Kisah Nyata Penggali Kubur Yang Melihat Azab Nyata Orang-orang Yang Meninggal, Mengerikan!

Kisah Nyata Penggali Kubur Yang Melihat Azab Nyata Orang-orang Yang Meninggal, Mengerikan!

Kisah Nyata Penggali Kubur Yang Melihat Azab Nyata Orang-orang Yang Meninggal, Mengerikan!

Kisah Nyata Penggali Kubur Yang Melihat Azab Nyata Orang-orang Yang Meninggal, Mengerikan!
Kisah Nyata Penggali Kubur Yang Melihat Azab Nyata Orang-orang Yang Meninggal, Mengerikan!

Terdapat seorang pemuda yang kerjanya adalah menggali kubur dan mencuri kain kafan untuk dijual. Pada suatu hari, pemuda tersebut berjumpa dengan seorang alim/ahli ibadah untuk menyatakan kekesalannya dan keinginan untuk bertaubat kepada Allah SWT.

Dia berkata, “Sepanjang aku menggali kubur untuk mencuri kain kafan, aku telah melihat 7 perkara ganjil yang menimpa mayat-mayat tersebut. Lantaran aku merasa sangat insaf atas perbuatanku yang sangat keji itu dan ingin sekali bertaubat.”

Yang pertama, “aku lihat mayat yang pada siang harinya menghadap kiblat. Tetapi apabila aku menggali semula kuburnya pada waktu malam, aku lihat wajahnya telahpun membelakangkan kiblat. Mengapa terjadi begitu, wahai tuan guru?” tanya pemuda itu.

“Wahai anak muda, mereka itulah golongan yang telah mensyirikkan Allah SWT sewaktu hidupnya. Lantaran Allah SWT menghinakan mereka dengan memalingkan wajah mereka dari mengadap kiblat, bagi membedakan mereka daripada golongan muslim yang lain,” jawab ahli ibadah tersebut.

Sambung pemuda itu lagi, “Golongan yang kedua, aku lihat wajah mereka sangat elok semasa mereka dimasukkan ke dalam liang lahat. Tatkala malam hari ketika aku menggali kubur mereka, aku melihat wajah mereka telah berubah menjadi ****. Mengapa begitu halnya, wahai tuan guru?”

Jawab ahli ibadah tersebut, “Wahai anak muda, mereka itulah golongan yang meremehkan dan meninggalkan solat sewaktu hidupnya. Sesungguhnya solat merupakan amalan yang pertama sekali dihisab. Jika shalatnya sempurna, maka sempurnalah amalan-amalan kita yang lain,”

Pemuda itu menyambung lagi, “Wahai tuan guru, golongan yang ketiga yang aku lihat, pada waktu siang mayatnya kelihatan seperti biasa saja. Apabila aku menggali kubur nya pada waktu malam, ku lihat perutnya terlalu gelembung, keluar pula ulat yang terlalu banyak daripada perutnya itu.”

Jawab ahli ibadah tersebut “Mereka itulah golongan yang gemar memakan harta yang haram, wahai anak muda,” balas ahli ibadah itu lagi.

Golongan keempat, ku lihat mayat yang jasadnya bertukar menjadi batu bulat yang hitam warnanya. Mengapa terjadi begitu, wahai tuan guru?”

Jawab ahli ibadah itu, “Wahai pemuda, itulah golongan manusia yang derhaka kepada kedua ibu bapanya sewaktu hayatnya. Sesungguhnya Allah SWT sama sekali tidak redha kepada manusia yang menderhakai ibu bapanya.”

“Ku lihat ada pula mayat yang kukunya amat panjang, hingga membelit-belit seluruh tubuhnya dan keluar segala isi dari tubuh badannya,” sambung pemuda itu.

“Anak muda, mereka itulah golongan yang gemar memutuskan silaturrahim. Semasa hidupnya mereka suka memulakan pertengkaran dan tidak bertegur sapa lebih daripada 3 hari. Bukankah Rasulullah SAW pernah bersabda, bahawa sesiapa yang tidak bertegur sapa melebihi 3 hari bukanlah termasuk dalam golongan umat baginda,” jelas ahli ibadah tersebut.

“Wahai guru, golongan yang keenam yang aku lihat, sewaktu siangnya lahatnya kering kontang. Tatkala malam ketika aku menggali semula kubur itu, ku lihat mayat tersebut terapung dan lahadnya dipenuhi air hitam yang amat busuk baunya,”

“Wahai pemuda, itulah golongan yang memakan harta riba sewaktu hayatnya,” jawab ahli ibadah tadi.

“Wahai guru, golongan yang terakhir yang aku lihat, mayatnya sentiasa tersenyum dan berseri-seri pula wajahnya. Mengapa demikian halnya wahai tuan guru?” tanya pemuda itu lagi.

Jawab ahli ibadah tersebut, “Wahai pemuda, mereka itulah golongan manusia yang berilmu. Dan mereka beramal pula dengan ilmunya sewaktu hayat mereka.

Inilah golongan yang beroleh keredhaan dan kemuliaan di sisi Allah SWT baik sewaktu hayatnya mahupun sesudah matinya. Ingatlah, sesungguhnya daripada Allah kita datang dan kepada-Nya jualah kita akan kembali. Kita akan di pertanggungjawabkan atas setiap amal yang kita lakukan, hatta walaupun amalan sebesar zarah.

Setelah Anda membaca kisah ini. Sampaikan atau hantarkan kepada sahabat dan rakan-rakan anda. Mudah-mudahan amalan baik yang sedikit ini diambil kira oleh Allah Taala di Akhirat kelak. Aamiin.

Baca Juga:

Dalil-dalil Yang Berhubungan Dengan Shalat Tarawih

Dalil-dalil Yang Berhubungan Dengan Shalat Tarawih

Dalil-dalil Yang Berhubungan Dengan Shalat Tarawih

Dalil-dalil Yang Berhubungan Dengan Shalat Tarawih
Dalil-dalil Yang Berhubungan Dengan Shalat Tarawih

(Muttafaqun ‘alaih)

“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pada suatu malam salat di masjid lalu para sahabat mengikuti salat Beliau, kemudian pada malam berikutnya (malam kedua) Beliau salat maka manusia semakin banyak (yang mengikuti salat Nabi n), kemudian mereka berkumpul pada malam ketiga atau malam keempat. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak keluar pada mereka, lalu ketika pagi harinya Beliau bersabda: ‘Sungguh aku telah melihat apa yang telah kalian lakukan, dan tidaklah ada yang mencegahku keluar kepada kalian kecuali sesungguhnya aku khawatir akan diwajibkan pada kalian,’ dan (peristiwa) itu terjadi di bulan Ramadan.”

Baca Juga: Kalimat Syahadat

(Hadits Riwayat Thabrani dan Ibnu Nashr)

“Artinya : Dari Jabir bin Abdullah radyillahu ‘anhum, ia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah salat bersama kami di bulan Ramadan (sebanyak) delapan raka’at dan witir (satu raka’at). Maka pada hari berikutnya kami berkumpul di masjid dan mengharap beliau keluar (untuk salat), tetapi tidak keluar hingga masuk waktu pagi, kemudian kami masuk kepadanya, lalu kami berkata : Ya Rasulullah ! Tadi malam kami telah berkumpul di masjid dan kami harapkan engkau mau salat bersama kami, maka sabdanya “Sesungguhnya aku khawatir (salat itu) akan diwajibkan atas kamu sekalian”.

“Aku perhatikan salat malam Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, yaitu (Ia) salat dua raka’at yang ringan, kemudian ia salat dua raka’at yang panjang sekali, kemudian salat dua raka’at, dan dua raka’at ini tidak sepanjang dua raka’at sebelumnya, kemudian salat dua raka’at (tidak sepanjang dua raka’at sebelumnya), kemudian salat dua raka’at (tidak sepanjang dua raka’at sebelumnya), kemudian salat dua raka’at (tidak sepanjang dua raka’at sebelumnya), kemudian witir satu raka’at, yang demikian adalah 13 raka’at”.Diriwayatkan oleh Malik, Muslim, Abu Awanah, Abu Dawud dan Ibnu Nashr.

[Hadits Shahih Riwayat Bukhari dan Muslim]

“Artinya : Dari Abi Salamah bin Abdurrahman bahwasanya ia bertanya kepada ‘Aisyah radyillahu anha tentang salat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam di bulan Ramadan. Maka ia menjawab ; Tidak pernah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam kerjakan (tathawwu’) di bulan Ramadan dan tidak pula di lainnya lebih dari sebelas raka’at 1) (yaitu) ia salat empat (raka’at) jangan engkau tanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian ia salat empat (raka’at) 2) jangan engkau tanya panjang dan bagusnya kemudian ia salat tiga raka’at”.

Manfaat dan Keutamaan Shalat Tarawih 

Manfaat dan Keutamaan Shalat Tarawih 

Manfaat dan Keutamaan Shalat Tarawih

Manfaat dan Keutamaan Shalat Tarawih 
Manfaat dan Keutamaan Shalat Tarawih

 

Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW dan diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib yang dikutip dari kitab Durratun Nasihin, berikut ini adalah keutamaan dan hikmah shalat Tarawih :

Malam ke 01

Siapa yang shalat Tarawih pada malam pertama dihapus dosa seorang Mu’min seperti ketika ia di lahirkan.
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759).
Malam ke 02 : Shalat Tarawih pada malam kedua di ampuni dosa dirinya dan kedua orang tuanya, jika keduanya Mu’min.
Malam ke 03 : Malaikat berseru dari ‘Arsy ” Telah diangkat amal dan dosanya yang telah lalu dan di ampuni oleh Allah SWT.
Malam ke 04 : Baginya mendapat pahala, seperti pahala membaca Kitab Taurat, Zabur, Injil dan AlQur-an.
Malam ke 05 : Allah SWT memberinya pahala seperti pahala Sholat di Masjidil Haram, Masjid Madinah dan Masjid Aqsho.
Malam ke 06 : Allah SWT memberinya pahala Thawaf di Baitul Makmur dan di mintakan ampun baginya oleh setiap batu benda.
Malam ke 07 : Seumpama pahala yang di peroleh nabi Musa A.S dan penolong dari kejahatan Fir’aun dan Hamman.
Malam ke 08 : Allah SWT memberikannya pahala seperti pahala apa yang diberikan kepada Nabi Ibrohim AS.
Malam ke 09 : Seumpama pahala Ibadah nabi Muhammad SAW.
Malam ke 10 : Allah SWT memberinya Rizki dan kebaikan di dunia dan akhirat.

Malam ke 11

Apabila Ia meninggal dunia, seperti dilahirkan dari Ibunya.
Malam ke 12 : Ia datang pada hari kiamat kelak dengan wajah berseri-seri seperti bulan purnama.
Malam ke 13 : Ia datang pada hari kiamat, selamat dari kejahatan (kejelekan).
Malam ke 14 : Malaikat pada menyaksikan bahwa sesungguhnya orang tersebut telah Sholat Tarawih maka pada hari kiamat kelak Allah SWT tidak akan menghisabnya.

Malam ke 15 Para malaikat bersholawat kepadanya dan menjaga di ‘Arsy dan kursi.
Malam ke 16 : Allah SWT mencatat baginya akan di bebaskan dari api neraka dan masuk surga.
Malam ke 17 : Diberikannya pahala seperti pahala para nabi.
Malam ke 18 : Satu Malaikat berseru : ” Hai Hamba Allah bahwasanya Allah SWT telah meridhoi kamu dan ke dua orang tuamu.
Malam ke 19 : Allah SWT akan mengangkat ke surga firdaus.
Malam ke 20 : Allah SWT memberikan pahala para Syuhada dan orang-orang Sholeh.

Baca Juga: Sifat Allah

Malam ke 21

Allah SWT membuatkan baginya sebuah istana di surga dari cahaya.
Malam ke 22 : Pada hari kiamat nanti, selamat dari kesulitan dan kesusahan.
Malam ke 23 : Allah SWT membangunkan baginya sebuah kota di surga. Malam ke
24 : Dua puluh empat (24) permintaanya di kabulkan oleh Allah SWT.
Malam ke 25 : Allah SWT mengangkatnya dari siksaan kubur.
Malam ke 26 : Allah SWT mengangkatnya baginya pahala empat puluh tahun (40 thn).
Malam ke 27 : Ia akan melewti jembatan Shirotul Mustaqim pada hari kiamat kelak seperti kilat menyambar.
Malam ke 28 : Allah SWT mengangkat baginya seribu (1000) derajat di surga.
Malam ke 29 : Allah SWT memberikan pahala seribu (1000) haji yang makbul.
Malam ke 30 : Allah SWT berfirman : Hai Hambaku, makanlah buah-buahan di dalam surga dan mandilah engkau dengan air Salsabil dan minumlah dari telaga kautsar, Aku tuhanmu dan engkau hamba-Ku.

 

Doa Qunut Nazilah & Terjemahannya

Doa Qunut Nazilah & Terjemahannya

Doa Qunut Nazilah & Terjemahannya

Doa Qunut Nazilah & Terjemahannya
Doa Qunut Nazilah & Terjemahannya

Doa Qunut Nazilah

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ اَللَّهُمَّ الْعَنْ كَفَرَةَ أَهْلَ الْكِتَابِ الَّذِيْنَ يَصُدُّونَ عَنْ سَبِيْلِكَ وَيُكَذِّبُونَ رُسُلَكَ وَيُقَاتِلُونَ أَوْلِيَائ َللَّهُمَّ الْعَنْ كَفَرَةَ أَهْلَ الْكِتَابِ الَّذِيْنَ يَصُدُّونَ عَنْ سَبِيْلِكَ وَيُكَذِّبُونَ رُسُلَكَ وَيُقَاتِلُونَ أَوْلِيَائَ اَللَّهُمَّ خَالِفْ بَيْنَ كَلِمِهِمْ وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ وَأَنْزِلْ بِهِمْ بَأْسَكَ الَّذِيْ لاَ تَرُدُّهُ عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِيْنَ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِيْنُكَ وَنَسْتَغْفِرُكَ وَنُثْنِيْ عَلَيْكَ وَلاَ نَكْفُرُكَ وَنَخْلَعُ وَنَتْرُكُ مَنْ يَفْجُرُكَ اَللَّهُمَّ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَلَكَ نُصَلِّى وَنَسْجُدُ وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ. نَرْجُو رَحْمَتَكَ وَنَخْشَى عَذَابَكَ إِنَّ عَذَابَكَ بِالْكُفَّارِ مُلْحِقٌ

Terjemahan Do’a Qunut Nazilah

Ya Allah Ampunilah kami, kaum mukminin dan mukminat, muslimin dan muslimat. Persatukanlah hati mereka. Perbaikilah hubungan di antara mereka dan menangkanlah mereka atas musuh-Mu dan musuh mereka”
.Ya Allah! Laknatlah orang-orang kafir hebat kitab (yahudi dan nashrani) yang senantiasa menghalangi jalan-Mu, mendustakan rasul-rasul-Mu, dan memerangi wali-wali-Mu.
Ya Allah! Laknatlah orang-orang kafir hebat kitab (yahudi dan nashrani) yang senantiasa menghalangi jalan-Mu, mendustakan rasul-rasul-Mu, dan memerangi wali-wali-Mu.
Ya Allah! Cerai beraikanlah persatuan dan kesatuan mereka. Goyahkanlah langkah-langkah mereka, dan turunkanlah atas mereka siksa-Mu yang tidak akan Engkau jauhkan dari kaum yang berbuat jahat”. melaluiataubersamaini Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Ya Allah! Sesungguhnya spesialuntuk kepada Engkau kami mohon pertolongan, meminta ampunan, dan senantiasa memuji-Mu atas kebaikan yang didiberikan. Kami tidak kufur kepada-Mu, dan kami berlepas diri serta meninggalkan orang-orang yang durhaka kepada-Mu”
.Ya Allah! Hanya kepada Engkau kami diberibadah, spesialuntuk sebab Engkau kami shalat dan sujud, spesialuntuk kepada Engkau pula kami berusaha dan berkhidmat. Kami sangat mengharap rahmat-Mu dan kami pun takut akan siksa-Mu, sebab bergotong-royong siksa-Mu itu tidak akan pernah berkurang atas orang-orang kafir”.

Baca Juga: Ayat Kursi 

Perbedaan dari Qunut Subuh/Witir dengan Qunut Nazilah

Dalam pelaksanaan dari dua do’a qunut tersebut diatas, ada beberapa perbedaannya yaitu

Kalau do’a qunut subuh/witir doanya sesuai yang sudah dilakukan oleh Rasulullah , sedangkan untuk qunut nazilah do’anya sesuai dengan kebutuhan
Do’a qunut subuh/witir dilaksanakan pada waktu sholat subuh atau pada ketika melakukan sholat witir dalam bulan ramadhan pada malam ke 16 keatas. Sedangkan qunut nazilah boleh dilaksanakan dalam sholat 5 waktu

Hukum Mencium Tangan Dan Membongkokkan Badan Ketika Bersalaman

Hukum Mencium Tangan Dan Membongkokkan Badan Ketika Bersalaman

Hukum Mencium Tangan Dan Membongkokkan Badan Ketika Bersalaman

Hukum Mencium Tangan Dan Membongkokkan Badan Ketika Bersalaman
Hukum Mencium Tangan Dan Membongkokkan Badan Ketika Bersalaman

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah

(Wafat: 1420H) mengatakan:

و أما تقبيل اليد ، ففي الباب أحاديث و آثار كثيرة ، يدل مجموعها على ثبوت ذلك
عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فنرى جواز تقبيل يد العالم إذا توفرت الشروط
الآتية :

1 – أن لا يتخذ عادة بحيث يتطبع العالم على مد يده إلى تلامذته ، و يتطبع هؤلاء
على التبرك بذلك ، فإن النبي صلى الله عليه وسلم و إن قبلت يده فإنما كان ذلك
على الندرة ، و ما كان كذلك فلا يجوز أن يجعل سنة مستمرة ، كما هو معلوم من
القواعد الفقهية .

2 – أن لا يدعو ذلك إلى تكبر العالم على غيره ، و رؤيته لنفسه ، كما هو الواقع
مع بعض المشايخ اليوم .

3 – أن لا يؤدي ذلك إلى تعطيل سنة معلومة ، كسنة المصافحة ، فإنها مشروعة بفعله
صلى الله عليه وسلم و قوله ، و هي سبب تساقط ذنوب المتصافحين كما روي في غير ما حديث واحد ، فلا يجوز إلغاؤها من أجل أمر ، أحسن أحواله أنه جائز .

“Berkaitan mencium tangan; dalam soal ini terdapat banyak hadis dan atsar dari kalangan salaf yang secara keseluruhan menunjukkan bahawa hadis tersebut sahih dari Nabi. Oleh sebab itu, kami berpendapat dibolehkan mencium tangan seorang ulama (yang ahli sunnah, bukan ahli bid’ah – pent.) jika memenuhi beberapa syarat berikut ini.

1. Perbuatan mencium tangan tersebut tidak dijadikan sebagai kebiasaan. Sehingga ulama tertentu terbiasa menghulurkan tangannya kepada murid-muridnya. Demikian juga para murid terbiasa mengambil barakah dengan mencium tangan gurunya. Ini kerana Nabi sendiri jarang sekali tangannya dicium oleh para shahabat. Jika demikian maka tidak boleh menjadikannya sebagai kebiasaan yang dilakukan terus-menerus sebagaimana kita ketahui dalam perbahasan kaedah-kaedah fiqh.

2. Perbuatan mencium tangan tersebut tidaklah menyebabkan ulama tersebut merasa sombong dan merasa lebih baik daripada yang lain serta menganggap dirinyalah yang paling hebat berbanding yang lain.

3. Perbuatan mencium tangan tersebut tidak menyebabkan hilangnya sunnah Nabi yang sudah diketahui seperti sunnah bersalaman. Bersalam atau berjabat tangan adalah satu amal yang dianjurkan berdasarkan perbuatan dan sabda Nabi. Bersalaman tangan adalah salah satu sebab gugurnya dosa-dosa orang yang melakukannya sebagaimana terdapat dalam beberapa hadis. Oleh itu, tidak sepatutnya sunnah berjabat tangan ini ditinggalkan kerana mengejar suatu amalan yang hanya berstatus mubah (dibolehkan).” (Silsilah al-Ahaadits ash-Shahihah 1/159, Maktabah Syamilah)

[Kedua] Membongkokkan atau menundukkan badan sebagai penghormatan

Hadis daripada Anas B. Malik radhiyallahu ‘anhu

Kami bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَنْحَنِي بَعْضُنَا لِبَعْضٍ قَالَ لَا قُلْنَا أَيُعَانِقُ بَعْضُنَا بَعْضًا قَالَ لَا وَلَكِنْ تَصَافَحُوا

“Wahai Rasulullah, adakah sebahagian kami boleh membongkokkan (atau menundukkan) badan kepada sebahagian yang lain (yang ditemui)?” Rasulullah bersabda, “Tidak boleh.” Kami bertanya lagi, “Adakah kami boleh berpelukan jika saling bertemu?” Beliau bersabda, “Tidak boleh. Yang benar hendaklah kalian saling bersalaman.” (Sunan Ibnu Majah, no. 3692. Dinilai hasan oleh al-Albani)

Anas B. Malik radhiyallahu ‘anhu berkata

قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ الرَّجُلُ مِنَّا يَلْقَى أَخَاهُ أَوْ صَدِيقَهُ أَيَنْحَنِي لَهُ قَالَ لَا قَالَ أَفَيَلْتَزِمُهُ وَيُقَبِّلُهُ قَالَ لَا قَالَ أَفَيَأْخُذُ بِيَدِهِ وَيُصَافِحُهُ قَالَ نَعَمْ

“Seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, adakah kami boleh saling menundukkan (atau membongkokkan) badan apabila salah seorang dari kami bertemu dengan saudaranya atau sahabatnya?” Rasulullah menjawab, “Tidak.” Lelaki tersebut bertanya lagi, “Adakah boleh mendakapnya (memeluknya) dan menciumnya?” Rasulullah menjawab, “Tidak.” Lelaki itu bertanya lagi, “Adakah boleh mengambil tangannya dan bersalaman dengannya?” Rasulullah menjawab, “Ya.”.” (Sunan at-Tirmidzi, no. 2728. Dinilai hasan oleh at-Tirmidzi dan al-Albani)

Baca Juga:

Larangan Memaki dan Mencerca Berhala

Larangan Memaki dan Mencerca Berhala

Larangan Memaki dan Mencerca Berhala

Larangan Memaki dan Mencerca Berhala
Larangan Memaki dan Mencerca Berhala

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ

“Dan janganlah kamu memaki cerca ilah-ilah (sesembahan) yang mereka ibadahi selain Allah, kerana nanti mereka akan membalas dengan cara memaki Allah melampau-lampau pula tanpa ilmu.” (Surah al-An’aam, 6: 108)

Faedah Tafsir

1, Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang kaum mukminin dari perbuatan mencaci atau mencerca berhala-berhala orang-orang kafir, kerana Allah mengetahui apabila kaum mukminin mencerca berhala-berhala tersebut maka orang-orang kafir pun akan melawan balas balik dengan cercaan terhadap Allah dan orang-orang kafir itu pun semakin jauh (dari Islam) dan bertambah pula kekufurannya.

2, Kemaslahatan perlu didahulukan berbanding keburukan (mafsadah). Dan kemaslahatan yang kecil perlu ditinggalkan jika boleh menyebabkan timbulnya mafsadah lain atau mafsadah yang jauh lebih besar.

3, Tidak boleh sengaja mencari pasal dengan orang-orang kafir kerana hal itu lebih menenangkan dan lebih mudah membuatkan mereka menerima Islam. Perbuatan sengaja menghina sembahan-sembahan orang-orang kafir boleh mengakibatkan keadaan huru-hara, membangkitkan kemarahan, menyemarakkan kebencian yang tidak sepatutnya berlaku, dan hanya menjauhkan mereka dari memahami Islam.

Baca Juga: Rukun Iman

Uraian dan maksud ayat

Allah melarang Rasul-Nya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan orang-orang yang beriman dari mencaci ilah-ilah (yang sembahan-sembahan) kaum musyrikin, walaupun pada cacian tersebut terdapat kemaslahatan (kebaikan). Ini kerana perbuatan mencaci ilah-ilah kaum musyrikin tersebut memiliki mafsadah (kerosakan) yang jauh lebih besar dari kemaslahatan yang terdapat padanya. Iaitu di mana orang-orang musyrikin itu nanti akan membalas balik setiap cacian tersebut dengan cacian yang lain terhadap Ilah kaum mukminin, sedangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Rabb yang tidak ada ilah (yang berhak diibadahi) selain Dia.

Sebagaimana yang dikatakan oleh ‘Ali B. Abi Thalhah, daripada Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang ayat ini:

يا محمد، لتنتهين عن سبك آلهتنا، أو لنهجون ربك، فنهاهم الله أن يسبوا أوثانهم، فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ

“Orang-orang musyrik itu berkata: “Wahai Muhammad, engkau hentikanlah cacianmu terhadap ilah-ilah kami itu, atau kami akan membalas cacian kepada Rabbmu.” Lalu Allah melarang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan orang-orang Mukmin mencaci patung-patung mereka: “kerana nanti mereka akan membalas dengan cara memaki Allah melampau-lampau pula tanpa ilmu.”.”

‘Abdurrazzaq mengatakan daripada Ma’mar, daripada Qotadah:

كان المسلمون يسبون أصنام الكفار، فيسب الكفار الله عدوا بغير علم، فأنزل الله: وَلا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ

“Dahulu kaum Muslimin mencaci berhala-berhala orang-orang kafir, lalu orang-orang kafir pun membalas dengan cara mencaci Allah Ta’ala secara melampau-lampau dan tanpa berdasarkan ilmu pengetahuan. Lalu Allah menurunkan ayat:

“Dan janganlah kamu memaki cerca ilah-ilah (sesembahan) yang mereka ibadahi selain Allah, kerana nanti mereka akan membalas dengan cara memaki Allah melampau-lampau pula tanpa ilmu.”

Dalam Tafsir al-Qurthubi, disebutkan bahawa Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:

قَالَتْ كُفَّارُ قُرَيْشٍ لِأَبِي طَالِبٍ إِمَّا أَنْ تَنْهَى مُحَمَّدًا وَأَصْحَابَهُ عَنْ سَبِّ آلِهَتِنَا وَالْغَضِّ منها وإما أن إِلَهَهُ وَنَهْجُوَهُ، فَنَزَلَتِ الْآيَةُ

“Orang-orang kafir pernah berkata kepada Abu Thalib (Pak Cik Rasulullah): “Laranglah Muhammad dan para sahabatnya dari memaki dan menghina ilah-ilah (sembahan) kami, atau kami akan membalas balik dengan cara mencaci dan menghina Tuhan-nya.” Maka turunlah ayat ini.” (Tafsir al-Qurthubi, 7/61 – Daar al-Kitaab al-Mishriyah)

Keadaan ini menunjukkan bahawa meninggalkan suatu bentuk kemaslahatan demi menghindari kerosakan yang lebih besar adalah suatu yang didahulukan. Ini antaranya berdasarkan hadis sahih bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ مِنْ أَكْبَرِ الذَّنْبِ أَنْ يَسُبَّ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ، قَالُوا: وَكَيْفَ يَسُبُّ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ؟ قَالَ: يَسُبُّ أَبَا الرَّجُلِ فَيَسُبُّ أَبَاهُ، وَيَسُبُّ أُمَّهُ، فَيَسُبُّ أُمَّهُ
“Termasuk dosa besar adalah orang yang mencaci ayah dan ibunya.”

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana seseorang boleh mencaci ayah dan ibunya?”

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Ia mencaci ayah seseorang, lalu orang yang ayahnya dicaci tersebut pun mencaci balas ayah orang yang mencaci. Ia mencaci ibu seseorang, lalu orang itu pun mencaci balas ibu orang yang mencaci tersebut.” (Musnad Ahmad, no. 6840. Shahih al-Bukhari, no. 5973)

Perbedaan Saham dan Obligasi

Perbedaan Saham dan Obligasi

Perbedaan Saham dan Obligasi

Perbedaan Saham dan Obligasi
Perbedaan Saham dan Obligasi

Saham

Saham menggambarkan sebagian dari modal pokok sebuah perusahaan. Pemilik saham dipandang sebagai pemilik sebagian asset dari perusahaan sesuai dengan kadar saham yang dia miliki. Adapun obligasi dipandang sebagai hutang perusahaan, maka perusahaan berhutang kepada pemilik obligasi tersebut.

Baca Juga: Rukun Islam

Obligasi

Obligasi memiliki masa jatuh tempo untuk pelunsan hutang, adapun saham tidak memiliki kecuali ketika perusahaan tersebut dinyatakan dilikuidasi.
Keuntungan ataupun kerugian pemilik saham tergantung dari prestasi perusahaan tersebut, tidak ada batasan khusus bagi keuntungan perusahaan, terkadang untung dengan keuntungan yang besar, dan terkadang rugi dengan kerugian yang besar. Pemilik saham sama-sama mengambil bagian dalam untung atau ruginya perusahaan. Terkadang mereka mendapatkan keuntungan yang besar ketika perusahaan mendapatkan laba yang besar. Dan terkadang pula mereka rugi ketika perusahaan itu jatuh. Masing-masing mereka menanggung bagian untung atau rugi.

Adapun pemilik obligasi dia memiliki bunga tetap yang dijamin ketika peminjaman, yang dapat dilihat dari surat obligasinya, bunga tersebut tidak bertambah dan tidak berkurang. serta tudak menggambarkan adanya kerugian. Apabila mereka misalnya meminjamkan (membeli obligasi) seharga 3 Junaih (ukuran mata uang mesir) bagi setiap 100 junaih. Kemudian perusahaan itu untung 10 junaih bagi setiap 100 junaih, maka mereka tidak akan mendapatkan lebih dari bunga yang telah ditetapkan baginya. Sedangkan bagi pemilik saham mereka akan mendapatkan 10 junaih dari setiap 100 junaih. Dan begitupun sebaliknya jika perusahaan itu jatuh dan rugi maka para pemilik obligasi akan tetap mendapatkan bunga yang telah ditetapkan baginya, disaat para pemikik saham tidak mendapatkan sedikitpun kuntungan bahkan mereka menanggung beban kerugian.
Ketika perusahaan dilikuidasi, maka kedudukan tertinggi ada pada pemegang obligasi karena dia merepresentasikan hutang perusahaan. Pemegang saham tidak memiliki hak atas harta perusahaan kecuali setelah ditunaikan semua hutang perusahaan. Bagi pemegang obligasi berhak untuk menuntut pengumuman kerugian perusahaan ketika perusahaan tersebut tidak bisa menunaikan kewajibannya (pailit).

Hukum Jual Beli Saham ada dua macam

Saham pada perusahaan yang haram atau dari penghasilannya haram seperti dari bank-bank yang bermuamalah dengan riba atau perusahaan-perusahaan judi atau tempat-tempat keji, maka jual beli saham ini adalah haram, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala jika mengharamkan sesuatu, mengharamkan pula harganya, disamping itu dengan membeli sahamnya berarti dia telah melakukan kerjasama dalam perbuatan dosa, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Dan janganlah kalian tolong menolong dalam dosa dan permusuhan” (QS: Al Maidah: 2)

Saham pada perusahaan yang mubah seperti perusahaan-perusahaan dagang yang mubah atau perusahaan industri yang mubah, maka yang seperti ini dibolehkan menanam saham padanya, bekerja sama dengannya serta jual beli sahamnya, jika memang perusahaan tersebut telah diketahui dan dikenal serta tidak ada penipuan dan ketidaktentuan yang berlebihan padanya, karena saham itu adalah sebagian dari modal yang akan kembali kepada pemodalnya dengan keuntungan dari hasil perniagaan atau perindustrian, maka saham seperti ini adalah halal tanpa ada keraguan padanya.

Penjelasan Puasa Bulan Rajab

Penjelasan Puasa Bulan Rajab

Penjelasan Puasa Bulan Rajab

Bulan Rajab

Ketika langit dan bumi diciptakan, Allah telah mencatat di dalam lauhul mahfudz bahwa dalam setahun ada dua belas bulan. Di anatara dua belas bulan tersebut ada empat bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT, yaitu bulan Dzul Qa’dah, bulan Dzul Hijjah, bulan Muharram, dan bulan rajab . Memuliakan bulan-bulan tersebut adalah termasuk menegakkan agama, karenanya tidak boleh melakukan maksiat di bulan-bulan tersebut, juga bulan yang lain, malah supaya meningkatkan amalan bulan rajab yaitu dengan memperbanyak puasa, taubat dan dzikir kepada Allah SWT.

Selain bulan Ramadlan, Rasulullah SAW sering menjalankan puasa sunnah dalam bulan Sya’ban dan bulan Rajab. Puasa bulan Rajab dan bulan-bulan yang termasuk Asyhurul Hurum hukumnya sunnah muakkad. Dalam hadits disebutkan,
“Puasa dihari pertama bulan Rajab menghapuskan dosa tiga tahun, (berpuasa) dihari kedua menghapuskan dosa dua tahun, (berpuasa) dihari ketiga menghapuskan dosa satu tahun, kemudian berpuasa pada tiap harinya bulan Rajab menghapuskan dosa satu bulan”.

Sebuah Hadits (dlo’if) menyatakan, “Barang siapa yang berpuasa di bulan Rajab satu hari sama nilainya dia berpuasa sebulan penuh”.

Keutamaan Bulan Rajab

Tentang keutamaan bulan rajab , mengutip hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, bahwa semua manusia besok pada hari akhir (kiamat) akan merasakan lapar yang teramat sangat, kecuali 4 golongan, yaitu :
1.Para Nabi dan keluarganya;
2.Orang yang berpuasa di bulan Rajab;
3.Orang yang berpuasa di bulan Sya’ban;
4.Orang yang berpuasa di bulan Ramadlan.

Keempat golongan tersebut tidak merasakan lapar dan dahaga di hari kiamat. Sesungguhnya Rajab adalah bulan Allah yang disebut dengan bulan Al-Ashom (yang tuli). Barang siapa yang berpuasa sehari dalam bulan Rajab dengan iman dan hanya mengharap ridlo Allah semata, maka insya Allah dia akan memperoleh ridlo Alloh SWT.

Dan barang siapa menjalankan puasa dua hari, maka tak ada makhluk langit maupun bumi yang dapat mensifati kebesaran karomah yang dia miliki. Dan barang siapa menjalankan puasa tiga hari, maka akan diselamatkan dari musibah didunia maupun di akhirat, dan akan diselamatkan dari berbagai penyakit dan fitnahnya Dajjal.

Manfaat Puasa Rajab

Begitu besar nilai puasa di bulan rajab , semakin sering berpuasa di bulan Rajab maka semakin tinggi derajatnya disisi Alloh.
Dan tentang manfaat puasa rajab , dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, Imam Ghozali meriwayatkan;
“Barang siapa berpuasa tiga hari dalam bulan Haram (bulan yang dimuliakan), yaitu hari Kamis, Jum’at dan Sabtu, maka Alloh SWT mencatat ibadah tujuh ratus tahun baginya”.

Keistimewaan Bulan Rajab

Temasuk keistimewaan bulan rajab adalah sebuah hadits riwayat al-Thabrani dari Sa’id bin Rasyid, “Barangsiapa puasa sehari di bulan Rajab maka laksana ia puasa setahun, bila puasa 7 hari maka ditutuplah untuknya pintu-pintu neraka Jahanam, bila puasa 8 hari dibukakan untuknya 8 pintu surga, bila puasa 10 hari Allah akan mengabulkan semua permintaannya”.

“Sesugguhnya di surga terdapat sungai yang dinamakan Rajab, airnya lebih putih daripada susu dan rasanya lebih manis dari madu. Barangsiapa puasa sehari pada bulan Rajab, maka ia akan dikaruniai minum dari sungai tersebut “.

Riwayat (secara mursal) Abul Fath dari al-Hasan, Nabi SAW bersabda : “Rajab itu bulannya Allah, Sya’ban bulanku, dan Ramadhan bulannya umatku”.

Adapun tentang keutamaan bulan Rajab secara khusus, kebanyakan ulama mengatakan bahwa dasarnya sangat lemah, bahkan boleh dikatakan tidak ada keterangan yang kuat yang mendasarinya dari sabda Rasulullah SAW.

Demikian artikel tentang puasa bulan rajab , semoga bermanfaat. Amiin.

Baca Juga: 

Pengertian Ijtihad Bahasan Lengkap

Pengertian Ijtihad

Pengertian Ijtihad Bahasan Lengkap

Pengertian Ijtihad
Pengertian Ijtihad

Proses Ijtihad

Proses ijtihad sudah ada sejak Rasulullah SAW masih hidup. Beliau pernah mengutus sahabat Mu’adz bin Jabal r.a. ke negeri Yaman untuk menyebarkan agama Islam. Ketika sahabat Mu’adz menghadap Rasulullah SAW, beliau menanyakan kepadanya tentang urutan dalam pengambilan keputusan:
“Diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal RA bahwa pada saat Rasulullah SAW mengutusnya ke negeri Yaman, beliau bertanya, “Bagaimana cara kamu memutuskan suatu persoalan jika disodorkan kepadamu sebuah masalah?” Dia menjawab, “Saya memutuskan dengan Kitab Allah.” Nabi SAW bertanya,”jika kamu tidak menemukan di dalam Kitabullah?” Muadz menjawab,”Maka dengan sunnah Rasulullah SAW.” Nabi SAW bertanya, “jika kamu tidak menemukan di dalam sunnah? ” Dia menjawab, “Saya melakukan ijtihad dan tidak bertindak sewenang-wenang”. Lalu Muadz berkata,”Maka Rasulullah SAW menepuk dadanya danhersabda, “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan petunjuk kepada utusan Rasulullah dengan apa yang telah diridhai Rasulullah SAW .” (Sunan al-Darimi, [168])

Ijtihad mendapat legalitas (pengakuan) dalam Islam, bahkan dianjurkan. Banyak ayat al-Qur’an dan al-Hadits yang menyinggung urgensitas ijtihad. Apapun hasilnya, ijtihad merupakan kegiatan yang terpuji. Dalam sebuah Hadits dijelaskan:
“Diriwayatkan dari ‘Amr bin al-‘Ash, bahwa dia mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seorang hakim memutuskan perkara lalu ia melakukan ijtihad, kemudian ijtihadnya benar, maka ia memperoleh dua pahala (pahala ijtihad dan pahala kebenarannya). Jika hakim memutuskan suatu perkara lalu berijtihad dan hasilnya salah, maka baginya satu pahala (pahala ijtihadnya)” (Musnad Ahmad bin Hanbal, [17148])

Dari Hadits ini, secara implisit dijelaskan bahwa hasil ijtihad bisa benar dan bisa salah. Tapi keduanya mendapatkan pahala dari Allah SWT. Oleh sebab itu, perbedaan hasil ijtihad dari masing-masing imam mujtahid (yang melakukan ijtihad) adalah sebagai rahmat. Bukan dijadikan ajang untuk berselisih dan menghancurkan persatuan umat Islam.

Prof. KH. Saifuddin Zuhri menjelaskan bahwa redaksi Hadits tersebut menggunakan kata al-hakim (seorang ahli hukum), bukan kata al-rajul (seseorang secara umum). Hal ini menunjukkan bahwa yang mendapat kewenangan untuk melakukan ijtihad adalah seorang ahli hukum. Dengan kata lain, jadilah ahli hukum terlebih dahulu, baru melakukan pekerjaan ijtihad. Bukan sebaliknya, berijtihad terlebih dahulu, baru menamakan dirinya ahli hukum. (Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia, 162).

Maka sungguh ironis, orang yang hanya bisa memahami al-Qur’an dan al-Hadits dari terjemahannya, sedangkan dia tidak menguasai bahasa Arab dengan baik, sudah merasa mampu berijtihad. Padahal sebenarnya, tanpa disadari dia sedang ber- taqlid buta kepada penterjemahbuku tersebut, karena tidak bisa mengoreksi dan mengkritisi hasil terjemahan tersebut, apakah benar ataukah salah.

Ijtihad yang dimaksud adalah mencurahkan segala upaya (daya pikir) secara maksimal untuk menemukan hukum Tuhan tentang sesuatu yang belum jelas di dalam al-Qur’an dan al-Hadits dengan menggunakan dalil-dalil umum (prinsip- prinsip dasar agama) yang ada dalam al-Qur’an, al-Hadits, Ijma’, Qiyas serta dalil yang lainnya. Sebagaimana dikemukakan oleh Imam Suyuthi:
“Ijtihad adalah usaha seorang faqih (seorang ahli fiqh) untuk menghasilkan hukum yang bersifat zhanni (intrepretatif). (Al-Kawkab al-Sathi’ fi Nazhm Jam’ al-J awami’, Juz II, hal 479).

Adalah Muhammad Abu Zahrah, seorang pakar Fiqh kontemporer asal Mesir, menyatakanbahwa ijtihad bukan sekedar mengerahkan kemampuan untuk menghasilkan sebuahproduk hukum. Namun lebih dari itu, ijtihad juga diartikan sebagai upaya untuk menerapkan hukum tersebut agar dapat diamalkan oleh masyarakat. Yakni terkait dengan kiat-kiat apa yang harus dilakukan agar produk hukum yang telah dihasilkan tersebut dapat diterima serta diamalkan oleh seluruh masyarakat. (Lihat Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh, hal 379).

Contoh Ijtihad

Contoh Ijtidah pada masa sahabat:

1.Memerangi Orang-Orang Yang Menolak Membayar Zakat

Ketika Nabi wafat dan Abu Bakr diangkat sebagai khalifah, banyak persoalan muncul. Diantaranya yang dianggap besar adalah orang-orang yang menolak membayar zakat pada khalifah. Penolakan mereka itu punya implikasi politik yakni tidak mengakui kesinambungan dan peralihan kepemimpinan Nabi kepada Abu> Bakr. Munculnya gagasan memerangi dan memperlakukan mereka sebagaimana orang-orang murtad ditolak ‘Umar. Ia menolak mengekskusi mereka karena tidak mungkin membunuh orang yang nyata-nyata bersahadat berdasarkan Hadis ‘umirtu annla ‘uqatil al-naas hattaa yaquuluu Laa ila illa Allaah .

Dalam pandangan Abu Bakr membiarkan penolakan mereka berarti membiarkan rongrongan pada legalitas kepemimpinannya yang berarti kesatuan umat terancam. Karena Abu Bakr melihat zakat bukan sekedar ibadah yang cukup dilaksanakan dengan tanggungjawab secara vertikal saja, ia melihatnya sabagai urusan publik. Oleh karena harus ada otoritas yang menangani, karena zakat adalah salah satu sumber keuangan publik sekaligus sebagai jalan pembelanjaan publik yang memiliki ciri yang khas.

Tugas pemerintahan Abu Bakr dalam kaitan zakat ini adalah menjaga keadilan distribusi kekayaan. Ini dapat dilihat dalam prakteknya bahwa yang diperangai Abu Bakr adalah orang-orang yang menolak membayar zakat harta dahir yaitu zakat mawashi (perternakan), tidak harta yang tersembunyi seperti emas dan perak. Dengan demikian jelaslah bahwa pertimbangan perang ini lebih bersifat politis.

‘Umar yang pada awalnya menolak, akhirnya menerima argumentasi Abu Bakr. Karena ia melihat sikap dan tindakan Abu Bakr ini sangat dipengaruhi situasi umat dan stabilitas yang tidak kondusif setelah ditinggalkan oleh Nabi, bukan sekedar pertimbangan teologis semata. Jadi setiap bentuk penyimpangan akan sangat besar pengaruhnya terhadap keutuhan politik umat. Untuk itu, demi menjaga stabilitas, sikap Abu Bakr menjadi sangat tegas dan tidak kompromi.

2. Pengumpulan al-Qur’an Dalam Satu Mushaf

Gagasan ini merupakan masukan ‘Umar. Pada mula Abu Bakr menolak, namun akhirnya ‘Umar dapat meyakinkannya sehingga ia memutuskan untuk melakukan jam’u al-Qur’an fi mushaaf waahid, karena dirasakannya manfaat yang besar dan kerugian yang besar bila tidak dilakukan. Hal itu setelah disadari bahwa hafalan yang terkuat lebih rendah dari tinta terlemah untuk menjaga otentisitas dan keutuhan kitab suci setelah banyak para huffadz yang terbunuh dalam peperangan. Disamping itu, pengumpulan al-Qur’an dalam satu mushaf berfungsi sebagai penjagaan di dalam menghindari kemungkinan adanya penyelewengan, perbedaan dan lain-lain yang dapat mengurangi kesakralan al-Qur’an sebagai kitab suci.

Demikian sedikit uraian tentang pengertian ijtihad dan contoh ijtihad yang dapat kami utarakan, semoga bermanfaat. Amiin.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/doa-sholat-dhuha-niat-dan-tata-caranya/

Pengertian Haji Lengkap

Pengertian Haji Lengkap

Pengertian Haji Lengkap

Pengertian Haji Lengkap
Pengertian Haji Lengkap

Pengertian Haji

Secara lughawi, haji berarti menyengaja atau menuju dan mengunjungi. Menurut etimologi bahasa Arab, kata haji mempunyai arti qashd, yakni tujuan, maksud, dan menyengaja.

Menurut istilah syara’, haji ialah menuju ke Baitullah dan tempat-tempat tertentu untuk melaksanakan amalan-amalan ibadah tertentu pula. Dan yang dimaksud dengan temat-tempat tertentu dalam definisi diatas, selain Ka’bah dan Mas’a (tempat sa’i), juga Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Sedangkan yang dimaksud dengan waktu tertentu ialah bulan-bulan haji yang dimulai dari Syawal sampai sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Adapun amal ibadah tertentu ialah thawaf, sa’i, wukuf, mabit di Muzdalifah, melontar jumrah, mabit di Mina, dan lain-lain.

Termasuk hikmah haji adalah bahwa ibadah haji merupakan satu diantara ibadah maliah dan badaniah. Oleh sebab itu, yang berkewajiban melaksanakan hanya orang-orang tertentu saja. Dalam kitab Tanwirul Qulub, Imam Ahmad dan yang lain meriwayatkan;

“Wahai manusia, Alloh telah mewajibkan haji atas kalian semua, maka berhajilah. Barang siapa melakukan haji karena Alloh, kemudian tidak berkata kotor dan berbuat fasiq, maka dia keluar dari dosa-dosanya sebagaimana hari dia dilahirkan oleh ibunya. Ibadah umroh terhadap umroh (yang lain) adalah penebus dosa diantara keduanya. Dan haji mabrur tiada balasan untuknya kecuali syurga”.

Syarat Ibadah Haji

Adaun syarat-syarat ibadah haji adalah : Islam, baligh, berakal, merdeka, istitho’ah (mampu / kuasa). Yang dimaksud istitho’ah atau mampu pergi haji adalah :
Sehat (tidak dalam kondisi sakit atau tua renta).
Mempunyai biaya untuk berangkat, selama dalam perjalanan, selama bermukim di Makkah, pulang ke tanah air, dan nafkah untuk keluarga selama ditinggal pergi haji (bagi yang mempunyai tanggungan keluarga).
Ada sarana transportasi. Dalam situasi aman. Artinya, mempunyai persangkaan kuat bahwa selama dalam perjalanan tidak ada bahaya terhadap jiwa, harta atau kehormatannya. Masih ada waktu yang cukup untuk melaksanakan rangkaian ibadah haji. Bagi wanita ditambah syarat, tidak sedang dalam masa iddah dan pergi hajinya disertai suami atau mahromnya. Dan jika tidak ada suami atau mahrom yang mengiringinya, maka boleh bersamaan dengan para wanita yang mempunyai sifat adil.

Dan barang siapa telah menetapi syarat wajib haji namun tidak segera berangkat haji, sehingga meninggal dunia, maka wajib dihajikan dengan metode mewakilkan (jika mempunyai tirkah). Dan jika tidak mempunyai harta tinggalan, maka bagi ahli waris sunnah untuk menghajikannya.

Rukun Haji

Sedangkan rukun haji adalah kegiatan yang harus dilakukan dalam ibadah haji yang jika tidak dikerjakan maka hajinya tidak sah. Adapun yang termasuk rukun haji adalah :

1. Ihram

Ihram adalah mengenakan pakaian ihram di miqat makani dengan niat untuk haji atau umrah. Ihram adalah niat memasuki manasik (upacara ibadah haji) haji dan umrah, atau mengerjakan keduanya dengan menggunakan pakaian ihram, serta meninggalkan beberapa larangan yang biasanya dihalalkan. Sebaiknya, ihram atau niat beribadah haji dirangkai dengan membaca talbiyah, yaitu:

Bagi laki-laki harus mengenakan pakaian ihram, yaitu pakaian yang terdiri atas 2 lembar kain yang tidak dijahit, yang satu lembar disarungkan untuk menutupi aurat antara pusar hingga lutut, yang satu lembar lagi diselendangkan untuk menutupi tubuh bagian atas. Kedua lembar kain disunahkan berwarna putih, dan tidak boleh berwarna merah atau kuning.

2. Wuquf

Yaitu hadir atau diam walau sesaat ditanah ‘Arafah. Waktunya wuquf adalah sejak tergelincirnya matahari pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai terbitnya fajar pada tanggal 10 Dzulhijjah. Setelah shalat Subuh tanggal 9 Zulhijjah, jamaah haji berangkat dari Mina ke Arafah sambil menyerukan Talbiyah. Selama wuquf di Arafah, para jamaah haji menghabiskan/mengisi waktunya untuk memahasucikan Allah dengan meneriakan talbiyah, berzikir dan berdo’a.

3. Thowaf Ifadloh

Thowaf adalah mengelilingi Ka’bah tujuh kali dengan syarat dan metode tertentu. Sedangkan thowaf ifadloh adalah mengelilingi Ka’bah tujuh kali setelah pertengahan malam tanggal 10 Dzulhijjah.

4. Sa’i

Sa’i adalah perjalanan bolak balik tujuh kali antara bukit Shofa dan Marwah. Sa’i boleh dikerjakan dengan berjalan biasa, berjalan cepat, berlari kecil atau berlari cepat.

5. Tahallul (memotong rambut)

Yaitu bercukur atau menggunting rambut sesudah selesai melaksanakan Sa’i. Setelah melontar jumrah ‘aqabah, jamaah kemudian bertahallul (keluar dari keadaan ihram), yakni dengan cara mencukur atau memotong rambut kepala, paling sedikit tiga helai rambut. Laki-laki disunnahkan mencukur habis rambutnya (halqu) dan wanita disunnahkan mencukur ujung rambut (taqshir) sepanjang jari. Dan untuk orang-orang yang berkepala botak (tidak mempunyai rambut) dapat bertahallul secara simbolis saja, yaitu menggerakkan alat cukur diatas kepalanya layaknya orang yang mencukur rambut. Setelah melaksanakan tahallul, perkara yang sebelumnya dilarang sekarang dihalalkan kembali, kecuali menggauli istri sebelum melakukan thawaf ifadah.

6. Tartib

Semua rukun ibadah haji harus dikerjakan secara berurutan, yaitu; pertama, ihram atau niat masuk dalam ibadah haji. Kemudian wuquf di ‘Arafah, kemudian thawaf, kemudian memotong rambut, dan terahir sa’i. Atau ihram, wuquf, thowaf, sa’i dan terahir memotong rambut.

Demikian uraian tentang pengertian haji dan rukun haji mudah-mudahan bermanfaat. Amiin.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/niat-sholat-fardhu/