Penjelasan Puasa Bulan Rajab

Penjelasan Puasa Bulan Rajab

Penjelasan Puasa Bulan Rajab

Bulan Rajab

Ketika langit dan bumi diciptakan, Allah telah mencatat di dalam lauhul mahfudz bahwa dalam setahun ada dua belas bulan. Di anatara dua belas bulan tersebut ada empat bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT, yaitu bulan Dzul Qa’dah, bulan Dzul Hijjah, bulan Muharram, dan bulan rajab . Memuliakan bulan-bulan tersebut adalah termasuk menegakkan agama, karenanya tidak boleh melakukan maksiat di bulan-bulan tersebut, juga bulan yang lain, malah supaya meningkatkan amalan bulan rajab yaitu dengan memperbanyak puasa, taubat dan dzikir kepada Allah SWT.

Selain bulan Ramadlan, Rasulullah SAW sering menjalankan puasa sunnah dalam bulan Sya’ban dan bulan Rajab. Puasa bulan Rajab dan bulan-bulan yang termasuk Asyhurul Hurum hukumnya sunnah muakkad. Dalam hadits disebutkan,
“Puasa dihari pertama bulan Rajab menghapuskan dosa tiga tahun, (berpuasa) dihari kedua menghapuskan dosa dua tahun, (berpuasa) dihari ketiga menghapuskan dosa satu tahun, kemudian berpuasa pada tiap harinya bulan Rajab menghapuskan dosa satu bulan”.

Sebuah Hadits (dlo’if) menyatakan, “Barang siapa yang berpuasa di bulan Rajab satu hari sama nilainya dia berpuasa sebulan penuh”.

Keutamaan Bulan Rajab

Tentang keutamaan bulan rajab , mengutip hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, bahwa semua manusia besok pada hari akhir (kiamat) akan merasakan lapar yang teramat sangat, kecuali 4 golongan, yaitu :
1.Para Nabi dan keluarganya;
2.Orang yang berpuasa di bulan Rajab;
3.Orang yang berpuasa di bulan Sya’ban;
4.Orang yang berpuasa di bulan Ramadlan.

Keempat golongan tersebut tidak merasakan lapar dan dahaga di hari kiamat. Sesungguhnya Rajab adalah bulan Allah yang disebut dengan bulan Al-Ashom (yang tuli). Barang siapa yang berpuasa sehari dalam bulan Rajab dengan iman dan hanya mengharap ridlo Allah semata, maka insya Allah dia akan memperoleh ridlo Alloh SWT.

Dan barang siapa menjalankan puasa dua hari, maka tak ada makhluk langit maupun bumi yang dapat mensifati kebesaran karomah yang dia miliki. Dan barang siapa menjalankan puasa tiga hari, maka akan diselamatkan dari musibah didunia maupun di akhirat, dan akan diselamatkan dari berbagai penyakit dan fitnahnya Dajjal.

Manfaat Puasa Rajab

Begitu besar nilai puasa di bulan rajab , semakin sering berpuasa di bulan Rajab maka semakin tinggi derajatnya disisi Alloh.
Dan tentang manfaat puasa rajab , dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, Imam Ghozali meriwayatkan;
“Barang siapa berpuasa tiga hari dalam bulan Haram (bulan yang dimuliakan), yaitu hari Kamis, Jum’at dan Sabtu, maka Alloh SWT mencatat ibadah tujuh ratus tahun baginya”.

Keistimewaan Bulan Rajab

Temasuk keistimewaan bulan rajab adalah sebuah hadits riwayat al-Thabrani dari Sa’id bin Rasyid, “Barangsiapa puasa sehari di bulan Rajab maka laksana ia puasa setahun, bila puasa 7 hari maka ditutuplah untuknya pintu-pintu neraka Jahanam, bila puasa 8 hari dibukakan untuknya 8 pintu surga, bila puasa 10 hari Allah akan mengabulkan semua permintaannya”.

“Sesugguhnya di surga terdapat sungai yang dinamakan Rajab, airnya lebih putih daripada susu dan rasanya lebih manis dari madu. Barangsiapa puasa sehari pada bulan Rajab, maka ia akan dikaruniai minum dari sungai tersebut “.

Riwayat (secara mursal) Abul Fath dari al-Hasan, Nabi SAW bersabda : “Rajab itu bulannya Allah, Sya’ban bulanku, dan Ramadhan bulannya umatku”.

Adapun tentang keutamaan bulan Rajab secara khusus, kebanyakan ulama mengatakan bahwa dasarnya sangat lemah, bahkan boleh dikatakan tidak ada keterangan yang kuat yang mendasarinya dari sabda Rasulullah SAW.

Demikian artikel tentang puasa bulan rajab , semoga bermanfaat. Amiin.

Baca Juga: 

Pengertian Ijtihad Bahasan Lengkap

Pengertian Ijtihad

Pengertian Ijtihad Bahasan Lengkap

Pengertian Ijtihad
Pengertian Ijtihad

Proses Ijtihad

Proses ijtihad sudah ada sejak Rasulullah SAW masih hidup. Beliau pernah mengutus sahabat Mu’adz bin Jabal r.a. ke negeri Yaman untuk menyebarkan agama Islam. Ketika sahabat Mu’adz menghadap Rasulullah SAW, beliau menanyakan kepadanya tentang urutan dalam pengambilan keputusan:
“Diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal RA bahwa pada saat Rasulullah SAW mengutusnya ke negeri Yaman, beliau bertanya, “Bagaimana cara kamu memutuskan suatu persoalan jika disodorkan kepadamu sebuah masalah?” Dia menjawab, “Saya memutuskan dengan Kitab Allah.” Nabi SAW bertanya,”jika kamu tidak menemukan di dalam Kitabullah?” Muadz menjawab,”Maka dengan sunnah Rasulullah SAW.” Nabi SAW bertanya, “jika kamu tidak menemukan di dalam sunnah? ” Dia menjawab, “Saya melakukan ijtihad dan tidak bertindak sewenang-wenang”. Lalu Muadz berkata,”Maka Rasulullah SAW menepuk dadanya danhersabda, “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan petunjuk kepada utusan Rasulullah dengan apa yang telah diridhai Rasulullah SAW .” (Sunan al-Darimi, [168])

Ijtihad mendapat legalitas (pengakuan) dalam Islam, bahkan dianjurkan. Banyak ayat al-Qur’an dan al-Hadits yang menyinggung urgensitas ijtihad. Apapun hasilnya, ijtihad merupakan kegiatan yang terpuji. Dalam sebuah Hadits dijelaskan:
“Diriwayatkan dari ‘Amr bin al-‘Ash, bahwa dia mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seorang hakim memutuskan perkara lalu ia melakukan ijtihad, kemudian ijtihadnya benar, maka ia memperoleh dua pahala (pahala ijtihad dan pahala kebenarannya). Jika hakim memutuskan suatu perkara lalu berijtihad dan hasilnya salah, maka baginya satu pahala (pahala ijtihadnya)” (Musnad Ahmad bin Hanbal, [17148])

Dari Hadits ini, secara implisit dijelaskan bahwa hasil ijtihad bisa benar dan bisa salah. Tapi keduanya mendapatkan pahala dari Allah SWT. Oleh sebab itu, perbedaan hasil ijtihad dari masing-masing imam mujtahid (yang melakukan ijtihad) adalah sebagai rahmat. Bukan dijadikan ajang untuk berselisih dan menghancurkan persatuan umat Islam.

Prof. KH. Saifuddin Zuhri menjelaskan bahwa redaksi Hadits tersebut menggunakan kata al-hakim (seorang ahli hukum), bukan kata al-rajul (seseorang secara umum). Hal ini menunjukkan bahwa yang mendapat kewenangan untuk melakukan ijtihad adalah seorang ahli hukum. Dengan kata lain, jadilah ahli hukum terlebih dahulu, baru melakukan pekerjaan ijtihad. Bukan sebaliknya, berijtihad terlebih dahulu, baru menamakan dirinya ahli hukum. (Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia, 162).

Maka sungguh ironis, orang yang hanya bisa memahami al-Qur’an dan al-Hadits dari terjemahannya, sedangkan dia tidak menguasai bahasa Arab dengan baik, sudah merasa mampu berijtihad. Padahal sebenarnya, tanpa disadari dia sedang ber- taqlid buta kepada penterjemahbuku tersebut, karena tidak bisa mengoreksi dan mengkritisi hasil terjemahan tersebut, apakah benar ataukah salah.

Ijtihad yang dimaksud adalah mencurahkan segala upaya (daya pikir) secara maksimal untuk menemukan hukum Tuhan tentang sesuatu yang belum jelas di dalam al-Qur’an dan al-Hadits dengan menggunakan dalil-dalil umum (prinsip- prinsip dasar agama) yang ada dalam al-Qur’an, al-Hadits, Ijma’, Qiyas serta dalil yang lainnya. Sebagaimana dikemukakan oleh Imam Suyuthi:
“Ijtihad adalah usaha seorang faqih (seorang ahli fiqh) untuk menghasilkan hukum yang bersifat zhanni (intrepretatif). (Al-Kawkab al-Sathi’ fi Nazhm Jam’ al-J awami’, Juz II, hal 479).

Adalah Muhammad Abu Zahrah, seorang pakar Fiqh kontemporer asal Mesir, menyatakanbahwa ijtihad bukan sekedar mengerahkan kemampuan untuk menghasilkan sebuahproduk hukum. Namun lebih dari itu, ijtihad juga diartikan sebagai upaya untuk menerapkan hukum tersebut agar dapat diamalkan oleh masyarakat. Yakni terkait dengan kiat-kiat apa yang harus dilakukan agar produk hukum yang telah dihasilkan tersebut dapat diterima serta diamalkan oleh seluruh masyarakat. (Lihat Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh, hal 379).

Contoh Ijtihad

Contoh Ijtidah pada masa sahabat:

1.Memerangi Orang-Orang Yang Menolak Membayar Zakat

Ketika Nabi wafat dan Abu Bakr diangkat sebagai khalifah, banyak persoalan muncul. Diantaranya yang dianggap besar adalah orang-orang yang menolak membayar zakat pada khalifah. Penolakan mereka itu punya implikasi politik yakni tidak mengakui kesinambungan dan peralihan kepemimpinan Nabi kepada Abu> Bakr. Munculnya gagasan memerangi dan memperlakukan mereka sebagaimana orang-orang murtad ditolak ‘Umar. Ia menolak mengekskusi mereka karena tidak mungkin membunuh orang yang nyata-nyata bersahadat berdasarkan Hadis ‘umirtu annla ‘uqatil al-naas hattaa yaquuluu Laa ila illa Allaah .

Dalam pandangan Abu Bakr membiarkan penolakan mereka berarti membiarkan rongrongan pada legalitas kepemimpinannya yang berarti kesatuan umat terancam. Karena Abu Bakr melihat zakat bukan sekedar ibadah yang cukup dilaksanakan dengan tanggungjawab secara vertikal saja, ia melihatnya sabagai urusan publik. Oleh karena harus ada otoritas yang menangani, karena zakat adalah salah satu sumber keuangan publik sekaligus sebagai jalan pembelanjaan publik yang memiliki ciri yang khas.

Tugas pemerintahan Abu Bakr dalam kaitan zakat ini adalah menjaga keadilan distribusi kekayaan. Ini dapat dilihat dalam prakteknya bahwa yang diperangai Abu Bakr adalah orang-orang yang menolak membayar zakat harta dahir yaitu zakat mawashi (perternakan), tidak harta yang tersembunyi seperti emas dan perak. Dengan demikian jelaslah bahwa pertimbangan perang ini lebih bersifat politis.

‘Umar yang pada awalnya menolak, akhirnya menerima argumentasi Abu Bakr. Karena ia melihat sikap dan tindakan Abu Bakr ini sangat dipengaruhi situasi umat dan stabilitas yang tidak kondusif setelah ditinggalkan oleh Nabi, bukan sekedar pertimbangan teologis semata. Jadi setiap bentuk penyimpangan akan sangat besar pengaruhnya terhadap keutuhan politik umat. Untuk itu, demi menjaga stabilitas, sikap Abu Bakr menjadi sangat tegas dan tidak kompromi.

2. Pengumpulan al-Qur’an Dalam Satu Mushaf

Gagasan ini merupakan masukan ‘Umar. Pada mula Abu Bakr menolak, namun akhirnya ‘Umar dapat meyakinkannya sehingga ia memutuskan untuk melakukan jam’u al-Qur’an fi mushaaf waahid, karena dirasakannya manfaat yang besar dan kerugian yang besar bila tidak dilakukan. Hal itu setelah disadari bahwa hafalan yang terkuat lebih rendah dari tinta terlemah untuk menjaga otentisitas dan keutuhan kitab suci setelah banyak para huffadz yang terbunuh dalam peperangan. Disamping itu, pengumpulan al-Qur’an dalam satu mushaf berfungsi sebagai penjagaan di dalam menghindari kemungkinan adanya penyelewengan, perbedaan dan lain-lain yang dapat mengurangi kesakralan al-Qur’an sebagai kitab suci.

Demikian sedikit uraian tentang pengertian ijtihad dan contoh ijtihad yang dapat kami utarakan, semoga bermanfaat. Amiin.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/doa-sholat-dhuha-niat-dan-tata-caranya/

Pengertian Haji Lengkap

Pengertian Haji Lengkap

Pengertian Haji Lengkap

Pengertian Haji Lengkap
Pengertian Haji Lengkap

Pengertian Haji

Secara lughawi, haji berarti menyengaja atau menuju dan mengunjungi. Menurut etimologi bahasa Arab, kata haji mempunyai arti qashd, yakni tujuan, maksud, dan menyengaja.

Menurut istilah syara’, haji ialah menuju ke Baitullah dan tempat-tempat tertentu untuk melaksanakan amalan-amalan ibadah tertentu pula. Dan yang dimaksud dengan temat-tempat tertentu dalam definisi diatas, selain Ka’bah dan Mas’a (tempat sa’i), juga Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Sedangkan yang dimaksud dengan waktu tertentu ialah bulan-bulan haji yang dimulai dari Syawal sampai sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Adapun amal ibadah tertentu ialah thawaf, sa’i, wukuf, mabit di Muzdalifah, melontar jumrah, mabit di Mina, dan lain-lain.

Termasuk hikmah haji adalah bahwa ibadah haji merupakan satu diantara ibadah maliah dan badaniah. Oleh sebab itu, yang berkewajiban melaksanakan hanya orang-orang tertentu saja. Dalam kitab Tanwirul Qulub, Imam Ahmad dan yang lain meriwayatkan;

“Wahai manusia, Alloh telah mewajibkan haji atas kalian semua, maka berhajilah. Barang siapa melakukan haji karena Alloh, kemudian tidak berkata kotor dan berbuat fasiq, maka dia keluar dari dosa-dosanya sebagaimana hari dia dilahirkan oleh ibunya. Ibadah umroh terhadap umroh (yang lain) adalah penebus dosa diantara keduanya. Dan haji mabrur tiada balasan untuknya kecuali syurga”.

Syarat Ibadah Haji

Adaun syarat-syarat ibadah haji adalah : Islam, baligh, berakal, merdeka, istitho’ah (mampu / kuasa). Yang dimaksud istitho’ah atau mampu pergi haji adalah :
Sehat (tidak dalam kondisi sakit atau tua renta).
Mempunyai biaya untuk berangkat, selama dalam perjalanan, selama bermukim di Makkah, pulang ke tanah air, dan nafkah untuk keluarga selama ditinggal pergi haji (bagi yang mempunyai tanggungan keluarga).
Ada sarana transportasi. Dalam situasi aman. Artinya, mempunyai persangkaan kuat bahwa selama dalam perjalanan tidak ada bahaya terhadap jiwa, harta atau kehormatannya. Masih ada waktu yang cukup untuk melaksanakan rangkaian ibadah haji. Bagi wanita ditambah syarat, tidak sedang dalam masa iddah dan pergi hajinya disertai suami atau mahromnya. Dan jika tidak ada suami atau mahrom yang mengiringinya, maka boleh bersamaan dengan para wanita yang mempunyai sifat adil.

Dan barang siapa telah menetapi syarat wajib haji namun tidak segera berangkat haji, sehingga meninggal dunia, maka wajib dihajikan dengan metode mewakilkan (jika mempunyai tirkah). Dan jika tidak mempunyai harta tinggalan, maka bagi ahli waris sunnah untuk menghajikannya.

Rukun Haji

Sedangkan rukun haji adalah kegiatan yang harus dilakukan dalam ibadah haji yang jika tidak dikerjakan maka hajinya tidak sah. Adapun yang termasuk rukun haji adalah :

1. Ihram

Ihram adalah mengenakan pakaian ihram di miqat makani dengan niat untuk haji atau umrah. Ihram adalah niat memasuki manasik (upacara ibadah haji) haji dan umrah, atau mengerjakan keduanya dengan menggunakan pakaian ihram, serta meninggalkan beberapa larangan yang biasanya dihalalkan. Sebaiknya, ihram atau niat beribadah haji dirangkai dengan membaca talbiyah, yaitu:

Bagi laki-laki harus mengenakan pakaian ihram, yaitu pakaian yang terdiri atas 2 lembar kain yang tidak dijahit, yang satu lembar disarungkan untuk menutupi aurat antara pusar hingga lutut, yang satu lembar lagi diselendangkan untuk menutupi tubuh bagian atas. Kedua lembar kain disunahkan berwarna putih, dan tidak boleh berwarna merah atau kuning.

2. Wuquf

Yaitu hadir atau diam walau sesaat ditanah ‘Arafah. Waktunya wuquf adalah sejak tergelincirnya matahari pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai terbitnya fajar pada tanggal 10 Dzulhijjah. Setelah shalat Subuh tanggal 9 Zulhijjah, jamaah haji berangkat dari Mina ke Arafah sambil menyerukan Talbiyah. Selama wuquf di Arafah, para jamaah haji menghabiskan/mengisi waktunya untuk memahasucikan Allah dengan meneriakan talbiyah, berzikir dan berdo’a.

3. Thowaf Ifadloh

Thowaf adalah mengelilingi Ka’bah tujuh kali dengan syarat dan metode tertentu. Sedangkan thowaf ifadloh adalah mengelilingi Ka’bah tujuh kali setelah pertengahan malam tanggal 10 Dzulhijjah.

4. Sa’i

Sa’i adalah perjalanan bolak balik tujuh kali antara bukit Shofa dan Marwah. Sa’i boleh dikerjakan dengan berjalan biasa, berjalan cepat, berlari kecil atau berlari cepat.

5. Tahallul (memotong rambut)

Yaitu bercukur atau menggunting rambut sesudah selesai melaksanakan Sa’i. Setelah melontar jumrah ‘aqabah, jamaah kemudian bertahallul (keluar dari keadaan ihram), yakni dengan cara mencukur atau memotong rambut kepala, paling sedikit tiga helai rambut. Laki-laki disunnahkan mencukur habis rambutnya (halqu) dan wanita disunnahkan mencukur ujung rambut (taqshir) sepanjang jari. Dan untuk orang-orang yang berkepala botak (tidak mempunyai rambut) dapat bertahallul secara simbolis saja, yaitu menggerakkan alat cukur diatas kepalanya layaknya orang yang mencukur rambut. Setelah melaksanakan tahallul, perkara yang sebelumnya dilarang sekarang dihalalkan kembali, kecuali menggauli istri sebelum melakukan thawaf ifadah.

6. Tartib

Semua rukun ibadah haji harus dikerjakan secara berurutan, yaitu; pertama, ihram atau niat masuk dalam ibadah haji. Kemudian wuquf di ‘Arafah, kemudian thawaf, kemudian memotong rambut, dan terahir sa’i. Atau ihram, wuquf, thowaf, sa’i dan terahir memotong rambut.

Demikian uraian tentang pengertian haji dan rukun haji mudah-mudahan bermanfaat. Amiin.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/niat-sholat-fardhu/

Kisah Adam dalam Al-Quran

Kisah Adam dalam Al-Quran

Kisah Adam dalam Al-Quran

Kisah Adam dalam Al-Quran
Kisah Adam dalam Al-Quran

Adam dalam Al-Quran

Al_Quran menceritakan kisah Adam dalam beberapa surah di antaranya surah Al_Baqarah ayat 30 sehingga ayat 38 dan surah Al_A’raaf ayat 11 sehingga 25

Pengajaran Yang Terdapat Dari Kisah Adam.

Bahawasanya hikmah yang terkandung dalam perintah-perintah dan larangan-larangan Allah dan dalam apa yang diciptakannya kadangkala tidak atau belum dapat dicapai oelh otak manusia bahkan oleh makhluk-Nya yang terdekat sebagaimana telah dialami oleh para malaikat tatkala diberitahu bahawa Allah akan menciptakan manusia – keturunan Adam untuk menjadi khalifah-Nya di bumi sehingga mereka seakan-akan berkeberatan dan bertanya-tanya mengapa dan untuk apa Allah menciptakan jenis makhluk lain daripada mereka yang sudah patuh rajin beribadat, bertasbih, bertahmid dan mengagungkan nama-Nya.

Lupa Dan Khilaf

Bahawasanya manusia walaupun ia telah dikurniakan kecergasan berfikir dan kekuatan fizikal dan mental ia tetap mempunyai beberapa kelemahan pada dirinya seperti sifat lalai, lupa dan khilaf. Hal mana telah terjadi pada diri Nabi Adam yang walaupun ia telah menjadi manusia yang sempurna dan dikurniakan kedudukan yang istimewa di syurga ia tetap tidak terhindar dari sifat-sifat manusia yang lemah itu.

Ia telah lupa dan melalaikan peringatan Allah kepadanya tentang pohon terlarang dan tentang Iblis yang menjadi musuhnya dan musuh seluruh keturunannya, sehingga terperangkap ke dalam tipu daya dan terjadilah pelanggaran pertama yang dilakukan oleh manusia terhadap larangan Allah.

Rahmat Allah Dan Maghfirah-Nya

Bahawasanya seseorang yang telah terlanjur melakukan maksiat dan berbuat dosa tidaklah ia sepatutnya berputus asa dari rahmat dan ampunan Tuhan asalkan ia sedar akan kesalahannya dan bertaubat tidak akan melakukannya kembali.

Rahmat allah dan maghfirah-Nya dpt mencakup segala dosa yang diperbuat oleh hamba-Nya kecuali syirik bagaimana pun besar dosa itu asalkan diikuti dengan kesedaran bertaubat dan pengakuan kesalahan.

Sifat sombong dan congkak selalu membawa akibat kerugian dan kebinasaan.Lihatlah Iblis yang turun dari singgahsananya dilucutkan kedudukannya sebagai seorang malaikat dan diusir oleh Allah dari syurga dengan disertai kutukan dan laknat yang akan melekat kepada dirinya hingga hari Kiamat karena kesombongannya dan kebanggaaannya dengan asal-usulnya sehingga ia menganggap dan memandang rendah kepada Nabi Adam dan menolak untuk sujud menghormatinya walaupun diperintahkan oleh Allah s.w.t.

Baca Juga:

Adam dan Hawa Diturunkan Ke Bumi

Adam dan Hawa Diturunkan Ke Bumi

Adam dan Hawa Diturunkan Ke Bumi

Adam dan Hawa Diturunkan Ke Bumi
Adam dan Hawa Diturunkan Ke Bumi

Adam dan Hawa Diturunkan Ke Bumi

Allah telah menerima taubat Adam dan Hawa serta mengampuni perbuatan pelanggaran yang mereka telah lakukan hal mana telah melegakan dada mereka dan menghilangkan rasa sedih akibat kelalaian peringatan Tuhan tentang Iblis sehingga terjerumus menjadi mangsa bujukan dan rayuannya yang manis namun berancun itu.

Adam Dan Hawa Merasa Tenteram

Adam dan Hawa merasa tenteram kembali setelah menerima pengampunan Allah dan selanjutnya akan menjaga jangan sampai tertipu lagi oleh Iblis dan akan berusaha agar pelanggaran yang telah dilakukan dan menimbulkan murka dan teguran Tuhan itu menjadi pengajaran bagi mereka berdua untuk lebih berhati-hati menghadapi tipu daya dan bujukan Iblis yang terlaknat itu.Harapan untuk tinggal terus di syurga yang telah pudar karena perbuatan pelanggaran perintah Allah,hidup kembali dalam hati dan fikiran Adam dan Hawa yang merasa kenikmatan dan kebahagiaan hidup mereka di syurga tidak akan terganggu oleh sesuatu dan bahawa redha Allah serta rahmatnya akan tetap melimpah di atas mereka untuk selama-lamanya.Akan tetapi Allah telah menentukan dalam takdir-Nya apa yang tidak terlintas dalam hati dan tidak terfikirkan oleh mereka.

Bumi Penuh Dengan Kekayaan

Allah s.w.t.yang telah menentukan dalam takdir-nya bahawa bumi yang penuh dengan kekayaan untuk dikelolanya,akan dikuasai kepada manusia keturunan Adam memerintahkan Adam dan Hawa turun ke bumi sebagai benih pertama dari hamba-hambanya yang bernama manusia itu.Berfirmanlah Allah kepada mereka:”Turunlah kamu ke bumi sebagian daripada kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain kamu dapat tinggal tetap dan hidup disan sampai waktu yang telah ditentukan.”

Adan Dan Hawa Di Bumi Menempuh Cara Hidup Baru

Turunlah Adam dan Hawa ke bumi menghadapi cara hidup baru yang jauh berlainan dengan hidup di syurga yang pernah dialami dan yang tidak akan berulang kembali.Mereka harus menempuh hidup di dunia yang fana ini dengan suka dan dukanya dan akan menurunkan umat manusia yang beraneka ragam sifat dan tabiatnya berbeda-beda warna kulit dan kecerdasan otaknya.

Umat manusia yang akan berkelompok-kelompok menjadi suku-suku dan bangsa-bangsa di mana yang satu menjadi musuh yang lain saling bunuh-membunuh aniaya-menganianya dan tindas-menindas sehingga dari waktu ke waktu Allah mengutus nabi-nabi-Nya dan rasul-rasul-Nya memimpin hamba-hamba-Nya ke jalan yang lurus penuh damai kasih sayang di antara sesama manusia jalan yang menuju kepada redha-Nya dan kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/tata-cara-sholat-tahajud-niat-doa-dan-keutamaan-lengkap/

Adam Menghuni Syurga

Adam Menghuni Syurga

Adam Menghuni Syurga

Adam Menghuni Syurga
Adam Menghuni Syurga

Adam Menghuni Syurga

Adam diberi tempat oleh Allah di syurga dan baginya diciptakanlah Hawa untuk mendampinginya dan menjadi teman hidupnya,menghilangkan rasa kesepiannya dan melengkapi keperluan fitrahnya untuk mengembangkan keturunan. Menurut cerita para ulamat Hawa diciptakan oleh Allah dari salah satu tulang rusuk Adam yang disebelah kiri diwaktu ia masih tidur sehingga ketika ia terjaga,ia melihat Hawa sudah berada di sampingnya.ia ditanya oleh malaikat:”Wahai Adam! Apa dan siapakah makhluk yang berada di sampingmu itu?”

Berkatalah Adam:”Seorang perempuan.”Sesuai dengan fitrah yang telah diilhamkan oleh Allah kepadanya.”Siapa namanya?”tanya malaikat lagi.”Hawa”,jawab Adam.”Untuk apa Tuhan menciptakan makhluk ini?”,tanya malaikat lagi.

Adam menjawab:”Untuk mendampingiku,memberi kebahagian bagiku dan mengisi keperluan hidupku sesuai dengan kehendak Allah.”

Allah berpesan kepada Adam

Allah berpesan kepada Adam:”Tinggallah engkau bersama isterimu di syurga,rasakanlah kenikmatan yang berlimpah-limpah didalamnya,rasailah dan makanlah buah-buahan yang lazat yang terdapat di dalamnya sepuas hatimu dan sekehendak nasfumu.Kamu tidak akan mengalami atau merasa lapar,dahaga ataupun letih selama kamu berada di dalamnya.Akan tetapi Aku ingatkan janganlah makan buah dari pohon ini yang akan menyebabkan kamu celaka dan termasuk orang-orang yang zalim.Ketahuilah bahawa Iblis itu adalah musuhmu dan musuh isterimu,ia akan berusaha membujuk kamu dan menyeret kamu keluar dari syurga sehingga hilanglah kebahagiaan yang kamu sedang nikmat ini.”

Iblis Mulai Beraksi.

Sesuai dengan ancaman yang diucapkan ketika diusir oleh allah dari Syurga akibat pembangkangannya dan terdorong pula oleh rasa iri hati dan dengki terhadap Adam yang menjadi sebab sampai ia terkutuk dan terlaknat selama-lamanya tersingkir dari singgahsana kebesarannya.Iblis mulai menunjukkan rancangan penyesatannya kepada Adam dan Hawa yang sedang hidup berdua di syurga yang tenteram, damai dan bahagia.

Ia menyatakan kepada mereka bahawa ia adalah kawan mereka dan ingin memberi nasihat dan petunjuk untuk kebaikan dan mengekalkan kebahagiaan mereka.Segala cara dan kata-kata halus digunakan oleh Iblis untuk mendapatkan kepercayaan Adam dan Hawa bahawa ia betul-betul jujur dalam nasihat dan petunjuknya kepada mereka.

Ia membisikan kepada mereka bahwa larangan Tuhan kepada mereka memakan buah-buah yang ditunjuk itu adalah karena dengan memakan buah itu mereka akan menjelma menjadi malaikat dan akan hidup kekal. Diulang-ulangilah bujukannya dengan menunjukkan akan harumnya bau pohon yang dilarang indah bentuk buahnya dan lazat rasanya.Sehingga pada akhirnya termakanlah bujukan yang halus itu oleh Adam dan Hawa dan dilanggarlah larangan Tuhan.

Allah mencela perbuatan mereka itu dan berfirman yang bermaksud: “Tidakkah Aku mencegah kamu mendekati pohon itu dan memakan dari buahnya dan tidakkah Aku telah ingatkan kamu bahawa syaitan itu adalah musuhmu yang nyata.”

Adam Menyesal

Adam dan Hawa mendengar firman Allah itu sedarlah ia bahawa mereka telah terlanggar perintah Allah dan bahawa mereka telah melakukan suatu kesalahan dan dosa besar.Seraya menyesal berkatalah mereka:”Wahai Tuhan kami! Kami telah menganiaya diri kami sendiri dan telah melanggar perintah-Mu karena terkena bujukan Iblis.Ampunilah dosa kami karena nescaya kami akan tergolong orang-orang yang rugi bila Engkau tidak mengampuni dan mengasihi kami.”

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/bacaan-tawasul-ringkas-dan-lengkap-hadhorot/

Perkembangan Budaya Pemikiran Islam di Indonesia

Perkembangan Budaya Pemikiran Islam di Indonesia

Perkembangan Budaya Pemikiran Islam di Indonesia

Perkembangan Budaya Pemikiran Islam di Indonesia
Perkembangan Budaya Pemikiran Islam di Indonesia

Arti Budaya

Budaya adalah sebuah sistem yang mempunyai koherensi. Bentuk-bentuk simbolis yang berupa kata, benda, laku, mite, sastra, lukisan, nyanyian, musik, kepercayaan mempunyai kaitan erat dengan konsep-konsep epistemologi dari sistem pengetahuan masyarakatnya. Budaya islam mulai masuk ke Nusantara pada saat pembawa ajaran islam (mubalig) datang ke indonesia dengan membawa kebudayaan yang berasal dari daerah mereka masing-masing. Cara yang di gunakan oleh para mubalig, pada waktu itu adalah melalui transformasi budaya. Hal ini dilakukan, karena sebelum agama Islam masuk ke indonesia telah ada agama Hindu dan ajaran Budha.

Pengaruh Pemikiran

Pesatnya pengaruh pemikiran yang berasal dari luar indonesia banyak sekali membawa perubahan terhadap pola pikir budaya umat islam di indonesia. Seperti munculnya aliran Jaringan Islam Liberal (JIL), Front Pembela Islam (FPI), Majlis Mujahidin Indonesia (MMI), dan lain sebagainya. Adanya berbagai aliran ini dilatarbekalangi oleh adanya kesadaran kritis, yaitu kessadaran yang menolak dominan dalam budaya keagamaan indonesia yang cenderung sarat dengan kepentingan, tunduk pada etos konsumerisme, menopang tatanan yang ada, atau malahan mengambil keuntungan darinya.

Perguruan tinggi membawa perubahan banyak terhadap pemikiran di indonesia. Sebab, dalam sejarah kita melihat bahwa gerbong pemikkiran Islam di Indonesia di mulai dari IAIN Sunan Kalijaga dan IAIN Syarif Hidatullah. Diantara tokoh-tokoh pembahruan pemikiran islam tersebut adalah Harun Nasution, Nurcholish Madjid, A. Mukti Ali, dll.

4 Sebab Perubahan Pola Pikir

Adanya perubahan pola pikir tersebut disebabkan oleh empat hal, antara lain oleh
1. Faham tauhid yang dianut kaum muslimin telah bercampur dengan kebiasaan yang dipengaruhi oleh tarekat-tarekat, pemujaan terhadap orang-orang suci dan hal lain yang membawa pada kekufuran;
2. Sifat jumud membuat umat islam berhenti berpikir dan berusaha. Umat islam maju pada zaman klasik karena mereka mementingkan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, selama umat Islam masih bersifat jumud dan tidak mau berpikir untuk berijtihad, tidak mungkin mengalami kemajuan, untuk itu perlu adanya pembaharuan yang berusaha memberantas kejumudan;
3. Umat Islam selalu berpecah-pecah, maka umat islam tidak akan mengalami kemajuan;
4. Hasil kontak yang terjadi antara dunia islam dengan barat.

Baca Juga:

Perjalanan Peta Politik Islam Indonesia

Perjalanan Peta Politik Islam Indonesia

Perjalanan Peta Politik Islam Indonesia

Perjalanan Peta Politik Islam Indonesia
Perjalanan Peta Politik Islam Indonesia

Awal Mulanya

Islam mulai memasuki wilayah politik indonesia sejak pertama kali negara indonesia mengadakan pemilihan umum (pemilu). Dengan cara membuat suatu wadah, yaitu mendirikan partai politik. Pada waktu itu partai yang berasaskan islam yaitu ada dua pertama, Partai Masyumi dan Partai NU. Melalui wadah ini umat islam memainkan perannya sebagai seorang politikus yang ingin menanamkan nilai-nilai islam. Dalam tesis Harun Nasution yang berjudul The Islamic State in Indonesia. The Rise of the Ideology, the Movement for its Creation and the Theory of the Masjumi, beliau mengemukakan bahwa ada perbedaan besar antara NU dan Masyumi.

Kaum Modernis

Kaum modernis di dalam Masyumi pada umumnya mereka hendak membangun suatu masyarakat muslim dan sebagai akibatnya mereka mengharapkan suatu negara islam. Kelompok yang diwakili NU lebih sering memperjuangkan suatu Negara sebagai langkah pertama dan melalui negara islam ini mereka hendak mewujudkan suatu masyarakat islam (hlm. 76-77). Suatu perbedaan lain adalah, bahwa ulama mendapat kedudukan yang penting dalam organisasi negara konsep NU, sedangkan posisi mereka tidak begitu menonjol dalam pemikiran kaum Masyumi (92).
Setelah jatuhnya orde lama dan berganti orde baru, peran politik islam dalam negara Indonesia cenderung mengalami kemunduran. Disebabkan karena adanya usaha represif terhadap partai politik yang berhaluan islam, yang dilakukan oleh penguasa pada waktu itu karena ketakutan akan kehilangan kekuasaannya. Selama kekuasaan orde baru hanya ada tiga partai yang diakui dan boleh ikut dalam pemilu. Dan partai yang berasas islam pada waktu itu adalah Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Adanya usaha represif yang dilakukan oleh rezim orde baru, yang berkuasa selama 32 tahun, rupanya menimbulkan kekecewaan pada banyak pihak. Puncak dari keramahan tersebut adalah dengan turunnya mahasiswa ke jalan dan menduduki gedung DPR-MPR. Yang dimotori oleh mahasiswa UIN, UGM, dan UI. Dampak dari demonstrasi tersebut membuat semakin memudarnya legitimasi politik rezim orde baru, sehingga pada tanggal 21 Mei 1998 presiden Soeharto mengundurkan diri dari kursi kepresidenan.
Babak baru dalam dunia perpolitikan di Indonesia dimulai.

Pemilu Dilangsungkan

Pada pemilu yang dilangsungkan tahun 1999, organisasi islam banyak mendirikan partai politik yang berasaskan islam dan atau berbasis umat islam. Diantaranya: PPP, PAN, PKB, PNU, PBB, PK sekarang PKS, dll. Pada masa itu simbol-simbol agama sangat mewarnai kancah perpolitikan indonesia. Simbol-simbol keagamaan yang diekspresikan apparatus birokrasi, tentu memiliki makna sosial. Bisa jadi ia merupakan representasi dari kesalehan dan kesadaran spiritual apparatus birokrasi, tetapi juga bukan mustahil ia juga bisa berubah menjadi sumber pengumpulan legitimasi. Hasil dari pemilu tahun 1999 tersebut membawa Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi presiden RI ke-4.

Perubahan

Sejak pemilu tahun 1999 sampai dengan sekarang, umat islam mulai kebingungan akan pilihan yang harus ia pegang. Sebab, semuanya mengaku bernafas islam dan mementingkan hak rakyat. Dalam tubuh partai politik-pun banyak mengalami perebutan kepemimpinan dan atau pecah menjadi beberapa partai.
Perubahan setting politik pasca-Orde Baru tanpa diduga memberi ruang bagi berkembangnya wacana penegakkan syariat islam di indonesia. Seperti yang telah dilakukan oleh Aceh, dan beberapa daerah yang menginginkan penggunaan syariat islam.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/khutbah-hari-raya-idul-fitri-menjaga-hati-tiga-pesan-ramadhan/

Kawin Hamil Dalam Perspektif Islam

Kawin Hamil Dalam Perspektif Islam

Kawin Hamil Dalam Perspektif Islam

Kawin Hamil Dalam Perspektif Islam
Kawin Hamil Dalam Perspektif Islam

Yang dimaksud dengan “kawin hamil” disini ialah kawin dengan seorang wanita yang hamil di luar nikah, baik dikawini oleh laki-laki yang menghamilinya maupun oleh laki-laki bukan yang menghamilinya.

Hukum kawin dengan wanita yang hamil diluar nikah, para ulama berbeda pendapat, sebagai berikut :

1. Ulama mazhab yang empat

(Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali) berpendapat bahwa perkawinan keduanya sah dan boleh bercampur sebagaimana suami istri, dengan ketentuan, bila si pria itu yang menghamilinya dan kemudian ia yang mengawininya.

2. Ibnu Hazm (Zhahiriyah)

berpendapat bahwa keduanya boleh (sah) dikawinkan dan boleh pula bercampur, dengan ketentuan, bila telah bertaubat dan menjalani hukuman dera (cambuk), karena keduanya telah berzina. Pendapat ini berdasarkan hukum yang telah pernah diterapkan oleh sahabat nabi antara lain:

a. Ketika Jabir bin Abdilah ditanya tentang kebolehan mengawinkan orang yang telah berzina, beliau berkata: “boleh mengawinkannya, asal keduanya telah betaubat dan memperbaiki sifat-sifatnya”.
b. Seorang laki-laki tua menyatakan keberatannya kepada Khalifah Abu Bakar dan berkata: Ya Amirul Mukminin, putriku telah dicampuri oleh tamuku, dan inginkan agar keduanya dikawinkan. Ketika itu Khalifah memerintahkan kepada sahabat lain untuk melakukan hukuman dera (cambuk), kemudian dikawinkannya.
Selanjutnya mengenai pria yang kawin dengan wanita yang dihamili oleh orang lain, terjadi perbedaan pendapat para ulama :

a. Imam Abu Yusuf, mengatakan keduanya tidak boleh dikawinkan. Sebab bila dikawinkan perkawinannya itu batal (fasid). Pendapat beliau itu berdasarkan firman Allah:
الزَّانِي لا يَنْكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ
laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan kepada perempuan yang berzina atau perempuan musyrik, dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang beriman (Q.S.An-Nur)

Maksud ayat tersebut adalah, tidak pantas seorang pria yang beriman kawin dengan seorang wanita yang berzina. Demikian pula sebaliknya, wanita yang beriman tidak pantas kawin dengan pria yang berzina.
Ayat tersebut di atas diperkuat oleh hadist Nabi:
ﺍﻦ ﺮﺠﻼ ﺗﺯﻮﺝ ﺍﻤﺮﺃ ﺓ ﻔﻠﻤﺎ ﺍﺻﺎ ﺒﻬﺎ ﻮ ﺠﺪ ﻫﺎﺤﺑﻠﻰ ٬ﻓﺮﺟﻊ ﺫﻠﻙ ﺍﻠﻰ ﺍﻠﻧﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻮ ﺴﻠﻢ ٬ﻓﻔﺮﻖ ﺒﻴﻧﻬﻣﺎ ﻮ ﺠﻌﻞ ﻠﻬﺎ ﺍﻠﺼﺪﺍﻖ ﻮ ﺠﻠﺪ ﻫﺎ ﻤﺎ ﺌﺔ׳

Sesungguhnya seorang leki-laki mengawini seorang wanita, ketika ia mencampurinyaia mendapatkannya dalam keadaan hamil, lalu dia laporkan kepada Nabi SAW. Kemudian Nabi menceraikan keduanya dan wanita itu diberi maskawin, kemudian wanita itu didera (dicambuk) sebanyak 100 kali.
Ibnu Qudamah sependapat dengan Imam Abu Yusuf dan menambahkan bahwa seorang pria tidak boleh mengawini wanita yang diketahuinya telah berbuat zina dengan orang lain kecuali dengan dua syarat:
1) Wanita tersebut telah melahirkan bila ia hamil. Jadi dalam keadaan hamil ia tidak boleh kawin.
2) Wanita tersebut telah menjalani hukuman dera (cambuk), apakah ia hamil atau tidak.
b. Imam Muhammad bin Al- Hasan Al- Syaibani mengatakan bahwa perkawinannya itu sah tetapi haram baginya bercampur, selama bayi yang dikandungnya belum lahir.
Pendapat ini berdasarkan hadits:
ﻻﺘﺆﻄﺄﺤﺎﻤﻼﺤﺘﻰﺘﻀﻊ
Janganlah engkau campuri wanita yang hamil, sehingga lahir (kandungannya).

3. Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’i

berpendapat bahwa perkawinan itu dipandang sah, karena tidak terikat dengan perkawinan orang lain (tidak ada masa ‘iddah). Wanita itu boleh juga dicampuri, karena tidak mungkin nasab (keturunan) bayi yang dikandung itu ternodai oleh sperma suaminya. Sedangkan bayi tersebut bukan keturunan orang yang mengawini ibunya itu (anak di luar nikah).

Dengan demikian, status anak itu adalah sebagai anak zina, bila pria yang mengawini ibunya itu bukan pria yang menghamilinya. Namun bila pria yang mengawini ibunya itu, pria yang menghamilinya, maka terjadi perbedaan pendapat:
a) Bayi itu termasuk anak zina, bila ibunya dikawini setelah usia kandungannya berumur 4 bulan ke atas. Bila kurang dari 4 bulan, maka bayi tersebut adalah anak suaminya yang sah.
b) Bayi itu termasuk anak zina, karena anak itu adalah anak di luar nikah, walaupun dilihat dari segi bahasa, bahwa anak itu adalah anaknya, karena hasil dari sperma dan ovum bapak dari ibunya itu.
c) Dalam kompilasi hukum Islam, masalah kawin hamil dijelaskan sebagai berikut :

Pasal 53

1) Seorang wanita hamil di luar nikah, dapat dikawinkan dengan pria yang menghamilinya.
2) Perkawinan dengan wanita hamil yang disebut pada ayat (1) dapat dilangsungkan tanpa menunggu lebih dahulu kelahiran anaknya.
3) Dengan dilangsungkannya perkawinan pada saat wanita hamil, tidak dipelukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir.
Terjadinya wanita hamil di luar nikah (yang hal ini sangat dilarang oleh agama, norma, etika, perundang-undangan negara), selain karena adanya pergaulan bebas, juga karena lemah (rapuhnya) iman pada masing-masing pihak. Oleh karenanya, untuk mengantisipasi perbuatan yang keji dan terlarang itu, pendidikan agama yang mendalam dan kesadaran hukum semakin diperlukan.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/kumpulan-kultum-ramadhan/

HAL-HAL YANG HARUS DILAKUKAN SEBELUM SHOLAT

HAL-HAL YANG HARUS DILAKUKAN SEBELUM SHOLAT

HAL-HAL YANG HARUS DILAKUKAN SEBELUM SHOLAT

HAL-HAL YANG HARUS DILAKUKAN SEBELUM SHOLAT
HAL-HAL YANG HARUS DILAKUKAN SEBELUM SHOLAT

* yang pertama adalah anda harus suci dari hadas kecil dan hadas besar, suci dari najis baik tempat pakaian dan badan

HADAS BESAR

hadas besar adalah suatu hal yang mewajibkan untuk melakukan mandi besar ( mandi wajib)

Hal Yang Menyebabkan Mandi Besar

nah hal2 yang bisa mewajibkan mandi besar atau hadas besar adalah sebagai berikut melakukan hubungan layaknya suami istri baik keluar mani (sperma) ataupun tidak “untuk wanita dan laki2″
keluar mani (sperma) baik dengan sengaja maupun tidak ” untuk wanita dan laki2″, hed dan nifas bagi wanita

hendak memasukan penis ke dalam mulut vagina (belum masuk)
meninggal dunia
nah untuk menghilangkan hadas besar caranya adalah dengan mandi wajib , mandi wajib pun ada tata caranya agar syah

berikut tata cara mandi wajib

niat mandi wajib dahulu nah untuk niatnya adalah : nawaitulghusla lirofil khadatsil akbari lillahita’alaa
sambil membaca niat tadi agan basahin tu semua badan agan dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan catatan air yang digunakan harus lebih dari 2 kolah atau kurang lebih ukuran segi empat dengan tinggi dan lebar masing2 60 cm, atau lebih baiknya agan langsung nyebur aja tu di kolam renang malah lebih bagus tapi jangan lupa niat dulu
nah setelah semuanya basah udah selesai tuh agan sudah bebas dari hadas besar hehe

HADAS KECIL

HADAS KECIL adalah suatu hal yang mewajibkan kita untuk melakukan wudlu, nah hal2 yang menyebabkan kita untuk wudlu dan sekaligus yang membatalkan wudlu adalah sebagai berikut :
mengeluarkan barang dari qubul dan dubur misal ya kencing,kentut,BAB, dll ,,, pokoknya mengeluarkan barang dari qubul atau dlubur (penis,vagina,anus)

hilang ingatan,gila,ayan, tidur dll,,
bersentuhan dengan wanita/lelaki yang bukan muhrim misal dengan pacar,suami/istri, pokoknya yang ga ada hubungan darah dengan kita
nah cukup itu dulu ya gan .., sebenarnya masih banyak hal yang harus dilakukan tapi karna kurangnya waktu ane buat ngeposting cukup ini dulu

nah sebelum baca ini artikel seharusnya agan baca dulu ni artikel tentang sholat , klik disini untuk membaca artikel tentang sholat .

Baca Juga: