleh kapang Fusarium graminearum, F.tricinctumdan F. moniliforme. Kapang ini tumbuh pada suhu optimum 20 – 250C dan kelembaban 40 – 60 %. Jenis ini menyerang padi-padiandan cenderung tumbuh terutama selama musim panen, dan musim dingin. Zearalenon stabil terhadap panas dan ditemukan pada hampir setiap produk pertanian dan berbagai padi-padian, jagung dan produk jagung, gandum, bir jagung, tepung terigu, kenari dan roti dan dalam pakan ternak. Zearalenon secara alami membentuk estrogen yang menyebabkan efek hormonal pada hewan ternak terutama babi. Pengaruh zearalenon paling penting terhadap sistem reproduksi. Di Selandia Baru, zearalenon merupakan penyebab infertilitas pada kambing walaupun toksisitas akutnya rendah. Kemampuan zearalenon menimbulkan hiperestrogenism, terutama pada babi telah diketahui selama bertahuntahun. Zearalenon pertama kali diisolasi pada tahun 1962. Mikotoksin ini cukup stabil dan tahan terhadap suhu tinggi.

Hingga saat ini paling sedikit terdapat 6 macam turunan zearalenon, diantara nya α-zearalenol yang memiliki aktivitas estrogenik 3 kali lipat daripada senyawa induknya. Senyawa turunan lainnya adalah 6,8-dihidroksizearalenon, 8-hidroksizearalenon, 3-hidroksizearalenon, 7-dehidrozearalenon, dan 5- formilzearalenon. Komoditas yang banyak tercemar zearalenon adalah jagung, gandum, kacang kedelai, beras dan serelia lainnya.

Zearalenon dan deoksinivalenol adalah mikotoksin yang dihasilkan terutama oleh kapang Fusarium graminiarum yang dapat membahayakan kesehatan ternak. Zearalenon bersifat estrogenik pada ternak sapi maupun babi dan dapat menyebabkan gangguan reproduksi, sedangkan deoksinivalenol walaupun toksisitasnya rendah namun dapat menyebabkan gejala penolakan pakan. Suatu penelitian untuk mengetahui keberadaan cemaran kedua mikotoksin tersebut telah dilakukan pada 34 sampel dari berbagai jenis pakan dan bahan pakan sapi serta babi (jagung, dedak dan berbagai jenis bungkil) yang dikoleksi dari daerah kabupaten Bandung, Subang dan Tangerang. Sampel diekstraksi menggunakan pelarut organik dan dianalisis terhadap cemaran zearelenon dan deoksinivalenol. Hasil analisis menunjukkan bahwa zearalenon ditemukan pada 30 sampel (88,23%) yang dianalisis dengan konsentrasi tertinggi yaitu 473,3 ppb, sedangkan deoksinivalenol ditemukan pada 13 sampel (38,23%) dengan konsentrasi tertinggi 1280 ppb. Hal tersebut menunjukkan bahwa kedua jenis mikotoksin tersebut juga telah mencemari beberapa bahan pakan dan pakan yang dianalisis, walaupun tingkat cemarannya belum mencapai tingkat yang membahayakan kesehatan ternak babi maupun sapi.

Sumber : https://www.okeynotes.com/blogs/212521/19500/fabel-adalah