METODE PENYAMPAIAN E-LEARNING

METODE PENYAMPAIAN E-LEARNING

METODE PENYAMPAIAN E-LEARNING

METODE PENYAMPAIAN E-LEARNING
METODE PENYAMPAIAN E-LEARNING

Seperti kita lihat di atas, peralatan teleconference yang mahal itu posisinya ada di infrastruktur e-Learning (komponen pertama). Meskipun kalaupun tidak ada juga tidak masalah. Lho kok bisa? Ya karena peralatan teleconference akan mendukung e-Learning yang Synchronous tapi tidak untuk yang Asynchronous. Waduh apalagi nih?

Jadi metode penyampaian bahan ajar di e-Learning ada dua:

synchronous-elearning.gifSynchrounous e-Learning: Guru dan siswa dalam kelas dan waktu yang sama meskipun secara tempat berbeda. Nah peran teleconference ada di sini. Misalnya saya mahasiswa di Universitas Ujung Aspal mengikuti kuliah lewat teleconference dengan professor yang ada di Stanford University. Nah ini disebut dengan Synchronous e-Learning. Yang pasti perlu bandwidth besar dan biaya mahal. Jujur saja Indonesia belum siap di level ini, dalam sudut pandang kebutuhan maupun tingginya biaya. Tapi ada yang main hajar saja (tanpa study yang matang) mengimplementasikan synchronous e-Learning ini. Hasilnya peralatan teleconference yang sudah terlanjur dibeli mahal hanya digunakan untuk coffee morning, itupun 6 bulan sekali.

asynchronous-elearning.gifAsynchronous e-Learning: Guru dan siswa dalam kelas yang sama (kelas virtual), meskipun dalam waktu dan tempat yang berbeda. Nah disinilah diperlukan peranan sistem (aplikasi) e-Learning berupa Learning Management System dan content baik berbasis text atau multimedia. Sistem dan content tersedia dan online dalam 24 jam nonstop di Internet. Guru dan siswa bisa melakukan proses belajar mengajar dimanapun dan kapanpun. Tahapan implementasi e-Learning yang umum, Asynchronous e-Learning dimatangkan terlebih dahulu dan kemudian dikembangkan ke Synchronous e-Learning ketika kebutuhan itu datang.

STRATEGI IMPLEMENTASI E-LEARNING

Kalau ditanya tentang strategi implementasi e-Learning, saya pikir ini parameternya terlalu banyak, tergantung kebutuhan, kultur institusi, ketersediaan dana dan berbagai faktor lain. IlmuKomputer.Com menerapkan strategi seperti apa yang saya tulis di artikel tentang model motivasi komunitas. Usulan saya sebagai konsultan e-Learning di beberapa perusahaan dan universitas tentang implementasi e-Learning biasanya berupa:

e-Learning harus didesain utk dapat memberikan nilai tambah secara formal (karier, insentif, dsb) dan nonformal (ilmu, skill teknis, dsb) untuk pengguna (pembelajar, instruktur, admin)
Pada masa sosialisasi terapkan blended eLearning untuk melatih behavior pengguna dalam e-life style (tidak langsung full e-Learning)
Project eLearning adalah institution initiative dan bukan hanya IT or HRD initiative
Jadikan pengguna sebagai peran utama (dukung aktualisasi diri pengguna), tidak hanya object semata
Perlu kita catat bersama bahwa kegagalan implementasi e-Learning kebanyakan bukan karena masalah tools, software atau infrastruktur. Tapi kebanyakan karena human factor, karena beratnya perubahan kultur kerja dan karena tidak adanya kemauan untuk knowledge sharing.

Paling tidak itu dulu, kita akan lanjutkan pembahasan kita dengan membangun sistem e-Learning dan pemilihan Learning Management System. Ikuti terus seri artikel ini

Baca Juga : 

DEFINISI DAN KOMPONEN E-LEARNING

DEFINISI DAN KOMPONEN E-LEARNING

DEFINISI DAN KOMPONEN E-LEARNING

Kita mulai dari definisi. Istilah e-Learning atau eLearning mengandung pengertian yang sangat luas, sehingga banyak pakar yang menguraikan tentang definisi eLearning dari berbagai sudut pandang. Salah satu definisi yang cukup dapat diterima banyak pihak misalnya dari Darin E. Hartley [Hartley, 2001] yang menyatakan:

eLearning merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media Internet, Intranet atau media jaringan komputer lain.

LearnFrame.Com dalam Glossary of eLearning Terms [Glossary, 2001] menyatakan suatu definisi yang lebih luas bahwa:

eLearning adalah sistem pendidikan yang menggunakan aplikasi elektronik untuk mendukung belajar mengajar dengan media Internet, jaringan komputer,maupun komputer standalone.

Definisi-definisi lain berserakan di buku-buku. Cara termudah dan tercepat melihat berbagai definisi e-Learning, lewat Google Coba klik di sini. Untuk yang tertarik eksplorasi Google lebih jauh, jangan lupa untuk ikuti artikel saya tentang teknik pencarian di Google.

definee-learning.gif

Ok apa yang dapat kita simpulkan dari berbagai definisi diatas?

Metode belajar mengajar baru yang menggunakan media jaringan komputer dan Internet
Tersampaikannya bahan ajar (konten) melalui media elektronik. Otomatis bentuk bahan ajar juga dalam bentuk elektronik (digital).
Adanya sistem dan aplikasi elektronik yang mendukung proses belajar mengajar
Kesimpulan definisi diatas ini yang sering saya gunakan untuk membuat bagan komponen e-Learning. Dengan kata lain, komponen yang membentuk e-Learning adalah:

Infrastruktur e-Learning: Infrastruktur e-Learning dapat berupa personal computer (PC), jaringan komputer, internet dan perlengkapan multimedia. Termasuk didalamnya peralatan teleconference apabila kita memberikan layanan synchronous learning melalui teleconference.

Sistem dan Aplikasi e-Learning: Sistem perangkat lunak yang mem-virtualisasi proses belajar mengajar konvensional. Bagaimana manajemen kelas, pembuatan materi atau konten, forum diskusi, sistem penilaian (rapor), sistem ujian online dan segala fitur yang berhubungan dengan manajemen proses belajar mengajar. Sistem perangkat lunak tersebut sering disebut dengan Learning Management System (LMS). LMS banyak yang opensource sehingga bisa kita manfaatkan dengan mudah dan murah untuk dibangun di sekolah dan universitas kita.

Konten e-Learning: Konten dan bahan ajar yang ada pada e-Learning system (Learning Management System). Konten dan bahan ajar ini bisa dalam bentuk Multimedia-based Content (konten berbentuk multimedia interaktif) atau Text-based Content (konten berbentuk teks seperti pada buku pelajaran biasa). Biasa disimpan dalam Learning Management System (LMS) sehingga dapat dijalankan oleh siswa kapanpun dan dimanapun. Depdiknas cukup aktif bergerak dengan membuat banyak kompetisi pembuatan multimedia pembelajaran. Pustekkom juga mengembangkan e-dukasi.net yang mem-free-kan multimedia pembelajaran untuk SMP, SMA dan SMK. Ini langkah menarik untuk mempersiapkan perkembangan e-Learning dari sisi konten.

Sedangkan Actor yang ada dalam pelaksanakan e-Learning boleh dikatakan sama dengan proses belajar mengajar konvensional, yaitu perlu adanya guru (instruktur) yang membimbing, siswa yang menerima bahan ajar dan administrator yang mengelola administrasi dan proses belajar mengajar.

Sumber : https://furnituremebeljepara.co.id/

Teknik statistik nonparametrik

Teknik statistik nonparametrik

Teknik statistik nonparametrik

Teknik statistik nonparametrik

Ada banyak teknik statistik pada metode nonparametrik.

Untuk menentukan teknik statistik yang tepat, secara sederhana dapat dilakukan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:

  • Apa tujuan pengujian tersebut? [menggambarkan, menguji perbedaan, korelasi, dan sebagainya]
  • Bila untuk menguji perbedaan, ada berapa kelompok sampel yang akan diuji? [satu, dua, atau lebih dari dua]
  • Bila untuk menguji perbedaan, apakah kelompok berasal dari satu populasi yang sama (atau dapat dibuat berpasangan), atau kelompok-kelompok yang saling independen?
  • Apa skala pengukurannya? [nominal atau ordinal]

Pertanyaan-pertanyaan ini adalah pertanyaan dasar untuk menentukan teknik statistik nonparametrik yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi data. Namun untuk tingkatan yang lebih lanjut, perlu diperhatikan juga power dari masing-masing teknik, disesuaikan dengan kondisi data yang lebih spesifik.

Isi tabel berikut adalah beberapa teknik statistik nonparametrik yang lazim digunakan, dengan membandingkan dengan teknik statistik parametrik.

TUJUAN

JENIS DATA

Pengukuran dari populasi Gaussian Skala ordinal atau pengukuran Non Gaussian Binomial
Deskripsi satu kelompok Mean, SD Median, interquartile range Proportion
Membandingkan satu kelompok dengan nilai hipotetis One-sample t test Wilcoxon test Chi-square
atau
Binomial test
Membandingkan dua kelompok tidak berpasangan Unpaired t test Mann-Whitney test Fisher’s test
(chi-square untuk sampel besar)
Membandingkan dua kelompok berpasangan Paired t test Wilcoxon test McNemar’s test
Membandingkan lebih dari dua kelompok tidak berpasangan One-way ANOVA Kruskal-Wallis test Chi-square test
Membandingkan lebih dari dua kelompok berpasangan Repeated-measures ANOVA Friedman test Cochrane Q
Korelasi Pearson correlation Spearman correlation Contingency coefficients
Prediksi dengan pengukuran variabel lain Simple linear regression
or
Nonlinear regression
Nonparametric regression Simple logistic regression
Prediksi dari beberapa pengukuran atau variabel binomial Multiple linear regression
or
Multiple nonlinear regression
Multiple logistic regression

Sumber : https://galleta.co.id/

Sumber Informasi yang Mendasari Interaksi

Sumber Informasi yang Mendasari Interaksi

Sumber Informasi yang Mendasari Interaksi

Selain membahas aturan-aturan dalam interaksi sosial, Karl dan Yoels juga membahas sumber-sumber informasi yang mendasari interaksi seseorang dengan orang lain. Sama seperti Goffman yang menyatakan bahwa seseorang akan berusaha mencari informasi tentang orang lain yang ditemuinya agar dapat mendefinisikan situasi, Karl dan Yoels pun menyatakan bahwa apabila seseorang baru menjumpai orang lain yang belum dikenal, ia akan berusaha mencari informasi tentang orang itu. Karl dan Yoels berpendapat bahwa ada 7 sumber informasi dalam interaksi. Di antaranya sebagai berikut.

Warna Kulit
Ciri seseorang yang dibawa sejak lahir, seperti jenis kelamin, usia, dan ras sangat menentukan interaksi terutama pada masyarakat yang sehari-harinya berada di lingkungan yang diskriminatif. Contohnya, di negara Afrika Selatan pada era apartheid, orang kulit putih tidak mau berinteraksi dengan orang kulit hitam. Orang-orang kulit putih menganggap orang kulit hitam cenderung berperilaku kriminal.

Usia
Cara seseorang berinteraksi dengan orang yang lebih tua seringkali berbeda dengan orang yang sebaya, atau dengan orang yang lebih rnuda.

Jenis Kelamin
Jenis kelamin juga bisa mempengaruhi interaksi seseorang terhadap yang lainnya. Contoh, laki-laki cenderung menghindari sekelompok perempuan yang tengah membicarakan kosmetik atau model sepatu terbaru. Sebaliknya, perempuan pun cenderung menghindar dari percakapan laki-laki tentang sepak bola atau otomotif.

Penampilan Fisik
Selain warna kulit, usia, dan jenis kelamin, penampilan fisik juga sering menjadi sumber informasi dalam interaksi sosial. Umumnya, yang pertama kali dilihat dalam interaksi adalah penampilan fisik seseorang. Ada beberapa penelitian yang memperlihatkan bahwa orang yang berpenampilan menarik cenderung lebih mudah mendapatkan pasangan daripada orang dengan penampilan kurang menarik.

Bentuk Tubuh
Menurut penelitian Wells dan Siegal, orang cenderung menganggap bahwa terdapat kaitan antara bentuk tubuh dengan sifat seseorang. Orang yang memiliki tubuh endomorph (bulat, gemuk) dianggap memiliki sifat tenang, santai, dan pemaaf. Orang yang memiliki tubuh mesomorph (atletis, berotot) dianggap memiliki sifat dominan, yakin, dan aktif. Sementara orang yang bertubuh ectomorph (tinggi, kurus) dianggap bersifat tegang dan pemalu.

Pakaian
Sumber informasi juga dapat diperoleh dari pakaian seseorang. Seringkali seseorang yang berpakaian seperti eksekutif muda lebih dihormati dibandingkan dengan orang yang berpakaian seperti gelandangan.

Wacana
Dari pembicaraan seseorang, kita pun dapat memperoleh informasi-informasi tentang dirinya. Kadang-kadang kita mendengar seseorang berbicara bahwa ia baru saja bertemu dengan direktur sebuah perusahaan terkenal atau dengan seorang gubernur. Dari perkataan orang itu, kita bisa memperoleh informasi tentang orang itu. Dengan kata lain, kita bisa menebak status seseorang berdasarkan pembicaraannya, meskipun pada ada pula orang yang tidak berkata jujur tentang dirinya.

Sumber : https://forbeslux.co.id/

Makna itu sendiri muncul dari interaksi sosial

Makna itu sendiri muncul dari interaksi sosial

Makna itu sendiri muncul dari interaksi sosial

Makna itu sendiri muncul dari interaksi sosial. Makna itu tidak langsung diberikan atau ditanggapi begitu saja oleh seseorang, tapi melalui proses penafsiran lebih dulu. Contohnya, seorang gadis yang menerima ucapan salam dari seorang pemuda di pinggir jalan tidak langsung menjawab salam tersebut. Ia akan mereka-reka atau menafsirkan dulu, apakah pemuda itu berniat baik atau buruk.

W.I. Thomas (1968) juga menyatakan bahwa seseorang tidak langsung bereaksi atau memberi tanggapan (response) terhadap rangsangan dari luar (stimulus), tapi didahului oleh tahap penilaian atau pertimbangan berdasarkan definisi situasi. Misalnya, pada contoh gadis dan ucapan salam di atas. Jika gadis itu mendefinisikan bahwa pemuda di pinggir jalan yang mengucapkan salam kepadanya tidak berniat baik, ia akan bereaksi atau bertindak sesuai dengan definisi yang ia buat, yaitu tidak menjawab ucapan salam tersebut.

Sosiolog lain yang memberi pemikiran penting dalam kajian interaksi sosial adalah Erving Goffman. Menurut Goffman, individu yang bertemu dengan orang lain akan mencari informasi tentang orang tersebut agar ia dapat mendefinisikan situasi. Dalam pertemuan itu, masing-masing pihak, sengaja atau tidak, membuat pernyataan (ekspresi) agar pihak yang lain terkesan (impresi). Usaha mempengaruhi kesan orang lain ini disebut Goffman sebagai pengaturan kesan (impression management).

Goffman membedakan ekspresi dalam dua macam, yaitu ekspresi yang diberikan dan ekspresi yang dilepaskan. Ekspresi yang diberikan (expression given) adalah pernyataan yang dimaksudkan untuk memberi kesan atau informasi sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku atau pernyataan itu memang biasa dilakukan. Sementara itu, ekspresi yang dilepaskan (expression given off) adalah pernyataan yang mengandung informasi, yang menurut orang lain memunculkan ciri tertentu dari si pembuat ekspresi. Misalnya, orang yang diberi pertolongan selayaknya mengucapkan terima kasih. Tetapi, ada orang yang mengucapkan terima kasih dengan berwajah masam. Ucapan terima kasih adalah ekspresi yang diberikan, sedangkan wajah masam adalah ekspresi yang dilepaskan yang dapat menunjukkan perasaan orang itu sebenarnya.

Interaksi sosial menjadi sangat penting dalam kehidupan sosial. Dari interaksi antarindividu, individu dan kelompok, dan antarkelompok akan tumbuh jalinan kerja sama, saling membutuhkan, dan saling pengertian yang sangat penting dalam mewujudkan kehidupan bersama yang dinamis. Interaksi sosial adalah bentuk umum proses sosial, di mana individu dan kelompok mengembangkan cara-cara berhubungan dengan individu dan kelompok lain. Mereka saling bertemu dan menentukan sistem dan bentuk-bentuk hubungan yang dipakai. Mereka juga menentukan hubungan apa yang akan terjadi jika ada perubahan yang dapat mengganggu pola kehidupan yang telah ada. Dalam proses sosial ini, ada pengaruh timbal balik antara berbagai aspek dalam masyarakat, misalnya, pengaruh timbal balik antara sosial dan politik, ekonomi dan politik, atau ekonomi dan hukum. Dari proses sosial ini, akan berkembang aktivitas-aktivitas sosial yang bermanfaat bagi kehidupan bermasyarakat.

Secara umum, interaksi sosial dapat terjadi antara individu dan individu, individu dan kelompok, serta kelompok dan kelompok. Interaksi antara individu dan individu dapat bersifat positif maupun negatif. Bersifat positif artinya saling menguntungkan, sedangkan bersifat negatif artinya merugikan salah satu pihak atau keduanya (bermusuhan). Contoh interaksi yang positif adalah kegiatan seorang ibu membantu anaknya belajar. Contoh interaksi yang negatif adalah peperangan atau perkelahian antara dua kelompok atau negara.

Interaksi sosial antara individu dan kelompok misalnya terjadi antara seorang pelatih sepak bola dengan para pemainnya. Ketika hendak bertanding, pelatih menerangkan strategi bertanding, sedangkan para pemain mendengarkan sambil sesekali bertanya dan mengajukan usulan. Demikian pula interaksi antara guru dan murid-muridnya. Dalam interaksi antara individu dan kelompok ini dapat terjadi pula interaksi sosial antarindividu, misalnya pemain sepak bola yang satu dengan pemain lain membahas keterangan dari pelatih.

Interaksi sosial antara kelompok dan kelompok misalnya tampak saat persatuan pemuda dari berbagai daerah bertemu untuk membahas acara kongres pemuda nasional. Tiap kelompok akan mengajukan saran tentang jenis-jenis acara yang ingin mereka tampilkan. Pada umumnya, interaksi sosial antarkelompok tidak berhubungan dengan kepentingan pribadi atau kepentingan individu sebagai anggota kelompok.

Interaksi sosial juga bisa terjadi meskipun orang yang saling bertemu muka tidak saling berbicara secara verbal (bicara dengan bahasa lisan) atau sengaja saling menukar tanda-tanda. Hal ini disebabkan masing-masing orang tersebut saling menyadari keberadaan pihak lain yang dapat menyebabkan perubahan dalam hal perasaan dan syaraf. Contoh, bau keringat, minyak wangi, atau suara sepatu orang yang sedang berjalan. Semuanya akan menimbulkan kesan di dalam pikiran seseorang yang akan menentukan tindakan apa yang akan dilakukannya, seperti menutup hidung ketika tercium bau keringat atau menoleh dan mencari tahu dari mana asal suara sepatu.

Sumber : https://cialis.id/

Generasi Muda yang Agamis dan Berbudaya

Generasi Muda yang Agamis dan Berbudaya

Generasi Muda yang Agamis dan Berbudaya

Generasi Muda yang Agamis dan Berbudaya
Generasi Muda yang Agamis dan Berbudaya

Generasi muda yang agamis ditandai dengan laku dan tindak dari pemuda yang dilandasi oleh moral-moral normatif agama. Pada intinya, setiap agama mengajarkan keselarasan guna menuju kehidupan yang lebih baik. Yang membedakan diantara agama-agama tersebut hanyalah cara untuk menggapai keselarasan kebahagaiaan tersebut.

Generasi muda yang agamis menurut Azyumardi Azra dapat dilihat dari tiga kategori, pertama, generasi muda yang memiliki visi, yakni generasi muda yang mau membangun tradisi intelektual dan wacana pemikiran melalui intelectual enlightement (pencerahan intelektual) dan intelectual enrichment (pengkayaan intelektual). Strategi pendekatan yang digunakan ialah melalui pemaksimalan potensi kesadaran dan penyadaran individu yang memungkinkan terciptanya komunitas ilmiah.

Kedua, generasi muda yang memiliki nilai, yaitu berupa usaha untuk mempertajam hati nurani melalui penanaman nilai-nilai moral agama sehingga terbangun pemikiran dan konseptual yang mendapatkan pembenaran dari Al-Qur’an. Ketiga, generasi muda yang memiliki keberanian dalam melakukan aktualisasi program, misalnya dalam melakukan advokasi terhadap permasalahan masyarakat dan keberpihakan dalam pemberdayaan umat.

Generasi muda secara agamis dan berbudaya dalam arti luas dapat dipandang sebagai proses pengembangan potensi diri manusia yang telah ada secara alami. Potensi diri yang dimaksud adalah kemampuan intelejensia, emosional, spiritual, dan aksional. Usaha peningkatan potensi diri tersebut diupayakan agar mencapai kemampuan yang dikehendaki sampai derajat tertentu. Pada masyarakat Sunda, seseorang bisa dikatakan memiliki potensi diri berdasarkan derajat yang diharapkan jika memenuhi adeg-adeg manusia Sunda sebagai berikut:

Luhung elmuna yaitu generasi muda yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dan memiliki daya saing tinggi;
Pengkuh agamana yaitu generasi muda yang memiliki keimanan dan ketakwaan (imtak);
Jembar budayana yaitu generasi muda yang “tidak gagap budaya”, tidak kehilangan jati diri, dan memegang teguh prinsip pribadinya;
Rancage gawena yaitu generasi muda yang berprestasi, berprilaku aktif, mampu mengimplementasikan berbagai program kerja dengan baik, ngigelan jeung ngigel keun jaman.
Untuk mencapai derajat tersebut, para sesepuh masyarakat Sunda memiliki cara pendidikan yang mengacu pada kebiasaan para orangtua dahulu dengan metode 5 (lima) S yaitu:
Silib yaitu sesuatu yang dikatakan secara tidak langsung tetapi dikias kan pada hal lain;
Sindir yaitu sesuatu yang dikatakan secara tidak langsung tetapi menggunakan susunan kalimat yang berbeda;
Simbul yaitu menyampaikan sesuatu maksud dalam bentuk lambang;
Siloka yaitu menyampaikan sesuatu maksud dalam bentuk pengandaian;
Sasmita yaitu pemaknaan yang berkaitan dengan perasaan hati.

Berdasarkan metode tersebut, wujud sosok generasi muda Sunda akan tercapai dalam diri yang ditandai oleh sifat-sifat unggul yaitu:

Cageur yaitu generasi muda yang sehat fisik dan psikhisnya;
Bageur yaitu generasi muda yang hidupnya selalu taat hukum, baik hukum agama, hukum positif, maupun hukum adat;
Bener yaitu generasi muda yang jelas tujuan hidupnya, beriman dan bertakwa, memiliki visi dan misi yang baik dan terukur;
Pinter yaitu generasi muda yang berilmu, berprestasi, arif, bijaksana, serta mampu mengatasi berbagai masalah dengan baik dan benar;
Singer yaitu generasi muda yang proaktif, beretos kerja tinggi, terampil dan berpres tasi;
Teger yaitu generasi muda yang kuat hati, teguh, tangguh, dan tidak mudah putus asa;
Pangger yaitu generasi muda yang teguh dan berpendirian kuat, tidak mudah tergoda;
Beleger yaitu generasi muda yang jujur, adil, amanah, mampu memegang kepercayaan yang diterima dirinya.
Manusia yang demikian pada dasarnya adalah manusia yang mengemban kewajiban moral dalam kehidupannya sehari-hari. Bentuk kewajiban moral yang ada pada insan nonoman sunda meliputi:

MMT: Moral Manusia terhadap Tuhannya, ditandai oleh kualitas imtak, berupa pengembangan sebagai generasi yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, beriman kepada-Nya, mengajarkan ajaran-ajaran-Nya dalam segala aspek kehidupan;
MMP: Moral Manusia terhadap Pribadinya, ditandai oleh kualitas sumber daya manusia/ilmu pengetahuan dan teknologi (SDM/Iptek), berupa dorongan untuk memelihara dirinya, dorongan untuk melindungi dirinya, dan dorongan untuk mengungkapkan dirinya;
MMM: Moral Manusia terhadap Manusia lainnya, ditandai oleh kemampuan bersosialisasi, hablum minannas;
MMA: Moral Manusia terhadap Alam, ditandai oleh kesadaran terhadap ekologi dan lingkungannya, pengembangan sebagai insan sosial ekonomi, dan orientasi terhadap masa depan untuk menumbuhkan kepekaan terhadap situasi masa kini dalam kaitan dan hubungannya dengan masa depan;
MMW: Moral Manusia terhadap Waktu, ditandai oleh kesadaran terhadap waktu, hidupnya akan memiliki visi, misi, dan strategi. Empat kesadaran terhadap waktu tersebut adalah:
a. Waktu mendapat nikmat dan kebahagiaan; mampu bersyukur;
b. Waktu mendapat ujian dan penderitaan; ridha, tabah, dan sabar.
c. Waktu dalam ketaatan, ditandai oleh sikap istiqamah
d. Waktu terjerumus bermaksiat, mampu sadar, bertaubat, dan menyesali perbuatannya .
f. MMLB: Moral Manusia Lahir Batin, ditandai oleh kesadaran beretika, tahu batas, mempunyai rasa malu, adil, jujur, amanah, dan selalu berhati-hati.

Baca Juga : 

Generasi Muda yang Progresif

Generasi Muda yang Progresif

Generasi Muda yang Progresif

Generasi muda memiliki kecenderungan untuk bersikap antusias dalam menghadapi berbagai isu, baik yang terkait langsung maupun tidak langsung dengan kehidupan mereka sehari-hari. Selain itu, idealisme yang terkandung dalam jiwa dan pikiran generasi muda memungkinkan generasi muda untuk memainkan peranan penting dalam kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Karena sifatnya ini, generasi muda menjadi kelompok yang potensial untuk mendukung pembangunan.

Dengan demikian, generasi muda perlu dilibatkan dalam setiap perencanaan pembangunan, sehingga pelayanan dapat lebih disesuaikan dengan sasaran yang ingin dicapai. Namun demikian, progresifitas generasi muda tidak hanya penting dalam kerangka pemberdayaan generasi muda, tapi juga memberikan kontribusi bagi penyiapan generasi selanjutnya, serta regenerasi kepemimpinan di masa mendatang.

Generasi muda yang progresif di sisi lain di tandai dengan generasi muda yang mau untuk berfikir diluar “pakem” yang telah membudaya (think out the box), guna “menciptakan” atau sekedar eksplorasi guna menemukan hal-hal baru yang berguna bagi kehidupan umat manusia. Dengan kata lain, generasi muda yang progresif adalah generasi muda yang mampu dan dapat berfikir kritis dalam menghadapi realitas sosial politik yang sedang terjadi.

Peran generasi muda juga menjadi penting bagi masa depan daerah-daerah yang pernah, misalnya, mengalami konflik. Sifat menghargai dan keterbukaan terhadap berbagai ide dan budaya dapat menjembatani beragam etnis, ras, kelompok-kelompok sosial dan politik. Dengan memanfaatkan potensi ini, diharapkan ada sebuah peluang untuk menciptakan masa depan yang lebih damai bagi generasi berikutnya.

Dalam kaitannya dengan progresifitas generasi muda, peran generasi muda seyogyanya didorong melalui 5 (lima) strategi berikut, yaitu:

Pertama, mendorong pelibatan generasi muda dalam proses pengambilan keputusan:
Generasi muda hendaknya ditempatkan dan berusaha menempatkan diri dalam posisi strategis agar aspirasinya didengar khususnya dalam pembuatan kebijakan yang secara langsung terkait dengan kebutuhannya. Generasi muda perlu diberi ruang untuk mengekspresikan pandangan mereka dan berkontribusi bagi pembuatan kebijakan-kebijakan yang secara tidak langsung terkait dengan masalah kepemudaan.
Kedua, mengembangkan kemampuan kewirausahaan:
Semangat kewirausahaan (enterpreunerships) dapat mendorong generasi muda untuk mampu bertahan manakala memasuki dunia usaha. Secara tidak langsung, upaya ini dapat membantu meminimalkan tingkat pengangguran bagi daerah dan terutama sekali bagi bangsa.
Ketiga, memaksimalkan peran generasi muda dalam mengatasi hambatan-hambatan budaya, etnis, dan ras:
Melalui komunikasi antargenerasi dari beragam latarbelakang budaya, etnis, dan ras, generasi muda dapat membangun jaringan (networking) untuk saling tukar-menukar informasi dan kerjasama antarbudaya. Pengenalan budaya ini dapat membantu terwujudnya saling pengertian antar generasi muda.
Keempat, memberdayakan generasi muda dalam pembangunan:
Generasi muda merupakan salah satu unsur penting yang menunjang pelaksanaan pembangunan sehingga perlu ada upaya pemberdayaan yang terencana dan komprehensif untuk memaksimalkan kemampuan generasi muda.
Kelima, menempatkan generasi muda sebagai visi pembangunan:
Karena generasi muda merupakan aktor penting sekaligus penerima manfaat dari pelaksanaan pembangunan, maka perlu ada upaya untuk merancang pelibatan generasi muda dalam sasaran dan penyusunan program-program pembangunan. Secara demikian, progresifitas generasi muda akan kentara secara nyata.

Mengembangkan potensi generasi muda

Mengembangkan potensi generasi muda

Mengembangkan potensi generasi muda

Sejak akhir dekade 1990-an, telah terjadi berbagai fenomena yang mendorong perubahan dalam seluruh aspek kehidupan bermasyarakat dan bernegara, termasuk dalam hal tata kepemerintahan. Globalisasi yang turut membawa konsep-konsep baru dalam pola hubungan negara (state) dan masyarakat (society) menjadi salah satu faktor pendorong utama bagi terjadinya demokratisasi di sejumlah negara, khususnya di negara-negara berkembang seperti Indonesia.Secara demikian, negara tidak lagi dipandang sebagai organisasi yang harus mampu memenuhi semua kebutuhan masyarakatnya. Pandangan terhadap negara mulai bergeser dengan menempatkan negara menjadi suatu otoritas yang berperan sebagai fasilitator bagi berbagai kepentingan di masyarakat. Konsep ini menempatkan masyarakat dalam posisi yang sejajar dalam konteks hubungan negara dan masyarakat.

Pergeseran konsep government menjadi governance seolah mendapatkan bukti empirik dengan gagalnya konsep pembangunan yang sentralistis dengan pendekatan top-down planning. Sebagai antitesis, berkembanglah kajian-kajian mengenai desentralisasi yang kemudian dikaitkan dengan pendekatan partisipatif dan bottom-up planning dalam pelaksanaan pembangunan. Demokratisasi dalam level lokal inilah yang dalam perkembangannya kemudian mendorong perubahan pola penyelenggaraan pemerintahan di daerah menjadi lebih desentralistis.

Kebijakan desentralisasi yang diterapkan dalam kerangka governancemensyaratkan adanya partisipasi seluruh stakeholders dalam proses pembangunan daerah. Melalui pembangunan daerah yang partisipatif, diharapkan perencanaan pembangunan daerah dapat mengakomodasi sebanyak mungkin aspirasi masyarakat, sehingga hasil perencanaan tersebut dapat sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya terlibat pada saat pelaksanaan suatu program, tetapi sejak tahap awal perumusan dan perencanaan program-program tersebut.Berdasar uraian di atas, generasi muda merupakan salah satu komponenstakeholders yang perlu dilibatkan dalam pembangunan daerah, karena memiliki sumber daya yang potensial untuk mendukung keberhasilan pembangunan daerah. Secara konseptual, definisi mengenai generasi muda dapat dilihat dari berbagai aspek, seperti dari aspek biologi; aspek budaya; aspek hukum dan politik; serta aspek psikologis. Pada dasarnya, generasi muda adalah manusia yang berusia antara lima belas hingga tiga puluh tahun.[1] Demikian pula dalam hal semangat dan idealisme, generasi muda dikenal sebagai kelompok masyarakat yang memiliki kreativitas dan gagasan-gagasan baru dalam memandang suatu permasalahan.

Akan tetapi, potensi ini seringkali belum dimanfaatkan secara optimal, bahkan pelibatan generasi muda pun cenderung dimobilisasi untuk kepentingan elit tertentu. Padahal, dari segi kuantitas, generasi muda sebenarnya merupakan satu representasi dari kekuatan politik tersendiri yang mampu mempengaruhi pembuatan kebijakan. Dilihat dari segi kebutuhan, generasi muda adalah sumber daya manusia bagi masa yang akan datang. Sebagai potensi daerah dan bangsa, generasi muda perlu dipersiapkan agar berpartisipasi aktif dan dapat memberikan sumbangan yang positif dalam berbagai proses pembangunan daerah atau nasional. Generasi muda tidak hanya dijadikan obyek, tetapi juga ditempatkan sebagai subyek dalam pembangunan.

Dalam upaya mempersiapkan, membangun dan memberdayakan generasi muda agar mampu berperan serta sebagai pelaku-pelaku aktif pembangunan, maka akan dihadapkan pada berbagai permasalahan dan tantangan, misalnya dengan munculnya berbagai permasalahan sosial yang melibatkan atau dilakukan generasi muda seperti tawuran dan kriminalitas lain, penyalahgunaan narkoba dan zat adiktiflain, minuman keras, penyebaran penyakit HIV/Aids dan penyakit menular, penyaluran aspirasi dan partisipasi, serta apresiasi terhadap kalangan generasi muda. Apabila permasalahan tersebut tidak memperoleh perhatian atau penanganan yang sesuai dengan konsepsinya, maka dikhawatirkan akan menimbulkan dampak yang luas dan mengganggu kesinambungan, kestabilan dalam proses pembangunan.

Permasalahan lainnya terkait dengan generasi muda adalah ketahanan budaya dan kepribadian –khususnya Sunda, Jawa Barat– di kalangan generasi muda yang semakin luntur, yang disebabkan cepatnya perkembangan dan kemajuan teknologi komunikasi, derasnya arus informasi global yang berdampak pada penetrasi budaya asing. Hal ini mempengaruhi pola pikir, sikap, dan perilaku generasi muda di Jawa Barat. Persoalan tersebut dapat dilihat dari kurang berkembangnya kemandirian, kreativitas, serta produktivitas dikalangan generasi muda, sehingga generasi muda kurang dapat berpartisipasi dalam proses pembangunan yang sesuai dengan karakter daerah.

Permasalahan yang tidak kalah pentingnya adalah era globalisasi yang terjadi diberbagai aspek kehidupan yang sangat mempengaruhi daya saing generasi muda. Sehingga generasi muda baik langsung maupun tidak langsung dituntut untuk mempunyai keterampilan, baik bersifat keterampilan praktis maupun keterampilan yang menggunakan teknologi tinggi untuk mampu bersaing dalam menciptakan lapangan kerja atau mengembangkan jenis pekerjaan yang sedang dijalaninya.

Cepat atau lambat, hal ini akan mengancam upaya pembentukan moral dan agama yang kuat di kalangan generasi muda. Tantangan lain adalah belum terumuskannya kebijakan pembangunan bidang pemuda secara serasi, menyeluruh, terintegrasi dan terkoordinasi antara kebijakan di tingkat nasional dengan kebijakan di tingkat daerah.Dengan memperhatikan permasalahan di atas, maka tema sentral dari orasi ini adalah bagaimana membangun Generasi Muda yang Progresif, Agamis dan Nasionalis?

Sumber : https://apartemenjogja.id/

Mengembangkan Tanggung Jawab

Mengembangkan Tanggung Jawab

Mengembangkan Tanggung Jawab

Banyak cerita atau bahkan pengalaman secara pribadi dimana kita tidak focus dalam mencapai tujuan, semua kadang-kadang teralihkan dari tujuan yang paling penting dalam hidup kita. Bahkan ada yang mengalami tapi tidak menyadarinya. Salah satu alasan utama kita tidak mencapai tujuan hidup kita adalah kurangnya komitmen. Namun setiap orang akan mempunyai cara dan pola berpikir yang berbeda tentang bagaimana mereka ingin memecahkan masalah Anda tentunya seringkali mendengar istilah tanggung jawab, Makna dari istilah “tanggung jawab” adalah “siap menerima kewajiban atau tugas”. Arti tanggung jawab tersebut semestinya sangat mudah untuk dimengerti oleh setiap orang. Tetapi jika kita diminta untuk melakukannya sesuai dengan definisi tanggung jawab tersebut, maka seringkali masih merasa sulit, merasa keberatan, bahkan ada orang yang merasa tidak sanggup jika diberikan kepadanya suatu tanggung jawab. Kebanyakan orang mengelak bertanggung jawab, karena jauh lebih mudah untuk “menghindari” tanggung jawab, daripada “menerima” tanggung jawab. Banyak orang mengelak bertanggung jawab, karena memang lebih mudah menggeser tanggung jawabnya, daripada berdiri dengan berani dan menyatakan dengan tegas bahwa, “ini tanggung jawab saya!” Banyak orang yang sangat senang dengan melempar tanggung jawabnya ke pundak orang lain. Sebagian orang, karena tidak bisa memahami arti dari sebuah tanggung jawab; seringkali dalam kehidupannya sangat menyukai pembelaan diri dengan kata-kata, “itu bukan salahku!” Sudah terlalu banyak orang yang dengan sia-sia, menghabiskan waktunya untuk menghindari tanggung jawab dengan jalan menyalahkan orang lain, daripada mau menerima tanggung jawab, dan dengan gagah berani menghadapi tantangan apapun di depannya BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Tanggung Jawab dan Komitmen Tanggung jawab menurut kamus umum bahasa indonesia adalah keadaan wajib menanggung segala sesuatunya. Atau kesadaran manusia akan tingkah laku perbuatannya yang disengaja maupun tidak disengaja. Tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya. Tanggung jawab adalah ” keadaan wajib menanggung segala sesuatu kalau ada sesuatu hal, boleh dituntut, dipersalahkan, diperkarakan dsb. Menanggung segala akibatnya” ( sofiyah ramdhani e.s, tahun 2002 halaman 555 ). Dari kedua pengertian tersebut, dapat dimaknai bahwa tanggung jawab itu sendiri ialah siap menerima kewajiban atau tugas. Dalam artian disini ketika seseorang diberikan kewajiban atau tugas, seseorang tersebut akan menghadapi suatu pilihan yaitu menerima dan menghadapinya dengan dedikasi atau menunda dan mengabaikan tugas atau kewajiban tersebut. Sedangakan Komitmen adalah perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu. B. Jenis- jenis Tanggung Jawab Manusia itu berjuang untuk memenuhi keperluannya sendiri atau untuk keperluan pihak lain. Untuk itu ia menghadapi manusia lain dalam masyarakat atau menghadapi lingkungan alam. Dalam usahanya itu manusia juga menyadari bahwa ada kekuatan lain yang ikut menentukan, yaitu kekuasaan tuhan. Dengan demikian tanggung jawab itu dapat dibedakan menurut keadaan manusia atau hubungan yang dibuatnya, atas dasar ini, lalu dikenal beberapa jenis tanggung jawab, yaitu 1. Tanggung jawab terhadap tuhan Tuhan menciptakan manusia di bumi ini bukanlah tanpa tanggung jawab, melainkan untuk mengisa kehidupannya manusia mempunyai tanggung jawab lngsung terhadap tuhan. Sehingga tindakan manusia tidak bisa lepas dari hukum-hukum tuhan yang dituangkan dalam berbagai kitab suci melalui berbagai macam agama. Pelanggaran dari hukum-hukum tersebut akan segera diperingatkan oleh tuhan dan juga dengan peringatan yang keraspun manusia masih juga tidak menghiraukan maka tuhan akan melakukan kutukan. Sebab dengan mengabaikan perintah-perintah tuhan berarti mereka meninggalkan tanggung jawab yang seharusnya dilakukan manusia terhadap tuhan sebagai penciptanya, bahkan untuk memenuhi tanggung jawab, manusia perlu pengorbanan. 2. Tanggung jawab terhadap diri sendiri Tanggung jawab terhadap diri sendiri menentukan kesadaran setiap orang untuk memenuhi kewajibannya sendiri dalam mengembangkan kepribadian sebagai manusia pribadi. Dengan demikian bisa memevahkan masalah-masalah kemanusiaan mengenai dirinya sendiri menurur sifat dasarnya manusia adalah mahluk bermoral, tetapi manusia juga pribadi. Karena merupakan seorang pribasi maka manusia mempunyai pendapat sendiri, perasaan sendiri, berangan-angan sendiri. Sebagai perwujudan dari pendapat, perasaan dan angan-angan itu manusia berbuat dan bertindak. Dalam hal ini manusia tidak luput dari kesalahan, kekeliruan, baik yang sengaja maupun yang tidak. 3. Tanggung jawab terhadap keluarga Keluarga merupakan masyarakat kecil. Keluarga terdiri dari suami, ister, ayah, ibu anak-anak, dan juga orang lain yang menjadi anggota keluarga. Tiap anggota keluarga wajib bertanggung jawab kepada keluarga. Tanggung jawab ini menyangkut nama baik keluarga. Tetapi tanggung jawab juga merupakan kesejahteraan, keselamatan dan kehidupan. 4. Tanggung jawab terhadap masyarakat Pada hakekatnya manusia tidak bisa hidup tanpa bantuan manusia lain, sesuai dengan kedudukannya sebagai mahluk sosial. Karena membutuhkan manusia lain maka ia harus berkomunikasi dengan manusia lain. Sehingga dengan demikian manusia disini merupakan anggota masyarakat yang tentunya mempunyai tanggung jawab seperti anggota masyarakat yang lain agar dapat melangsungkan hidupnya dalam masyrakat tersebut. Wajarlah apabila segala tingkah laku dan perbuatannya harus dipertanggung jawabkan kepada masyarakat. 5. Tanggung jawab kepada bangsa / negara Suatu kenyataan lagi, bahwa tiap manusia, tiap individu adalah warga negara suatu negara. Dalam berpikir, berbuat, bertindak, bertingkah laku manusia tidak dapat berbuat semaunya sendiri. Bila perbuatan itu salah, maka ia harus bertanggung jawab kepada Negara C. Ciri ciri Orang yang Bertanggung Jawab 1. Dapat dipercaya dan diandalkan (Reliable) Firman Tuhan mengatakan bahwa hal Kerajaan Sorga adalah sama seperti seorang tuan yang hendak bepergian dan memberikan kepada hamba-hambanya masing-masing 5, 2, dan 1 talenta menurut kesanggupannya. Setiap kita paling sedikit memiliki 1 karunia yang harus dikembangkan dengan penuh tanggung jawab. Bisa jadi itu merupakan uang, bakat, karir, atau waktu kita yang harus kita pakai dengan bijaksana. Keputusan ada di tangan kita. 2. Mau berjalan “Extra-Mile” Orang yang bertanggung jawab adalah mereka melakukan lebih daripada yang diminta. Sebaliknya, hamba yang jahat dan malas, cenderung menyalahkan orang lain atau keadaan. Ia bersikap pesimis dengan “kemandulan”nya untuk mengembangkan talenta yang Tuhan berikan. Orang-orang Kristen “Extra Mile” adalah orang-orang yang melakukan hal yang biasa dengan cara luar biasa, dengan demikian mereka mendapatkan kemurahan (favor) di hadapan Tuhan dan manusia. 3. Selalu memberikan yang terbaik (Excellence) Seorang yang bertanggung jawab selalu memberikan yang terbaik (excellence)dari apa yang dikerjakannya. Hamba Tuhan bernama Robb Thompson mengatakan bahwa “Bersikap ekselen adalah memperhatikan hal-hal yang mendetil, yang akan melahirkan hasil yang luar biasa dan akan berujung pada kehidupan yang sukses.” Bekerja dengan penuh tanggung jawab berarti kita memperhatikan hal-hal yang kecil yang dapat membuat perbedaan dari hasil yang kita kerjakan. D. Hubungan antara Komitmen dan Tanggung Jawab Komitmen selalu ada di hari-hari kita,di kepala kita, dan kehidupan kita. Banyak dari kita ada dalam bisnis komitmen. Komitmen menjadi pengendali kita. Seperti roda hamster, kita tidak dapat menghentikan stres atau waktu yang meminta kita untuk melakukan kewajiban kita, karena komitmen. Kita bekerja sehingga kita dapat memenuhi kebutuhan pribadi dan keuangan. Kita bekerja sehingga kita bisa melakukan hal lain yang ingin kita lakukan. Kita bekerja agar mendapat tinjauan yang baik. Seraya karpet komitmen itu menyelimuti kita, kita mungkin merasa kita “harus” melakukan sesuatu, padahal pada kenyataannya kita mempunyai pilihan, meski pilihan itu memiliki konsekuensi. Kita mungkin tidak bisa membiarkan orang lain kecewa, padahal kenyataannya kita bisa berkata tidak. kita mungkin bahkan percaya bahwa kita bekerja untuk orang lain, padahal kenyataannya kita bekerja untuk diri kita sendiri. Peran tanggung jawab kita sangat besar dalam hal tersebut. Bertanggung jawab atas diri sendiri adalah berhenti mencari jawaban di luar diri .karena kitalah menjalaninya, dan kesuksesan tersebut tergantung pada seberapa besar komitmen dan tanggung jawab terhadap tujuan yang ingin capai. Makin besar tanggung jawab pada komitmen suatu tujuan, makin besar peluang kita akan berhasil dan sukses.

Baca Juga : 

TAHAP MENGEMBANGKAN INISIATIF

TAHAP MENGEMBANGKAN INISIATIF

TAHAP MENGEMBANGKAN INISIATIF
“Baiklah kalau begitu terlebih dahulu kamu hendaknya dapat menetapkan tujuan yang ingin kamu capai. Dalam merumuskan tujuan ini kamu harus mempertimbangkan siapa saja yang harus dilibatkan dalam upaya mencapai tujuan yang telah kamu tetapkan, apa saja yang akan dilakukan, kapan harus dilakukan dan seberapa baik seharusnya cara itu dilakukan. Nah sekarang  coba kamu katakan siapa saja yang terlibat dalam permasalahan kamu ini ?” Menetapkan tujuan (menetapkan komponen-komponen)
Konseli “Saya rasa yang terlibat dalam masalah ini adalah diri saya sendiri”.
Konselor “Baik, lalu apa yang kamu lakukan dalam menyelesaikan ketidakmampuan kamu untuk bersikap relaks sebelum dan selama pelajaran berlangsung”. Menetapkan tujuan (menetapkan fungsi)
Konseli “Saya ingin berusaha dengan sebaik mungkin”.
Konselor “Ya itu rencana yang bagus, tapi yang paling penting adalah bagaimana caramu melakukannya?” Menetapkan tujuan (menetapkan proses)
Konseli “Itu dia masalahnya bu, saya merasa tegang sehingga saya tidak bias bersikap relaks”.
Konselor “Kamu mengalami kecemasan karena kamu tegang . Baiklah kalau begitu pertama kamu harus menghilangkan perasaan tegang  dan kedua kamu bisa merespon secara akurat”.
Konseli “Untuk menghilangkan rasa tegang mungkin dapat saya lakukan tapi bagaimana caranya bisa merespon secara akurat..? “
Konselor “Kamu dapat merespon secara akurat jika kamu dapat memahami apa yang dikemukakan oleh orang lain, dan kamu dapat mengkomunikasikan pemahaman itu dengan kata atau kalimat yang tegas. Bagaimana kamu sudah mengerti?”
Konseli “Ya bu..”
Konselor “Disamping itu dalam kondisi yang bagaimana kamu dapat mengkomunikasikan kata atau kalimat yang tegas”. Menetapkan tujuan (menetapkan kondisi)
Konseli “Saya akan mencoba pada saat pelajaran sedang berlangsung”.
Konselor “Bagus rahmi. Kamu juga harus menetapkan standarnya yaitu banyaknya respon yang kamu kemukakan misalnya tiga atau empat kali”. Menetapkan tujuan (menetapkan standar)
Konseli “Iya bu, saya akan  coba untuk dapat melakukannya 3 kali saat menerima mata pelajaran di kelas”.
Konselor “Bagus sekali. Nah sekarang coba kamu rumuskan apa tujuan yang ingin kamu capai setelah konseling ini?” Menetapkan tujuan (mengkomunikasikan tujuan operasional)
Konseli “Baik bu, masalah saya yaitu saya merasa cemas saat sebelum dan saat pelajaran berlangsung , jadi saat mata pelajaran berlangsung saya akan berusaha untuk bersikap relaks dan melakukan respon secara akurat sebanyak 3 kali”.
Konselor “Bagus sekali, kamu telah merumuskan tujuan untuk mengatasi masalah kamu sendiri..”
Konseli “Ya bu…”.
Konselor “Oh ya, apakah sebelumnya kamu sudah pernah mencoba untuk berusaha bersikap relaks sebelum dan saat pelajaran berlangsung ?” Mengembangkan program(membantu mengidentifikasi program)
Konseli “Sudah pernah bu, tapi tetap saja saya masih merasa tegang sebelum dan saat pelajaran berlangsung. Mungkin ibu bisa menunjukkan cara lain untuk mengatasi masalah saya ini”.
Konselor “Tentu saja bisa. Setelah saya mendengar masalah kamu, ibu akan memberikan alternatif yang bisa kamu lakukan yaitu kamu bisa melakukan teknik  modeling simbolis atau desensitisasi. Modeling simbolik adalah modelnya disajikan melalui media tertentu seperti video, slide, rekaman suara. Sedangkan desensitisasi yaitu pengurangan sensitifitas emosional yang berkaitan dengan kelainan pribadi atau masalah sosial setelah melalui prosedur konseling. Desensitisasi adalah pendekatan yang dimaksudkan untuk mengubah tingkah laku melalui perpaduan beberapa teknik yang terdiri dari memikirkan sesuatu, menenangkan diri, dan membayangkan sesuatu.Bagaiman pendapat kamu?” Mengembangkan program (membantu konseli memilih program)
Konseli “Keduanya kelihatan bagus tapi saya masih bingung pilih yang mana..?”
Konselor “Baiklah agar kamu dapat memilih teknik yang cocok hendaknya kamu menguji setiap alternative tadi kebaikan dan kerugiaannya baik bagi dirimu maupun orang lain. Untuk itu kamu dapat menggunakan “Lembar Keseimbangan” ini.Silahkan diisi!” Pengujian alternative program
Konseli “Ya bu…”
Konselor “Coba sekarang kita uji bersama..”
Konseli “Menurut saya yang paling penting adalah agar saya dapat bersikap relaks sebelum dan saat pelajaran berlangsung”.
Konselor “Apakah alternative tadi membawa keuntungan atau kerugian bagi kamu?”
Konseli “Alternative tadi membawa keuntungan dan kerugiannya hampir tidak ada”.
Konselor “Selanjutnya yang perlu kita lakukan adalah mengatur langkah-langkah program yaitu langkah mana yang akan kamu lakukan terlebih dahulu kemudian langkah pengantara dan sub langkah baik sub langkah dari langkah awal maupun sub langkah dari langkah pengantara itu. Langkah mana yang menurut kamu lebih penting dari semua program itu..?” Mengembangkan langkah awal program
Konseli “Saya fikir yang menjadi langkah awal saya yakni mempelajari pendekatan desensitisasi”.
Konselor “Itu adalah langkah awal yang baik, dan mana langkah pengantara kamu yang menjadi jembatan untuk mencapai tujuan?” Mengembangkan langkah pengantara program
Konseli “Langkah pengantara saya adalah saya akan memperagakan dari pendekatan desensitisasi”.
Konselor “Nah sekarang sub langkah apa saja yang kamu akan lakukan?” Mengembangkan sub langkah program
Konseli “Yang menjadi sub langkah saya yaitu pertama saya mempelajari pendekatan desensitisasi dengan baik dan kedua tidak putus asa dalam berlatih”.
Konselor “Baik sekali, sekarang kamu menetapkan waktu kapan kamu mau menyeleseikan program tersebut?” Merencanakan jadwal (menetapkan waktu penyeleseian)
Konseli “Insya Allah Minggu depan bu”.
Konselor “Baik, kamu bertekad untuk menyeleseikan program tersebut minggu depan. Selanjutnya kapan kamu akan memulai kegiatan tahap awal?” Menetapkan waktu memulai
Konseli “Waktu dekat ini bu dan Saya tidak ingin menunda lagi”.
Konselor “Bagus sekali, kamu sudah tidak sabar menunggu. Lalu apa yang kamu lakukan pada hari kedua, ketiga dan keempat?” Memonitori rentang waktu
Konseli “Pada hari kedua saya akan melatih bersikap relaks, hari ketiga saya akan memperbanyak latihan, dan hari keempat saya berusaha mempraktekkan”.
Dalam respon satu, konselor mengemukakan rasional penggunaan desensitisasi untuk menolong Rahmi mengatasi kekuatan dan penghindaraan terhadap pelajaran Kimia

Sumber : https://andyouandi.net/