Hambatan Sosial (sychossialnoies)

Hambatan Sosial (sychossialnoies)

Hambatan adanya perbedaan yang cukup lebar dalam aspek kebudayaan, adat istiadat, kebiasaan, persepsi, dan nilai – nilai yang dianut sehingga kecenderungan, kebutuhan serta harapan – harapan kedua belah pihak yang berkomunikasi juga berbeda.

2.4                         Lambang- lambang Komunikasi

sistem lambang terus berkembang di dalam setiap kebudayaan, sejak zaman primitif hingga zaman teknologi sekarang. Begitupun dengan jenis-jenis lambang dalam  proses komunikasi juga ikut mengalami perkembangan.

 Berikut ini berbagai Jenis lambang komunikasi :

  1. Lambang Gerak, merupakan  lambang  yang menggunakan anggota badan. Misalnya, menunjuk, artinya menunjuk sesuatu hal, menggeleng, artinya tanda tidak setuju, mengangguk, tanda setuju, melambai, tanda memanggil seseorang, dan lain sebagainya.
  2. Lambang Suara, lambang suara merupakan lambang yang menggunakan

pendengaran, misalnya mendengarkan radio, sirene ambulan, bel masuk sekolah, menangis, berteriak, dan lain sebagainya.

  1. Lambang Warna, merupakan lambang yang menggunakan warna-warna. Misalnya warna kuning, hijau, merah, pada lampu lalu lintas memiliki arti yang berbeda. Warna lingkaran pada kotak obat juga memiliki arti yang berbeda, ada yang berwarna hijau, merah, dan biru pada kotak obat menandakan sifat obat yang berbeda.
  2. Lambang Gambar, lambang gambar adalah lambang yang menggunakan gambar-gambar untuk menunjang proses komunikasi. Contohnya iklan pada surat kabar, rambu-rambu lalu lintas, poster pada jalan raya dan lain sebagainya.
  3. Lambang Bahasa, merupakan lambang komunikasi yang menggunakan bahasa, baik bahasa lisan, maupun tulisan. Bahasa lisan adalah bahasa yang dilisankan (diucapkan), contohnya orang yang berbicara. Adapun lambang tertulis adalah lambang berbentuk tulisan.
  4. Lambang Huruf, lambang huruf adalah lambang yang menggunakan huruf. Contohnya menulis surat pasti membutuhkan gabungan baik huruf  untuk membentuk kalimat pada surat.

sumber :

 

Menurut Ruslan (2008 : 9-10) Adalah

Menurut Ruslan (2008 : 9-10) Adalah

  1. Hambatan Dalam Proses Penyampaian (SenderBarries)

Hambatan di sini bisa datang dari pihak komunikatornya yang mendapat kesulitan dalam menyampaikan  pesan – pesannya, tidak menguasai materi pesan dan belum memiliki kemampuan sebagai komunikator yang handal.

Hambatan ini bisa jugaberasal dari penerima pesan tersebut (receiver barrier) karena sulitnya komunikan dalam memahami pesan itu dengan baik.Hal ini dapat disebabkan oleh rendah  nyatingkat penguasaan bahasa, pendidikan, intelektual dan sebagainya yang terdapat dalam diri komunikan. Kegagalan komunikasi dapat pula terjadi dikarenakan faktor-faktor : feed backnya bahasa tidak tercapai, medium barrier (media atau alat yang dipergunaan kurang tepat) dan decoding barrier (hambatan untuk memahami pesan secara tepat).

  1. Hambatan secara Fisik (Phsysical Barries)

Sarana fisik dapat menghambat komunikasi yang efektif, misalnya pendengaran kurang  tajam dan gangguan pada sistem pengeras suara (sound system) yang sering terjadi dalam suatu ruangan kuliah/seminar/pertemuan. Hal ini dapat membuat pesan – pesan  itu tidak efektif sampai dengan tepat kepada komunikasi.

  1. Hambatan Semantik (SemantikPers)

Hambatan segi semantik (bahasa dan arti perkataan), yaitu adanya perbedaan pengertian dan pemahaman antara pemberi pesan dan penerima tentang satu bahasa atau  lambing. Mungkin saja yang disampaikan terlalu teknis dan formal, sehingga menyulitkan  pihak  komunikan yang tingkat pengetahuan dan pemahaman bahasa teknis komunikator yang kurang.

sumber ;
https://www.disdikbud.lampungprov.go.id/projec2014/seva-mobil-bekas/

Proses Komunikasi Secara Primer

Proses Komunikasi Secara Primer

            Proses komunikasi secara primer adalah proses penyampaian pikiran dan atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang (symbol) sebagai media. Lambang sebagai media primer dalam proses komunikasi adalah bahasa, kial, isyarat, gambar, warna, dan lain sebagainya yang secara langsung mampu “menerjemahkan” pikiran dan atau perasaan komunikator kepada komunikan.

  1. Proses Komunikasi Secara Sekunder

Proses komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama.

Seorang komunikator menggunakan media kedua dalam melancarkan komunikasinya karena komunikan sebagai sasarannya berada di tempat yang relatif jauh atau jumlahnya banyak. Surat, telepon, teleks, surat kabar, majalah, radio, televisi, film, dan banyak lagi adalah media kedua yang sering digunakan dalam komunikasi. Effendy ( 2007 : 11).

Proses komunikasi memiliki tujuh unsur, diantaranya sumber, pesan, media, penerima, pengaruh, tanggapan balik, lingkungan. Setiap unsur memiliki peranan yang sangat penting dalam membangun proses komunikasi. Bahkan ketujuh unsur ini saling bergantung satu sama lainnya. Artinya, tanpa ke ikutsertaan satu unsur akan memberi pengaruh pada jalannya komunikasi Cangara (2010 : 28). Agar komunikasi efektif, proses penyandian oleh komunikator harus bertautan dengan proses pengawasan sandian oleh komunikan. Effendy (2007 : 19) melihat pesan sebagai tanda esensial yang harus dikenal oleh komunikan. Semakin tumpang tindih bidang pengalaman (field of experience)       komunikator    dengan            bidang pengalaman komunikan, akan semakin efektif pesan  yang dikomunikasikan.

sumber ;
https://icanhasmotivation.com/cara-beli-mobil-bekas-online/

Globalisasi dan SDM

Globalisasi dan SDM

Globalisasi dan SDM

Istilah globalisasi sebenarnya sudah sering

dipergu­nakan sejak beberapa tahun terakhir ini. Bahkan tidak sedikit pelaku bisnis di dunia dan juga di Indonesia yang sudah memaha­minya. Namun, implikasi globalisasi pada manajemen sumber daya manusia tampaknya masih kurang diperhatikan secara proporsional karena tolok ukur keefektifannya kurang memiliki keterkaitan langsung dengan strategi bisnis. Fakta menunjukkan bahwa peranan manusia dalam menunjang pengimplenta­sian suatu strategi perusahaan, SBU (Strategic Business Unit) maupun fungsional sangat penting dan menentukan. Banyak perusahaan yang telah melakukan program-program pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia sebagai tanggapan dalam mengantisipasi suatu peruba­han lingkungan yang sangat cepat. Namun yang perlu dipertanyakan adalah “Tepatkah pro­gram tersebut dilaksanakan?” kalau jawabannya “ya” pertanyaan lain yang muncul adalah dasar dan keefektifan program, serta keterpa­duan program tersebut secara holistik dengan misi, visi, strategi serta budaya perusahaan. Jawaban pertanyaan ini penting sebagai dasar mengevaluasi keefektifan program pengembangan secara keseluruhan. Alat ukur keefektifan organisasi dan aktivitas sumber daya manusia perlu dirancang secara profesional. Capital intellectual dan pengukurannya akhir-akhir ini sering dipertimbangkan sebagai alternatif yang menjanjikan kendati peng-implemantasiannya tidak semudah yang diperkirakan.
Pada abad 21 ini pelaku bisnis harus pula mampu mengintegrasikan semua dimensi lingkungan hidup sebab masyarakat akan “menuntut” tanggung jawab perusahaan akan faktor lingkungan tersebut. Capra (1997) mengemukakan bahwa penggeseran paradigma mekanistik ke paradigma holistik akan terus berjalan dengan sendirinya. Stakeholders akan jauh beragam yang antara lain terdiri dari pemegang saham, karyawan, keluarga, pemasok, pelanggan, komunitas, pemerintah, ekosistem. Optimalisasi keuntungan bukan merupakan penekanan utama karena banyak faktor lain seperti misalnya SDM dan ikut menentu­kan kelangsungan hidup perusahaan.
Berbagai isu antara lain hak paten, royalti, ecolabelling, etika berbisnis, upah minimum pekerja, tuntutan pelanggan, lingkungan bebas polu­si, dsb ikut mewarnai dunia usaha diabad ini. Dengan perkataan lain, pelaku bisnis harus tanggap menghadapi berbagai isu tersebut dengan bijaksana. Selain itu, flexibility dan continuous learning merupakan karakteristik yang sangat penting dan yang sudah perlu dipertimbangkan oleh pelaku bisnis untuk menjawab tantangan perdagangan bebas yang semakin kompetitif. Globalisasi adalah suatu kenyataan dan akan mempunyai dampak langsung maupun tidak langsung pada kebanyakan aspek bisnis di Indonesia. Untuk memenangkan persaingan di pasar global, perusahaan harus berupaya antara lain dalam layanan yang luar biasa pada pelanggan, pengembangkan kemampuan-kemampuan baru, produk baru yang inovatif, komitmen karyawan/wati, penge­lolaan perubahaan melalui kerja sama kelompok. Perusahaan ditun­tut berpikir global (think globally dan act locally) serta mempunyai visi dan misi yang jauh berwawasan ke depan.
Mendapatkan calon karyawan yang berkualitas dan professional di Indonesia tidak selalu mudah. Kenyataan menunjukkan bahwa lebih dari seratus ribu lowongan pekerjaan di Indonesia tidak terisi. Hal tersebut disebabkan antara lain karena ketidaksesuaian antara job requirements dengan kompetensi calon. Bajak-membajak tenaga profesional dan headhunting masih sering terjadi hingga saat ini. Tenaga profesional asing masih banyak dipekerjakan untuk menduduki posisi-posisi tertentu terutama di perusahaan besar yang berorientasi internasional. Bahkan tidak tertutup kemungkinan bahwa akan lebih banyak lagi expatriate yang akan bekerja di Indonesia di mendatang. Berdasarkan kenyataan ini, sedini mungkin SDM handal dan berkompetensi tinggi harus disiapkan. SDM di negara kita tampaknya masih kurang menunjukkan kompetensi yang diharapkan. Menurut BPS (2000), pada tahun 1999 dari 1.2 juta pencari kerja yang memenuhi persyaratan untuk 0.5 juta lowongan kerja hanya 0.4 juta orang. Hal ini jelas memberi indikasi terjadi suatu mismatch antara kompetensi calon karyawan dengan kompetensi yang dibutuhkan. Mengacu pada kenyataan ini, SDM kita harus ditingkatkan sefektif-efektifnya.
Sumber daya manusia merupakan penggerak roda pembangunan. Jumlah dan komposisinya terus berubah berkaitan dengan proses demografi. Pada tahun 2000 terdapat sekitar 141,2 juta tenaga kerja yang sekitar 61.50 persen berada di pulau Jawa. Kendati, menurut BPS, tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) merupakan ukuran yang menggambarkan jumlah angkatan kerja untuk setiap 100 tenaga kerja mengalami sedikit kenaikan dari 67,22 persen (1999) menjadi 67,75 persen pada tahun 2000 yang mengidentifikasikan sedikit kenaikan mutu SDM, kita masih harus berupaya keras meningkatkan mutu SDM dengan membandingkannya minimal dengan mutu tenaga kerja di Asia Tenggara misalnya dengan Singapura dan Malaysia.

Dunia bisnis akan semakin berorientasi global terlebih lagi jika implementasi perdagangan bebas menjadi kenyataan. Kompetisi akan menjadi semakin ketat dan tuntutan dunia akan mening­kat. Hamel dan Prahalad mengatakan bahwa kompetisi pada masa depan tidak hanya dapat dilakukan dengan redefinisi strategi namun perlu juga redefinisi peranan manajemen atas dalam mencip­takan strategi sebab itu peranan para pelaku bisnis dalam mengidenti­fikasi bisnis masa depan, menganalisis, merencanakan, menentukan/merumuskan serta mengimplementasi strategi yang tepat sangat esensial dan menentukan misalnya melalui transformasi organisasi. Taylor (1994) mengemukakan beberapa tindakan yang harus dilakukan dalam melakukan transformasi organisasi agar berhasil dan siap mengha­dapi masalahan-masalah di masa depan yaitu: a) strectch goals yang mensyaratkan bahwa sasaran harus spe-sifik dan dapat diukur, b) visi masa depan, c) struktur yang ramp­ing, d) budaya baru yang mengacu pada profesionalisme, keterbukaan dan kerjasama kelompok, e) berorientasi pada mutu atau layanan berkelas dunia, f) manajemen prestasi; mensyaratkan setiap individu memberikan produk berkua­litas dan layanan yang memuaskan, g) Inovasi menyeluruh, h) kemitraan dan jaringan kerja.


Baca Juga ;

Peran Strategi Sdm Dalam Menghadapi Persaingan Global

Peran Strategi Sdm Dalam Menghadapi Persaingan Global

Peran Strategi Sdm Dalam Menghadapi Persaingan Global

Abad 21 diwarnai oleh era globalisasi

kesiapan pemerintah dalam menghadapinya perlu didukung oleh para pelaku bisnis dan akademisi. Strategi SDM perlu dipersiapkan secara seksama khusunya oleh perusahan-perusahan agar mampu menghasilkan keluaran yang mampu bersaing di tingkat dunia. Perdagangan bebas tidak hanya terbatas pada ASEAN, tetapi antar negara-negara di dunia. Situasi tersebut akan meru­pakan suatu ciri khas dari era global. Untuk mengantisipasi peragangan bebas ditingkat dunia, para pemimpin negara ASEAN pada tahun 1992 memutuskan didirikannya AFTA (ASEAN Free Trade Area) yang bertujuan meningkatkan keunggulan bersaing regional karena produksi diarahkan pada orientasi pasar dunia melalui eliminasi tarif/bea maupun menghilangkan hambatan tarif. Tarif diperkirakan akan berkisar sekitar 0 – 5 persen, berarti rela­tif sangat rendah. Enam negara telah menanda tangani persetujuan CEPT (The Common Effective Preferential Tariff) yang pada dasarnya menyetujui penghapusan bea impor setidak-tidaknya 60 persen dari IL (inclusion list) pada tahun 2003. Pada tahun 2000, terdapat sekitar 53.294 produk dalam IL yang merupakan kurang lebih 83 dari semua produk ASEAN. Globalisasi ekonomi dan sistem pasar bebas dunia menempatkan Indonesia bagian dari sistem tersebut. Pada kompetisi tingkat ASEAN saja, kita dituntut benar-benar siap, apalagi menghadapi persaingan dunia. Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta orang akan merupakan pangsa pasar yang potensial.
Bisnis baru akan banyak muncul, baik yang merupakan investasi dalam negeri maupun yang merupakan investasi modal asing. Fakta menunjukkan bahwa akhir-akhir ini Indonesia “kebanjiran” barang-barang luar negeri seperti dari Cina, Taiwan dan Korea yang relatif murah harganya. Dengan demikian, perusahaan-perusahaan Indonesia tidak hanya bersaing dengan perusahaan didalam negeri namun mereka mau tidak mau harus bersaing dengan perusahaan Multinasional dan perusahaan-perusa­haan dari negara lain. Perusahaan-perusahaan Indonesia dituntut mampu bersaing secara profesional pada skala dunia (global) supaya dapat tetap survive dan bahkan berkembang. Kotter (1992) mengingatkan bahwa globa­lisasi pasar dan kompetisi menciptakan suatu perubahan yang sangat besar. Strategi yang tepat harus diaplikasi untuk meraih keberhasilan melalui pemanfaatkan peluang-peluang yang ada pada lingkungan bisnis yang bergerak cepat dan semakin kompetitif.

Banyak perusahaan-perusahaan di dunia dan di Indonesia telah menyadari hal tersebut dan memilih strategi perusahaan yang tepat. Namun tidak sedikit pula dari mereka yang tidak memperhitungkan implikasi langsung strate­gi perusahaan tersebut terhadap sumber daya manusia. Suatu con­toh, suatu perusahaan yang sebelumnya memilih strategi analyser dan bersifat sangat berhati-hati dalam mengelola dan memanfaatkan peluang bisnis serta memiliki budaya perusahaan yang cenderung konvensional, birokratis, kurang inovatif dan berorientasi lokal, suatu saat mengubah strateginya menjadi prospector (pelopor). Perusahaan tersebut akan mengalami banyak persoalan jika SDMnya dan budaya perusahaannya tidak dikelola dengan efektif. Perusahaan dengan strategi prospector harus didukung oleh SDM yang menganut nilai-nilai inovatif, tidak birokratis dan fleksi­bel. Tanpa ada kesesuaian antara strategi perusahaan dan strategi SD, maka hampir pasti perusahaan tersebut akan menghadapi kesulitan.


Sumber: https://civitas.uns.ac.id/kasiono/seva-mobil-bekas/

Perkembangan Teori Komunikasi

Perkembangan Teori Komunikasi

Perkembangan Teori Komunikasi

Menarik bahwa dalam berbagai agama, genesis (proses penciptaan awal manusia) kerap dijelaskan dengan perspektif antropologi komunikasi yang kental. Ada mufasir – ahli tafsir Al Qur’an – yang melihat bahwa sebenarnya yang menentukan Adam sebagai manusia pertama adalah kemampuannya untuk melakukan komunikasi. Ini bisa dilihat dalam Al Qur’an Surat Al Baqoroh (2: 30-33), bahwa ketika diciptakan, Tuhan “mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya” (ayat 31, garis miring dari saya).
“Nama-nama” merupakan terjemahan dari kata asmâ’, bentuk plural dari ism, yang dalam bahasa Inggris adalah sign atau symbol. Dari sini kemudian diartikan bahwa Adamlah yang pada mulanya memiliki kemampuan untuk memproduksi sistem tanda.
Dengan sistem penandaan yang dibuatnya itu, dimungkinkan bagi “spesies” Adam ini untuk berkomunikasi, mengembangkan pengetahuan, mengkonservasi pengalaman untuk ditransformasikan kepada individu atau komunitas lain, baik kepada yang memiliki dimensi waktu yang sama, ataupun yang hidup sesudahnya. Atas dasar itulah maka, secara antropologi lingusitik, Adam menjadi “manusia pertama” dalam pengertian “manusia sempurna” (homo sapiens) pertama, karena kemampuannya menggunakan sistem tanda itu.
Selanjutnya akan dijelaskan perspektif antropologi perkembangan ilmu komunikasi dalam beberapa periode yang dikenal sampai saat ini.

1. Tahap Awal sampai Tahun 1930-an.

Periode ini merupakan gabungan dari fase fragmentasi sebagaimana yang dibuat oleh Delia (1900-1940) dan fase awal (early communication study) dan perkembangan speech & journalisme tahun 1900 – 1930-an menurut Ruben dan Davis. Berikut ini adalah beberapa hal yang menarik dari masa itu untuk dilihat dari perspektif antropologi.
Ruben dan Davis (hal. 22) menjelaskan bahwa masa Yunani merupakan era demokrasi awal, di mana telah dikembangkan bentuk pemerintahan demokratis. Berbagai bidang kehidupan masyarakat, mulai dari bisnis, pemerintahan, hukum dan pendidikan kesemuanya disampaikan secara oral. Atas dasar itulah, maka mulai berkembang retorika sebagai bentuk persuasi.
Secara arkeologis, artefak maupun situs dari zaman Yunani yang sampai sekarang masih ada tampaknya memang menunjukkan suasana demokrasi berbasis komunikasi oral itu. Misalnya bila kita melihat susunan ruang senat di Atena yang formasi tempat duduk dibuat melingkar (radial) dan berundak. Dengan susunan yang demikian, maka pembicaraan di dalam forum senat ini memungkinkan untuk terjadinya suasana yang dialogis di antara para senator. Ini berbeda dengan bentuk yang berhadap-hadapan dua arah yang mengindikasikan adanya relasi kekuasaan tertentu. Pada keraton di Jawa, misalnya, ruang sitihinggil yang menjadi pertemuan antara raja dengan rakyat merupakan ruangan segi empat di mana ada satu kursi (singgasana) raja, sementara di arah yang berlawanan adalah tempat kawula (rakyat) yang ngléséh (duduk tampa kursi dan alas) di bawah raja. Ini tentu mencerminkan suasana yang feodalistik.
Sistem hukum saat itu juga sudah mengenal pengadilan dengan pembela dan juri yang jumlahnya sampai ratusan (ibid.: hal. 22). Pengaduan dan gugatan hukum merupakan hal yang sudah lazim. Bagi pembela, misalnya, kemampuannya melakukan public speaking menjadi persyaratan mutlak. Itulah mengapa retorika kemudian menarik minat banyak orang untuk mempelajarinya.
Tradisi komunikasi lisan yang kuat juga ditunjukkan dengan banyaknya ditemukan folklore yang berasal dari masa ini. Wujudnya adalah mitologi Yunani. Sampai sekarang, mitos yang berasal dari dari masa masih digunakan secara luas, utamanya digunakan untuk memberikan istilah bagi fenomena tertentu. Di dalam psikologi, misalnya muncul konsep oedipus complex dan narcisme untuk menggambarkan kejiwaan yang mencintai ibu dan mengagumi diri sendiri secara berlebihan. Mitologi tentang Kotak Pandora dan Kuda Troya sering digunakan dalam, meski tidak terbatas hanya, dunia politik.
Pada masa kekaisaran Romawi berbeda lagi. Situasi politik yang berkembang bukan lagi demokratis, melainkan aristokrasi dengan orientasi emperium dan ekspansi wilayah. Persuasi masih menjadi sesuatu yang penting, namun lokasinya tidak lagi di dalam senat maupun pengadilan, karena keputusan politik dan hukum ditentukan sepenuhnya oleh kaisar, namun berpindah ke dalam teater. Karenanya, wujud persuasi adalah drama.
Colosseum merupakan bentuk ‘teater’ yang menarik untuk diperhatikan dalam hubungannya dengan komunikasi. Colosseum adalah tempat penyelenggaraan sebuah “drama” pertunjukan yang spektakuler, yaitu sebuah pertarungan antara binatang (venetaiones), pertarungan antara tahanan dan binatang, eksekusi tahanan (noxii), pertarungan air (naumachiae) dengan cara membanjiri arena, dan pertarungan antara gladiator (munera). Namun sebenarnya tempat ini juga merupakan tempat berlangsungnya drama politik di mana kaisar hendak menunjukkan kekuasaan dengan memberikan pertunjukkan yang sering bersifat intimidatif kepada rakyatnya. Ini, sekali lagi menunjukkan bahwa retorika menjadi bentuk komunikasi yang penting pada masa itu.
Baik pada masa Yunani maupun Romawi, mengingat pentingnya retorika bagi kepentingan publik, patut diduga telah dikembangkan menu-menu atau nutrisi tertentu (nutritional anthropology) yang dimaksudkan untuk menghasilkan suara yang lantang, sehingga akan menopang keberhasilan retorika. Dugaan ini diajukan karena di Jawa, para pesinden (penyanyi) yang mengiringi karawitan dalam pementasan kesenian tradisional seperti wayang kulit atau ketoprak, melakukan diet atau konsumsi makanan tertentu. Di samping juga ada perlakuan tertentu terhadap organ vokal. Misalnya dengan melakukan gurah (mengeluarkan lendir dari rongga dada melalui hidung dengan ramuan tertentu) secara rutin untuk menjaga kualitas suaranya. Belakangan metode ini diadopsi oleh para qari/qariah.
Kajian komunikasi meredup pada era Pertengahan dan Pencerahan, disebabkan memudarnya sistem demokrasi dan tradisi oral. Bahkan pada akhir abad ke-14, di mana teori komunikasi sebelumnya dikembangkan dalam retorika, sekarang dikaji sebagai bidang keagamaan.
Namun demikian, gagasan Habermas (1989) tentang ruang publik di Eropa pada masa ini memiliki warna antropologi yang kental. Ketika ia berbicara tentang transformasi ruang publik pada masyarakat borjuis Eropa pasca revolusi industri, ia melihat bahwa kehadiran pers ternyata telah menggeser keberadaan ruang publik itu.
Sebelumnya, demikian Habermas, ruang komunikasi publik terletak di saloon dan coffee house. Di situlah diskusi, perdebatan dan pembentukan opini atas isu-isu publik terjadi. Orang datang ke bar tidak sekadar untuk berkumpul, namun juga untuk mendiskusikan isu politik, misalnya, yang sedang berlangsung. Persuasi dan retorika, karenanya, terjadi dalam komunikasi oral di tempat itu.
Kehadiran media massa pers kemudian merubah pola komunikasi yang demikian. Perdebatan politik tidak lagi dilakukan di tempat “tradisional” semacam itu, namun bergeser ke media massa. Koran memfasilitasi pembentukan opini publik dalam skala ruang yang lebih luas.
2. Era Tahun 1940-1950
Oleh Ruben, masa ini disebutnya sebagai “interdisciplinary growth” bagi perkembangan ilmu komunikasi. Yang mencirikan adalah munculnya sejumlah ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu sosial turut mengembangkan teori komunikasi yang melampaui batas ilmu asal mereka.
Perspektif antropologi yang digunakan pada masa ini misalnya adalah ketika dikembangkan riset tentang posisi dan jarak tubuh dan gesture dalam kebudayaan tertentu, yang kemudian dikenal dengan expectancy violations theory. Kebudayaan yang berbeda akan menafsirkan jarak personal secara berbeda pula. Judee Burgon, misalnya, mendefinisikan ruang personal (personal space) sebagai ruang yang diinginkan oleh individu untuk menjaga jarak dengan orang lain. Menurutnya, ukuran dan bentuk personal space itu ditentukan oleh norma budaya dan kehendak individu.
Di sisi lain, Edward Hall, antropolog dari Illinois Institute of Technology, menggunakan istilah proxemic untuk menyebut penggunaan jarak sebagai elaborasi budaya. Interpretasi akan jarak ini, menurutnya, merupakan sesuatu yang tidak disadari oleh individu. Ia mengidentifikasi ada empat jarak proxemic dalam budaya Amerika, yaitu intimate (0-18 inci), personal (18 inci – 4 kaki), sosial (4-10 kaki), dan publik (lebih dari 10 kaki).
Riset antropologi terhadap bidang komunikasi semacam itu sudah dilakukan oleh berbagai ahli dari disiplin lain, meski tidak memiliki label sebagai penelitian komunikasi.
3. Era Tahun 1960-an
Era ini disebut sebagai era integrasi yang ditandai oleh adanya sintesis pemikiran dari retorika, jurnalistik dan media massa dengan disiplin dari ilmu sosial lainnya. Gejala komunikasi menjadi perhatian penting dalam berbagai disiplin ilmu.
Dalam pendapat Baran & Davis (hal. 26), salah satu karya yang menjadi landmark bagi era ini adalah Diffusion of Innovation (Rogers, 1962) yang berbicara tentang teori difusi, yaitu penjelasan tentang bagaimana proses gagasan baru dan inovasi teknologi dikenalkan sampai diadaptasi oleh kelompok, organisasi atau masyarakat.
Munculnya teori difusi ini tampaknya menjadi penanda penting integrasi ilmu komunikasi dengan ilmu-ilmu lain, utamanya bila melihat situasi era itu yang sudah memasuki ketegangan politik dan ideologi blok-blok yang terlibat dalam Perang Dingin di satu sisi, dan menguatnya paradigma pembangunan (developmentalisme) dalam bidang ekonomi dan sosial negara-negara yang baru terlepas dari penjajahan dan cenderung terpengaruh oleh Blok Barat dalam peta Perang Dingin itu.
Selain teori difusi, yang juga dipublikasi dengan nafas sejenis adalah misalnya tulisan Daniel Lerner (1958), The Passing of Traditional Society: Modernizing the Middle East, terjemahan Indonesia berjudul Memudarnya Masyarakat Tradisional (1983) yang berbicara tentang bagaimana modernisasi dalam masyarakat di Timur Tengah salah satunya ternyata dipengaruhi oleh (media) komunikasi yang berkembang di tengah masyarakat.
Dari perspektif antropologi, kedua tema itu, yaitu difusi dan modernisasi, melihat bahwa masyarakat dengan kebudayaan beserta nilai yang dihayatinya serta pola komunikasi yang ada menjadi sangat penting untuk diperhatikan. Proses perubahan sosial (termasuk pembangunan) hanya berhasil bila aspek kebudayaan ini diperhatikan secara sungguh-sungguh.
Dalam teori difusi, misalnya, pola dan jenis kepemimpinan ternyata mempengaruhi kesediaan anggota kelompok untuk melakukan adopsi dan inovasi tertentu. Sementara dalam proses modernisasi, sebagaimana dijelaskan Lerner, aspek kebudayaan setempat bisa dipengaruhi oleh kehadiran media komunikasi tertentu. Media bisa dimanfaatkan untuk melakukan perubahan sosial. Koentjaraningrat (1990) menyebut hal yang demikian semacam memiliki warna antropologi terapan dan antropologi pembangunan – menggunakan pemahaman antropologis untuk perlakuan tertentu, termasuk perubahan sosial dan pembangunan.

Pada era ini juga, dalam catatan Baran dan Davis, mulai dikembangkan antropologi lingusitik, sekaligus mengemuka apa yang dikenal sebagai komunikasi antarbudaya (intercultural communication).


Sumber: https://blogs.uajy.ac.id/teknopendidikan/seva-mobil-bekas/