Mahasiswa IPB Jadi Juara Di Rusia

Mahasiswa IPB Jadi Juara Di Rusia

Mahasiswa IPB Jadi Juara Di Rusia

Mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) kembali mengharumkan nama Indonesia. Mahasiswa Departemen Manajemen Hutan (MNH) Fakultas Kehutanan (Fahutan), Mahtuf Ikhsan, berhasil menjadi juara dalam acara XV International Junior Forest Contest 2018.

“Itu merupakan acara tahunan yang diselenggarakan The Federal Agency for Forestry dan masih di bawah naungan Ministry of Natural Resources and Environment of The Russian Federation,” kata Mahtuf.

Tahun ini, sambung dia, kompetisi tersebut berlangsung di Hotel Planernaya,

Domodedovo, Rusia dan diikuti 28 peserta dengan asal negara yang berbeda. “Setiap negara hanya boleh diwakili satu peserta. Setiap peserta boleh mengikutkan dosen pembimbingnya. Akan tetapi, saya berangkat seorang diri dan sangat bersyukur saat di sana panitianya sangat ramah dan membantu sekali,” kenang Mahtuf.

Sebelum ia terbang ke negara beruang putih itu, dirinya harus mengumpulkan

paper project yang nantinya harus dipresentasikan di depan khalayak dan dewan juri saat perlombaan berlangsung. Ide yang ia bawakan adalah mengenai pengembangan daun mahoni sebagai energi alternatif pengganti aki. Alasan ia memilih topik tersebut adalah karena aplikatif di Indonesia serta krusialnya fungsi aki dalam sebuah mesin.

Mahasiswa Fahutan semester lima ini mengakui dirinya tak pernah menyangka

akan membawa pulang predikat The Third Winner (Bronze Medal) pada kompetisi bergengsi itu. Pasalnya, ide serta penampilan dari negara lain sangat bagus dan menarik perhatian juri.

Meski sudah menjadi bintang, ia tetap rendah hati dan visioner. Baginya menghargai waktu sama dengan menghargai kehidupan. Ia tak segan membagi ilmunya kepada siapa saja.

 

Baca Juga :

Simulasi Tanggap Bencana Di Sekolah Siswa SDIT Azzahra Belajar Hadapi Gempa

Simulasi Tanggap Bencana Di Sekolah Siswa SDIT Azzahra Belajar Hadapi Gempa

Simulasi Tanggap Bencana Di Sekolah Siswa SDIT Azzahra Belajar Hadapi Gempa

Bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Kabupaten

Bogor, SDIT Azzahra, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor menggelar simulasi Siaga Bencana Gempa Bumi, kemarin. Kegiatan ini diikuti 132 siswa dari kelas 1-6.

SELAMA dua hari, para siswa menda­pat pemahaman tentang status ben­cana

dan persiapan diri bila terjadi bencana agar tidak panik. Selain itu mereka juga diberi tahu tindakan apa saja yang harus dilakukan sebelum, saat dan setelah terjadi bencana. Se­lain pemberian materi dari fasilitator KSR, ratusan siswa juga mempraktek­kan langsung simulasi evakuasi ben­cana gempa bumi dari dalam ruang kelas menuju titik kumpul di lapangan sekolah.

Kepala Sekolah SDIT Azzahra Hair­udin mengatakan, melalui simulasi ini

pihaknya ingin memberikan gam­baran bencana secara konkret sesuai dengan tahapan perkembangan ber­pikir para siswanya. “Kami juga ingin menumbuhkan jiwa keberanian, ke­pemimpinan serta mental yang kuat dalam diri siswa untuk menghadapi bahaya yang timbul ketika bencana terjadi. Karena kita tidak tahu kapan bencana itu akan datang,” katanya kepada Metropolitan.

 

Sumber :

https://rollingstone.co.id/

Cegah Tawuran Pelajar Lewat Trilogi Pendidikan

Cegah Tawuran Pelajar Lewat Trilogi Pendidikan

Cegah Tawuran Pelajar Lewat Trilogi Pendidikan

Kepala SMKN 2 Bogor, Joko Mustiko, mengaku terus bersinergi dengan

seluruh elemen keluarga dan masyarakat di sekitar sekolah. Hal itu sebagai upaya untuk mencegah tawuran pelajar yang dilakukan peserta didik. “Kita terus lakukan, karena keber­langsungan sistem pendidikan akan berjalan lancar jika trilogi pendidikan diimplementasikan secara benar,” katanya.

Dalam mengelola peserta didik, sambung dia, sekolah secara aktif

mengedepankan tata tertib dan Standar Operasional Seko­lah (SOP). Termasuk gerakan disiplin sekolah dalam menganti­sipasi tawuran pelajar.

Untuk itu, Joko berharap orang tua siswa ikut berperan aktif memperhatikan

anak-anaknya saat berada di rumah. Masyara­kat juga harus peduli terhadap tingkah laku siswa. Seperti jika melihat kerumunan pelajar yang berada di luar jam sekolah se­baiknya dibubarkan

 

Sumber :

https://voi.co.id/

Hukum Mencium Tangan Dan Membongkokkan Badan Ketika Bersalaman

Hukum Mencium Tangan Dan Membongkokkan Badan Ketika Bersalaman

Hukum Mencium Tangan Dan Membongkokkan Badan Ketika Bersalaman
Hukum Mencium Tangan Dan Membongkokkan Badan Ketika Bersalaman

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah

(Wafat: 1420H) mengatakan:

و أما تقبيل اليد ، ففي الباب أحاديث و آثار كثيرة ، يدل مجموعها على ثبوت ذلك
عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فنرى جواز تقبيل يد العالم إذا توفرت الشروط
الآتية :

1 – أن لا يتخذ عادة بحيث يتطبع العالم على مد يده إلى تلامذته ، و يتطبع هؤلاء
على التبرك بذلك ، فإن النبي صلى الله عليه وسلم و إن قبلت يده فإنما كان ذلك
على الندرة ، و ما كان كذلك فلا يجوز أن يجعل سنة مستمرة ، كما هو معلوم من
القواعد الفقهية .

2 – أن لا يدعو ذلك إلى تكبر العالم على غيره ، و رؤيته لنفسه ، كما هو الواقع
مع بعض المشايخ اليوم .

3 – أن لا يؤدي ذلك إلى تعطيل سنة معلومة ، كسنة المصافحة ، فإنها مشروعة بفعله
صلى الله عليه وسلم و قوله ، و هي سبب تساقط ذنوب المتصافحين كما روي في غير ما حديث واحد ، فلا يجوز إلغاؤها من أجل أمر ، أحسن أحواله أنه جائز .

“Berkaitan mencium tangan; dalam soal ini terdapat banyak hadis dan atsar dari kalangan salaf yang secara keseluruhan menunjukkan bahawa hadis tersebut sahih dari Nabi. Oleh sebab itu, kami berpendapat dibolehkan mencium tangan seorang ulama (yang ahli sunnah, bukan ahli bid’ah – pent.) jika memenuhi beberapa syarat berikut ini.

1. Perbuatan mencium tangan tersebut tidak dijadikan sebagai kebiasaan. Sehingga ulama tertentu terbiasa menghulurkan tangannya kepada murid-muridnya. Demikian juga para murid terbiasa mengambil barakah dengan mencium tangan gurunya. Ini kerana Nabi sendiri jarang sekali tangannya dicium oleh para shahabat. Jika demikian maka tidak boleh menjadikannya sebagai kebiasaan yang dilakukan terus-menerus sebagaimana kita ketahui dalam perbahasan kaedah-kaedah fiqh.

2. Perbuatan mencium tangan tersebut tidaklah menyebabkan ulama tersebut merasa sombong dan merasa lebih baik daripada yang lain serta menganggap dirinyalah yang paling hebat berbanding yang lain.

3. Perbuatan mencium tangan tersebut tidak menyebabkan hilangnya sunnah Nabi yang sudah diketahui seperti sunnah bersalaman. Bersalam atau berjabat tangan adalah satu amal yang dianjurkan berdasarkan perbuatan dan sabda Nabi. Bersalaman tangan adalah salah satu sebab gugurnya dosa-dosa orang yang melakukannya sebagaimana terdapat dalam beberapa hadis. Oleh itu, tidak sepatutnya sunnah berjabat tangan ini ditinggalkan kerana mengejar suatu amalan yang hanya berstatus mubah (dibolehkan).” (Silsilah al-Ahaadits ash-Shahihah 1/159, Maktabah Syamilah)

[Kedua] Membongkokkan atau menundukkan badan sebagai penghormatan

Hadis daripada Anas B. Malik radhiyallahu ‘anhu

Kami bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَنْحَنِي بَعْضُنَا لِبَعْضٍ قَالَ لَا قُلْنَا أَيُعَانِقُ بَعْضُنَا بَعْضًا قَالَ لَا وَلَكِنْ تَصَافَحُوا

“Wahai Rasulullah, adakah sebahagian kami boleh membongkokkan (atau menundukkan) badan kepada sebahagian yang lain (yang ditemui)?” Rasulullah bersabda, “Tidak boleh.” Kami bertanya lagi, “Adakah kami boleh berpelukan jika saling bertemu?” Beliau bersabda, “Tidak boleh. Yang benar hendaklah kalian saling bersalaman.” (Sunan Ibnu Majah, no. 3692. Dinilai hasan oleh al-Albani)

Anas B. Malik radhiyallahu ‘anhu berkata

قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ الرَّجُلُ مِنَّا يَلْقَى أَخَاهُ أَوْ صَدِيقَهُ أَيَنْحَنِي لَهُ قَالَ لَا قَالَ أَفَيَلْتَزِمُهُ وَيُقَبِّلُهُ قَالَ لَا قَالَ أَفَيَأْخُذُ بِيَدِهِ وَيُصَافِحُهُ قَالَ نَعَمْ

“Seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, adakah kami boleh saling menundukkan (atau membongkokkan) badan apabila salah seorang dari kami bertemu dengan saudaranya atau sahabatnya?” Rasulullah menjawab, “Tidak.” Lelaki tersebut bertanya lagi, “Adakah boleh mendakapnya (memeluknya) dan menciumnya?” Rasulullah menjawab, “Tidak.” Lelaki itu bertanya lagi, “Adakah boleh mengambil tangannya dan bersalaman dengannya?” Rasulullah menjawab, “Ya.”.” (Sunan at-Tirmidzi, no. 2728. Dinilai hasan oleh at-Tirmidzi dan al-Albani)

Baca Juga:

Larangan Memaki dan Mencerca Berhala

Larangan Memaki dan Mencerca Berhala

Larangan Memaki dan Mencerca Berhala
Larangan Memaki dan Mencerca Berhala

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ

“Dan janganlah kamu memaki cerca ilah-ilah (sesembahan) yang mereka ibadahi selain Allah, kerana nanti mereka akan membalas dengan cara memaki Allah melampau-lampau pula tanpa ilmu.” (Surah al-An’aam, 6: 108)

Faedah Tafsir

1, Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang kaum mukminin dari perbuatan mencaci atau mencerca berhala-berhala orang-orang kafir, kerana Allah mengetahui apabila kaum mukminin mencerca berhala-berhala tersebut maka orang-orang kafir pun akan melawan balas balik dengan cercaan terhadap Allah dan orang-orang kafir itu pun semakin jauh (dari Islam) dan bertambah pula kekufurannya.

2, Kemaslahatan perlu didahulukan berbanding keburukan (mafsadah). Dan kemaslahatan yang kecil perlu ditinggalkan jika boleh menyebabkan timbulnya mafsadah lain atau mafsadah yang jauh lebih besar.

3, Tidak boleh sengaja mencari pasal dengan orang-orang kafir kerana hal itu lebih menenangkan dan lebih mudah membuatkan mereka menerima Islam. Perbuatan sengaja menghina sembahan-sembahan orang-orang kafir boleh mengakibatkan keadaan huru-hara, membangkitkan kemarahan, menyemarakkan kebencian yang tidak sepatutnya berlaku, dan hanya menjauhkan mereka dari memahami Islam.

Baca Juga: Rukun Iman

Uraian dan maksud ayat

Allah melarang Rasul-Nya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan orang-orang yang beriman dari mencaci ilah-ilah (yang sembahan-sembahan) kaum musyrikin, walaupun pada cacian tersebut terdapat kemaslahatan (kebaikan). Ini kerana perbuatan mencaci ilah-ilah kaum musyrikin tersebut memiliki mafsadah (kerosakan) yang jauh lebih besar dari kemaslahatan yang terdapat padanya. Iaitu di mana orang-orang musyrikin itu nanti akan membalas balik setiap cacian tersebut dengan cacian yang lain terhadap Ilah kaum mukminin, sedangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Rabb yang tidak ada ilah (yang berhak diibadahi) selain Dia.

Sebagaimana yang dikatakan oleh ‘Ali B. Abi Thalhah, daripada Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang ayat ini:

يا محمد، لتنتهين عن سبك آلهتنا، أو لنهجون ربك، فنهاهم الله أن يسبوا أوثانهم، فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ

“Orang-orang musyrik itu berkata: “Wahai Muhammad, engkau hentikanlah cacianmu terhadap ilah-ilah kami itu, atau kami akan membalas cacian kepada Rabbmu.” Lalu Allah melarang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan orang-orang Mukmin mencaci patung-patung mereka: “kerana nanti mereka akan membalas dengan cara memaki Allah melampau-lampau pula tanpa ilmu.”.”

‘Abdurrazzaq mengatakan daripada Ma’mar, daripada Qotadah:

كان المسلمون يسبون أصنام الكفار، فيسب الكفار الله عدوا بغير علم، فأنزل الله: وَلا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ

“Dahulu kaum Muslimin mencaci berhala-berhala orang-orang kafir, lalu orang-orang kafir pun membalas dengan cara mencaci Allah Ta’ala secara melampau-lampau dan tanpa berdasarkan ilmu pengetahuan. Lalu Allah menurunkan ayat:

“Dan janganlah kamu memaki cerca ilah-ilah (sesembahan) yang mereka ibadahi selain Allah, kerana nanti mereka akan membalas dengan cara memaki Allah melampau-lampau pula tanpa ilmu.”

Dalam Tafsir al-Qurthubi, disebutkan bahawa Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:

قَالَتْ كُفَّارُ قُرَيْشٍ لِأَبِي طَالِبٍ إِمَّا أَنْ تَنْهَى مُحَمَّدًا وَأَصْحَابَهُ عَنْ سَبِّ آلِهَتِنَا وَالْغَضِّ منها وإما أن إِلَهَهُ وَنَهْجُوَهُ، فَنَزَلَتِ الْآيَةُ

“Orang-orang kafir pernah berkata kepada Abu Thalib (Pak Cik Rasulullah): “Laranglah Muhammad dan para sahabatnya dari memaki dan menghina ilah-ilah (sembahan) kami, atau kami akan membalas balik dengan cara mencaci dan menghina Tuhan-nya.” Maka turunlah ayat ini.” (Tafsir al-Qurthubi, 7/61 – Daar al-Kitaab al-Mishriyah)

Keadaan ini menunjukkan bahawa meninggalkan suatu bentuk kemaslahatan demi menghindari kerosakan yang lebih besar adalah suatu yang didahulukan. Ini antaranya berdasarkan hadis sahih bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ مِنْ أَكْبَرِ الذَّنْبِ أَنْ يَسُبَّ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ، قَالُوا: وَكَيْفَ يَسُبُّ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ؟ قَالَ: يَسُبُّ أَبَا الرَّجُلِ فَيَسُبُّ أَبَاهُ، وَيَسُبُّ أُمَّهُ، فَيَسُبُّ أُمَّهُ
“Termasuk dosa besar adalah orang yang mencaci ayah dan ibunya.”

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana seseorang boleh mencaci ayah dan ibunya?”

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Ia mencaci ayah seseorang, lalu orang yang ayahnya dicaci tersebut pun mencaci balas ayah orang yang mencaci. Ia mencaci ibu seseorang, lalu orang itu pun mencaci balas ibu orang yang mencaci tersebut.” (Musnad Ahmad, no. 6840. Shahih al-Bukhari, no. 5973)

Perbedaan Saham dan Obligasi

Perbedaan Saham dan Obligasi

Perbedaan Saham dan Obligasi
Perbedaan Saham dan Obligasi

Saham

Saham menggambarkan sebagian dari modal pokok sebuah perusahaan. Pemilik saham dipandang sebagai pemilik sebagian asset dari perusahaan sesuai dengan kadar saham yang dia miliki. Adapun obligasi dipandang sebagai hutang perusahaan, maka perusahaan berhutang kepada pemilik obligasi tersebut.

Baca Juga: Rukun Islam

Obligasi

Obligasi memiliki masa jatuh tempo untuk pelunsan hutang, adapun saham tidak memiliki kecuali ketika perusahaan tersebut dinyatakan dilikuidasi.
Keuntungan ataupun kerugian pemilik saham tergantung dari prestasi perusahaan tersebut, tidak ada batasan khusus bagi keuntungan perusahaan, terkadang untung dengan keuntungan yang besar, dan terkadang rugi dengan kerugian yang besar. Pemilik saham sama-sama mengambil bagian dalam untung atau ruginya perusahaan. Terkadang mereka mendapatkan keuntungan yang besar ketika perusahaan mendapatkan laba yang besar. Dan terkadang pula mereka rugi ketika perusahaan itu jatuh. Masing-masing mereka menanggung bagian untung atau rugi.

Adapun pemilik obligasi dia memiliki bunga tetap yang dijamin ketika peminjaman, yang dapat dilihat dari surat obligasinya, bunga tersebut tidak bertambah dan tidak berkurang. serta tudak menggambarkan adanya kerugian. Apabila mereka misalnya meminjamkan (membeli obligasi) seharga 3 Junaih (ukuran mata uang mesir) bagi setiap 100 junaih. Kemudian perusahaan itu untung 10 junaih bagi setiap 100 junaih, maka mereka tidak akan mendapatkan lebih dari bunga yang telah ditetapkan baginya. Sedangkan bagi pemilik saham mereka akan mendapatkan 10 junaih dari setiap 100 junaih. Dan begitupun sebaliknya jika perusahaan itu jatuh dan rugi maka para pemilik obligasi akan tetap mendapatkan bunga yang telah ditetapkan baginya, disaat para pemikik saham tidak mendapatkan sedikitpun kuntungan bahkan mereka menanggung beban kerugian.
Ketika perusahaan dilikuidasi, maka kedudukan tertinggi ada pada pemegang obligasi karena dia merepresentasikan hutang perusahaan. Pemegang saham tidak memiliki hak atas harta perusahaan kecuali setelah ditunaikan semua hutang perusahaan. Bagi pemegang obligasi berhak untuk menuntut pengumuman kerugian perusahaan ketika perusahaan tersebut tidak bisa menunaikan kewajibannya (pailit).

Hukum Jual Beli Saham ada dua macam

Saham pada perusahaan yang haram atau dari penghasilannya haram seperti dari bank-bank yang bermuamalah dengan riba atau perusahaan-perusahaan judi atau tempat-tempat keji, maka jual beli saham ini adalah haram, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala jika mengharamkan sesuatu, mengharamkan pula harganya, disamping itu dengan membeli sahamnya berarti dia telah melakukan kerjasama dalam perbuatan dosa, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Dan janganlah kalian tolong menolong dalam dosa dan permusuhan” (QS: Al Maidah: 2)

Saham pada perusahaan yang mubah seperti perusahaan-perusahaan dagang yang mubah atau perusahaan industri yang mubah, maka yang seperti ini dibolehkan menanam saham padanya, bekerja sama dengannya serta jual beli sahamnya, jika memang perusahaan tersebut telah diketahui dan dikenal serta tidak ada penipuan dan ketidaktentuan yang berlebihan padanya, karena saham itu adalah sebagian dari modal yang akan kembali kepada pemodalnya dengan keuntungan dari hasil perniagaan atau perindustrian, maka saham seperti ini adalah halal tanpa ada keraguan padanya.