Mengembangkan potensi generasi muda

Mengembangkan potensi generasi muda

Mengembangkan potensi generasi muda

Sejak akhir dekade 1990-an, telah terjadi berbagai fenomena yang mendorong perubahan dalam seluruh aspek kehidupan bermasyarakat dan bernegara, termasuk dalam hal tata kepemerintahan. Globalisasi yang turut membawa konsep-konsep baru dalam pola hubungan negara (state) dan masyarakat (society) menjadi salah satu faktor pendorong utama bagi terjadinya demokratisasi di sejumlah negara, khususnya di negara-negara berkembang seperti Indonesia.Secara demikian, negara tidak lagi dipandang sebagai organisasi yang harus mampu memenuhi semua kebutuhan masyarakatnya. Pandangan terhadap negara mulai bergeser dengan menempatkan negara menjadi suatu otoritas yang berperan sebagai fasilitator bagi berbagai kepentingan di masyarakat. Konsep ini menempatkan masyarakat dalam posisi yang sejajar dalam konteks hubungan negara dan masyarakat.

Pergeseran konsep government menjadi governance seolah mendapatkan bukti empirik dengan gagalnya konsep pembangunan yang sentralistis dengan pendekatan top-down planning. Sebagai antitesis, berkembanglah kajian-kajian mengenai desentralisasi yang kemudian dikaitkan dengan pendekatan partisipatif dan bottom-up planning dalam pelaksanaan pembangunan. Demokratisasi dalam level lokal inilah yang dalam perkembangannya kemudian mendorong perubahan pola penyelenggaraan pemerintahan di daerah menjadi lebih desentralistis.

Kebijakan desentralisasi yang diterapkan dalam kerangka governancemensyaratkan adanya partisipasi seluruh stakeholders dalam proses pembangunan daerah. Melalui pembangunan daerah yang partisipatif, diharapkan perencanaan pembangunan daerah dapat mengakomodasi sebanyak mungkin aspirasi masyarakat, sehingga hasil perencanaan tersebut dapat sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya terlibat pada saat pelaksanaan suatu program, tetapi sejak tahap awal perumusan dan perencanaan program-program tersebut.Berdasar uraian di atas, generasi muda merupakan salah satu komponenstakeholders yang perlu dilibatkan dalam pembangunan daerah, karena memiliki sumber daya yang potensial untuk mendukung keberhasilan pembangunan daerah. Secara konseptual, definisi mengenai generasi muda dapat dilihat dari berbagai aspek, seperti dari aspek biologi; aspek budaya; aspek hukum dan politik; serta aspek psikologis. Pada dasarnya, generasi muda adalah manusia yang berusia antara lima belas hingga tiga puluh tahun.[1] Demikian pula dalam hal semangat dan idealisme, generasi muda dikenal sebagai kelompok masyarakat yang memiliki kreativitas dan gagasan-gagasan baru dalam memandang suatu permasalahan.

Akan tetapi, potensi ini seringkali belum dimanfaatkan secara optimal, bahkan pelibatan generasi muda pun cenderung dimobilisasi untuk kepentingan elit tertentu. Padahal, dari segi kuantitas, generasi muda sebenarnya merupakan satu representasi dari kekuatan politik tersendiri yang mampu mempengaruhi pembuatan kebijakan. Dilihat dari segi kebutuhan, generasi muda adalah sumber daya manusia bagi masa yang akan datang. Sebagai potensi daerah dan bangsa, generasi muda perlu dipersiapkan agar berpartisipasi aktif dan dapat memberikan sumbangan yang positif dalam berbagai proses pembangunan daerah atau nasional. Generasi muda tidak hanya dijadikan obyek, tetapi juga ditempatkan sebagai subyek dalam pembangunan.

Dalam upaya mempersiapkan, membangun dan memberdayakan generasi muda agar mampu berperan serta sebagai pelaku-pelaku aktif pembangunan, maka akan dihadapkan pada berbagai permasalahan dan tantangan, misalnya dengan munculnya berbagai permasalahan sosial yang melibatkan atau dilakukan generasi muda seperti tawuran dan kriminalitas lain, penyalahgunaan narkoba dan zat adiktiflain, minuman keras, penyebaran penyakit HIV/Aids dan penyakit menular, penyaluran aspirasi dan partisipasi, serta apresiasi terhadap kalangan generasi muda. Apabila permasalahan tersebut tidak memperoleh perhatian atau penanganan yang sesuai dengan konsepsinya, maka dikhawatirkan akan menimbulkan dampak yang luas dan mengganggu kesinambungan, kestabilan dalam proses pembangunan.

Permasalahan lainnya terkait dengan generasi muda adalah ketahanan budaya dan kepribadian –khususnya Sunda, Jawa Barat– di kalangan generasi muda yang semakin luntur, yang disebabkan cepatnya perkembangan dan kemajuan teknologi komunikasi, derasnya arus informasi global yang berdampak pada penetrasi budaya asing. Hal ini mempengaruhi pola pikir, sikap, dan perilaku generasi muda di Jawa Barat. Persoalan tersebut dapat dilihat dari kurang berkembangnya kemandirian, kreativitas, serta produktivitas dikalangan generasi muda, sehingga generasi muda kurang dapat berpartisipasi dalam proses pembangunan yang sesuai dengan karakter daerah.

Permasalahan yang tidak kalah pentingnya adalah era globalisasi yang terjadi diberbagai aspek kehidupan yang sangat mempengaruhi daya saing generasi muda. Sehingga generasi muda baik langsung maupun tidak langsung dituntut untuk mempunyai keterampilan, baik bersifat keterampilan praktis maupun keterampilan yang menggunakan teknologi tinggi untuk mampu bersaing dalam menciptakan lapangan kerja atau mengembangkan jenis pekerjaan yang sedang dijalaninya.

Cepat atau lambat, hal ini akan mengancam upaya pembentukan moral dan agama yang kuat di kalangan generasi muda. Tantangan lain adalah belum terumuskannya kebijakan pembangunan bidang pemuda secara serasi, menyeluruh, terintegrasi dan terkoordinasi antara kebijakan di tingkat nasional dengan kebijakan di tingkat daerah.Dengan memperhatikan permasalahan di atas, maka tema sentral dari orasi ini adalah bagaimana membangun Generasi Muda yang Progresif, Agamis dan Nasionalis?

Sumber : https://apartemenjogja.id/

Mengembangkan Tanggung Jawab

Mengembangkan Tanggung Jawab

Mengembangkan Tanggung Jawab

Banyak cerita atau bahkan pengalaman secara pribadi dimana kita tidak focus dalam mencapai tujuan, semua kadang-kadang teralihkan dari tujuan yang paling penting dalam hidup kita. Bahkan ada yang mengalami tapi tidak menyadarinya. Salah satu alasan utama kita tidak mencapai tujuan hidup kita adalah kurangnya komitmen. Namun setiap orang akan mempunyai cara dan pola berpikir yang berbeda tentang bagaimana mereka ingin memecahkan masalah Anda tentunya seringkali mendengar istilah tanggung jawab, Makna dari istilah “tanggung jawab” adalah “siap menerima kewajiban atau tugas”. Arti tanggung jawab tersebut semestinya sangat mudah untuk dimengerti oleh setiap orang. Tetapi jika kita diminta untuk melakukannya sesuai dengan definisi tanggung jawab tersebut, maka seringkali masih merasa sulit, merasa keberatan, bahkan ada orang yang merasa tidak sanggup jika diberikan kepadanya suatu tanggung jawab. Kebanyakan orang mengelak bertanggung jawab, karena jauh lebih mudah untuk “menghindari” tanggung jawab, daripada “menerima” tanggung jawab. Banyak orang mengelak bertanggung jawab, karena memang lebih mudah menggeser tanggung jawabnya, daripada berdiri dengan berani dan menyatakan dengan tegas bahwa, “ini tanggung jawab saya!” Banyak orang yang sangat senang dengan melempar tanggung jawabnya ke pundak orang lain. Sebagian orang, karena tidak bisa memahami arti dari sebuah tanggung jawab; seringkali dalam kehidupannya sangat menyukai pembelaan diri dengan kata-kata, “itu bukan salahku!” Sudah terlalu banyak orang yang dengan sia-sia, menghabiskan waktunya untuk menghindari tanggung jawab dengan jalan menyalahkan orang lain, daripada mau menerima tanggung jawab, dan dengan gagah berani menghadapi tantangan apapun di depannya BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Tanggung Jawab dan Komitmen Tanggung jawab menurut kamus umum bahasa indonesia adalah keadaan wajib menanggung segala sesuatunya. Atau kesadaran manusia akan tingkah laku perbuatannya yang disengaja maupun tidak disengaja. Tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya. Tanggung jawab adalah ” keadaan wajib menanggung segala sesuatu kalau ada sesuatu hal, boleh dituntut, dipersalahkan, diperkarakan dsb. Menanggung segala akibatnya” ( sofiyah ramdhani e.s, tahun 2002 halaman 555 ). Dari kedua pengertian tersebut, dapat dimaknai bahwa tanggung jawab itu sendiri ialah siap menerima kewajiban atau tugas. Dalam artian disini ketika seseorang diberikan kewajiban atau tugas, seseorang tersebut akan menghadapi suatu pilihan yaitu menerima dan menghadapinya dengan dedikasi atau menunda dan mengabaikan tugas atau kewajiban tersebut. Sedangakan Komitmen adalah perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu. B. Jenis- jenis Tanggung Jawab Manusia itu berjuang untuk memenuhi keperluannya sendiri atau untuk keperluan pihak lain. Untuk itu ia menghadapi manusia lain dalam masyarakat atau menghadapi lingkungan alam. Dalam usahanya itu manusia juga menyadari bahwa ada kekuatan lain yang ikut menentukan, yaitu kekuasaan tuhan. Dengan demikian tanggung jawab itu dapat dibedakan menurut keadaan manusia atau hubungan yang dibuatnya, atas dasar ini, lalu dikenal beberapa jenis tanggung jawab, yaitu 1. Tanggung jawab terhadap tuhan Tuhan menciptakan manusia di bumi ini bukanlah tanpa tanggung jawab, melainkan untuk mengisa kehidupannya manusia mempunyai tanggung jawab lngsung terhadap tuhan. Sehingga tindakan manusia tidak bisa lepas dari hukum-hukum tuhan yang dituangkan dalam berbagai kitab suci melalui berbagai macam agama. Pelanggaran dari hukum-hukum tersebut akan segera diperingatkan oleh tuhan dan juga dengan peringatan yang keraspun manusia masih juga tidak menghiraukan maka tuhan akan melakukan kutukan. Sebab dengan mengabaikan perintah-perintah tuhan berarti mereka meninggalkan tanggung jawab yang seharusnya dilakukan manusia terhadap tuhan sebagai penciptanya, bahkan untuk memenuhi tanggung jawab, manusia perlu pengorbanan. 2. Tanggung jawab terhadap diri sendiri Tanggung jawab terhadap diri sendiri menentukan kesadaran setiap orang untuk memenuhi kewajibannya sendiri dalam mengembangkan kepribadian sebagai manusia pribadi. Dengan demikian bisa memevahkan masalah-masalah kemanusiaan mengenai dirinya sendiri menurur sifat dasarnya manusia adalah mahluk bermoral, tetapi manusia juga pribadi. Karena merupakan seorang pribasi maka manusia mempunyai pendapat sendiri, perasaan sendiri, berangan-angan sendiri. Sebagai perwujudan dari pendapat, perasaan dan angan-angan itu manusia berbuat dan bertindak. Dalam hal ini manusia tidak luput dari kesalahan, kekeliruan, baik yang sengaja maupun yang tidak. 3. Tanggung jawab terhadap keluarga Keluarga merupakan masyarakat kecil. Keluarga terdiri dari suami, ister, ayah, ibu anak-anak, dan juga orang lain yang menjadi anggota keluarga. Tiap anggota keluarga wajib bertanggung jawab kepada keluarga. Tanggung jawab ini menyangkut nama baik keluarga. Tetapi tanggung jawab juga merupakan kesejahteraan, keselamatan dan kehidupan. 4. Tanggung jawab terhadap masyarakat Pada hakekatnya manusia tidak bisa hidup tanpa bantuan manusia lain, sesuai dengan kedudukannya sebagai mahluk sosial. Karena membutuhkan manusia lain maka ia harus berkomunikasi dengan manusia lain. Sehingga dengan demikian manusia disini merupakan anggota masyarakat yang tentunya mempunyai tanggung jawab seperti anggota masyarakat yang lain agar dapat melangsungkan hidupnya dalam masyrakat tersebut. Wajarlah apabila segala tingkah laku dan perbuatannya harus dipertanggung jawabkan kepada masyarakat. 5. Tanggung jawab kepada bangsa / negara Suatu kenyataan lagi, bahwa tiap manusia, tiap individu adalah warga negara suatu negara. Dalam berpikir, berbuat, bertindak, bertingkah laku manusia tidak dapat berbuat semaunya sendiri. Bila perbuatan itu salah, maka ia harus bertanggung jawab kepada Negara C. Ciri ciri Orang yang Bertanggung Jawab 1. Dapat dipercaya dan diandalkan (Reliable) Firman Tuhan mengatakan bahwa hal Kerajaan Sorga adalah sama seperti seorang tuan yang hendak bepergian dan memberikan kepada hamba-hambanya masing-masing 5, 2, dan 1 talenta menurut kesanggupannya. Setiap kita paling sedikit memiliki 1 karunia yang harus dikembangkan dengan penuh tanggung jawab. Bisa jadi itu merupakan uang, bakat, karir, atau waktu kita yang harus kita pakai dengan bijaksana. Keputusan ada di tangan kita. 2. Mau berjalan “Extra-Mile” Orang yang bertanggung jawab adalah mereka melakukan lebih daripada yang diminta. Sebaliknya, hamba yang jahat dan malas, cenderung menyalahkan orang lain atau keadaan. Ia bersikap pesimis dengan “kemandulan”nya untuk mengembangkan talenta yang Tuhan berikan. Orang-orang Kristen “Extra Mile” adalah orang-orang yang melakukan hal yang biasa dengan cara luar biasa, dengan demikian mereka mendapatkan kemurahan (favor) di hadapan Tuhan dan manusia. 3. Selalu memberikan yang terbaik (Excellence) Seorang yang bertanggung jawab selalu memberikan yang terbaik (excellence)dari apa yang dikerjakannya. Hamba Tuhan bernama Robb Thompson mengatakan bahwa “Bersikap ekselen adalah memperhatikan hal-hal yang mendetil, yang akan melahirkan hasil yang luar biasa dan akan berujung pada kehidupan yang sukses.” Bekerja dengan penuh tanggung jawab berarti kita memperhatikan hal-hal yang kecil yang dapat membuat perbedaan dari hasil yang kita kerjakan. D. Hubungan antara Komitmen dan Tanggung Jawab Komitmen selalu ada di hari-hari kita,di kepala kita, dan kehidupan kita. Banyak dari kita ada dalam bisnis komitmen. Komitmen menjadi pengendali kita. Seperti roda hamster, kita tidak dapat menghentikan stres atau waktu yang meminta kita untuk melakukan kewajiban kita, karena komitmen. Kita bekerja sehingga kita dapat memenuhi kebutuhan pribadi dan keuangan. Kita bekerja sehingga kita bisa melakukan hal lain yang ingin kita lakukan. Kita bekerja agar mendapat tinjauan yang baik. Seraya karpet komitmen itu menyelimuti kita, kita mungkin merasa kita “harus” melakukan sesuatu, padahal pada kenyataannya kita mempunyai pilihan, meski pilihan itu memiliki konsekuensi. Kita mungkin tidak bisa membiarkan orang lain kecewa, padahal kenyataannya kita bisa berkata tidak. kita mungkin bahkan percaya bahwa kita bekerja untuk orang lain, padahal kenyataannya kita bekerja untuk diri kita sendiri. Peran tanggung jawab kita sangat besar dalam hal tersebut. Bertanggung jawab atas diri sendiri adalah berhenti mencari jawaban di luar diri .karena kitalah menjalaninya, dan kesuksesan tersebut tergantung pada seberapa besar komitmen dan tanggung jawab terhadap tujuan yang ingin capai. Makin besar tanggung jawab pada komitmen suatu tujuan, makin besar peluang kita akan berhasil dan sukses.

Baca Juga : 

TAHAP MENGEMBANGKAN INISIATIF

TAHAP MENGEMBANGKAN INISIATIF

TAHAP MENGEMBANGKAN INISIATIF
“Baiklah kalau begitu terlebih dahulu kamu hendaknya dapat menetapkan tujuan yang ingin kamu capai. Dalam merumuskan tujuan ini kamu harus mempertimbangkan siapa saja yang harus dilibatkan dalam upaya mencapai tujuan yang telah kamu tetapkan, apa saja yang akan dilakukan, kapan harus dilakukan dan seberapa baik seharusnya cara itu dilakukan. Nah sekarang  coba kamu katakan siapa saja yang terlibat dalam permasalahan kamu ini ?” Menetapkan tujuan (menetapkan komponen-komponen)
Konseli “Saya rasa yang terlibat dalam masalah ini adalah diri saya sendiri”.
Konselor “Baik, lalu apa yang kamu lakukan dalam menyelesaikan ketidakmampuan kamu untuk bersikap relaks sebelum dan selama pelajaran berlangsung”. Menetapkan tujuan (menetapkan fungsi)
Konseli “Saya ingin berusaha dengan sebaik mungkin”.
Konselor “Ya itu rencana yang bagus, tapi yang paling penting adalah bagaimana caramu melakukannya?” Menetapkan tujuan (menetapkan proses)
Konseli “Itu dia masalahnya bu, saya merasa tegang sehingga saya tidak bias bersikap relaks”.
Konselor “Kamu mengalami kecemasan karena kamu tegang . Baiklah kalau begitu pertama kamu harus menghilangkan perasaan tegang  dan kedua kamu bisa merespon secara akurat”.
Konseli “Untuk menghilangkan rasa tegang mungkin dapat saya lakukan tapi bagaimana caranya bisa merespon secara akurat..? “
Konselor “Kamu dapat merespon secara akurat jika kamu dapat memahami apa yang dikemukakan oleh orang lain, dan kamu dapat mengkomunikasikan pemahaman itu dengan kata atau kalimat yang tegas. Bagaimana kamu sudah mengerti?”
Konseli “Ya bu..”
Konselor “Disamping itu dalam kondisi yang bagaimana kamu dapat mengkomunikasikan kata atau kalimat yang tegas”. Menetapkan tujuan (menetapkan kondisi)
Konseli “Saya akan mencoba pada saat pelajaran sedang berlangsung”.
Konselor “Bagus rahmi. Kamu juga harus menetapkan standarnya yaitu banyaknya respon yang kamu kemukakan misalnya tiga atau empat kali”. Menetapkan tujuan (menetapkan standar)
Konseli “Iya bu, saya akan  coba untuk dapat melakukannya 3 kali saat menerima mata pelajaran di kelas”.
Konselor “Bagus sekali. Nah sekarang coba kamu rumuskan apa tujuan yang ingin kamu capai setelah konseling ini?” Menetapkan tujuan (mengkomunikasikan tujuan operasional)
Konseli “Baik bu, masalah saya yaitu saya merasa cemas saat sebelum dan saat pelajaran berlangsung , jadi saat mata pelajaran berlangsung saya akan berusaha untuk bersikap relaks dan melakukan respon secara akurat sebanyak 3 kali”.
Konselor “Bagus sekali, kamu telah merumuskan tujuan untuk mengatasi masalah kamu sendiri..”
Konseli “Ya bu…”.
Konselor “Oh ya, apakah sebelumnya kamu sudah pernah mencoba untuk berusaha bersikap relaks sebelum dan saat pelajaran berlangsung ?” Mengembangkan program(membantu mengidentifikasi program)
Konseli “Sudah pernah bu, tapi tetap saja saya masih merasa tegang sebelum dan saat pelajaran berlangsung. Mungkin ibu bisa menunjukkan cara lain untuk mengatasi masalah saya ini”.
Konselor “Tentu saja bisa. Setelah saya mendengar masalah kamu, ibu akan memberikan alternatif yang bisa kamu lakukan yaitu kamu bisa melakukan teknik  modeling simbolis atau desensitisasi. Modeling simbolik adalah modelnya disajikan melalui media tertentu seperti video, slide, rekaman suara. Sedangkan desensitisasi yaitu pengurangan sensitifitas emosional yang berkaitan dengan kelainan pribadi atau masalah sosial setelah melalui prosedur konseling. Desensitisasi adalah pendekatan yang dimaksudkan untuk mengubah tingkah laku melalui perpaduan beberapa teknik yang terdiri dari memikirkan sesuatu, menenangkan diri, dan membayangkan sesuatu.Bagaiman pendapat kamu?” Mengembangkan program (membantu konseli memilih program)
Konseli “Keduanya kelihatan bagus tapi saya masih bingung pilih yang mana..?”
Konselor “Baiklah agar kamu dapat memilih teknik yang cocok hendaknya kamu menguji setiap alternative tadi kebaikan dan kerugiaannya baik bagi dirimu maupun orang lain. Untuk itu kamu dapat menggunakan “Lembar Keseimbangan” ini.Silahkan diisi!” Pengujian alternative program
Konseli “Ya bu…”
Konselor “Coba sekarang kita uji bersama..”
Konseli “Menurut saya yang paling penting adalah agar saya dapat bersikap relaks sebelum dan saat pelajaran berlangsung”.
Konselor “Apakah alternative tadi membawa keuntungan atau kerugian bagi kamu?”
Konseli “Alternative tadi membawa keuntungan dan kerugiannya hampir tidak ada”.
Konselor “Selanjutnya yang perlu kita lakukan adalah mengatur langkah-langkah program yaitu langkah mana yang akan kamu lakukan terlebih dahulu kemudian langkah pengantara dan sub langkah baik sub langkah dari langkah awal maupun sub langkah dari langkah pengantara itu. Langkah mana yang menurut kamu lebih penting dari semua program itu..?” Mengembangkan langkah awal program
Konseli “Saya fikir yang menjadi langkah awal saya yakni mempelajari pendekatan desensitisasi”.
Konselor “Itu adalah langkah awal yang baik, dan mana langkah pengantara kamu yang menjadi jembatan untuk mencapai tujuan?” Mengembangkan langkah pengantara program
Konseli “Langkah pengantara saya adalah saya akan memperagakan dari pendekatan desensitisasi”.
Konselor “Nah sekarang sub langkah apa saja yang kamu akan lakukan?” Mengembangkan sub langkah program
Konseli “Yang menjadi sub langkah saya yaitu pertama saya mempelajari pendekatan desensitisasi dengan baik dan kedua tidak putus asa dalam berlatih”.
Konselor “Baik sekali, sekarang kamu menetapkan waktu kapan kamu mau menyeleseikan program tersebut?” Merencanakan jadwal (menetapkan waktu penyeleseian)
Konseli “Insya Allah Minggu depan bu”.
Konselor “Baik, kamu bertekad untuk menyeleseikan program tersebut minggu depan. Selanjutnya kapan kamu akan memulai kegiatan tahap awal?” Menetapkan waktu memulai
Konseli “Waktu dekat ini bu dan Saya tidak ingin menunda lagi”.
Konselor “Bagus sekali, kamu sudah tidak sabar menunggu. Lalu apa yang kamu lakukan pada hari kedua, ketiga dan keempat?” Memonitori rentang waktu
Konseli “Pada hari kedua saya akan melatih bersikap relaks, hari ketiga saya akan memperbanyak latihan, dan hari keempat saya berusaha mempraktekkan”.
Dalam respon satu, konselor mengemukakan rasional penggunaan desensitisasi untuk menolong Rahmi mengatasi kekuatan dan penghindaraan terhadap pelajaran Kimia

Sumber : https://andyouandi.net/

Contoh Percakapan Desentisisasi

Contoh Percakapan Desentisisasi

Contoh Percakapan Desentisisasi

Rahmi adalah seorang siswa kelas XI  IPA 3 setelah menyelesaikan studinya di SMAN 1 dia ingin melanjutkan studinya di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Bandung mengambil jurusan Tekhnik Elektro. Rahmi adalah satu dari beberapa murid di sekolahnya yang menginginkan jurusan itu. Akan tetapi Rahmi merasa ragu apakah dia bisa atau tidak, dia juga merasa kalau  sulit untuk lulus masuk di jurusan ini karena dilihat dari tahun ke tahun pendaftar lebih banyak daripada calon mahasiswa yang akan di terima. Hal ini terkadang membuat Rahmi ingin menyerah dan melupakan keinginannya untuk menjadi mahasiswi Tekhnik Elektro.  Akhirnya Rahmi mengambil keputusan untuk menemui konselor agar dia bias mendaptakan solusi dari masalahnya.

KonselorKonseli

 Percakapan

Keterampilan Dasar

1.TAHAP WAWANCARA AWAL
Konseli ”(konseli mengetuk pintu) Assalamualaikum Pak..”
Konselor Waalaikum salam..(sambil berdiri). Mari silahkan masuk (menghampiri konseli sambil menjabat tangan). Silahkan duduk.. Attending
Konseli “Terima kasih bu..”
Konselor “Kalau boleh ibu tahu nama kamu siapa? Perkenalkan ibu Uni ..
Konseli “Nama saya Rahmi bu kelas XI IPA ..”
Konselor “(konselor melihat buku yang dipegang oleh konseli) kamu baru selesai belajar ya..?”

Rapport

Konseli “iya bu, Saya baru selesai belajar Bahasa Indonesia”
Konselor “Bagaimana dengan pelajarannya tadi..?”
Konseli “Menyenangkan bu. Karena cara gurunya menjelaskan bagus sehingga mudah dimengerti atau dipahami.
Konselor “Oh baguslah kalau begitu… oh ya apakah kamu kesini atas kemauan sendiri atau ada yang suruh..?” Menanyakan sifat kedatangan konseli
Konseli “Saya kesini atas keinginan sendiri  bu..”
Konselor “Apakah sebelumnya kamu sudah pernah datang keruangan ini untuk memperoleh konseling..?” Menanyakan apakah konseli sudah pernah memperoleh konseling
Konseli “Belum pernah bu..”
Konselor “kalau begitu ibu akan menjelaskan sedikit tentang apa itu konseling, konseling itu adalah suatu layanan yang berusaha untuk membantu siswa yang sedang menghadapi masalah atau sulit mengambil keputusan agar dia mampu untuk memecahkan masalahnya atau agar dia mampu untuk mengambil keputusan yang tepat baginya. Nah apa kamu sudah mengerti..?” Memberi informasi tentang konseling
Konseli “Iya bu ..”
Konselor “Jadi peran ibu disini sebagai konselor yaitu berusaha membantu kamu untuk menemukan jalan keluar atas masalah yang kamu hadapi. Lalu kamu sendiri sebagai konseli sebaiknya aktif dalam mengemukakan masalah dan latar belakang masalah serta mengkaji berbagai kemungkinan jalan keluar. Nah apa sekarang kamu sudah mengerti?” Memberi informasi tentang peranan konselor dan konseli
Konseli “Iya bu saya mengerti dan saya akan berusaha aktif dalam konseling ini. Tapi saya tidak ingin  kalau masalah saya ini diketahui oleh orang lain”.
Konselor “Kamu tidak perlu khawatir, disini ibu akan menjaga rahasia kamu. Sebab dalam konseling itu memiliki kode etik yaitu asas kerahasiaan salah satunya. Jadi jangan ragu untuk mengemukakan masalah kamu tanpa perlu merasa takut untuk diketahui orang lain”. Memberi informasi tentang kode etik konseling
Konseli “Syukurlah kalau begitu bu”.
Konselor “Baiklah, disekolah ini terdapat 3 konselor yang dapat kamu pilih dan terserah kamu mau pilih yang mana. Yang pertama ada Pak Akram sarjana PPB UNM yang telah berpengalaman 3 tahun. Yang kedua Ibu Nani sarjana PPB UNM yang telah berpengalaman 2 tahun, dan terakhir saya sendiri sarjana PPB UNM yang berpengalaman baru 2 tahun. Silahkan pilih satu diantaranya..?” Memberi informasi tentang konselor yang dapat dipilih
Konseli “Saya memilih ibu saja karena saya merasa nyaman berkonsultasi dengan ibu”.
Konselor “Terima kasih, lalu apa yang kamu harapkan setelah proses konseling ini?” Kontrak tujuan
Konseli “Saya berharap agar masalah yang saya hadapi dapat teratasi dan menemukan jalan keluar yang terbaik.”
Konselor “Begini, konseling ini membutuhkan waktu yaitu 2 kali pertemuan dengan durasi 45 menit, bagaimana apa kamu setuju.?” Kontrak waktu
Konseli Iya bu (sambil menggangguk kepala)
2. TAHAP EKSPLORASI MASALAH
Konselor “Baiklah, kita akan memulai konselingnya. Coba ceritakan pada ibu masalah apa yang sedang kamu alami sekarang..?” Mengajak Terbuka
Konseli “Begini bu, saya merasa ragu apakah saya bisa melanjutkan study saya ke PTN jurusan Tekhnik Elektro…
Konselor “Kalau boleh ibu tahu apa yang menyebabkan kamu bersikap demikian?” Pertanyaan terbuka
Konseli “Begini bu..” (menunduk dan terdiam)
Konselor “Teruskan  Rahmi..” Dorongan minimal
Konseli “Saya merasa tidak yakin pada diri saya sendiri”
Konselor “Kenapa kamu merasa tidak yakin?” Mengikuti pokok pembicaraan
Konseli “Karena saya merasa kalau saya tidak bisa melakukannya dengan baik.”
Konselor “Apakah kamu sudah belajar dengan baik  ? Meminta penjelasan lebih lanjut
Konseli “Iya bu, saya sudah belajar dengan baik bahkan saya ikut bimbingan belajar khusus masuk jurusan Tehknik”
Konselor “Tadi kamu mengatakan kalau kamu sudah belajar dengan baik dan ikut bimbingan belajar tapi sekarang kamu merasa tidak yakin?” Konfrontasi
Konseli “Iya juga sih bu, tapi sebenarnya saya takut dan ragu karena saingannya banyak.”
Konselor “Kamu mengatakan bahwa kamu sepertinya tidak bisa lulus PTN..  Mengapa hal itu sampai terjadi? Merespon isi wacana secara logis
Konseli “Ya bu, karena saya takut gagal pada saat tes nanti ”
Konselor “kamu mengatakan kalau kamu ragu untuk bisa lulus menjadi mahasiswi Tekhnik Elektro karena saingan kamu banyak kamu tidak percaya pada kemampuan diri kamu. Merespon isi berdasarkan pentingnya
Konseli “benar bu…
Konselor “Menurut ibu, perasaan ragu dan tidak yakin pada diri sendiri itu adalah hal yang wajar ketika sedang dalam masalah tetapi jangan sampai perasaan tersebut menguasai pikiran kamu.” Memberi informasi
Konseli “saya sudah berusaha bu untuk tidak merasa ragu tapi perasaan itu sering muncul saat ketika saya mengingat saingannya saya banyak bu”
Konselor “ Ibu yakin kamu pasti bisa Rahmi.” Memberi penguatan
Konseli “Iya bu, mudah-mudahan saya bisa.”
Konselor “Jadikamu merasa ragu karena saingan kamu banyak.”? Merespon isi berdasar sebab akibat
Konseli “Ya Seperti itulah ibu.”
Konselor “Terkadang memang kita merasa ragu dalam melakukan sesuatu tetapi ibu yakin semua itu pasti ada jalan keluarnya.” Memberi nasihat
Konseli “Tetapi saya sedih bu karena hal itu.”
Konselor “Kamu merasa sedih..?” Merespon perasaan sedih
Konseli “Terus terang iya ibu, padahal saya ingin sekali melanjutkan study saya di  Jurusan Teklhnik Elektro.”
Konselor “Kamu merasa senang apabila kamu bisa merasa yakin lulus di jurusa tekhnik elektro?” Merespon perasaan senang
Konseli “Ya ibu, tapi saya kesal dengan diri saya sendiri kenapa saya tidak bisa melakukan hal itu”.
Konselor “Kamu merasa kesal dengan hal itu?” Merespon perasaan marah
Konseli “Ya bu, tapi saya benar-benar tidak tahu harus berbuat apa?”
Konselor “Kamu merasa sedih karena tidak dapat yakin dan ragu pada diri sendiri?” Merespon yang dapat dipertukarkan
Konseli “Iya ibu, saya benar-benar kesal dengan diri saya sendiri karena tidak bisa yakin pada diri sendiri”.
Konselor “Kamu merasa kesal karena diri kamu sendiri karena ragu pada kempuan sendiri dan sekarang kamu sedih karena tidak tahu harus berbuat apa ? Merespon terhadap perasaan dan isi yang banyak
Konseli “Betul bu, saya kecewa dengan diri saya sendiri.”
Konselor “Kamu merasa frustasi karena kamu tidak bisa bersikap yakin pada diri sendiri?” Merespon terhadap perasaan yang sulit
Konseli “Ya bu”.
Konselor “Apakah kamu tahu kenapa kamu tidak bisa bersikap yakin pada diri sendiri?” Menanyakan sebab-sebab masalah
Konseli “Saya kurang tahu pasti  bu tapi mungkin salah satunya karena saya takut gagal dalam tes seleksi nanti?”
Konselor “Kamu merasa putus asa dan kecewa karena kamu tidak bisa bersikap yakin pada diri sendiri sehingga kamu merasa ragu untuk bisa lulus menajdi calon mahasiswi tekhnik elektro?” Menyimpulkan
Konseli “Ya bu. Saya sedih karena semua ini..”

Sumber : https://aziritt.net/

Kecocokan Jabatan

Kecocokan Jabatan

Kecocokan Jabatan

Untuk memprakirakan apakah kita akan cocok di jabatan tertentu, perlu ditinjau hal-hal sebagai berikut:

Ideal hidup sebagai pedoman dan pegangan pokok

misalnya seorang perawat akan berbahagia karena memang berideal melayani kebutuhan orang lain (berkeitan dengan nilai-nilai kehidupan).

Cita-cita dalam hal bekerja

yang merupakan perwujudan konkret dari ideal hidup, misalnya baik guru maupun perawat melayani kebutuhan orang lain, tetapi yang satu di bidang pendidikan dan yang lain di bidang perawatan kesehatan.

Minat terhadap pekerjaan tertentu

misalnya seorang modiste suka mengurusi pakaian wanita.(Butir b dan c sering terdapat bersama-sama).

Kemampuan otak dan / atau bakat khusus

misalnya seorang hakim harus sangat pandai; seorang sekretaris tata usaha tak perlu pandai sekali, tetapi harus terampil dan cekatan.

Sifat-sifat kepribadian

misalnya seorang pramugari harus sabar dan ramah, sedangkan seorang pengarang boleh saja bersifat pendiam.

Apakah dituntut persiapan khusus melalui studi di PT atau kursus, misalnya seorang guru harus mempunyai Akta mengajar, sedangkan modiste cukup ikut kursus.

Prospek masa depan

yaitu apakah suatu pekerjaan memberikan banyak kesempatan untuk maju dan berkembang atau hanya sedikit. Misalnya: ahli ekonomi prospeknya tidak begitu gemilang karena lulusan fakultas ekonomi sudah terlalu banyak (kecuali bila dia mempunyai kenalan atau saudara yang ikut mengorbitkannya).

Baca juga:

Bimbingan Karir tentang Bidang-Bidang Pekerjaan dan Jabatan

Bimbingan Karir tentang Bidang-Bidang Pekerjaan dan Jabatan

Bimbingan Karir tentang Bidang-Bidang Pekerjaan dan Jabatan

Pengelompokan macam-macam pekerjaan dan jabatan menurut bidangnya:

Teknik dan industri

misalnya: montir, masinis, penerbang, pemborong, arsitek, insiyur, ahli pertambangan, ahli tekstil, ahli kimia, dan ahli percetakan.

Niaga

misalnya: akuntan, penjaga toko, pengusaha angkutan, makelar, pembuat iklan, dan pengusaha asuransi.

Perkantoran

misalnya: sekretaris, penyusun statistik, kasir, programer komputer, dan resepsionis.

Pelayanan masyarakat/jasa

misalnya: apoteker, dokter, perawat, guru, hakim, jaksa, notaris, pramugari, kapster, petugas hotel, tentara, polisi, petugas pemerintahan, pekerja sosial, perencana mode, penari, pencipta lagu, bintang film, peragawati, pengarang, wartawan, penyiar rasio/ televisi, dan guide.

Pekerja di lapangan

(pertanian, peternakan, kehutanan, perikanan, arkeologi), misalnya: dokter hewan, ahli perairan, nelayan, ahli purbakala, dan botanis.

2. Atas dasar kesukaan seseorang dapat disebutkan sejumlah bidang pekerjaan dan jabatan menurut golongan minat, yaitu apakah orang lebih suka berurusan dengan orang, benda, atau ide/gagasan.

a. Berurusan dengan orang, misalnya: pramugari, perawat, dokter, wartawan, manajer, polwan, psikolog, psikiater, guru, pekerja sosial, resepsionis, pramuniaga toko, karyawati hotel, agen biro travel, dan konselor sekolah. Semua pekerjaan ini menuntut kemampuan untuk bergaul dengan orang secara luwes dan untuk bekerja sama dengan rekan-rekan sepekerjaan.

Baca juga: Teks Proklamasi

b. Berurusan dengan benda/barang, misalnya: insinyur, penata perpustakaan, karyawan bank, peneliti di laboratorium kimia atau fisika, asisten laboratorium rumah sakit, karyawan kantor pos, sekretaris, akuntan, arsitek, modiste, penata rambut, komponis, pelukis, dan ahli foto. Semua pekerjaan ini menuntut kemampuan untuk berkonsentrasi dan bekerja sendiri serta berpikir kreatif.

c. Berurusan dengan ide/gagasan, misalnya: pengarang, ahli ekonomi, pengacara, hakim, pegawai tinggi di departemen/lembaga tinggi negara, ahli penelitian, dan dosen di PT. Semua jabatan ini menuntut kemampuan untuk berpikir dalam, untuk bertahan menghadapi tantangan, dan untuk bertukar pikiran dengan rekan-rekan sepekerjaan.

Bahasa Pengumuman CPNS

Bahasa Pengumuman CPNS

Bahasa Pengumuman CPNS

Sudah menjadi aturan bila surat dinas atau surat resmi dari suatu instansi harus menggunakan bahasa yang baku dan resmi.

Namun, agak ironis ketika kita memperhatikan beberapa pengumuman pendaftaran calon pegawai negeri sipil (CPNS) yang dikeluarkan masing-masing pemerintah kabupaten/kota beberapa waktu lalu. Penggunaan bahasa pengumuman CPNS tersebut pada umumnya masih menggunakan beberapa bentuk dan ejaan yang tidak baku.

Misalnya, penulis mengambil sampel pengumuman CPNS di Kota Solo. Di pengumuman tersebut terdapat sebuah persyaratan yang ditulis “Foto copy ijazah dan transkrip nilai dilegalisir dan/atau ijazah/sertifikat profesi yang dipersyaratkan”. Ada dua kata yang salah dalam kutipan tersebut, yakni penulisan “foto copy” dan “dilegalisir”. Kata “foto copy” dalam kutipan pengumuman tersebut tidak baku karena penulisan serapan unsur asing yang salah. Pembenaran bentuk tersebut seharusnya adalah “fotokopi”.

Penggunaan kata “dilegalisir” juga salah karena tidak baku. Seharusnya kata tersebut diganti dengan kata “dilegalisasi”. Bentuk tersebut berasal dari kata “legalisasi”. Kata “legalisasi” berarti proses pelegalan atau pengesahan. Hal ini dapat dibandingkan dengan penggunaan “minimalisasi”, “inventarisasi”, “akomodasi”, dan sebagainya. Akan tetapi, dalam masyarakat masih sering ditemukan penggunaan kata “minimalisir”, “inventarisir”, dan “akomodir” yang sebenarnya tidak tepat.

Surat resmi dari suatu instansi pemerintah dapat menjadi rujukan penggunaan bahasa baku dan resmi bagi masyarakat. Oleh karena itu, penggunaan bahasanya harus berpedoman pada aturan tata bahasa yang berlaku, yakni sesuai KBBI, ejaan yang disempurnakan (EYD) dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.

Baca Juga :

Moda Murah, Rawan Musibah

Moda Murah, Rawan Musibah

Moda Murah, Rawan Musibah

Mudik sudah menjadi rutinitas tahunan yang mentradisi di Indonesia. Untuk menghemat biaya mudik, biasanya pemudik menggunakan sepeda motor. Selain hemat di ongkos, sepeda motor dapat memperlancar perjalanan si pengendara. Pasalnya, arus kendaraan sekitar Lebaran sangat padat sehingga terjadi kemacetan. Di area kemacetan, sepeda motor dapat lebih lancar berjalan daripada mobil atau angkutan lainnya.

Akan tetapi, penggunaan sepeda motor dalam perjalanan mudik sangat rentan kecelakaan. Sudah banyak kasus kecelakaan sepeda motor saat arus mudik ataupun balik. Bisa dikatakan, sepeda motor adalah moda murah tapi rawan musibah. Ada beberapa faktor mengapa penggunaan sepeda motor saat mudik rentan kecelaakaan.

Pertama, kondisi sepeda motor yang kurang optimal. Untuk digunakan saat mudik, sepeda motor harus dalam keadaan baik. Sebelum digunakan mudik, sebaiknya motor dicek terutama bagian busi, oli, lampu-lampu, keausan ban dan tekanan angin. Kedua, kondisi si pengendara yang kurang fit. Lelah dan kantuk adalah risiko yang paling berbahaya bagi pemudik sepeda motor. Lelah dan kantuk dapat mengurangi daya konsentrasi saat mengendarai sepeda motor. Ketiga, cuaca yang buruk. Cuaca yang buruk seperti hujan dan kabut dapat mengakibatkan pengendara mengalami kecelakaan. Pasalnya, jalan akan menjadi licin dan sering kali pengendara akan berkurang jarak pandangnya karena kabut ataupun hujan. Keempat, kondisi jalan yang buruk. Jalan yang berlubang dan bergelombang dapat membuat pengendara motor kurang menjaga kestabilan berkendara. Lubang jalanan juga dapat membuat ban motor terperosok dan mengakibatkan motor jatuh. Kelima adalah pemudik sering membawa barang melebihi muatan.

Banyaknya pemudik sepeda motor mengindikasikan masyarakat mulai tidak puas dengan kendaraan umum. Kendaraan umum identik dengan penumpang berjubel, tidak tepat waktu, aksi kriminal, calo tiket, dan lain-lain. Oleh sebab itu, untuk meminimalisasi dampak bahaya mudik dengan sepeda motor, sebaiknya pemerintah melakukan pembenahan-pembenahan di bidang transportasi umum.

Sumber : https://nashatakram.net/tinycam-monitor-pro-apk/

Hati-hati Kejahatan Internet

Hati-hati Kejahatan Internet

Hati-hati Kejahatan Internet

Indonesia bukan hanya terkenal sebagai negara terkorup di dunia, melainkan juga Negara dengan “carder” tertinggi di muka bumi, setelah Ukrania. “carder” adalah penjahat di internet, yang membeli barang di toko maya (online shoping) dengan memakai kartu kredit milik orang lain. Meski pengguna internet Indonesia masih sedikit dibanding negara Asia Tenggara lainnya, apalagi dibanding Asia atau negara-negara maju, nama warga Indonesia di internet sudah “ngetop” dan tercemar! Indonesia masuk “blacklist” di sejumlah online shoping ternama, khususnya di amazon.com dan ebay.com Kartu kredit asal Indonesia diawasi bahkan diblokir. Sesungguhnya, sebagai media komunikasi yang baru, internet memberikan sejuta manfaat dan kemudahan kepada pemakainya. Namun internet juga mengundang ekses negatif, dalam berbagai tindak kejahatan yang menggloblal. Misalnya, tindak penyebaran produk pornorgrafi, pedofilia, perjudian, sampah (spam), bermacam virus, sabotase, dan aneka penipuan, seperti carding, phising, spamming, dll

Kejahatan di internet semakin hari tidak semakin berkurang tapi malah semakin meningkat. Bukan hanya orang awam saja yang bisa menjadi korban tapi orang yang melek mengenai pengertian Internet dan seluk beluknya pun bisa menjadi korban . Tim Berners-Lee, pendiri dari world wide web (www), mengungkapkan bahwa dirinya pernah Apakah kejahatan di internet hanya sebatas pada penipuan online semacam contoh kasus di atas? Sayangnya tidak. Kejahatan di internet sangat banyak macamnya. Untuk mengantisipasi agar kita tidak menjadi korban seperti halnya Tim Berners alangkah baiknya jika kita mengenal macam -macamnya. Berikut adalah jenis kejahatan di Internet yang paling umum .

CARDING

Carding adalah berbelanja menggunakan nomor dan identitas kartu kredit orang lain, yang diperoleh secara ilegal, biasanya dengan mencuri data di internet. Sebutan pelakunya adalah “carder”. Sebutan lain untuk kejahatan jenis ini adalah cyberfroud alias penipuan di dunia maya. Menurut riset Clear Commerce Inc, perusahaan teknologi informasi yang berbasis di Texas – AS , Indonesia memiliki “carder” terbanyak kedua di dunia setelah Ukrania. Sebanyak 20 persen transaksi melalui internet dari Indonesia adalah hasil carding. Akibatnya, banyak situs belanja online yang memblokir IP atau internet protocol (alamat komputer internet) asal Indonesia. Kalau kita belanja online, formulir pembelian online shop tidak mencantumkan nama negara Indonesia. Artinya konsumen Indonesia tidak diperbolehkan belanja di situs itu.

Menurut pengamatan ICT Watch, lembaga yang mengamati dunia internet di Indonesia, para carder kini beroperasi semakin jauh, dengan melakukan penipuan melalui ruang-ruang chatting di mIRC. Caranya para carder menawarkan barang-barang seolah-olah hasil carding-nya dengan harga murah di channel. Misalnya, laptop dijual seharga Rp 1.000.000. Setelah ada yang berminat, carder meminta pembeli mengirim uang ke rekeningnya. Uang didapat, tapi barang tak pernah dikirimkan.

Baca Juga :

 

10 Kejahatan di Internet

10 Kejahatan di Internet

10 Kejahatan di Internet

Daftar di bawah ini adalah ringkasan dari
the US Federal Trade Commission of the most common crimes on the Internet as of 2005.

1. Pelelangan Internet: Toko di dalam sebuah “virtual marketplace” yang menawarkan banyak produk pilihan dengan perjanjian yang bagus. Setelah mengirim uang mereka, para konsumen mendapat barang yang tidak sesuai dengan yang dijanjikan atau barang yang jelek atau tidak semua dikirimkan.

2. Pelayanan dengan Akses Internet: Uang gratis, mudah mencairkan cek. Para konsumen yang terjebak dengan perjanjian kontrak dari akses internet atau layanan web lainnya, para konsumen harus membayar denda jika membatalkan perjanjian.

3. Penipuan Kartu Kredit: Surfing di internet dan melihat adult images online yang gratis, hanya memperlihatkan karu kredit anda untuk meyakinkana bahwa umur anda di atas 18 tahun. Promotor yang curang menggunakan nomor kartu kredit mereka untuk menaikkan tagihan kartu kreditnya.

4. International Modem Dialing: Mendapatkan akses gratis untuk adult material dan pornografi dengan mendownload sebuah “viewer” atau “dialer” program komputer. Para konsumen komplain karena banyak sambungan jarak jauh di dalam tagihan telepon mereka. Dengan menggunakan sebuah program, modem mereka terputus hubungannya, lalu tersambung lagi ke internet memakai nomor
sambungan jarak jauh internasional.

5. Kejahatan Web: Mendapatkan custom-designed website gratis untuk masa trial 30 hari, dengan tidak ada obligasi untuk melanjutkan. Para konsumen mendapat surat hutang di dalam tagihan telepon mereka walaupun mereka tidak pernah mengambil penawaran ataupun menyetujui perpanjangan layanan sesudah masa trial.

6. Multilevel Marketing Plans/Pyramids: Mendapatkan uang dengan cara menjual produk atau layanan kepada orang yang anda ajak bergabung dalam program ini. Para konsumen mengaku mereka membelinya melalui program itu, tetapi para konsumen itu sebenarnya adalah distributor lain, bukan masyarakat publik.

7. Travel dan Liburan: Mendapatkan sebuah perjalanan mewah dengan banyak diskon pada biaya perjalanan. Perusahaan mengirimkan akomodasi dengan kualitas rendah dan pelayanan yang tidak sesuai dengan iklan tidak mendapatkan seluruh perjalanan. Pembebanan tagihan tersembunyi lainnya atau persyaratan tambahan saat para konsumen membayar.

8. Kesempatan Bisnis: bergabung dengan janji tentang potensi pendapatan, banyak konsumen telah menginvestasikan dengan modal kecil dan keluar menjadi berlipat ganda. Tidak ada bukti untuk mengembalikan tuntutan pendapatan.

9. Penanaman Saham: Menanam saham pada sebuah system perdagangan dan anda akan mendapatkan kembali saham anda dengan jumlah yang banyak. Tetapi keuntungan yang besar selalu berarti resiko yang besar. Para konsumen telah kehilangan uang untuk program yang mereka ikuti dengan kemampuan prediksi pasar dengan 100 persen ketepatan.

10. Produk/Pelayanan Kesehatan: Mengklaim sebagai produk “ajaib” dan dengan janji yang meyakinkan para konsumen bahwa masalah kesehatan mereka dapat disembuhkan. Tetapi orang dengan penyakit kronis yang menaruh harapan mereka pada tawaran ini, penyembuhan yang mereka butuhkan mungkin tertunda.

Diambil dan diterjemahkan oleh ^rumput_kering^ dari Internet Legalities & Ethics, 12th Lesson Hacker High School. Artikel di atas hanya bertujuan agar para pengguna internet lebih berhati-hati terhadap ancaman penipuan di dalam internet. Thank’s 2:

Sumber : https://anchorstates.net/