Program Pendidikan Karakter akan Diuji Coba di 50 Sekolah

Program Pendidikan Karakter akan Diuji Coba di 50 Sekolah

Program Pendidikan Karakter akan Diuji Coba di 50 Sekolah

Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), akan segera diuji coba akhir

hatun 2016. Sesuai dengan yang dikatakan Muhadjir Effendy, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) dalam rapat kerja dengan Komite III DPD, pekan lalu. bahwa sekolah uji coba telah ditetapkan, kajian akademik dan pedoman telah terselesaikan, sedangkan petunjuk pelaksanaan sedang dalam penyempurnaan.

Sekitar 50 sekolah nantinya akan segera diuji coba, kecuali sekolah di kabupaten maupun provinsi yang suka rela menawarkan diri. Jumlah sekolah uji coba akan ditambah tiap tahunnya, sebanyak 1.626 sekolah uji coba di tahun 2017, sedangkan tahun 2018 sebanyak 3.252 sekolah.

Mendikbud menambahkan, bahwa pemerintah Presiden Joko Widodo

menetapkan porsi pendidikan kerakter pada jenjang sekolah dasar (SD) sebesar 70% dari kurikulum inti, sedangkan pada jenjang sekolah menengah pertama (SMP) sebesar 60%. “Itu menunjukan betapa besar perhatian pemerintah terhadap pendidikan karakter pada level pendidikan dasar,”ujar mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang tersebut.

Muhadjir menegaskan tidakada perubahan peraturan pemerintah yang berkaitan dengan Kurikulum 2013, karena implementasi kurikulum tersebut sedang berjalan. “maka upaya kami ialah bagaimana menambahkandungan K13 yang berlaku di pendidikan dasar dan menengah dalam bentuk kokurikuler. Yang kemudian disebut Program Penguatan Pendidikan Karakter,” tambah Muhadjir.

“Kami di Bali sangat mendukung program ini, seni dan budaya di Bali sangat

mungkin diintegrasikan dengan program ini,” ungkap anggota DPD dari provinsi Bali I.G.N. Arya Wedakarna M. Wedasteraputra yang mendukung implementasi PPK di provinsinya.

 

Sumber :

https://memphisthemusical.com/

FSGI : Ada Delapan Alasan UN Harus dimoratorium

FSGI : Ada Delapan Alasan UN Harus dimoratorium

FSGI Ada Delapan Alasan UN Harus dimoratorium

Sekretaris Jendral (Sekjend) Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Retno Listyarti menilai, kebijakan moratorium UN merupakan langkah yang tepat. Setidaknya ada delapan alasan UN harus segera dimoratorium.

Pertama, UN tidak terbukti meningkatkan kualitas pendidikan seperti klaim Wapres JK, secara pedagogis UN membuat pembelajaran dan pengajaran menjadi kering, kebijakan penilaian pendidikan sebaiknya diserahkan guru dan sekolah, sementara pemerintah punya tanggungjawab mengembangkan kapasitas guru dalam mengajar dan menilai, sehingga pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan otentik.

Kedua, dengan standar pendidik minimal S1 (PP No.19 Tahun 2005 pasal 29

ayat(1) dan belum terpenuhinya standar sarana prasarana pendidikan tidak mungkin dibuatkan soal UN yang berindikator sama di seluruh wilayah Indonesia.

Ketiga, memaksakan diri menyelenggarakan UN dengan standar soal berindikator sama adalah perbuatan yang tidak berkeadilan sesuai ketentuan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor : 19 Tahun 2005 pasal 66 ayat(2)

Keempat, sebagian besar guru Indonesia tidak bangga dengan hasil UN yang diraih anak didiknya karena mereka melihat dan mendengar sendiri proses penyebaran kunci jawaban antar siswa, soal bocor, terlalu banyak pihak berkentingan dengan hasil UN, sulit dipercaya, dan hal ini masuk pada kategori pelanggaran UN dilakukan tidak obyektif (sesuai ketentuan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor : 19 Tahun 2005 pasal 66 ayat(2)

Kelima, hasil UN yang diharapkan adalah sebuah pemetaan mutu program

dan/atau satuan pendidikan,tapi kenyataan yang didapat adalah pemetaan ketidakjujuran berbagai pihak sehingga inipun termasuk pada pelanggaran Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor : 19 Tahun 2005 pasal 68 huruh a.

Keenam, sepanjang UN dilaksanakan dengan rantaian yang panjang dari pusat ke daerah maka sepanjang itu pula peluang kebocoran soal begitu besar dan penyebaran kunci jawaban antar siswa sulit dibendung seiring dengan kemajuan iptek sekarang ini

Ketujuh, UN yang dijadikan sebagai penentu kelulusan peserta didik

(Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor : 19 Tahun 2005 pasal 68 huruh c) berpotensi dan memberi peluang dan menjadi faktor pendorong banyak pihak untuk tidak jujur, sehingga dalam masyarakat sudah berkembang pola pikir dan akan menjadi hukum kebiasaan berpendapat tentang UN menyatakan dihadapan kita hanya ada dua pilihan jujur tapi tidak lulus atau tidak jujur tapi lulus.

 

Sumber :

https://appliedanimalbehaviour.com/

Di Cisadon tak Ada Sekolah, Anak-anak pun tak Berpendidikan

Di Cisadon tak Ada Sekolah, Anak-anak pun tak Berpendidikan

Di Cisadon tak Ada Sekolah, Anak-anak pun tak Berpendidikan

Di Kabupaten Bogor ternyata masih ada wilayah yang belum terjangkau pendidikan formal. Kondisi yang membut miris ini terjadi di Kampung Cisadon RT01/08, Desa Karang Tengah, Kecamatan Babakanmadang. Di kampung itu tak ada sekolah, karena itu banyak  anak yang tak bisa mendapat pendidikan selayaknya karena hanya mampu mengikuti pendidikan non-formal.

Apalagi akses ke sekolah terdekat membutuhkan waktu perjalanan hingga satu  jam lebih. Kondisi ini membuat orang tua mereka tak bisa berbuat banyak. Di samping itu, persoalan ekonomi memaksa orangtua  mengurungkan niatnya untuk menyekolahkan anaknya.

Ketua RT01 Kampung Cisadon, Ujang Usman yang dikonfirmasi wartawan

mengatakan, saat ini, ada puluhan  anak-anak berumur 14 tahun di lingkungannya  yang tidak memilik ijazah SD. Sebab, mereka hanya mengandalkan pendidikan non formal dari para relawan yangdatang.

”Di Kampung Cisadon belum ada sekolah milik pemerintah, ada juga rumah baca yang didirikan para relawan saat berkunjung ke Kampung Cisadon. Ada anak-anak yang belajar di rumah baca. Itu juga kalau ada gurunya dari relawan, selain dari relawan tidak ada,” kata Ujang, Senin (23/9).

Cisadon merupakan salah satu kampung paling ujung di Babakanmadang. Kampung yang dihuni 32 kepala keluarga (KK) ini didominasi oleh petani. Dari kantor Desa Karang Tengah, butuh waktu sekitar 1-2 jam untuk menuju Kampung Cisadon menggunakan kendaraan roda dua.

Parahnya lagi, pengendara harus hati-hati karena kondisi jalan yang sempit,

terjal dan berbatu. Menurut Ujang, terbatasnya akses pendidikan bukan satu-satunya masalah di kampung tersebut. Sarana kesehatan seperti Puskesmas juga sulit diakses karena jaraknya yang jauh. Sementara untuk keperluan listrik, warga menggunakan turbin manual keperluan sehari-hari.

Dikisahkan Ujang , warga yang tinggal di Kampung Cisadon sudah ada sejak 1980. Mereka mulanya bercocok tanam seperti berkebun kopi dan buah-buahan. Seiring waktu, banyak rumah panggung berdiri hingga mencapai 32 Kepala Keluarga (KK).

”Kami berharap Kampung Cisadon mendapat perhatian dari Pemkab Bogor. Warga di sini kesusahan, mau ke mana-mana jauh dan aksesnya sulit,” harapnya.

Sementara Mulyadi Anwar, Pjs Kepala Desa Karang Tengah mengatakan,

warga di Kampung Cisadon menempati lahan milik Perhutani. Warga yang tinggal di sana sebagian berasal dari Kampung Wangun, Desa Karang Tengah, namun ada pula dari luar desa.  ”Warga yang tinggal di sana menempati lahan Perhutani, jadi kebijakannya ada di Perhutani. Mereka tinggal di sana baru 10 tahun belakangan ini,” ujar Mulyadi.(R2)

 

Baca Juga :

Disdik Imbau Setiap Sekolah Gunakan DAK Sesuai Aturan

Disdik Imbau Setiap Sekolah Gunakan DAK Sesuai Aturan

Disdik Imbau Setiap Sekolah Gunakan DAK Sesuai Aturan

Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Cirebon mengimbau setiap sekolah yang mendapatkan bantuan Dana Alokasi Khusus (DAK), agar menggunakannya sesuai dengan aturan dan mekanisme yang berlaku.

Kadisdik Kabupaten Cirebon, H. Asdullah Anwar mengatakan, untuk setiap

sekolah yang melaksanakan proyek pengerjaan, agar tidak bermain-main dengan anggaran‎ untuk keperluan proses renovasi atau pembangunan, dan harus menggunakannya sesuai dengan aturan.

“Pasalnya selain berpengaruh kepada kualitas kontruksi bangunan, pihak sekolah sekolah yang terbukti melakukan penyimpanan pun akan berhadapan dengan hukum dengan ancaman kurungan penjara,” terangnya.

Ia juga menyampaikan, kepada sekolah yang menerima DAK, diminta untuk tidak takut dalam melaksanakan program, jika semuanya berjalan sesuai aturan dan mekanisme yang ada.

“Sebenarnya dalam pemeliharaan ruang kelas bisa dilakukan melalui BOS.

Jangan sampai menunggu rusak berat yang berdampak bisa membahayakan bagi semua pihak, seperti yang sudah-sudah,” jelasnya.

Masih menurutnya,‎ pencairan DAK saat ini sudah memasuki tahap akhir pencairan, hampir 70 persen telah terserap baik pada termin pertama dan kedua. Kemudian, sisa DAK pun akan kembali dicarikan pada termin ketiga yang diperkirakan akan turun pada awal Desember 2019.

“Jangan hanya semangat mengajukan dan menerima anggaran, tetapi harus melaporkan pertanggung jawabannya yang sudah dikerjakan,” katanya, Selasa (12/11/19).

Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Cirebon, mengatakan telah melayangkan

surat kepada 885 kepala sekolah dasar di Kabupaten Cirebon. Dalam surat tersebut diminta kepada seluruh pihak sekolah untuk melaporkan bila ada ruang kelas yang rusak dan diminta meninggalkan bila dalam kondisi rusak berat.

 

Sumber :

https://www.belajarbahasainggrisku.id/

Komisi V DPRD Jabar Dukung Sekolah Terapkan Pendidikan Karakter

Komisi V DPRD Jabar Dukung Sekolah Terapkan Pendidikan Karakter

Komisi V DPRD Jabar Dukung Sekolah Terapkan Pendidikan Karakter

Ketua Komisi V DPRD Jawa Barat, Dadang Kurniawan mengatakan sekolah SMA Plus Astha Hannas memiliki beberapa kelebihan yang dapat dijadikan percontohan bagi sekolah-sekolah lain. Di antaranya, memberikan pendidikan karakter, menerapkan kedisiplinan, dan pola tata kelola sistem pendidikan cukup baik.

Kepada media di Bandung, Kamis(16/1/2020), Dadang Kurniawan yang akrab

disapa Dadung, mengatakan pihaknya kemarin melakukan kunjungan kerja ke SMA Plus Astha Hannas dalam rangka monitoring sistem pendidikan di sekolah terwsebut.

“Mengingat SMA Plus Astha Hannas merupakan Sekolah Menengah Atas Plus yang memiliki visi misi untuk membangun dan membentuk karakter anak didik yang berlandaskan kedisiplinan sehingga dapat dipersiapkan sebagai generasi penerus bangsa yang berkarakter,” katanya.

Lebih lanjut dikatakan politisi dari partai Gerindra ini, hasil dari kunjungan ke SMA Plus Astha Hannas Kabupaten Subang ini akan dijadikan bahan masukan dan kajian untuk ditindaklanjuti bersama pemangku kebijakan di bidang pendidikan untuk menjadi percontohan bagi pelaku pendidikan di Jawa Barat.

Dikatakan Dadung, pendidikan karakter itu penting demi membentuk pola

pikir serta pola hidup penerus generasi bangsa, kedepannya Dadang berharap sekolah sekolah yang ada di Jawa Barat bisa lebih baik, kedisiplinan bisa diterapkan di sekolah lain di jabar, menjadi motivasi sistem pendidikan karakter bagi sekolah sekolah lain.

Sementara itu Wakil Ketua Komisi V DPRD Provinsi Jawa Barat, Abdul Hadi Wijaya mengatakan, ini sebuah langkah nyata dalam mempersiapkan pembangunan generasi penerus bangsa, dan harus mendapatkan apresiasi lebih dan bisa menjadi percontohan.

Hadi juga mengapresiasi sistem kedisiplinan yang diterapkan di SMA Plus

Astha Hannas ini yang bisa membentuk karakter siswa siswi nya agar bisa dipersiapkan sebagai generasi penerus perjuangan bangsa. Ia berharap para anak didik di SMA Plus Astha Hannas bisa menjadi generasi penerus bangsa yang baik, pungkas politisi dari PKS ini. (R2)

 

Sumber :

https://www.kakakpintar.id/

Technician

Technician

Technician

Solution developer untuk produksi industri, dengan komponen hardware dan dalam teknik keamanan mencirikan kelompok technician. Disamping analisis kebutuhan, membandingkan solusi, dan adapatasi sistem, tugas utamanya adalah pemrograman near hardware, pengembangan dan integrasi hardware. Seorang teknisi nenganalisis kebutuhan, merancang sistem-sistem atau komponen-komponen, menimplementasi dan mengintegariskannnya. Tugasnya jelas akan berbeda dengan software developer, karena tools-tools, protocol, inteface, dan bahasa pemrograman yang digunakannya berbeda.

Security technician, industrial systems technician dan device developer tergolong teknisi. Device developer merancang, mengimplementasikan dan mentest komponen-komponen hardware. Konsep dan solusi untuk peralatan technical security (misal security kamera) berikut penginstalan pada infrastruktur TI adalah tugas teknisi keamanan. Industrial system technician bertugas membuat konsep, mengimple-mentasikan, dan memelihara sistem pedoman proses dan otomatisasi industri, seperti kontrol robot pada industri otomotif atau kontrol peralatan laboratorium pada rekaya proses ( process engineering). Berbeda dengan spesialis lainnya, tergantung pada jenis usaha dan perusahan teknisi hams melakukan seluruh aktivitas proses TI termasuk pemeliharan dari peralatan, sistem dan solusi-solusi.

Administrator

Aktivitas utama dari administrator antara lain pengoperasian, pengontrolan dan pengoptimalan sistem. Administrator memelihara dan mengontrol sistem dan infrastruktur yang ada pada pihak pemakai. Proses-proses yang senantiasa dijalankan dan kontinue membedakan aktivitas administrator dari tugas-tugas yang terkait proyek dari spesialis lainnya
Administator spesial jaringan, sistem TI, data bank, aplikasi perusahaan dan web membentuk kelompok administrator. Mereka bertugas mengkonfigurasi, mengoperasikan, mengoptimalkan jaringan, sistem teknik informasi, bank data, dan aplikasi perusahaan dan web.

Adviser

Adviser memposisikan di diri di daerah irisan antara proses dan profit aktivitas yang berbeda. Ia menjadi penghubung antara produsen dan pemakai dalam hal teknis atau komersial. Lingkup aktivitas khasnya anntara lain juga analisis kebutuhan, delivering dan acceptance dari produ, user training serta technical support.

IT supporter dan IT trainer merupakan adviser di lingkup teknis; IT key accounter dan IT product coodinator adalah adviser dalam lingkup komersial. IT supporter menyelesaikan masalah aplikasi dan memelihara produk-produk dan sistem-sistem (software, hardware, jaringan). Sebagai outsider, IT supporter senantiasa berhubungan dengan beragam aplikasiaplikasi yang berbeda dan heterogen. Hal membedakannya dari seorang administrator.

Tugas utama IT trainer adalah memperkenal produk baru ke user dan melatih pemakaian software maupun hardware ke user. Model training klasik, konsultasi personal, E-learning merupakan sebagian bentuk model pelatihan yang mungkin.

Baca Juga : 

Software Developer

Software Developer

Software Developer

Analisis kebutuhan, rancangan sistem atau modul, dan implementasi mencirikan kelompok developer. Arsitektur sistem, program, bank data, user-interface dan sebagainya dikembangkan oleh developer. Dengan demikian developer ditempatkan pada umumnya pada bagian produksi.

Yang tergolong kedalam kelompok ini antara lain analis sistem, developer sistem, serta software, data bank, user interface dan multimedia specialized developer. Analisis kebutuhan dan proses kerja, serta rancangan sistem keseluruhan merupakan tugas dari sistem analis dan developer sistem.

Kebutuhan user masa depan akan sistem membentuk basis bagi spesfikasi software yang akan dikembangkan atau dihasilkan, dan hardware yan diperlukan. Konsep solusi yang diciptakan dan gambaran formalnya sebagai system-design atau arsitektur sistem direalisasikan oleh software, data bank, user interface dan multimedia developer.

Coodinator

Proses pengembangan dari sistem-sistem dan software dan kerja dari developer harus didukung dikoodinasikan. Hal ini menjadi tugas seorang koordinator yang juga harus ditempatkan pada bagian produksi.

Koordinator proyek TI, koordinator spesialis konfigurasi TI dan Test TI, serta technical writer dan koordinator manajemen kualitas mendampingi proses-proses pengembangan. Pengarahan dan koordinasi proyek-proyek yang kecil menjadi tugas seorang koordinator proyek TI. Dia memahami aspek-aspek finasial, teknis, personil dan organisasi dari proyek-proyek TI dan sekaligus mengaturnya.Koordinator-koordinator mengambil alih tugas representatif selama proses pengembangan dan sekaligus memimpin tim pengembangan. Disamping itu mereka mendampingi produk-produk dan sistem-sistem pada siklus hidup berikutnya dan harus memahami gambaran umum mengenai solusi-solusi yang besar dan kompleks, seperti solusi yang dikonsepsi oleh para solutions developer.

Solutions Developer

Analisis kebutuhan dan perbandingan solusi, serta adaptasi sistem dan migrasi data mencirikan seorang solution developer. Berbeda dengan seorang developer yang memproduksi sesuatu, solution developer membeli sistem yang tersedia atau produk di pasar dan mengadaptasikan dengan kebutuhan khusus dari perusahaannnya. Seorang solution developer ditempatkan pada pihak pemakai dari proses TI dan memiliki, disamping pengetahuan TI, pengetahuan yang dalam mengenai bidang-bidang aplikasi khusus.

Developer spesial E-market, E-logistik, sistem manajemen pengetahuan dan jaringan dan juga koordinator security TI dan bussines system adviser tergolong solution developer. Kompetensi ditekankan pada bidang maketing, logistik, manajemen pengathuan, jaringan dan security TI. Tugas utama solution developer adalah menyangkut analisis kebutuhan spesifik perusahaan, konsepsi solusi-solusi teknis informatika dan adaptasi sistem dan produk. Disamping itu is akan membimbing dan mentraining pemakai.

Sumber : https://solidaritymagazine.org/

PERBEDAAN STANDAR PROFESI ANTARA USA DENGAN EROPA

PERBEDAAN STANDAR PROFESI ANTARA USA DENGAN EROPA

PERBEDAAN STANDAR PROFESI ANTARA USA DENGAN EROPA

profesi bidang teknologi Informasi (TI) itu serupa, tapi ternyata tidak sama. Uraian berikut mencoba memahami bahwa komunitas yang identik dengan “nerd itu pun punya karakter berbeda-beda pula.

Secara umum, terdapat tiga lapisan bidang TI, yakni lapisan spesialis, profesional operasional dan profesional strategis. Lapisan pertama meliputi 6 golongan karakteristik profil, yaitu software developer, technician, solution developer, coordinator, adviser dan administrator. Keseluruhannya mencakup 29 profil profesi. Lapisan kedua terdiri dari 4 profil profesi, yaitu IT engineer, IT manager, IT consultant dan IT commercial canager . Lapisan ketiga terdiri dari 2 profil profesi, yakni IT system engineer dan IT bussiness engineer.

Dari standar yang ada, hal yang menarik adalah acuan apa yang digunakan dalam pengembangan kompetensi.

Salah satu acuan, seperti yang sekarang berkembang di negara-negara Eropa, adalah dengan memperhatikan sistmatika profil spesialis dalam proses pengembangan teknologi informasi itu sendiri. Proses ini terkait dengan proses kerja (work process) para spesialis baik di suatu perusahaan maupun di suatu organisasi. Dengan kata lain, pengembangan kompetensi akan lebih cenderung berorientasi pada proses kerja.

Proses kerja yang khas, aktivitas yang khas dan tugas spesifik dari bidang TI dan bidang aplikasi TI yang terkait mencirikan spesialis. Penggolongannya pada proses TI secara umum menjelaskan kemiripan, keterkaitan (overlapping), dan batas antar profil. Sehingga baik bagi perusahaan dan organisasi maupun bagi tenaga TI itu sendiri, identifikasi dan pemilihan profil spesialis yang tepat menjadi mungkin.

Sistematika Aktivitas.


Proses TI menggambarkan secara umum produksi dan penerapan produk-produk TI. Pada proses ini terkait siklus hidup (life cycle) produk-pro luk secara keseluruhan dan penetapan model penjamin kualitas (Quality of Assurance) yang wajar. Hal ini memiliki banyak kelebihan dan keuntungan.

TI meliputi software, hardware, dan teknologi komunikasi bagi perusahaan dan organisasi modern saat ini. Dengan demikian proses TI menggambarkan disamping pengembangan juga penerapan dari produk-produk TI. Jadi disini terkait tidak hanya software dan sistem saja, melainkan juga hardware dan jaringan. Orientasi proses pada perusahaan menjamin kepuasan pelanggan dan karyawan/pegawai/rekan kerja, kualitas produksi yang tinggi, dan memungkinkan perbaikan-perbaikan yang tetap dan berkelanjutan . Pada penggambaran siklus hidup produk, proses kerja dan proses tugas terintegrasi di dalam proses TI. Keduanya dapat diturunkan dari proses TI dan diperinci lebih dalam.

Penggolongan profil spesialis pada proses, aktivitas yang mencirikan, begitu juga keterkaitan (overlapping) dengan profil lainnya dapat dengan mudah dikenali dari proses TI . Sebagai model proses TI menawarkan dukungan bagi perusahaan seperti karyawan/pegawai/rekan kerja, untuk dapat mengidentifikasi profil spesialis yang tepat dan sesuai dengan pekerjaan. Dengan demikian proses TI dapat menambahkan atau mengintegrasikan model proses dan metode pengembangan software yang sudah ada.

Setelah produk jadi, maka pelanggan mengambil dan membeli produk.Langkah berikutnya menyangkut adaptasi sistem yang bare dengan yang sudah ada dan migrasi data. Langkah ini biasanya berlangsung dalam rangka pilot phase.
Pada phase ini, pemakai (user dan administrator) sistem barn ini selanjutnya juga di training.

Jika akhirnya sistem telah diinstall, dikonfigurasi, dan diadaptasi, proses selanjutnya mengoperasikan sistem secara reguler, berikut mengawasi dan memelihara sistem Optimasi sistem sesuai kebutuhan selama proses operasi merupakan bagian terakhir dari proses TI. Jika produk atau sistem tidak sesuai lagi dengan kebutuhan/permintaan (demand), maka analisis kebutuhan bare perlu dilakukan.

Dengan demikian proses TI akan kembali lagi ketitik awal prosesnya. Langkah-langkah proses yang dijalankan perlu memperhatikan baik pihak developer atau pihak user. Hal ini memungkinkan baik identifikasi aktivitas yang khas dan tugas utama pada kedua belah pihak maupun gambaran overlapping, junction dan fungsi-fungsi yang sama. Langkah-langkah proses TI mewakili proses kerja yang luas dan kompleks. Pengoperasian, pengontrolan, dan pengoptimalan sistem menggambarkan proses kontinu yang senantiasa harus terus dijalankan. Implementasi sistem dapat berlangsung lama dan juga proses penyearahan ke pelanggan dapat berlangsung melalui suatu proses bertahap.

Proses TI merangkup aktivitas-aktivitas dan proses-proses tersebut di atas pada lapisan abtrak dan menjabarkannya dengan padat. Proses Kerja pada Perusahaan, Bagian-bagian tertentu dan khas dari proses TI membentuk inti pekerjaan dari setiap spesiaslis. Berbasiskan aktivitas inti ini spesialis TI dapat diklasifikasikan menjadi 6 kelompok:

Sumber : https://profilesinterror.com/

Mahasiswa UMB Ajak Santri Bersih-bersih

Mahasiswa UMB Ajak Santri Bersih-bersih

Mahasiswa UMB Ajak Santri Bersih-bersih

Pentingnya menjaga dan melestarikan lingkungan perlu ditularkan sejak dini. Hal itu disadari oleh Mahasiswa Universitas Mercu Buana (UMB) Bekasi dengan mengajak santri di Pondok Pesantrem Miftahul Huda untuk menjaga lingkungan sekitar.

Mahasiswa UMB Bekasi kembali menjalankan program Kuliah Peduli Negeri

(KPN) di Pondok Pesantren Miftahul Huda, belum lama ini. Dalam kegiatan ini, para santri diajak membersihkan tempat tidur mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan.

Tak hanya itu, mereka juga diajak membersihkan halaman pesantren dan beberapa ruangan di pondok pesantren tersebut. Kegiatan ini melibatkan 20 santri dan 25 mahasiswa.

Ketua Pelaksana Kuliah Peduli Negeri UMB Bekasi, Dwipa Bhima mengatakan, kegiatan peduli lingkungan penting untuk dilakukan. Sebab, lingkungan yang tidak jaga dengan baik akan berdampak pada hal yang buruk.

“Kita mahasiswa peduli lingkungan akan terus melaksanakan kegiatan-

kegiatan positif seperti ini,” ujar Dwipa, dalam keterangan tertulisnya.

Menurutnya, santri sebagai generus bangsa perlu memiliki kepedulian dalam menjaga lingkungan sekitar. Mulai dari hal kecil dengan membersihkan kamar, halaman, dan ruangan, seperti yang dilakukan dalam kesempatan kegiatan tersebut.

“Apabila sudah terbiasa menerapkan kepedulian lingkungan dari hal-hal yang kecil, maka nanti bisa melakukan hal yang lebih besar,” ujarnya.

Para santri begitu antusias dan semangat mengikuti kegiatan tersebut.

Apalagi mereka berkesempatan mendapatkan hadiah menarik dari mahasiswa saat aksi bersih-bersih kamar.

“Bersih-bersih kamar ini kami nilai, bagi santri yang membersihkan kamarnya dengan baik berhak mendapatkan hadiah. Para santri begitu semangat menjalaninya,” ujarnya.

Seorang santri, Rizki, mengaku senang bisa mengikuti kegiatan bersih-bersih lingkungan bersama mahasiswa UMB. ”Seneng banget bisa ketemu sama kakak nya dalam kegiatan positif seperti ini,” ungkapnya.

 

Baca Juga :

Pendaftar Sekolah Swasta Mulai Ramai

Pendaftar Sekolah Swasta Mulai Ramai

Pendaftar Sekolah Swasta Mulai Ramai

Pendaftar sekolah swasta di Kota Bekasi mulai ramai jelang ditutupnya

penerimaan peserta didik baru (PPDB) Online tingkat SMAN/SMKN pada 29 Juni 2019. Salah satunya terjadi di SMA Tulus Bhakti.

Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum SMA Tulus Bhakti, Margo Cahyo, mengatakan, sejak kemarin sudah mulai banyak orang tua dari calon siswa baru yang mengambil formulir di sekolahnya.

“Sebagian besar orang tua datang mengambil formulir karna anak nya sudah

terbuang dari SMA ataupun SMK yang dituju,” ujar Margo kepada Radar Bekasi, Kamis (27/6).

Pihak sekolah mencatat mulai ada peningkatan pendaftar sekitar 40-50 persen. Jika saat awal PPDB hanya menerima 1-10 pendaftar, kini sampai 30-40 pendaftar.

“Pendaftar sudah mengembalikan formulir ke sekolah,” katanya.

Sekolah yang berlokasi di wilayah Jatiasih ini menyediakan kuota 108 siswa

untuk lima kelas. Adapun pendaftar hingga saat ini berjumlah 60 orang.

Jumlah pendaftar diperkirakan akan terus bertambah kedepan. “Peningkatan yang cukup tinggi kemungkinan Senin, 1 Juli 2019,” katanya.

Margo mengklaim, sekolahnya memiliki mutu pendidikan yang cukup baik. Siswa disekolah ini banyak meraih prestasi dibidang akademik maupun non akademik.

 

Sumber :

https://www.caramudahbelajarbahasainggris.net/