Penguasa Ayyubiyah Terkenal Salahuddin Al Ayyubi

Penguasa Ayyubiyah Terkenal Salahuddin Al Ayyubi

Penguasa Ayyubiyah Terkenal Salahuddin Al Ayyubi
Penguasa Ayyubiyah Terkenal Salahuddin Al Ayyubi
Dinasti Ayyubiyah berkuasa sekitar 75 tahun. Tercatat sembilan orang khalifah yang pernah menjadi penguasa,  diantara kesembilan khalifah tersebut, terdapat beberapa penguasa yang hebat, namun yang sangat menonjol adalah Salahuddin Yusuf al-Ayyubi, lebih jelasnya kita simak berikut ini.

Biografi Salahuddin al-Ayyubi (564-589 H/ 1171-1193 M)

Nama lengkapnya, Salahuddin Yusuf al-Ayyubi Abdul Muzaffar Yusuf bin Najmuddin bin Ayyub. Ia berasal dari bangsa Kurdi. Ayahnya Najmuddin Ayyub dan pamannya Asaduddin Syirkuh, hijrah (migrasi) dari kampung halamannya (dekat Danau Fan) ke daerah Tikrit, Irak.
Salahuddin lahir di benteng Tikrit tahun 532 H/1137 M, tepat ketika ayahnya menjadi pemimpin Benteng Seljuk di Tikrit. Saat itu, baik ayah maupun pamannya mengabdi kepada Imaduddin Zanky, Gubernur Seljuk untuk kota Mosul, Irak. Ketika Imaduddin berhasil merebut wilayah Balbek (di Lebanon) tahun 534 H/1139 M, Najmuddin Ayyub (ayah Salahuddin) diangkat menjadi Gubernur Balbek oleh Sultan Suriah bernama Nuruddin Mahmud.

Masa kecil

Salahuddin dididik ayahnya untuk menguasai sastra, ilmu kalam, menghafal Al-Quran dan Ilmu Hadis di madrasah. Dalam buku-buku sejarah dituturkan bahwa cita-cita awal Salahuddin ialah menjadi orang yang ahli dalam agama Islam (ulama). Ia senang berdiskusi tentang ilmu kalam, Al-Quran, fikih, dan Hadis.

Karakter kuat

Salahuddin sudah terlihat semenjak masa kecilnya. Ia memiliki sikap yang rendah hati, santun, dan penuh belas kasih. Dia tumbuh di lingkungan keluarga agamis tetapi juga kesatria. Selain mempelajari ilmu-ilmu agama. Salahuddin mengisi masa mudanya dengan menekuni teknik perang, strategi perang, dan dunia politik. Ia pernah melanjutkan pendidikannya di Damaskus untuk menekuni telogi Sunni. Proses tersebut berlangsung selama sepuluh tahun di lingkungan istana Nuruddin Mahmud.
Dunia kemiliteran semakin diakrabinya setelah Sultan Nuruddin menempatkan ayahnya sebagai kepala divisi militer di Damaskus. Pada umur 26 tahun, Salahuddin sudah bergabung dengan pasukan pamannya, Asaduddin Syirkuh. Ketika itu Gubernur Suriah (Nuruddin Zanki) menugaskan Syirkuh memimpin pasukan Muslimin ke Mesir, sekaligus membantu Perdana Menteri Syawar (masa Dinasti Fatimiyah) untuk menhadapi pemberontak Dirgam. Misi tersebut berhasil sehingga Syawar kembali menjabat sebagai perdana menteri tahun 560 H/1164M.

Pada tahun 1169, Salahuddin diangkat sebagai panglima menggantikan pamannya yang meninggal dunia. Salahuddin semakin menunjukkan kepiawaiannya sebagai pemimpin. Ia mampu mengerahkan dan mengorganisasi pasukannya serta memperkuat pertahanan di Mesir, terutama untuk menghadapi kemungkinan serbuan balatentara Salib. Serangan pasukan Salib ke Mesir berkali-kali mampu dipatahkannya.

Impian bersatunya kaum Muslim pun tercapai pada september 1174, Salahuddin berhasil menundukkan Dinasti Fatimiyah di Mesir untuk patuh pada kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad. Dinasti Ayyubiah akhirnya berdiri di Mesir menggantikan dinasti sebelumnya yang bermazhab Syi’ah.

Keberhasilan Salahuddin

dalam memimpin Mesir membuat Nuruddin Zanki merasa khawatir tersaingi. Akibatnya, hubungan mereka memburuk. Tahun 1175 Nuruddin mengirimkan Pasukannya untuk menaklukkan Mesir. Tetapi gagal karena ia meninggal saat armadanya sedang dalam perjalanan. Tampuk kekuasaan diserahkan kepada putranya yang masih sangat muda.

Salahuddin pernah berangkat ke Damaskus untuk mengucapkan bela sungkawa. Kedatangannya tersebut banyak disambut dan dielu-elukan di Damaskus. Akhirnya, tiga tahun kemudian raja muda tersebut sakit dan meninggal dunia pula. Posisinya langsung digantikan oleh Salahuddin yang sudah dikenal umat Islam secara luas. Ia diangkat menjadi Khalifah di Suriah dan Mesir.

Pergantian kekhalifahan itu sendiri dilakukan Salahuddin dengan cara yang sangat terhormat, Ia menikahi janda mendiang Sultan demi menghormati kelurga dinasti sebelumnya. Ia memulai kepemimpinannya dengan menghidupkan kembali roda perekonomian, menata kembali sistem militer, dan menaklukkan negara-negara Muslim kecil agar bersatu melawan pasukan Salib.

Pada usia 45 tahun, Salahuddin telah menjadi orang paling berpengaruh di dunia Islam. Selama kurun waktu 12 tahun, ia berhasil mempersatukan Mesopotamia, Mesir, Libya, Tunisia, wilayah Barat jasirah Arab dan Yaman di bawah kekhalifahan Ayyubiah. Kota Damaskus di Syiria dijadikan sebagai pusat pemerintahannya. Salahuddin meninggal di Damaskus pada tahun 1193 M dalam usia 57 tahun.

Sumber: https://www.catatanmoeslimah.com/

Macam Macam Shalat Sunnah

Macam Macam Shalat Sunnah

Macam Macam Shalat Sunnah
Macam Macam Shalat Sunnah

Shalat sunnah adalah shalat yang di kerjakan selain shalat wajib yang lima waktu sesuai dengan namanya yaitu sunnah yang berarti yaitu sebuah anjuran untuk mengerjakan yang sifatnya tidak jazm (pasti), yang berarti apabila dikerjakan mendapat pahala, namun apabila ditinggalkan tidak berdosa., adapun macam macam shalat sunnah itu cukup banyak seperti shalat rawatib shalat tahajud dls, yang akan saya bahas di bawah ini

Macam Macam Shalat Sunnah

1. Shalat sunnah rawatib

Shalat Sunnah Rowatib adalah shalat sunnah yang waktu pelaksanaannya mengiringi shalat wajib lima waktu. Shalat tersebut dilakukan sebelum atau sesudah shalat fardu.Sholat Sunnat Rawatib yang dikerjakan sebelum sholat fardu disebut rawatib qobliyah, sedangkan Sholat Sunat Rawatib yang dikerjakan sesudah sholat wajib disebut shalat sunnah rawatib bakdiyah
Adapun dalilnya sesuai dengan Sabda Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya

“Tidaklah seorang muslim mengerjakan shalat karena Allah setiap hari 12 rakaat shalat sunnah karena Allah, kecuali Allah akan membangunkan sebuah rumah baginya di Surga atau di bangunkan baginya sebuah rumah di Surga” [HR. Muslim no. 728]

“Dari Abdullah bin Mughaffal radhiallahu anhu , ia berkata: “Bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wasalam , ‘Di antara dua adzan itu ada shalat, di antara dua adzan itu ada shalat, di antara dua adzan itu ada shalat. Kemudian pada ucapannya yang ketiga beliau menambahkan: ‘bagi yang mau”. (Muttafaq ‘alaih)”

Adapun Rinciannya sebagai berikut:
Sholat empat rakaat sebelum shalat dzuhur dan dua rakaat setelahnya
dua rakaat setelah shalat maghrib
dua rakaat setelah shalat isya
dua rakaat sebelum shalat subuh.

2. Shalat sunnah dhuha

Shalat sunnah dhuha adalah shalat sunnah yang di kerjakan di pagi hari atau waktu dhuha sekitar jam 07 sampai menjelang dhuhur sekitar jam 11.00 Waktu terbaik adalah dengan mengakhirkan sampai waktu agak siang (panas). Kira-kira antara jam 8 sampai jam 10. Hukum salat Duha adalah sunnah muakkad. Jumlah rakaatnya paling sedikit 2 rakaat dan paling banyak 12 rakaat, adapun salah satu dalilnya adalah sebagai berikut
“Siapapun yang melaksanakan salat duha dengan langgeng, akan diampuni dosanya oleh Allah, sekalipun dosa itu sebanyak buih di lautan.” (H.R Tirmidzi)
setelah shalat dhuha kita di anjurkan berdoa adapun doa nya baca doa setelah sholat dhuha

3. Shalat sunnah tahajud

Sholat sunnah Tahajud adalah shalat malam yang di kerjakan di malam hari dengan syarat sudah tidur di malam hari walau hanya sebentar saja karena jika tidak tidur bukan di katakan Sholat Tahajud tapi tercatat sebagai shalat sunnah biasa karena para ulama membagi shalat malam itu menjadi dua, yaitu Qiyamullail dan Tahajjud, Qiyamullail lebih umum dari Tahajjud, Qiyamullail adalah shalat malam boleh tidur dulu atau tidak tidur dahulu, namun Tahajjud adalah harus tidur terlebih dahulu.
adapun dalil mengenai shalat tahajud adalah sebagai berikut

Firman Allah SWT yang artinya :

“Dan pada sebagian malam, maka kerjakanlah shalat tahajud sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah- mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji” (QS. Al Isra 79)
Untuk jumlah rakaat sholat tahajud minimal dikerjakan sebanyak dua rakaat, sementara maksimalnya ada yang mengetakan 12 ada juga tanpa batas namun yang sering di lakukan Rasullulah adalah 8 rakaat di tambar witir 3 rakaat adapun materi lengkapnya baca tata cara sholat tahajud

4. Shalat sunnah hajat

Shalat sunnah Hajat adalah shalat sunat yang dikerjakan karena seseorang mempunyai maksud atau keperluan dan berharap Allah SWT mengabulkannya. Hajat atau keperluan ini ada yang kepada Allah SWT
Shalat Hajat, ditetapkan atau disyariatkan bagi yang sedang memiliki kebutuhan atau permasalahan. Dan tentunya, ini lebih khusus dibandingkan dengan shalat-shalat lain dan memiliki suatu keistimewaan sendiri dari Allah dan Rasulullah saw karena mengikuti sunah rosul
sholat hajat sebenarnya gak jauh berbeda dengan sholat umumnya dilakukan minimal 2 rakaat dan maksimal 12 raka’at dengan salam setiap 2 rakaat. Shalat ini dapat dilakukan kapan saja asalkan tidak pada waktu-waktu yang dilarang untuk melakukan
untuk lebih lengkapnya baca Tata cara dan doa sholat hajat

5. Shalat sunnat taubat

adalah shalat sunnah yang di lakukan setelah kita melakukan sebuah kesalahan atau dosa baik itu dosa kecil maupun dosa besar dengan catatan kita berniat tidak akan mengulanginya lagi Shalat sunnat taubat hukumnya adalah sunnat Mu’akkad. Maksudnya yaitu sunnat yang sangat di anjurkan oleh Rosulluloh Saw apa lagi jika kita telah berbuat dosa atau pun maksiat maka kita di anjurkan untuk melakukan sholat taubat ,Seperti yang telah di jelaskan di dalam sabda Nabi Muhammad SAW yang artinya :

6.shalat sunnah tarawih

Shalat Sunnah Tarawih ialah merupakan shalat sunnah yg dikerjakan di malam hari setelah Shalat Isya atau biasa di sebut dengan kiyamul lail ( tahajud ) jika di kerjakan di bulan selain romadhan dan di katakan sholat tarawih atau sering di sebut Qiyam Ramadhan‘ bila di kerjakan pada bulan Ramadhan jadi istilah Shalat Tarawih, pada hakekatnya adalah Qiyamul Lail (yang biasa kita sebut sebagai Shalat Tahajud), yang waktu pelaksanaannya dikerjakan di bulan Ramadhan. perbedaannya bila sholat tahajud ada persyaratan khusus yaitu kita di wajibkan untuk tidur di malam hari walaupun hanya semenit atau sebentar saja sementara untuk tarawih tidak ada keharusan untuk tidur

Jumlah rokaat shalat tarawih
Terjadinya perbedaan pendapat di antara para ulama terkait jumlah shalat Tarawih tidak bisa dilepaskan dari perbedaan persepsi dalam menafsirkan hadis yang dijadikan acuan disyariatkannya shalat Tarawih.
Adapun rakaat Tarawih yang dilakukan pada waktu Nabi saw masih hidup masih dipertentangkan para ulama. Ada yang mengatakan 11 rakaat dan ada yang 23 rakaat, ada yang 39 rakaat
adapun penjelasan lengkapnya baca tata cara shooat tarawih

7. Shalat istikharah

Shalat istikharah adalah sholat sunah yang mana shalat ini di kerjakan di saat kita memohon petunjuk atau di saat kita mempunyai banyak pilihan dengan memohon kepada Allah agar Dia berkenan memberikan hidayah serta petunjuk nya menuju kepada kebaikan atau pilihan yang terbaik langsung dari Allah SWT Bukan hanya sekedar itu kita mengerjakan Sholat istikharah di saat hati kita mantap dengan apa yang ada di hati kita tentang apa yang akan kita kerjakan namun kita tetap memohon petunjuk kepada Allah di karena kan keputusan manusia belum tentu benar sementara keputusan Allah mutlak benar adanya

8.Shalat sunnah taubat

Shalat sunnat taubat adalah shalat sunnah yang di lakukan setelah kita terlanjur melakukan sebuah kesalahan atau dosa baik itu dosa kecil maupun dosa besar di sengaja atau tidak di sengaja dengan catatan kita berniat tidak akan mengulanginya lagi
Tata cara shalat sunnah taubat tak jauh berbeda dengan shalat pada umumnya yaitu di awali dengan takbirotul ihrom dan di akhiri dengan salam sementara jumlah rokaat nya 2 sampai enam rokaat dengan satu kali salam dalam 2 rokaat yang membedakannya hanya niat nya saja sementara waktu nya bebas kapan saja kecuali pada waktu-waktu yang diharamkan untuk shalat dan alangkah baiknya di kerjakan di saat malam hari seperti setelah sholat isya agar lebih khusu dalam mengerjakan nya

9. Shalat sunnah tahuyatul masjid

Orang yang masuk masjid disunatkan melakukan salat dua raka’at, sebelum duduk, sebagai penghormatan (tahiyat) masjid, sesuai hadits Nabi:” jika seseorang diantara kamu datang ke masjid, maka hendaklah ia melakukan shalat dua raka’at.’’ Tatapi, jika ia masuk ketika shalat jama’ah akan dimulai, ia tidak di tuntut lagi melakukannya. Lagipula, penghormatan terhadap masjid itu telah tercapai dengan melekukan shalat wajib tersebut

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/