Pengertian Ahliyyah

Pengertian Ahliyyah

     Secara harfiyyah (etimologi), ahliyyah adalah kecakapan menangani sesuatu urusan, misalnya orang yang memiliki kemampuan dalam suatu bidang maka ia dianggap ahli untuk menangani bidang tersebut.

    Adapun Ahliyyah secara terminologi adalah suatu sifat yang di miliki seseorang yang dijadikan ukuran oleh syari’untuk menentukan seseorang telah cakap dikenai tuntutan syara’. (H.R.Al-Bukari)

Dari definisi tersebut, dfapat dipahami bahwa ahliyyah adalah sifat yang  menunjukan  bahwa seseorang yang telah sempurna jasmani dan akalnya, sehingga seluruh tindakannya  dapat dinilai oleh syara. Orang yang telah memiliki sifat tersebut dianggap telah sah melakukan suatu tindakan hokum, seperti transaksi yang bersifat menerima hak dari orang lain. Ia juga telah dianggap mampu untuk menerima tanggung jawab, seperti nikah, nafkah, dan menjadi saksi. Kemampuan untuk bertindak hokum tidak dating kepada seseorang dengan sekaligus, tetapi melalui tahapan-tahapan tertentu, sesuai dengan perkembangan jasmani dan akalnya.[11]

  1. Pembagian Ahliyyah

Menurut para ulama ushul fiqh ,aliyyah(kepantasan) itu ada dua macam, sesuai dengan tahapan-tahapan perkembangan jasmani dan akalnya, yaitu :[12]

  1. Ahliyyah ada’

    Yaitu kecakapan bertindak hukum, bagi seseorang yang dianggap sempurna untuk mempertanggung jawabkan seluruh perbuatannya, baik yang bersifat positif maupun negatif. Hal ini  berarti bahwa segala tindakannya baik dalam bentuk ucapan atau perbuatan telah mempunyai akibat hokum. Dengan kata lain, ia dianggap telah cakap untuk menerima hak dan kewajiban.

Menurut kesepakatan ulama ushul fqih, yang menjadi ukuran dalam menentukan apakah seseorang telah memiliki ahliyyah ada adalah aqil, baligh, dan cerdas.

sumber :

 Dasar Taklif

 Dasar Taklif

Dalam islam orang yang terkena taklif adalah mereka yang sudah dianggap mampu unuk mengerjakan tindakan hukum. Sebagian besar ulama ushul fiqh berpendapat bahwa dasar pembebanan hukum bagi seorang mukallaf adalah akal dan pemahaman. Dengan kata lain, seseorang baru bisa dibebani hukum apabila ia berakal dan dapat memahami secara baik taklif yang ditujukan padanya. Maka orang yang tidak atau belum berakal dianggap tidak bisa memahami taklif dari syar’i. Sebagaimana sabna Nabi Muhammad SAW :

ر فع القلم عن ثلا ث عن النا ئم حتى يستيقظ و عن الصبي حتى يحتلم و عن المجنون حتى يفق(رواه البخا رى والتر مذى والنسا ئى وابن ما جه والدارقطنى عن عا ئثه وابى طا لب)

Di anggat pembebanan hukum dari 3(jenis orang) orang tidur sampai ia bangun,anak kecil sampai baligh,dan orang gila sampai sembuh.”

(HR.Bukhori.Tirmdzi,nasai.ibnu majah dan darut Quthni dari Aisyah dan Aly ibnu Abi Thalib)

  1. Syarat syarat taklif

Ulama ushul fiqh telah sepakat bahwa seorang mukallaf bisa dikenai taklif apabila telah memenuhi dua syarat, yaitu :[10]

  1. Orang itu telah mampu memahami kitab syar’i yang terkandung dalam alqur’an dan sunnah, baik secara langsung atau melalui orang lain. Kemampuan untuk memahami taklif tidak bisa dicapai, kecuali dengan akalpikira, karena hanya dengan akallah yang bisa mengetahui taklif itu harus dilaksanakan atau ditinggalkan. Akan tetapi ada indikasi lain bahwa yang menerangkan seseorang telah berakal yaitu baligh.
  2. Seseorang harus mampu dalam bertindak hukum, dalam ushul fiqh disebut ahliyah. Dengan demikian, seluruh perbuatan orang yang belum atau tidakmampu bertindak hukum,belum atau tidak bisa dipertanggung jawabkan. Maka anak kecil yang belum baligh, yang dianggap belum ,mampu bertindak hukum, tidak dikenakan tuntunan syara. Selain itu, orang yang berada dibawah kemampuannya dalam masalah harta dianggap tidak mampu bertindak hukum,karena kecakapan bertindak hukum mereka  dalam masalah harta dianggap hilang.

sumber :

https://www.disdikbud.lampungprov.go.id/projec2014/seva-mobil-bekas/

 

 Pengertian Mahkum Alaih

 Pengertian Mahkum Alaih

Menurut ulama’ ushul fiqh telah sepakat bahwa mahkum Alaih adalah seseorang yang perbuatannya dikenai kitab Allah, yang disebut mukallaf.[7] Sedangkan keterangan lain menyebutkan bahwa Mahkum Alaih ialah orang-orang yang dituntut oleh Allah untuk berbuat, dan segala tingkah lakunya telah diperhitungkan berdasakan tuntutan Allah itu (Sutrisno, 1999: 103).[8]

Dari segi bahasa, mukallaf diartikan sebagai orang yang dibebani hukum, sedangkan dalam istilah ushul fiqh, mukallaf disebut juga mahkum alaih (subjek hukum). Mukallaf adalah orang yang teklah dianggap mampu bertindak hukum, baik yang berhubungan dengan perintah Allah maupun larangan-Nya. Semua tindakan hukum yang dilakukan mukallaf akan diminta pertanggung jawaban, baik di dunia maupun akhirat.

     Jadi, secara singkat kami simpulkan bahwa Mahkum Alaih adalah orang mukallaf yang perbuatannya menjadikannya tempat berlakunya hukum Allah.

3.2. Syarat-Syarat Mahkum Alaih
• Orang tersebut mampu memahami dalil-dalil taklif itu dengan sendirinya, atau dengan perantara orang lain.
• Orang tersebut ahli bagi apa yang ditaklifkan kepadanya (Koto, 2006: 157-158)

sumber :

https://icanhasmotivation.com/cara-beli-mobil-bekas-online/