Macam-macam Puasa Sunnah

Macam-macam Puasa Sunnah

Macam-macam Puasa Sunnah
Macam-macam Puasa Sunnah

Adapun macam macam puasa yang disunnahkan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam berdasarkan dalil yang shahih adalah sebagai berikut:

1. Puasa Hari Arafah

Puasa arafah di sunnahkan bagi selain orang yang berhaji yang dilaksanakan tanggal 9 Dzulhijjah, karena Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
“Puasa hari arafah itu menghapus dosa dua tahun, setahun yang silam dan setahun yang akan datang. Dan puasa asyura itu menghapus dosa setahun sebelumnya.” (HR Muslim).

2. Puasa Tasu’a dan Puasa Asyura

Yaitu puasa yang di laksanakan pada tanggal 9 & 10 muharram. Berdasarkan hadits:
“… jika sampai pada tahun depan Insya Allah kita puasa Tasu’a

3. Puasa 6 Hari di Bulan Syawal

Berdasarkan Sabda Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam:
“Barangsiapa berpuasa di bulan ramadhan dan meneruskannya dengan (puasa) enam hari di bulan syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun.” (HR Muslim)

4. Memperbanyak Puasa di bulan Sya’ban

Berdasarkan dalil dari aisyah .
Dari Aisyah Radhiyallaahu ‘anha, dia berkata. “Aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menyempurnakan puasa sebulan penuh kecuali pada bulan ramadhan. Dan aku tidak pernah melihat Beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memperbanyak puasa di bulan-bulan lain seperti sya’ban.” (HR Bukhari-Muslim)

5. Memperbanyak Puasa Dibulan Muharram

Berdasarkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallaahu ‘anhu bahwa RasulullahShallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :
“Puasa yang paling utama setelah bulan ramadhan adalah bulan Allah Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam.”(HR Muslim, Abu Daud, Tirmidzi & Nasa’i)

6. Puasa Setiap Hari Senin Dan Kamis

Dari Usamah bin Zaid berkata. Sesungguhnya Nabiyullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam puasa pada hari senin dan kamis dan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallampernah ditanya perihal puasa itu. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:“Sesungguhnya segala awal seluruh hamba dipaparkan pada hari senin dan kamis.”(HR. Abu Daud)

7. Puasa Tiga Hari Setiap Pertengahan Bulan

Dari Abdullah bin Amr berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa SallamBersabda: “Berpuasalah tiga hari pada setiap bulan, karena sesungguhnya kebaikan di kalikan sepuluh, sehingga puasa itu (puasa 3 hari) sama dengan puasa satu tahun penuh.” (HR Bukhari – Muslim)
Juga hadits dari Abu Dzar, dia berkata. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa SallamBersabda : “Wahai Abu Dzar jika engkau berpuasa tiga hari dari setiap bulan, maka berpuasalah tanggal tiga belas, empat belas, dan lima belas.” (HR. Tirmidzi dan Nasa’i)

8. Puasa Nabiyullah Dawud

Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam
“Puasa yang paling di sukai di sisi Allah adalah puasa Dawud, yaitu berpuasa sehari dan berbuka sehari.” (HR Muslim, Nasa’i dan Ibnu Majjah)

Baca Juga:

Rukun Puasa

Rukun Puasa

Rukun Puasa
Rukun Puasa

a. Niat

Niat adalah keinginan dalam hati untuk berpuasa karena ingin menjalankan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mendekat kepada-Nya. Hal ini berdasarkan Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Dan tidaklah mereka di perintah kecualii supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan Kepada-Nya (dalam menjalakan) agama yang lurus.”(QS-Al Bayinah 5).

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “sesungguhnya segala amal tergantung pada niat dan sesungguhnya setiap orang hanya akann mendapat apa yang tlah diniatkan.” ( HR Bukhari , Muslim, Trmidzi, Ibnu Majah & Nasa’i).

Jika melaksanakan puasa wajib, maka niat wajib dilakukan pada waktu sebelum fajar. Berdasarkan sabda Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam :
“Dari Hafshah, telah Bersabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam: Barang siapa yang nenetapkan niat puasa sebelum fajar, maka tiada puasa baginya.” (HR Tirmidzi & Nasa’i)

Adapun jika melaksanakan puasa sunnah, maka sah berniat setelah terbit fajar dan matahari telah meninggi. Dengan syarat belum memakan apapun. Berdasarkan dalil dari Aisyah Radhiyallaahu ‘anha.

“Aisyah Radhiyallaahu ‘anha berkata bahwa suatu hari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam ke rumah, kemudian bersabda : “Apakah engkau mempunyai makanan?” Aku menjawab “Tidak” Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda“kalau begitu Aku puasa.” ( HR Muslim).

b. Menahan Diri

Yaitu menahan diri dari hal – hal yang membatalkan puasa seperti: makan, minum dan hubungan suami istri dari terbit fajar sampai terbenam matahari.
Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“…. maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah di tetapkan Allah untukmu dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai datang malam….” (QS Al-Baqarah 187)

Baca Juga: Ayat Kursi

Batas Menahan Diri

Batas awal waktu menahan diri adalalah setelah fajar, berdasarkan dalil sbb:
Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “makan dan minumlah sampai Ibnu Umu Maktum menyeru. Sesungguhnya dia tidak menyeru hingga terbit fajar.” (HR Bukhari dan Ibnu Majah)

Adapun bagi mereka yang mengatakan batas imsak adalah sebelum fajar hanya sebagai tindakan kehati-hatian.

Sedangkan batas akhir waktu menahan diri adalah datangnya waktu malam (terbenam matahari). Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“… Lalu sempurnakan puasa puasa hingga tiba waktu malam…” (QS Al-Baqarah 187).

Pengertian dan Hukum Puasa

Pengertian dan Hukum Puasa

 

Pengertian, Hukum dan Fardhunya Puasa
Pengertian, Hukum dan Fardhunya Puasa

1. Definisi

Puasa menurut bahasa adalah menahan. Sedangkan menurut istilah / syari’at adalah menahan dengan niat ibadah dari makanan, minuman, hubungan suami istri dan semua hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar sampai terbenam matahari.

2. Hukum Puasa

Ditinjau dari hukumnya puasa terbagi menjadi puasa wajib dan puasa sunnah. Puasa wajib adalah puasa yang dilaksanakan pada bulan ramadhan. Yang merupakan salah satu dari rukun islam dan salah satu fardhu dari sekian banyak fardhu.

Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
“Hai orang-orang yang beriman telah diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang – orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.”( QS Al Baqarah 183).

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan ramadhan yang di dalamnya diturunkan Al Qur’an sebaga’i petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda ( antara yang haq dan yang bathil). Karena itu barang siapa diantara kamu ada di bulan itu , maka berpuasalah. Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa ) maka (wajib menggantinya, sebanyak hari yang di tinggalkannya itu, pada hari – hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangan dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang di berikan kepadamu, agar kamu bersyukur.” ( QS Al Baqarah 184-185).

Baca Juga: Sayyidul Istigfar

Hadits

Hal ini juga dijelaskan oleh hadist berikut, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا
بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ
وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

Dari Ibnu Umar Radhiyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “ Islam di tegakan diatas lima perkara, bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, Mendirikan Shalat, mengeluarkan zakat, mengerjakan haji ke Baitullah dan berpuasa di bulan Ramadhan.”(HR Bukhari-Muslim).
Adapun puasa sunnah adalah puasa yang dilaksanakan di luar bulan ramadhan di hari-hari yang telah di contohkan Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasalam yang insyaAllah akan dipaparkan di depan.

Kisah Nyata Penggali Kubur Yang Melihat Azab Nyata Orang-orang Yang Meninggal, Mengerikan!

Kisah Nyata Penggali Kubur Yang Melihat Azab Nyata Orang-orang Yang Meninggal, Mengerikan!

Kisah Nyata Penggali Kubur Yang Melihat Azab Nyata Orang-orang Yang Meninggal, Mengerikan!
Kisah Nyata Penggali Kubur Yang Melihat Azab Nyata Orang-orang Yang Meninggal, Mengerikan!

Terdapat seorang pemuda yang kerjanya adalah menggali kubur dan mencuri kain kafan untuk dijual. Pada suatu hari, pemuda tersebut berjumpa dengan seorang alim/ahli ibadah untuk menyatakan kekesalannya dan keinginan untuk bertaubat kepada Allah SWT.

Dia berkata, “Sepanjang aku menggali kubur untuk mencuri kain kafan, aku telah melihat 7 perkara ganjil yang menimpa mayat-mayat tersebut. Lantaran aku merasa sangat insaf atas perbuatanku yang sangat keji itu dan ingin sekali bertaubat.”

Yang pertama, “aku lihat mayat yang pada siang harinya menghadap kiblat. Tetapi apabila aku menggali semula kuburnya pada waktu malam, aku lihat wajahnya telahpun membelakangkan kiblat. Mengapa terjadi begitu, wahai tuan guru?” tanya pemuda itu.

“Wahai anak muda, mereka itulah golongan yang telah mensyirikkan Allah SWT sewaktu hidupnya. Lantaran Allah SWT menghinakan mereka dengan memalingkan wajah mereka dari mengadap kiblat, bagi membedakan mereka daripada golongan muslim yang lain,” jawab ahli ibadah tersebut.

Sambung pemuda itu lagi, “Golongan yang kedua, aku lihat wajah mereka sangat elok semasa mereka dimasukkan ke dalam liang lahat. Tatkala malam hari ketika aku menggali kubur mereka, aku melihat wajah mereka telah berubah menjadi ****. Mengapa begitu halnya, wahai tuan guru?”

Jawab ahli ibadah tersebut, “Wahai anak muda, mereka itulah golongan yang meremehkan dan meninggalkan solat sewaktu hidupnya. Sesungguhnya solat merupakan amalan yang pertama sekali dihisab. Jika shalatnya sempurna, maka sempurnalah amalan-amalan kita yang lain,”

Pemuda itu menyambung lagi, “Wahai tuan guru, golongan yang ketiga yang aku lihat, pada waktu siang mayatnya kelihatan seperti biasa saja. Apabila aku menggali kubur nya pada waktu malam, ku lihat perutnya terlalu gelembung, keluar pula ulat yang terlalu banyak daripada perutnya itu.”

Jawab ahli ibadah tersebut “Mereka itulah golongan yang gemar memakan harta yang haram, wahai anak muda,” balas ahli ibadah itu lagi.

Golongan keempat, ku lihat mayat yang jasadnya bertukar menjadi batu bulat yang hitam warnanya. Mengapa terjadi begitu, wahai tuan guru?”

Jawab ahli ibadah itu, “Wahai pemuda, itulah golongan manusia yang derhaka kepada kedua ibu bapanya sewaktu hayatnya. Sesungguhnya Allah SWT sama sekali tidak redha kepada manusia yang menderhakai ibu bapanya.”

“Ku lihat ada pula mayat yang kukunya amat panjang, hingga membelit-belit seluruh tubuhnya dan keluar segala isi dari tubuh badannya,” sambung pemuda itu.

“Anak muda, mereka itulah golongan yang gemar memutuskan silaturrahim. Semasa hidupnya mereka suka memulakan pertengkaran dan tidak bertegur sapa lebih daripada 3 hari. Bukankah Rasulullah SAW pernah bersabda, bahawa sesiapa yang tidak bertegur sapa melebihi 3 hari bukanlah termasuk dalam golongan umat baginda,” jelas ahli ibadah tersebut.

“Wahai guru, golongan yang keenam yang aku lihat, sewaktu siangnya lahatnya kering kontang. Tatkala malam ketika aku menggali semula kubur itu, ku lihat mayat tersebut terapung dan lahadnya dipenuhi air hitam yang amat busuk baunya,”

“Wahai pemuda, itulah golongan yang memakan harta riba sewaktu hayatnya,” jawab ahli ibadah tadi.

“Wahai guru, golongan yang terakhir yang aku lihat, mayatnya sentiasa tersenyum dan berseri-seri pula wajahnya. Mengapa demikian halnya wahai tuan guru?” tanya pemuda itu lagi.

Jawab ahli ibadah tersebut, “Wahai pemuda, mereka itulah golongan manusia yang berilmu. Dan mereka beramal pula dengan ilmunya sewaktu hayat mereka.

Inilah golongan yang beroleh keredhaan dan kemuliaan di sisi Allah SWT baik sewaktu hayatnya mahupun sesudah matinya. Ingatlah, sesungguhnya daripada Allah kita datang dan kepada-Nya jualah kita akan kembali. Kita akan di pertanggungjawabkan atas setiap amal yang kita lakukan, hatta walaupun amalan sebesar zarah.

Setelah Anda membaca kisah ini. Sampaikan atau hantarkan kepada sahabat dan rakan-rakan anda. Mudah-mudahan amalan baik yang sedikit ini diambil kira oleh Allah Taala di Akhirat kelak. Aamiin.

Baca Juga:

Dalil-dalil Yang Berhubungan Dengan Shalat Tarawih

Dalil-dalil Yang Berhubungan Dengan Shalat Tarawih

Dalil-dalil Yang Berhubungan Dengan Shalat Tarawih
Dalil-dalil Yang Berhubungan Dengan Shalat Tarawih

(Muttafaqun ‘alaih)

“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pada suatu malam salat di masjid lalu para sahabat mengikuti salat Beliau, kemudian pada malam berikutnya (malam kedua) Beliau salat maka manusia semakin banyak (yang mengikuti salat Nabi n), kemudian mereka berkumpul pada malam ketiga atau malam keempat. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak keluar pada mereka, lalu ketika pagi harinya Beliau bersabda: ‘Sungguh aku telah melihat apa yang telah kalian lakukan, dan tidaklah ada yang mencegahku keluar kepada kalian kecuali sesungguhnya aku khawatir akan diwajibkan pada kalian,’ dan (peristiwa) itu terjadi di bulan Ramadan.”

Baca Juga: Kalimat Syahadat

(Hadits Riwayat Thabrani dan Ibnu Nashr)

“Artinya : Dari Jabir bin Abdullah radyillahu ‘anhum, ia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah salat bersama kami di bulan Ramadan (sebanyak) delapan raka’at dan witir (satu raka’at). Maka pada hari berikutnya kami berkumpul di masjid dan mengharap beliau keluar (untuk salat), tetapi tidak keluar hingga masuk waktu pagi, kemudian kami masuk kepadanya, lalu kami berkata : Ya Rasulullah ! Tadi malam kami telah berkumpul di masjid dan kami harapkan engkau mau salat bersama kami, maka sabdanya “Sesungguhnya aku khawatir (salat itu) akan diwajibkan atas kamu sekalian”.

“Aku perhatikan salat malam Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, yaitu (Ia) salat dua raka’at yang ringan, kemudian ia salat dua raka’at yang panjang sekali, kemudian salat dua raka’at, dan dua raka’at ini tidak sepanjang dua raka’at sebelumnya, kemudian salat dua raka’at (tidak sepanjang dua raka’at sebelumnya), kemudian salat dua raka’at (tidak sepanjang dua raka’at sebelumnya), kemudian salat dua raka’at (tidak sepanjang dua raka’at sebelumnya), kemudian witir satu raka’at, yang demikian adalah 13 raka’at”.Diriwayatkan oleh Malik, Muslim, Abu Awanah, Abu Dawud dan Ibnu Nashr.

[Hadits Shahih Riwayat Bukhari dan Muslim]

“Artinya : Dari Abi Salamah bin Abdurrahman bahwasanya ia bertanya kepada ‘Aisyah radyillahu anha tentang salat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam di bulan Ramadan. Maka ia menjawab ; Tidak pernah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam kerjakan (tathawwu’) di bulan Ramadan dan tidak pula di lainnya lebih dari sebelas raka’at 1) (yaitu) ia salat empat (raka’at) jangan engkau tanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian ia salat empat (raka’at) 2) jangan engkau tanya panjang dan bagusnya kemudian ia salat tiga raka’at”.

Manfaat dan Keutamaan Shalat Tarawih 

Manfaat dan Keutamaan Shalat Tarawih

Manfaat dan Keutamaan Shalat Tarawih 
Manfaat dan Keutamaan Shalat Tarawih

 

Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW dan diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib yang dikutip dari kitab Durratun Nasihin, berikut ini adalah keutamaan dan hikmah shalat Tarawih :

Malam ke 01

Siapa yang shalat Tarawih pada malam pertama dihapus dosa seorang Mu’min seperti ketika ia di lahirkan.
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759).
Malam ke 02 : Shalat Tarawih pada malam kedua di ampuni dosa dirinya dan kedua orang tuanya, jika keduanya Mu’min.
Malam ke 03 : Malaikat berseru dari ‘Arsy ” Telah diangkat amal dan dosanya yang telah lalu dan di ampuni oleh Allah SWT.
Malam ke 04 : Baginya mendapat pahala, seperti pahala membaca Kitab Taurat, Zabur, Injil dan AlQur-an.
Malam ke 05 : Allah SWT memberinya pahala seperti pahala Sholat di Masjidil Haram, Masjid Madinah dan Masjid Aqsho.
Malam ke 06 : Allah SWT memberinya pahala Thawaf di Baitul Makmur dan di mintakan ampun baginya oleh setiap batu benda.
Malam ke 07 : Seumpama pahala yang di peroleh nabi Musa A.S dan penolong dari kejahatan Fir’aun dan Hamman.
Malam ke 08 : Allah SWT memberikannya pahala seperti pahala apa yang diberikan kepada Nabi Ibrohim AS.
Malam ke 09 : Seumpama pahala Ibadah nabi Muhammad SAW.
Malam ke 10 : Allah SWT memberinya Rizki dan kebaikan di dunia dan akhirat.

Malam ke 11

Apabila Ia meninggal dunia, seperti dilahirkan dari Ibunya.
Malam ke 12 : Ia datang pada hari kiamat kelak dengan wajah berseri-seri seperti bulan purnama.
Malam ke 13 : Ia datang pada hari kiamat, selamat dari kejahatan (kejelekan).
Malam ke 14 : Malaikat pada menyaksikan bahwa sesungguhnya orang tersebut telah Sholat Tarawih maka pada hari kiamat kelak Allah SWT tidak akan menghisabnya.

Malam ke 15 Para malaikat bersholawat kepadanya dan menjaga di ‘Arsy dan kursi.
Malam ke 16 : Allah SWT mencatat baginya akan di bebaskan dari api neraka dan masuk surga.
Malam ke 17 : Diberikannya pahala seperti pahala para nabi.
Malam ke 18 : Satu Malaikat berseru : ” Hai Hamba Allah bahwasanya Allah SWT telah meridhoi kamu dan ke dua orang tuamu.
Malam ke 19 : Allah SWT akan mengangkat ke surga firdaus.
Malam ke 20 : Allah SWT memberikan pahala para Syuhada dan orang-orang Sholeh.

Baca Juga: Sifat Allah

Malam ke 21

Allah SWT membuatkan baginya sebuah istana di surga dari cahaya.
Malam ke 22 : Pada hari kiamat nanti, selamat dari kesulitan dan kesusahan.
Malam ke 23 : Allah SWT membangunkan baginya sebuah kota di surga. Malam ke
24 : Dua puluh empat (24) permintaanya di kabulkan oleh Allah SWT.
Malam ke 25 : Allah SWT mengangkatnya dari siksaan kubur.
Malam ke 26 : Allah SWT mengangkatnya baginya pahala empat puluh tahun (40 thn).
Malam ke 27 : Ia akan melewti jembatan Shirotul Mustaqim pada hari kiamat kelak seperti kilat menyambar.
Malam ke 28 : Allah SWT mengangkat baginya seribu (1000) derajat di surga.
Malam ke 29 : Allah SWT memberikan pahala seribu (1000) haji yang makbul.
Malam ke 30 : Allah SWT berfirman : Hai Hambaku, makanlah buah-buahan di dalam surga dan mandilah engkau dengan air Salsabil dan minumlah dari telaga kautsar, Aku tuhanmu dan engkau hamba-Ku.

 

Doa Qunut Nazilah & Terjemahannya

Doa Qunut Nazilah & Terjemahannya

Doa Qunut Nazilah & Terjemahannya
Doa Qunut Nazilah & Terjemahannya

Doa Qunut Nazilah

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ اَللَّهُمَّ الْعَنْ كَفَرَةَ أَهْلَ الْكِتَابِ الَّذِيْنَ يَصُدُّونَ عَنْ سَبِيْلِكَ وَيُكَذِّبُونَ رُسُلَكَ وَيُقَاتِلُونَ أَوْلِيَائ َللَّهُمَّ الْعَنْ كَفَرَةَ أَهْلَ الْكِتَابِ الَّذِيْنَ يَصُدُّونَ عَنْ سَبِيْلِكَ وَيُكَذِّبُونَ رُسُلَكَ وَيُقَاتِلُونَ أَوْلِيَائَ اَللَّهُمَّ خَالِفْ بَيْنَ كَلِمِهِمْ وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ وَأَنْزِلْ بِهِمْ بَأْسَكَ الَّذِيْ لاَ تَرُدُّهُ عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِيْنَ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِيْنُكَ وَنَسْتَغْفِرُكَ وَنُثْنِيْ عَلَيْكَ وَلاَ نَكْفُرُكَ وَنَخْلَعُ وَنَتْرُكُ مَنْ يَفْجُرُكَ اَللَّهُمَّ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَلَكَ نُصَلِّى وَنَسْجُدُ وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ. نَرْجُو رَحْمَتَكَ وَنَخْشَى عَذَابَكَ إِنَّ عَذَابَكَ بِالْكُفَّارِ مُلْحِقٌ

Terjemahan Do’a Qunut Nazilah

Ya Allah Ampunilah kami, kaum mukminin dan mukminat, muslimin dan muslimat. Persatukanlah hati mereka. Perbaikilah hubungan di antara mereka dan menangkanlah mereka atas musuh-Mu dan musuh mereka”
.Ya Allah! Laknatlah orang-orang kafir hebat kitab (yahudi dan nashrani) yang senantiasa menghalangi jalan-Mu, mendustakan rasul-rasul-Mu, dan memerangi wali-wali-Mu.
Ya Allah! Laknatlah orang-orang kafir hebat kitab (yahudi dan nashrani) yang senantiasa menghalangi jalan-Mu, mendustakan rasul-rasul-Mu, dan memerangi wali-wali-Mu.
Ya Allah! Cerai beraikanlah persatuan dan kesatuan mereka. Goyahkanlah langkah-langkah mereka, dan turunkanlah atas mereka siksa-Mu yang tidak akan Engkau jauhkan dari kaum yang berbuat jahat”. melaluiataubersamaini Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Ya Allah! Sesungguhnya spesialuntuk kepada Engkau kami mohon pertolongan, meminta ampunan, dan senantiasa memuji-Mu atas kebaikan yang didiberikan. Kami tidak kufur kepada-Mu, dan kami berlepas diri serta meninggalkan orang-orang yang durhaka kepada-Mu”
.Ya Allah! Hanya kepada Engkau kami diberibadah, spesialuntuk sebab Engkau kami shalat dan sujud, spesialuntuk kepada Engkau pula kami berusaha dan berkhidmat. Kami sangat mengharap rahmat-Mu dan kami pun takut akan siksa-Mu, sebab bergotong-royong siksa-Mu itu tidak akan pernah berkurang atas orang-orang kafir”.

Baca Juga: Ayat Kursi 

Perbedaan dari Qunut Subuh/Witir dengan Qunut Nazilah

Dalam pelaksanaan dari dua do’a qunut tersebut diatas, ada beberapa perbedaannya yaitu

Kalau do’a qunut subuh/witir doanya sesuai yang sudah dilakukan oleh Rasulullah , sedangkan untuk qunut nazilah do’anya sesuai dengan kebutuhan
Do’a qunut subuh/witir dilaksanakan pada waktu sholat subuh atau pada ketika melakukan sholat witir dalam bulan ramadhan pada malam ke 16 keatas. Sedangkan qunut nazilah boleh dilaksanakan dalam sholat 5 waktu

Hukum Mencium Tangan Dan Membongkokkan Badan Ketika Bersalaman

Hukum Mencium Tangan Dan Membongkokkan Badan Ketika Bersalaman

Hukum Mencium Tangan Dan Membongkokkan Badan Ketika Bersalaman
Hukum Mencium Tangan Dan Membongkokkan Badan Ketika Bersalaman

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah

(Wafat: 1420H) mengatakan:

و أما تقبيل اليد ، ففي الباب أحاديث و آثار كثيرة ، يدل مجموعها على ثبوت ذلك
عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فنرى جواز تقبيل يد العالم إذا توفرت الشروط
الآتية :

1 – أن لا يتخذ عادة بحيث يتطبع العالم على مد يده إلى تلامذته ، و يتطبع هؤلاء
على التبرك بذلك ، فإن النبي صلى الله عليه وسلم و إن قبلت يده فإنما كان ذلك
على الندرة ، و ما كان كذلك فلا يجوز أن يجعل سنة مستمرة ، كما هو معلوم من
القواعد الفقهية .

2 – أن لا يدعو ذلك إلى تكبر العالم على غيره ، و رؤيته لنفسه ، كما هو الواقع
مع بعض المشايخ اليوم .

3 – أن لا يؤدي ذلك إلى تعطيل سنة معلومة ، كسنة المصافحة ، فإنها مشروعة بفعله
صلى الله عليه وسلم و قوله ، و هي سبب تساقط ذنوب المتصافحين كما روي في غير ما حديث واحد ، فلا يجوز إلغاؤها من أجل أمر ، أحسن أحواله أنه جائز .

“Berkaitan mencium tangan; dalam soal ini terdapat banyak hadis dan atsar dari kalangan salaf yang secara keseluruhan menunjukkan bahawa hadis tersebut sahih dari Nabi. Oleh sebab itu, kami berpendapat dibolehkan mencium tangan seorang ulama (yang ahli sunnah, bukan ahli bid’ah – pent.) jika memenuhi beberapa syarat berikut ini.

1. Perbuatan mencium tangan tersebut tidak dijadikan sebagai kebiasaan. Sehingga ulama tertentu terbiasa menghulurkan tangannya kepada murid-muridnya. Demikian juga para murid terbiasa mengambil barakah dengan mencium tangan gurunya. Ini kerana Nabi sendiri jarang sekali tangannya dicium oleh para shahabat. Jika demikian maka tidak boleh menjadikannya sebagai kebiasaan yang dilakukan terus-menerus sebagaimana kita ketahui dalam perbahasan kaedah-kaedah fiqh.

2. Perbuatan mencium tangan tersebut tidaklah menyebabkan ulama tersebut merasa sombong dan merasa lebih baik daripada yang lain serta menganggap dirinyalah yang paling hebat berbanding yang lain.

3. Perbuatan mencium tangan tersebut tidak menyebabkan hilangnya sunnah Nabi yang sudah diketahui seperti sunnah bersalaman. Bersalam atau berjabat tangan adalah satu amal yang dianjurkan berdasarkan perbuatan dan sabda Nabi. Bersalaman tangan adalah salah satu sebab gugurnya dosa-dosa orang yang melakukannya sebagaimana terdapat dalam beberapa hadis. Oleh itu, tidak sepatutnya sunnah berjabat tangan ini ditinggalkan kerana mengejar suatu amalan yang hanya berstatus mubah (dibolehkan).” (Silsilah al-Ahaadits ash-Shahihah 1/159, Maktabah Syamilah)

[Kedua] Membongkokkan atau menundukkan badan sebagai penghormatan

Hadis daripada Anas B. Malik radhiyallahu ‘anhu

Kami bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَنْحَنِي بَعْضُنَا لِبَعْضٍ قَالَ لَا قُلْنَا أَيُعَانِقُ بَعْضُنَا بَعْضًا قَالَ لَا وَلَكِنْ تَصَافَحُوا

“Wahai Rasulullah, adakah sebahagian kami boleh membongkokkan (atau menundukkan) badan kepada sebahagian yang lain (yang ditemui)?” Rasulullah bersabda, “Tidak boleh.” Kami bertanya lagi, “Adakah kami boleh berpelukan jika saling bertemu?” Beliau bersabda, “Tidak boleh. Yang benar hendaklah kalian saling bersalaman.” (Sunan Ibnu Majah, no. 3692. Dinilai hasan oleh al-Albani)

Anas B. Malik radhiyallahu ‘anhu berkata

قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ الرَّجُلُ مِنَّا يَلْقَى أَخَاهُ أَوْ صَدِيقَهُ أَيَنْحَنِي لَهُ قَالَ لَا قَالَ أَفَيَلْتَزِمُهُ وَيُقَبِّلُهُ قَالَ لَا قَالَ أَفَيَأْخُذُ بِيَدِهِ وَيُصَافِحُهُ قَالَ نَعَمْ

“Seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, adakah kami boleh saling menundukkan (atau membongkokkan) badan apabila salah seorang dari kami bertemu dengan saudaranya atau sahabatnya?” Rasulullah menjawab, “Tidak.” Lelaki tersebut bertanya lagi, “Adakah boleh mendakapnya (memeluknya) dan menciumnya?” Rasulullah menjawab, “Tidak.” Lelaki itu bertanya lagi, “Adakah boleh mengambil tangannya dan bersalaman dengannya?” Rasulullah menjawab, “Ya.”.” (Sunan at-Tirmidzi, no. 2728. Dinilai hasan oleh at-Tirmidzi dan al-Albani)

Baca Juga:

Larangan Memaki dan Mencerca Berhala

Larangan Memaki dan Mencerca Berhala

Larangan Memaki dan Mencerca Berhala
Larangan Memaki dan Mencerca Berhala

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ

“Dan janganlah kamu memaki cerca ilah-ilah (sesembahan) yang mereka ibadahi selain Allah, kerana nanti mereka akan membalas dengan cara memaki Allah melampau-lampau pula tanpa ilmu.” (Surah al-An’aam, 6: 108)

Faedah Tafsir

1, Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang kaum mukminin dari perbuatan mencaci atau mencerca berhala-berhala orang-orang kafir, kerana Allah mengetahui apabila kaum mukminin mencerca berhala-berhala tersebut maka orang-orang kafir pun akan melawan balas balik dengan cercaan terhadap Allah dan orang-orang kafir itu pun semakin jauh (dari Islam) dan bertambah pula kekufurannya.

2, Kemaslahatan perlu didahulukan berbanding keburukan (mafsadah). Dan kemaslahatan yang kecil perlu ditinggalkan jika boleh menyebabkan timbulnya mafsadah lain atau mafsadah yang jauh lebih besar.

3, Tidak boleh sengaja mencari pasal dengan orang-orang kafir kerana hal itu lebih menenangkan dan lebih mudah membuatkan mereka menerima Islam. Perbuatan sengaja menghina sembahan-sembahan orang-orang kafir boleh mengakibatkan keadaan huru-hara, membangkitkan kemarahan, menyemarakkan kebencian yang tidak sepatutnya berlaku, dan hanya menjauhkan mereka dari memahami Islam.

Baca Juga: Rukun Iman

Uraian dan maksud ayat

Allah melarang Rasul-Nya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan orang-orang yang beriman dari mencaci ilah-ilah (yang sembahan-sembahan) kaum musyrikin, walaupun pada cacian tersebut terdapat kemaslahatan (kebaikan). Ini kerana perbuatan mencaci ilah-ilah kaum musyrikin tersebut memiliki mafsadah (kerosakan) yang jauh lebih besar dari kemaslahatan yang terdapat padanya. Iaitu di mana orang-orang musyrikin itu nanti akan membalas balik setiap cacian tersebut dengan cacian yang lain terhadap Ilah kaum mukminin, sedangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Rabb yang tidak ada ilah (yang berhak diibadahi) selain Dia.

Sebagaimana yang dikatakan oleh ‘Ali B. Abi Thalhah, daripada Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang ayat ini:

يا محمد، لتنتهين عن سبك آلهتنا، أو لنهجون ربك، فنهاهم الله أن يسبوا أوثانهم، فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ

“Orang-orang musyrik itu berkata: “Wahai Muhammad, engkau hentikanlah cacianmu terhadap ilah-ilah kami itu, atau kami akan membalas cacian kepada Rabbmu.” Lalu Allah melarang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan orang-orang Mukmin mencaci patung-patung mereka: “kerana nanti mereka akan membalas dengan cara memaki Allah melampau-lampau pula tanpa ilmu.”.”

‘Abdurrazzaq mengatakan daripada Ma’mar, daripada Qotadah:

كان المسلمون يسبون أصنام الكفار، فيسب الكفار الله عدوا بغير علم، فأنزل الله: وَلا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ

“Dahulu kaum Muslimin mencaci berhala-berhala orang-orang kafir, lalu orang-orang kafir pun membalas dengan cara mencaci Allah Ta’ala secara melampau-lampau dan tanpa berdasarkan ilmu pengetahuan. Lalu Allah menurunkan ayat:

“Dan janganlah kamu memaki cerca ilah-ilah (sesembahan) yang mereka ibadahi selain Allah, kerana nanti mereka akan membalas dengan cara memaki Allah melampau-lampau pula tanpa ilmu.”

Dalam Tafsir al-Qurthubi, disebutkan bahawa Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:

قَالَتْ كُفَّارُ قُرَيْشٍ لِأَبِي طَالِبٍ إِمَّا أَنْ تَنْهَى مُحَمَّدًا وَأَصْحَابَهُ عَنْ سَبِّ آلِهَتِنَا وَالْغَضِّ منها وإما أن إِلَهَهُ وَنَهْجُوَهُ، فَنَزَلَتِ الْآيَةُ

“Orang-orang kafir pernah berkata kepada Abu Thalib (Pak Cik Rasulullah): “Laranglah Muhammad dan para sahabatnya dari memaki dan menghina ilah-ilah (sembahan) kami, atau kami akan membalas balik dengan cara mencaci dan menghina Tuhan-nya.” Maka turunlah ayat ini.” (Tafsir al-Qurthubi, 7/61 – Daar al-Kitaab al-Mishriyah)

Keadaan ini menunjukkan bahawa meninggalkan suatu bentuk kemaslahatan demi menghindari kerosakan yang lebih besar adalah suatu yang didahulukan. Ini antaranya berdasarkan hadis sahih bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ مِنْ أَكْبَرِ الذَّنْبِ أَنْ يَسُبَّ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ، قَالُوا: وَكَيْفَ يَسُبُّ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ؟ قَالَ: يَسُبُّ أَبَا الرَّجُلِ فَيَسُبُّ أَبَاهُ، وَيَسُبُّ أُمَّهُ، فَيَسُبُّ أُمَّهُ
“Termasuk dosa besar adalah orang yang mencaci ayah dan ibunya.”

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana seseorang boleh mencaci ayah dan ibunya?”

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Ia mencaci ayah seseorang, lalu orang yang ayahnya dicaci tersebut pun mencaci balas ayah orang yang mencaci. Ia mencaci ibu seseorang, lalu orang itu pun mencaci balas ibu orang yang mencaci tersebut.” (Musnad Ahmad, no. 6840. Shahih al-Bukhari, no. 5973)

Perbedaan Saham dan Obligasi

Perbedaan Saham dan Obligasi

Perbedaan Saham dan Obligasi
Perbedaan Saham dan Obligasi

Saham

Saham menggambarkan sebagian dari modal pokok sebuah perusahaan. Pemilik saham dipandang sebagai pemilik sebagian asset dari perusahaan sesuai dengan kadar saham yang dia miliki. Adapun obligasi dipandang sebagai hutang perusahaan, maka perusahaan berhutang kepada pemilik obligasi tersebut.

Baca Juga: Rukun Islam

Obligasi

Obligasi memiliki masa jatuh tempo untuk pelunsan hutang, adapun saham tidak memiliki kecuali ketika perusahaan tersebut dinyatakan dilikuidasi.
Keuntungan ataupun kerugian pemilik saham tergantung dari prestasi perusahaan tersebut, tidak ada batasan khusus bagi keuntungan perusahaan, terkadang untung dengan keuntungan yang besar, dan terkadang rugi dengan kerugian yang besar. Pemilik saham sama-sama mengambil bagian dalam untung atau ruginya perusahaan. Terkadang mereka mendapatkan keuntungan yang besar ketika perusahaan mendapatkan laba yang besar. Dan terkadang pula mereka rugi ketika perusahaan itu jatuh. Masing-masing mereka menanggung bagian untung atau rugi.

Adapun pemilik obligasi dia memiliki bunga tetap yang dijamin ketika peminjaman, yang dapat dilihat dari surat obligasinya, bunga tersebut tidak bertambah dan tidak berkurang. serta tudak menggambarkan adanya kerugian. Apabila mereka misalnya meminjamkan (membeli obligasi) seharga 3 Junaih (ukuran mata uang mesir) bagi setiap 100 junaih. Kemudian perusahaan itu untung 10 junaih bagi setiap 100 junaih, maka mereka tidak akan mendapatkan lebih dari bunga yang telah ditetapkan baginya. Sedangkan bagi pemilik saham mereka akan mendapatkan 10 junaih dari setiap 100 junaih. Dan begitupun sebaliknya jika perusahaan itu jatuh dan rugi maka para pemilik obligasi akan tetap mendapatkan bunga yang telah ditetapkan baginya, disaat para pemikik saham tidak mendapatkan sedikitpun kuntungan bahkan mereka menanggung beban kerugian.
Ketika perusahaan dilikuidasi, maka kedudukan tertinggi ada pada pemegang obligasi karena dia merepresentasikan hutang perusahaan. Pemegang saham tidak memiliki hak atas harta perusahaan kecuali setelah ditunaikan semua hutang perusahaan. Bagi pemegang obligasi berhak untuk menuntut pengumuman kerugian perusahaan ketika perusahaan tersebut tidak bisa menunaikan kewajibannya (pailit).

Hukum Jual Beli Saham ada dua macam

Saham pada perusahaan yang haram atau dari penghasilannya haram seperti dari bank-bank yang bermuamalah dengan riba atau perusahaan-perusahaan judi atau tempat-tempat keji, maka jual beli saham ini adalah haram, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala jika mengharamkan sesuatu, mengharamkan pula harganya, disamping itu dengan membeli sahamnya berarti dia telah melakukan kerjasama dalam perbuatan dosa, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Dan janganlah kalian tolong menolong dalam dosa dan permusuhan” (QS: Al Maidah: 2)

Saham pada perusahaan yang mubah seperti perusahaan-perusahaan dagang yang mubah atau perusahaan industri yang mubah, maka yang seperti ini dibolehkan menanam saham padanya, bekerja sama dengannya serta jual beli sahamnya, jika memang perusahaan tersebut telah diketahui dan dikenal serta tidak ada penipuan dan ketidaktentuan yang berlebihan padanya, karena saham itu adalah sebagian dari modal yang akan kembali kepada pemodalnya dengan keuntungan dari hasil perniagaan atau perindustrian, maka saham seperti ini adalah halal tanpa ada keraguan padanya.