Bahasa Pengumuman CPNS

Bahasa Pengumuman CPNS

Bahasa Pengumuman CPNS

Sudah menjadi aturan bila surat dinas atau surat resmi dari suatu instansi harus menggunakan bahasa yang baku dan resmi.

Namun, agak ironis ketika kita memperhatikan beberapa pengumuman pendaftaran calon pegawai negeri sipil (CPNS) yang dikeluarkan masing-masing pemerintah kabupaten/kota beberapa waktu lalu. Penggunaan bahasa pengumuman CPNS tersebut pada umumnya masih menggunakan beberapa bentuk dan ejaan yang tidak baku.

Misalnya, penulis mengambil sampel pengumuman CPNS di Kota Solo. Di pengumuman tersebut terdapat sebuah persyaratan yang ditulis “Foto copy ijazah dan transkrip nilai dilegalisir dan/atau ijazah/sertifikat profesi yang dipersyaratkan”. Ada dua kata yang salah dalam kutipan tersebut, yakni penulisan “foto copy” dan “dilegalisir”. Kata “foto copy” dalam kutipan pengumuman tersebut tidak baku karena penulisan serapan unsur asing yang salah. Pembenaran bentuk tersebut seharusnya adalah “fotokopi”.

Penggunaan kata “dilegalisir” juga salah karena tidak baku. Seharusnya kata tersebut diganti dengan kata “dilegalisasi”. Bentuk tersebut berasal dari kata “legalisasi”. Kata “legalisasi” berarti proses pelegalan atau pengesahan. Hal ini dapat dibandingkan dengan penggunaan “minimalisasi”, “inventarisasi”, “akomodasi”, dan sebagainya. Akan tetapi, dalam masyarakat masih sering ditemukan penggunaan kata “minimalisir”, “inventarisir”, dan “akomodir” yang sebenarnya tidak tepat.

Surat resmi dari suatu instansi pemerintah dapat menjadi rujukan penggunaan bahasa baku dan resmi bagi masyarakat. Oleh karena itu, penggunaan bahasanya harus berpedoman pada aturan tata bahasa yang berlaku, yakni sesuai KBBI, ejaan yang disempurnakan (EYD) dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.

Baca Juga :

Moda Murah, Rawan Musibah

Moda Murah, Rawan Musibah

Moda Murah, Rawan Musibah

Mudik sudah menjadi rutinitas tahunan yang mentradisi di Indonesia. Untuk menghemat biaya mudik, biasanya pemudik menggunakan sepeda motor. Selain hemat di ongkos, sepeda motor dapat memperlancar perjalanan si pengendara. Pasalnya, arus kendaraan sekitar Lebaran sangat padat sehingga terjadi kemacetan. Di area kemacetan, sepeda motor dapat lebih lancar berjalan daripada mobil atau angkutan lainnya.

Akan tetapi, penggunaan sepeda motor dalam perjalanan mudik sangat rentan kecelakaan. Sudah banyak kasus kecelakaan sepeda motor saat arus mudik ataupun balik. Bisa dikatakan, sepeda motor adalah moda murah tapi rawan musibah. Ada beberapa faktor mengapa penggunaan sepeda motor saat mudik rentan kecelaakaan.

Pertama, kondisi sepeda motor yang kurang optimal. Untuk digunakan saat mudik, sepeda motor harus dalam keadaan baik. Sebelum digunakan mudik, sebaiknya motor dicek terutama bagian busi, oli, lampu-lampu, keausan ban dan tekanan angin. Kedua, kondisi si pengendara yang kurang fit. Lelah dan kantuk adalah risiko yang paling berbahaya bagi pemudik sepeda motor. Lelah dan kantuk dapat mengurangi daya konsentrasi saat mengendarai sepeda motor. Ketiga, cuaca yang buruk. Cuaca yang buruk seperti hujan dan kabut dapat mengakibatkan pengendara mengalami kecelakaan. Pasalnya, jalan akan menjadi licin dan sering kali pengendara akan berkurang jarak pandangnya karena kabut ataupun hujan. Keempat, kondisi jalan yang buruk. Jalan yang berlubang dan bergelombang dapat membuat pengendara motor kurang menjaga kestabilan berkendara. Lubang jalanan juga dapat membuat ban motor terperosok dan mengakibatkan motor jatuh. Kelima adalah pemudik sering membawa barang melebihi muatan.

Banyaknya pemudik sepeda motor mengindikasikan masyarakat mulai tidak puas dengan kendaraan umum. Kendaraan umum identik dengan penumpang berjubel, tidak tepat waktu, aksi kriminal, calo tiket, dan lain-lain. Oleh sebab itu, untuk meminimalisasi dampak bahaya mudik dengan sepeda motor, sebaiknya pemerintah melakukan pembenahan-pembenahan di bidang transportasi umum.

Sumber : https://nashatakram.net/tinycam-monitor-pro-apk/

Perempuan yang menangisi malam

Perempuan yang menangisi malam

Perempuan yang menangisi malam

Malam seperti biasa. Gelap dan setengah mengiba pada purnama untuk sekadar memberi cahaya. Perempuan itu duduk di atas kursi ruang keluarga. Kursi kayu yang entah berapa tahun menghuni rumah itu. Televisi mati. Lampu temaram membuat eksotisme absurd pada guraian rambut perempuan itu. Jam dinding seakan memberi irama stagnan pengantar malam. Suasana rumah sepi. Bahkan suara serangga malam enggan untuk menemani gelap malam. Sungguh malam yang teramat kejam menelan seorang perempuan yang sendiri dalam kesepian.
Perempuan itu masih dalam keheningan malam. Ia sedang menghayati malam. Menelan malam dan membuangnya dalam kenangan. Ia bernyanyi dalam keheningan malam. Nyanyian kesepian yang barangkali terhenti ketika pagi tiba. Dan mungkin akan terulang lagi di malam-malam berikutnya. Ia masih duduk dengan ketenangan tubuhnya. Sesekali ia menghela napas panjang. Kemudian diam tak bergerak. Ada suatu yang menggelisahkan dirinya. Ia ingin beranjak duduk, namun tubuhnya serasa tidak kuat untuk berjingkat. Ia ingin segera berlari meninggalkan malam.
Kegelisahannya memuncak ketika isak tangis keluar dari napasnya. Ada air mata dan desah napas yang terpenggal isak tangis. Ia seperti tak kuasa untuk menahan beban berat yang ia rasakan untuk beberapa saat lalu. Ia tak dapat bercerita dengan siapapun di sana. Tidak ada orang lain. Ia hanya sendiri. Hanya bisa menangis dan tak mampu meratap. Hanya isak dan air mata. Itu saja. Barangkali jika ada seorang yang bisa mengajaknya bercerita, ia akan merasakan ketenangan. Atau barangkali ia lebih senang untuk berbicara pada dirinya sendiri melalui air mata.
Dinding-dinding rumahnya seakan menjadi rekaman peristiwa akan dirinya. Dalam duduknya, perempuan itu sekilas melihat sebuah bayangan. Tampak absurd, semu, dan bias. Akan tetapi, ia mampu menetralisir ketidakjelasan itu menjadi bayangan yang sempurna. Ada anak kecil dihadapannya menari dengan langkah-langkah yang eksotis. Anak perempuan umur sekitar enam tahun. Wajahnya mungil dan manis. Anak perempuan itu menari balet. Meliuk-liukkan tubuhnya seperti karet elastis. Tangannya diayun-ayunkan seperti sayap burung camar meliuk-liuk di atas deru ombak. Anak kecil itu terus menari dan kemudian berhenti ketika melihat ada seorang perempuan dewasa duduk menangis tanpa meratap dihadapannya.
Anak kecil itu tersenyum. Senyum yang sangat dingin. Sedingin udara di ruang itu. Senyum itu ia tujukan untuk perempuan dewasa dihadapannya. Senyum itu seperti memberi pertanyaan tentang “ mengapa kau menangis?”. Senyum itu juga seperti isyarat untuk perempuan dewasa itu untuk menghentikan tangisnya. Senyum kecil itu seperti senyum magis. Dingin dan memerindingkan bulu kuduk perempuan itu. Sejenak perempuan itu menahan isaknya. Menahan airmatanya dan mencoba mengatur irama napasnya yang tak beraturan. Perempuan itu menatap anak kecil di hadapannya. Mereka saling tatap. Tidak ada komunikasi verbal. Namun ada suatu hubungan komunikasi di antara dua mata yang sedang beradu tersebut. Barangkali telepati atau kontak batin.
Perempuan itu kemudian bangkit dari duduknya dan mengulum senyum di mulutnya yang pucat. Perempuan dewasa dan seorang anak kecil sama-sama berdiri di dalam ruang temaram. Tak ada kata yang terlontar. Tidak ada gerakan slow motion seperti adegan-adegan yang sering ditemukan dalam film. Semua tampak alami, namun terasa magis. Ada suatu suasana yang sakral, entah dalam senyum itu, entah juga pada dingin udara di ruang itu. Sementara jam dinding terus mengalunkan irama stagnan. Perempuan itu mendekati anak kecil itu. Anak kecil itu tetap diam. Tangan perempuan itu ingin menjamah tubuh anak kecil itu. Kemudian bibir perempuan itu bergerak hendak mengucap sebuah kata atau kalimat. Namun napasnya masih saja belum teratur. Perempuan itu menggerakkan bibirnya lagi. Kali ini dengan iringan napas yang telah berat ditatanya. Ada sebuah kata terlontar dari mulut perempuan itu “Sayang!!”
Tiba-tiba senyum dingin anak kecil itu menghilang. Wajahnya tampak sayu dan ingin menangis. Dan tak selang berapa lama anak kecil itu membalikkan badan. Segera saja dengan kaki kecilnya ia berlari menjauhi ruang itu. Ia berlari dengan cepat. Seperti spontan tanpa dorongan niat. Tanpa gerakkan elastis seperti tarian balet. Anak kecil itu berlari meninggalkan perempuan yang sempat mengucapkan satu kata untuknya. Menuju sebuah pintu di ujung ruangan. Belum sempat perempuan itu mengejar, anak kecil itu sudah keluar melalui pintu dan menutup pintu itu dengan cepat. Ada ketakutan dalam benak perempuan itu. Barangkali anak kecil itu juga ketakutan ketika mendengar sebuah kata dari perempuan itu.
Perempuan itu menarik gagang pintu yang telah tertutup. Mencoba membuka pintu tersebut. Akan tetapi, sia-sia saja. Pintu itu tak bisa dibukanya. Ia kemudian menjatuhkan tubuhnya dan bersandar pada daun pintu. Ia kembali menangis. Tangisnya hanya berbuah isak dan air mata. Sama sekali bukan ratapan. Ia menangis sunyi. Dan malam semakin bangkit dalam kegelapan. Gelap malam selalu menelan tangis perempuan itu. Ya. Setiap malam perempuan itu selalu menangis. Barangkali ia sangat takut menghadapi malam yang datang dalam siklus pergantian hari.
Ada sayat perih di hatinya. Tersungkur sendiri dalam ruang remang-remang dan sangat sepi. Sepi sekali. Lalu entah darimana datang suara. Suara yang entah. Begitu memilukan dan menyayat hati. Bukan melodi Mozart atau alunan nada Kitaro. Suara itu sangat terasa menusuk-nusuk jantung hatinya. Barisan nada-nada minor merambat melalui gendang telinganya. Masuk ke dalam organ yang lebih dalam hingga masuk ke dalam arteri dan aorta, menyebar dalam darah. Menyayat setiap cabang urat syaraf. Berproses dalam dimensi ruang absurd. Serba entah dan memilukan. Semua hanya berujung pada isak dan airmata perempuan itu. Perempuan yang selalu menangisi malam.
Tiba-tiba saja, terdengar derit pintu. Pintu lain. Bukan pintu tempat bersandar wanita itu. Seorang lelaki masuk dalam ruangan. Lelaki dengan kemeja biru muda dan dasi yang sudah tidak rapi. Wajahnya kelihatan lelah, sayu, dan sepertinya kantuk telah mengganjal kedua kelopak matanya. Perempuan itu tak menyadari ada seorang lelaki yang masuk dalam ruangan tersebut. Perempuan itu tetap mengisak dan meneteskan bulir-bulir air mata.
Lelaki tersebut menghampirinya. Lelaki tersebut memegang tangannya, namun perempuan itu hanya menatap lelaki itu dengan pandangan kosong. Lelaki tersebut menggerakkan mulutnya dan sedikit menggerakkan kepalanya ke bawah—semacam anggukan. Barangkali berbisik sesuatu. Atau mungkin juga sebuah isyarat untuk perempuan itu. Lantas lelaki tersebut membopong perempuan itu. Masuk dalam sebuah kamar. Lampu dinyalakan. Lelaki tersebut membaringkan perempuan tersebut di atas ranjang. Perempuan itu masih mengisak dan meneteskan airmata. Ada kepiluan dan kesedihan yang juga dirasakan lelaki tersebut ketika menatap keadaan perempuan itu.
“Tidurlah Sarasvati..! Anak kita sudah tidur nyenyak dalam mimpinya. Ia sudah bermain riang dalam taman surga ditemani malaikat dan peri-peri kecil yang sangat baik. Tidurlah…tidur..!” lelaki itu berbisik ke telinga perempuan itu.
Lelaki itu meninggalkannya dan mematikan lampu kamar. Keluar dan menutup pintu. Perempuan itu sepertinya lebih tampak tenang. Ia berbaring miring di atas ranjang. Akan tetapi, ia masih saja menangis. Menangisi malam yang telah menghadiahkan keabadian mimpi taman surga bagi anaknya. Ia terus menangis tanpa ratapan gelap malam sampai lelah dan tertidur. Hampir subuh mungkin’

Sumber : https://vhost.id/bloons-td-apk/